Tiga tahun dan dua bulan yang lalu, saya menyatakan rasa ketertarikan saya pada seorang perempuan. Namanya Pacar Saya. Dia tiga tahun lebih muda dari saya. Dua tahun dan dua bulan yang lalu, saya membuat sebuah cerita pendek sebagai hadiah untuk satu tahun kebersamaan kami. Saat pasangan lain merayakannya dengan makan malam romantis di tempat mahal, saya justru mengajak dia makan di kaki lima bersama Ibu saya yang kebetulan ada di Malang. Itu pertama kalinya mereka bertemu. Dan tidak lupa, setelah itu, saya berikan kado spesial untuknya: sebuah cerpen tentang saya dan dia. Cerpen itu saya publikasikan pertama kali di facebook, dan barangkali tidak ada salahnya jika saya publikasikan lagi di sini.
Perempuan yang Berubah Menjadi Puisi
Cerpen: Abdul Hair
Suatu hari, tatkala Sang Penyair sedang masyuk duduk di atas pohon sambil menuliskan sajak-sajak cinta, Arini sudah berubah menjadi bait-bait puisi. Tidak main-main, dia menjadi puisi paling indah yang pernah ada. Amir Hamzah sekalipun akan memaki-maki puisi-puisi yang dia buat, merasa puisi-puisinya tidak lebih sebagai bualan anak kecil tatkala dibandingkan dengan puisi jelmaan Arini.
Sang Penyair turun perlahan dari pohon begitu bait terakhir sajak cintanya telah dia tuliskan. Dia ingin memberikan sajak cinta itu pada Arini, kekasihnya yang hampir satu tahun dia pacari. Dia melangkah pelan menuju rumah Arini, tidak terburu-buru seperti akan buang air ke toilet. Hembusan angin pelan-pelan meraba pipinya, dan gendang telinganya bergetar begitu burung-burung bersenandung riang. Sesampainya di rumah kekasihnya, Sang Penyair masuk begitu saja dan mendapati selembar surat yang ditujukan untuknya. Dia membuka surat itu, lalu membacanya:
Penyairku tercinta, begitu engkau membaca surat ini, aku telah berubah menjadi bait-bait puisi. Aku selalu merasa kecintaanmu pada puisi melebihi cintamu padaku. Engkau lebih banyak menghabiskan waktu menulis puisi ketimbang berduaan denganku. Aku ingin jadi yang paling engkau cintai, melebihi kecintaanmu pada sajak-sajak yang terkadang tidak aku pahami apa maksudnya.
Hingga akhirnya aku sadar, hal tersebut tidak mungkin terjadi. Engkau sudah lebih dulu mengenal puisi ketimbang aku. Lama aku merenungkan itu, sebelum aku mendapati ide agar menjadi yang paling engkau cintai: aku harus berubah menjadi bait-bait puisi, puisi paling indah yang pernah ada. Hanya dengan cara ini engkau bisa mencintaiku sangat dalam, melebihi cintamu pada puisi-puisi yang lain.
Sang Penyair terperanjat setelah membaca surat itu. Memorinya seketika berkelebat ke masa silam, saat-saat dia merasa begitu dongkol pada kekasihnya. Pernah saat sedang berduaan, Arini tiba-tiba gusar pada Sang Penyair. Sang Penyair tidak mengerti sudah melakukan kesalahan apa, pokoknya Arini gusar begitu saja. Dia mengingat-ingat sudah berucap apa barusan, tapi tidak menemukan letak kesalahan dari ucapannya. Telah berkali-kali dia meminta maaf, namun Arini tidak kunjung memberikan maaf padanya. Keseokan harinya, Arini secara mengejutkan sudah manja seperti sedia kala, seperti tidak pernah terjadi apa-apa di hari sebelumnya.
Sang Penyair sudah melupakan semua memori indah bersama kekasihnya. Dia merasa tidak ada kesan sama sekali dengan yang indah-indah itu. Sebab yang diingatnya cuma kejadian-kejadian yang membuatnya begitu dongkol pada Arini. Celakanya, kejadian-kejadian itu yang justru berkesan dan membikin dia begitu merindukan Arini.
