Tahun lalu saya membaca The Art of the Novel, buku kumpulan esai karya novelis Ceko kenamaan, Milan Kundera. Esai itu terdiri dari tujuh bagian, dan setiap bagian membahas hal yang berbeda-beda namun tetap dalam tema besar yang sama: estetika novel. Esai-esainya sangat mengagumkan. Dia membahas tentang Cervantes (penulis Don Quixote, novel modern pertama di dunia), yang menurutnya, bersama Descartes telah menemukan dunia modern. Dia juga membahas Franz Kafka, yang karya-karyanya memiliki logika yang berkebalikan dengan Crime and Punishment nya Fyodor Dostoyevsky. Dan di bagian terakhir, dia membahas kalau novel tercipta untuk membuat manusia tertawa, sebab novel adalah gema tawa Tuhan, dan Tuhan selalu tertawa saat melihat manusia sedang berpikir.
Salah satu bagian dari buku itu membahas tentang seni komposisi novel (saya lebih suka menyebutnya arsitektur novel). Novel tentu saja dapat ditulis dengan metode apapun. Ada penulis yang lebih suka melakukannya dengan pergi ke taman, duduk di salah satu bangkunya, lalu mulai menuliskan novelnya secara spontan, tanpa perencanaan apa yang ingin dituliskan sebelumnya. Atau seorang penulis pergi ke suatu cafe, memesan secangkir kopi arabica, lalu mulai menulis apa saja yang ada di pikirannya saat itu juga di depan laptop yang telah dia sediakan sebelumnya. Atau ada juga penulis yang membuat arsitektur novelnya terlebih dulu, menyusun kerangka ceritanya, tempo dan irama, sebelum merasa yakin untuk mulai menuliskan novelnya (Milan Kundera termasuk dalam kategori ini).
Kundera sangat mengagumi musik klasik. Bach, Vivaldi, dan Beethoven adalah komposer idolanya. Dia mempelajari komposisi (arsitektur) musik ketiga komposer itu, juga komposer-komposer lain tentu saja. Quartet Opos 131 karya Beethoven, menurut Kundera, adalah musik dengan arsitektur yang paling sempurna. Dia mempelajari pembagian-pembagian dalam musik itu (semuanya berjumlah tujuh bagian), tempo dan iramanya, serta proporsi matematis yang tercipta.
Hasil pembacaannya terhadap arsitektur musik itu kemudian dia terjemahkan ke dalam arsitektur novel. The Joke, novel pertama yang dia tulis, misalnya. Terdiri dari tujuh bagian (seperti komposisi karya Beethoven), dengan tempo yang berbeda di setiap bagian. Seperti musik, ada bagian yang temponya lambat, ada bagian yang temponya cepat. Tempo yang lambat membuat pembaca lebih rileks, sedangkan bagian dengan tempo yang cepat membuat pembaca merasa tegang. Musik dengan tempo yang statis tentu saja tidak menarik. Begitupun dengan novel. Itulah sebabnya Kundera sangat memerhatikan pembagian-pembagian tersebut di dalam novelnya.
Yang paling menarik, paling tidak menurut saya, adalah usaha Kundera menerjemahkan arsitektur musik menjadi arsitektur novel. Kita selalu kagum dengan penerjemah yang mampu menerjemahkan buku dengan baik. Edith Grossman menuai pujian saat menerjemahkan Don Quixote dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris. Hasil terjemahannya membuat Don Quixote seperti bukan karya terjemahan, tetapi karya baru yang ditulis oleh orang Amerika. Penerjemahan novel, dari suatu bahasa ke bahasa lain, membutuhkan kepekaan bahasa yang tinggi, serta tidak semua penulis mampu melakukannya. Dan Kundera melakukan salah satu usaha penerjemahan paling gila yang pernah dilakukan umat manusia. Kita tahu, musik dan novel menggunakan dua medium yang berbeda. Musik menggunakan bunyi, sedangkan novel menggunakan kertas. Usaha penerjemahan ini mustahil bisa dilakukan oleh seorang penulis, sebab hanya seorang jeniuslah yang mampu melakukannya.
Baiklah, pernyataan tersebut mungkin berlebihan, dan penjelasan saya di atas terlalu menyederhanakan kerumitan dari proses penerjemahan yang Kundera lakukan. Tapi, seorang kritikus sastra asal Ceko pernah membuat sebuah telaah tentang novel The Joke. Telaah yang dia buat berjudul The Geometry of the Joke, isinya tentang pembagian monolog karakter-karakternya, yang ternyata, memiliki proporsi matematika yang cantik. Ada empat karakter dalam novel tersebut: Ludvik, Jaroslav, Kostka, dan Helena. Monolog Ludvik menghabiskan 2/3 buku, Jaroslav 1/6, Kostka 1/3, dan Helena 1/18. Sekarang mari kita lihat arsitektur dalam musik klasik yang diciptakan Vivaldi. Kundera menjelaskan, bahwa karya Vivaldi memiliki skema A-B-A. Bagian A berdurasi 70 detik, bagian B berdurasi 105 detik, dan balasan untuk bagian A berdurasi 10 detik (andaikan balasan ini dimainkan secara penuh, durasinya akan menjadi 70 detik). Musik dengan skema simetris 70:105:70 bagi Kundera akan terdengar membosankan. Tapi Vivaldi merombak skema musiknya menjadi asimetris, 70:105:10. Dari sini didapatkan suatu proporsi musik yang memiliki keindahan matematis, 10×7:15×7:10×7; sama dengan 2:3:2,7. Bandingkan dengan proporsi monolog dalam novel The Joke, 2/3:1/6:1/3:1/18. Jadinya, (2×1/3):(1/2×1/3):(1X1/3):(1/6×1/3). Artinya, proporsi monolog dalam The Joke memiliki keindahan matematis sebab setiap monolog adalah kelipatan dari angka 1/3!
Setelah membaca esai Kundera tentang seni komposisi novel, saya pun jadi tertarik untuk melakukan hal serupa. Saya sangat menyukai Roman Picisan, dan ingin membuat sebuah cerpen yang arsitekturnya merupakan hasil terjemahan dari arsitektur musik gubahan Ahmad Dhani tersebut. Cerpen tersebut tidak pernah selesai, sebab terhambat suatu permasalahan mendasar: saya tidak mengerti dengan komposisi musik. Saya pikir membuat arsitektur novel dapat diadaptasi dari apa saja, tidak hanya dari musik seperti yang dilakukan Kundera. Lewat penerjemahan arsitektur gedung Burj Khalifa, misalnya.


