Kejahatan dan Hukuman

Menurut saya, Fyodor Dostoyevsky adalah penulis terbesar abad 19. Dia adalah sedikit penulis dari abad itu yang karya-karyanya masih dibaca dan dibicarakan sampai hari ini. Presiden Italia saat ini, Sergio Mattarella, bahkan menganjurkan anak muda di negaranya untuk membaca karya-karya Dostoyevksy. Katanya, biar anak-anak muda di sana paham dengan persoalan seputar kehidupan dan ideologi.

Saya pikir Sergio Mattarella benar. Dari sekian banyak karya yang dihasilkan Dostovevsky, Crime and Punishment masuk kategori wajib baca. Dosa besar bagi pecinta sastra jika tidak membacanya. Crime and Punishment bercerita tentang Rodion Raskolnikov, seorang mantan mahasiswa, dalam membunuh seorang rentenir. Meskipun novel ini masuk dalam kategori novel detektif, namun Dostoyevsky sudah memberitahukan pada pembacanya bahwa tersangkanya adalah Raskolnikov, dan seorang detektif bernama Porfiry Petrovich bermaksud untuk mengungkap siapa pembunuh rentenir tersebut. Artinya, jika kebanyakan cerita detektif mengambil sudut pandang sang detektif, maka novel ini adalah kebalikannya: mengambil sudut pandang sang pembunuh.

Raskolnikov melakukan pembunuhan dengan sangat baik. Dia tidak meninggalkan satu kesalahanpun yang akan mengarahkan perhatian detektif kepolisian padanya. Bisa dikatakan, pembunuhan yang dia lakukan berjalan dengan sempurna. Sang detektif, Porfiry Petrovich, kebingungan. Tidak ada bukti apapun yang dia temukan. Satu-satunya petunjuk yang dia punya adalah daftar lingkaran orang-orang di sekitar korban, baik keluarga, teman, ataupun orang-orang yang pernah meminjam uang ke korban. Porfiry Petrovich lalu mendalami profil dari setiap orang yang berada di lingkaran tersebut, dan perhatiannya tertuju pada Raskolnikov. Dia yakin, Raskolnikov adalah pembunuhnya. Tapi, dugaan tetaplah dugaan. Selama tidak ada bukti, maka Raskolnikov tidak bisa ditangkap.

Bagian paling menariknya, Porfiry Petrovich membuktikan Raskolnikov sebagai pembunuh bukan lewat bukti di TKP (seperti cerita detektif pada umumnya), tapi lewat permainan psikologis yang akan membuat Raskolnikov mengaku dengan sendirinya. Porfiry Petrovich ketika mempelajari profil dari lingkaran orang-orang di sekitar korban, menemukan bahwa Raskolnikov ketika masih mahasiswa pernah membuat sebuah esai tentang bagaimana seseorang bisa menjadi pahlawan. Dalam esai itu, Raskolnikov bercerita tentang Napoleon yang dianggap pahlawan oleh masyarakat Prancis, sebab dia telah menyelamatkan warga Prancis dengan cara membunuh orang-orang yang dianggap sebagai musuh Prancis. Raskolnikov lalu membandingkan Napoleon dengan pembesar-pembesar lain di dunia ini. Lewat perbandingan itu Raskolnikov lalu menyimpulkan bahwa hanya dengan membunuh orang-orang jahat lah maka seseorang dapat disebut sebagai pahlawan.

Raskolnikov adalah pembunuh amatir, setelah pembunuhan itu berlangsung perasaannya tidak tenang. Dia selalu gelisah. Porfiry Petrovich paham dengan hal itu. Maka lewat permainan psikologis yang dia lakukan, dia memanfaatkan kegelisahan Raskolnikov agar dia mengaku dengan sendirinya. Pada akhirnya, tentu saja Raskolnikov mengakui perbuatannya. Setelah diinterogasi, dia melakukan pembunuhan karena dia ingin menjadi orang besar, seorang pahlawan, yang menyelamatkan warga Rusia dari rentenir jahat yang telah dibunuhnya. Membunuh satu orang jahat untuk kebaikan banyak orang lain bukanlah sebuah tindak kejahatan, tapi tindakan seorang pahlawan. Begitulah yang diyakini Raskolnikov.

Keyakinan Raskolnikov itu masih bertahan dalam banyak karya fiksi kontemporer. Komik superhero Watchmen karya Alan Moore misalnya. Salah satu superheronya, Ozymandias, melakukan suatu rekayasa serangan alien di muka bumi. Karena rekayasanya tersebut, jutaan orang mati. Namun berkat rekayasanya pula, perang antara Amerika dan Rusia yang sudah di depan mata akhirnya tidak terjadi, sebab pemerintah kedua negara tersebut sepakat untuk bekerja sama memberantas alien yang menyerang bumi. Jika perang Amerika dan Rusia terjadi, milyaran penduduk bumi dipastikan akan tewas. Ozymandias berkata, membunuh jutaan orang demi kebaikan milyaran orang lain bukanlah sebuah kejahatan.

Apa yang dipikirkan Raskolnikov maupun Ozymandias tentu saja mengerikan. Tapi kita tidak perlu khawatir, sebab keduanya hanyalah karakter dalam karya fiksi. Yang membuat saya begitu takut, pernyataan seperti itu ternyata pernah diucapkan oleh seseorang jenderal di masa orde baru. Ketika wartawan bertanya perihal banyak aktivis yang hilang, sang jenderal menjawab kurang lebih seperti ini: “Membunuh satu orang demi kebaikan jutaan masyarakat Indonesia bukanlah suatu masalah.”

Itu pernyataan sinting! Mengetahui hal itu, saya hampir saja terkencing-kencing.

Leave a comment