Sang Penyair memutuskan untuk mencari Arini dengan cara mendatangi kuburan Chairil Anwar. Dia merasa kalau penyair legendaris itu tahu semua hal tentang puisi.
Sesampainya di tempat yang dia tuju, Sang Penyair lalu mengucapkan jampi-jampi, yang sebenarnya lebih terdengar seperti orang yang berkumur-kumur sehabis menyikat gigi. Tidak lama setelah jampi-jampi selesai diucapkan, tanah di atas kuburan Chairil Anwar retak-retak, sebelum akhirnya sebuah tangan menampakkan wujudnya setelah menerobos tanah dari bawah. Setelah itu, tangan yang lain menampakkan wujudnya, diikuti dengan kepala, badan, lutut, telapak kaki, hingga nampak sempurna sebagai jasad utuh: jasad Chairil Anwar. Dia lalu melangkah mendekat ke Sang Penyair, yang ketika itu sedikit gemetar kakinya karena takut. Sang Penyair tiba-tiba menyesal, kenapa harus membangunkan penyair legendaris itu. Chairil Anwar pasti akan segera membunuhnya, karena Sang Penyair sudah menganggu tidur panjangnya. Dia semakin mendekat, dengan kepala yang menjulur ke depan. Pikir Sang Penyair, Chairil Anwar pasti akan menggigit lehernya, lalu menghisap habis darahnya. Dia ingin segera kabur, tapi kakinya tak bisa digerakkan. Begitu kepala Chairil Anwar semakin mendekat ke lehernya, Sang Penyair cuma bisa menutup mata sebelum mendengar sebuah pertanyaan, “Kau punya rokok?”
Sang Penyair tersentak sebelum membuka matanya. Cepat-cepat dia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku, mengambil satu isinya, memberikannya pada Chairil Anwar, lalu menyulut api dengan pemantik. Chairil Anwar memiringkan wajahnya 45 derajat ke kanan sambil menghisap rokok dalam-dalam: dia terlihat sangat mirip dengan potret dirinya yang legendaris itu.
“Ada perlu apa sampai kau harus membangunkanku?” tanya Chairil Anwar.
“A-anu, anu, aku mau tanya sesuatu padamu,” jawab Sang Penyair.
“Apa itu?”
“Menurutmu, apa puisi paling indah di dunia?”
Chairil Anwar terdiam sesaat, sebelum menjawab, “Puisi yang mampu membuat pembacanya hidup seribu tahun lagi.”
“Puisi yang bagaimana itu?” Sang Penyair mengerutkan keningnya.
“Aku juga tidak tahu pasti,” jawab Chairil Anwar enteng, sambil menghisap rokoknya.
“Aku sedang kebingungan. Pacarku baru saja berubah menjadi puisi yang paling indah di dunia. Tapi aku tidak tahu, puisi paling indah seperti apa.”
“Hmm…. Masalahmu rumit juga. Aku sarankan kau bertanya pada penyair yang masih hidup saja, Sapardi Djoko Damono, mungkin dia tahu jawaban yang kau inginkan.”
“Baiklah. Terima kasih untuk sarannya,” kata Sang Penyair, “maaf sudah menganggu tidurmu.”
“Tidak masalah,” jawab Chairil Anwar, “ngomong-ngomong boleh aku minta rokokmu satu lagi?”
Sang Penyair langsung memberikan sisa rokok beserta pemantik apinya pada Chairil Anwar. Setelah itu, Chairil Anwar kembali masuk ke dalam kuburannya.
Sang Penyair mendatangi rumah Sapardi Djoko Damono dengan berjalan kaki. Setelah lima jam, dia akhirnya sampai juga di rumah yang dia tuju. Sang Penyair mengetuk pintu, sebelum seorang lelaki tua keriput membukanya. Dia mempersilahkan Sang Penyair masuk, kemudian kembali menutup pintu rumahnya.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sapardi.
“Aku ke sini atas saran Chairil Anwar. Katanya mungkin kau bisa memecahkan masalahku,” jawab Sang Penyair.
“Apa masalahmu?”
