Barangkali Big Brother adalah penguasa tiran yang paling terkenal setelah Hitler. Dia adalah penguasa Oceania, negeri fiktif dalam novel 1984 karangan George Orwell. Kekuasannya absolut. Dia tidak pernah salah, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Jika ramalan yang dia katakan tidak terbukti, maka ramalan itu akan diperbaiki, dan penduduk Oceania akan mengalami amnesia massal, seolah-olah kesalahan itu tidak pernah diucapkan Big Brother.
Big Brother adalah politisi hebat. Dia paham betul bagaimana cara mempertahankan kekuasannya. Salah satunya melalui politik bahasa. Kebijakan yang dia keluarkan, tahun 2050 nanti semua penduduk Oceania harus menggunakan bahasa Inggris Newspeak. Bahasa Inggris saat ini, yang dalam novel itu disebut Oldspeak, adalah bahasa Inggris yang kita gunakan sehari-hari, dengan kosakata yang sangat kaya. Newspeak adalah penyempurnaan dari Oldspeak. Bahasa, kita tahu, selalu berkembang. Sehingga kamus terbaru akan selalu lebih tebal dari kamus edisi sebelumnya. Tapi Newspeak berbeda, sebab bukannya bertambah, kosakatanya malah semakin berkurang. Saya membayangkan, saking sedikitnya kosakata Newspeak, di tahun 2050 nanti ketika Newspeak resmi digunakan, kamus Newspeak justru hanya setebal 37 halaman saja!
Pikiran kita bekerja di dalam bahasa. Kita tidak bisa memikirkan sesuatu di luar bahasa. Ketika kita sedang berkhayal, sekalipun itu khayalan paling tidak masuk akal yang pernah ada, tetap saja khayalan kita berada di dalam bahasa. Artinya, kemampuan kita dalam berpikir ditentukan oleh seberapa banyak kosakata yang kita kuasai. Sebab sebuah kosakata niscaya sebuah ekspresi dari pikiran. Itulah sebabnya orang yang suka membaca buku memiliki kualitas berpikir yang lebih baik ketimbang yang tidak. Sebab selain mendapat pengetahuan baru, membaca buku juga dapat memperkaya kosakata kita, yang itu berarti kita memiliki tambahan kata untuk mengeksperesikan apa yang kita pikirkan.Kosakata yang dihilangkan Big Brother adalah kosakata yang memungkinkan orang untuk berpikir tentang penggulingan kekuasaan. Maka, semua kosakata yang mengarah ke sana akan dihapus. Dengan jumlah kosakata yang sangat sedikit, maka penduduk Oceania jadi tidak bisa memikirkan tentang penggulingan kekuasaan. Dan itu berarti kekuasaan Big Brother akan bertahan selamanya.
Indonesia pernah dipimpin oleh seorang presiden yang pintar betul mempertahankan kekuasaanya. Namanya Soeharto. Sepanjang sejarah Indonesia yang sudah 70 tahun, dia pernah memimpin selama 32 tahun. Salah satu yang membuat masa berkuasanya begitu lama, karena politik bahasa juga. Dia pernah mengeluarkan kebijakan pengubahan Edjaan Soewandi menjadi Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Sepintas kebijakan ini tidak bermasalah. Tapi disitulah letak kecerdikan Soeharto.
Pengubahan ejaan ini memiliki dampak politis yang sangat besar. Sebab anak-anak muda tidak lagi bisa membaca buku yang dicetak dengan ejaan lama (kalaupun bisa, pasti akan sangat melelahkan). Memang, Soeharto menjalankan proyek penerjemahan, dari Edjaan Soewandi ke Ejaan yang Disempurnakan. Tapi buku-buku yang diterjemahkan adalah buku-buku yang menurut Soeharto tidak membahayakan kekuasaannya ketika dibaca masyarakat umum. Buku-buku yang ditulis Soekarno, Tan Malaka, dan beberapa orang-orang PKI, tentu saja tidak diterjemahkan. Yang terjadi kemudian, buku-buku progresif revolusioner seperti itu jadi tidak dibaca oleh generasi muda. Dan yang lebih parah lagi, buku-buku sejarah “otentik” yang kebanyakan ditulis dalam ejaan lama menjadi tidak terbaca. Inilah salah satu sebab mengapa sejarah yang dituliskan pemerintah Soeharto dipercaya begitu saja oleh banyak masyarakat Indonesia, sebab mereka tidak punya kemampuan untuk membaca buku-buku sejarah yang fakta-faktanya belum diputar balikkan Soeharto.
Pengubahan ejaan, dengan demikian, berhasil melanggengkan kekuasaan Soeharto. Sebab masyarakat Indonesia tidak pernah membaca buku yang berbicara tentang semangat revolusi, dan mereka menjadi buta sejarah dengan hanya membaca sejarah versi orde baru.