Kisah Dua Pemimpi

Guru Isa, di hari kemerdekaan Indonesia yang ke 70, mendapat penghargaan sebagai guru teladan di desanya. Penghargaan itu diberikan langsung oleh Pak Bupati setelah upacara digelar. Di desanya, Guru Isa dikenal sebagai orang yang santun. Murid-muridnya begitu hormat padanya. Guru Isa selalu datang paling pagi ke sekolah, dan pulang ke rumah ketika magrib akan menjelang. Jam satu siang seluruh kegiatan sekolah telah berakhir. Ketika semua guru sudah pulang, dia tetap duduk di meja kerjanya. Katanya kepada guru-guru yang lain, “Saya masih harus memeriksa pekerjaan murid-murid saya.” Cerita tentang keteladanannya itu, pergi sekolah paling pagi dan pulang paling akhir, lalu tersebar ke seluruh penjuru desa. Pak Bupati mendengarnya, dan diberikanlah penghargaan untuk Guru Isa. Setiap malam Guru Isa selalu tidur beberapa saat setelah adzan Isya berkumandang, dan setiap malam pula dia selalu memimpikan orang yang sama: seorang penulis yang setiap malam selalu begadang untuk menyelesaikan naskah-naskahnya. Malam itu Guru Isa memimpikan Sang Penulis sedang menuliskan kisah hidupnya sebagai seorang guru yang mendapat penghargaan dari Pak Bupati. Ketika shubuh datang, kisah itu sudah selesai dituliskan, dan Sang Penulis kembali tidur ketika jam dindingnya menunjuk ke angka 5. Tepat saat itulah Guru Isa terbangun.

Ratusan ribu kilometer dari tempat Guru Isa tinggal, hiduplah seorang penulis. Karya-karyanya tidak pernah bestseller, tapi selalu mendapat tanggapan bagus dari kritikus. Dia selalu menulis saat malam hari, dimulai dari jam 1 dini hari sampai jam 5 shubuh. Setelah itu dia akan tertidur, dan baru bangun kembali saat adzan Isya selesai berkumandang. Dia biasanya akan pergi makan beberapa saat setelah bangun. Setelah kenyang, dia pergi membaca buku. Dua jam setelah itu dia akan menonton TV. Jika tidak ada acara yang bagus, dia menyalakan DVD player, dan menonton film-film klasik dari David Lynch atau Stanley Kubrick. Baru setelah itu dia mulai menulis. Ketika dia tidur, dia selalu memimpikan orang yang sama, memimpikan seorang guru yang hidupnya tidak pernah tenang. Setiap hari guru itu selalu diomeli istrinya. Karena capek mendengar omelan Sang Istri, guru itu tidak pernah betah di rumah. Setiap hari Sang Guru pergi ke sekolah paling pagi, dan selalu pulang paling akhir ketika magrib akan menjelang. Guru itu juga selalu tidur lebih awal, beberapa saat setelah adzan Isya berkumandang, agar dia tidak perlu berlama-lama mendengar omelan istrinya. Begitulah siklus hidupnya setiap hari, sampai suatu ketika Sang Guru mendapat penghargaan dari Bupati sebagai guru teladan. Sang Penulis yang setiap hari memimpikan orang yang sama, malam itu memutuskan untuk menulis cerpen yang ceritanya persis sama dengan cerita dalam mimpi yang dia alami. Setelah cerpen itu selesai ditulis, dia lalu mengirimkannya ke salah satu koran nasional, sebelum akhirnya tertidur tepat jam 5 shubuh.

One thought on “Kisah Dua Pemimpi”

Leave a comment