“Pacarku tadi berubah jadi puisi. Dia perempuan yang sangat cantik, sebab itu dia berubah jadi puisi yang paling indah. Aku ingin menemukannya, tapi aku tidak tahu puisi paling indah itu seperti apa.”
Ada jeda merangkak ke ruang itu, sebelum pecah oleh jawaban Sapardi, “Puisi paling indah itu seperti isyarat yang tak sempat diucapkan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada.”
“Seperti apa rupa puisi itu?”
“Entahlah,” jawab Sapardi. “Kenapa tidak kau tanyakan saja pada penyair yang lebih muda. Pengetahuan mereka lebih banyak ketimbang saya yang baru merasakan internet setelah renta begini.”
“Ada rekomendasi penyair muda yang bisa aku mintai jawaban?” tanya Sang Penyair.
“Ada, namanya Abdul Hair,” jawab Sapardi.
Sang Penyair kaget bukan main. Dia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dia heran, kenapa Sapardi tidak menyuruhnya bertanya pada Joko Pinurbo atau Nirwan Dewanto atau Kris Budiman, dan malah menyuruhnya menemui orang yang baru pertama kali dia dengar namanya.
Setelah mengucapkan terima kasih dan pamit pulang, Sang Penyair segera pergi ke warnet terdekat. Dia lalu membuka google, dan memasukkan nama Abdul Hair di situ. Dari informasi yang dia temukan, ternyata Abdul Hair belum pernah menghasilkan puisi apapun. Heran juga dia, Sapardi sampai menyebut penyair pada orang yang belum pernah membuat puisi.
Dari google Sang Penyair tahu, Abdul Hair selalu minum kopi di tempat itu-itu saja. Dia segera beranjak menuju warung kopi langganan Abdul Hair. Sesampainya di situ, dia mendapati orang yang dicarinya sedang menulis menggunakan laptop.
“Maaf mengganggu. Betul kau yang namanya Abdul Hair?” tanya Sang Penyair.
“Betul, kau tidak salah,” jawab Abdul Hair.
“Aku ke sini atas saran Sapardi Djoko Damono.”
“Oh ya? Suatu kebanggaan kau ke sini atas saran penyair favoritku,” kata Abdul Hair.
“Aku punya masalah.”
“Apa masalahmu?”
“Pacarku tadi berubah menjadi puisi yang paling indah. Aku ingin menemukan puisi itu. Sayangnya aku tidak tahu puisi yang paling indah itu seperti apa.”
“Kau salah orang, aku tidak mengerti apa-apa soal puisi,” Abdul Hair berkata sambil tersenyum.
“Ayolah,” Sang Penyair memelas, “aku yakin kau bisa membantuku.”
“Hmm…. Aku tadi sedang menulis sebuah cerpen. Aku tidak tahu cerpen itu bagus atau tidak, tapi yang jelas bisa membuat orang tersenyum.”
“Tersenyum?” tanya Sang Penyair.
“Ya, tersenyum. Tadi ada seorang perempuan ke sini. Kau tahu, dia perempuan paling cantik yang pernah aku lihat. Tanpa buang-buang kesempatan, aku lalu memberikannya cerpen yang aku tulis. Siapa tahu saja dia jatuh cinta padaku begitu membaca cerpen yang aku buat.”
“Lalu?”
“Dia tersenyum setelah selesai membaca cerpen itu. Langsung saja aku menyatakan cinta. Eh, langsung dia terima,” kata Abdul Hair bersemangat.
“Siapa nama perempuan itu?” Sang Penyair bertanya dengan rasa ingin tahu yang besar.
“Arini. Namanya Arini. Lebih lengkapnya Happy Yulfarida Arini,” jawab Abdul Hair.
“Apa?” Sang Penyair lompat karena terkejut. Setelah bisa mengendalikan emosinya, dia kembali berkata pada orang di depannya, “Bisa aku lihat cerpen yang kau buat tadi?”
Abdul Hair lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya, kemudian memberikannya pada Sang Penyair. Isi cerpen itu persis sama dengan apa yang kau baca saat ini.
Malang, 23 Juni 2013, 19:14 Wib
Untuk Happy Yulfarida Arini
sebagai kado untuk satu tahun kebersamaan