Menjadi Penulis di Indonesia

Yang diucapkan akan tertiup angin, yang ditulis akan abadi.” – Peribahasa Latin.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer.

Jika ada seorang remaja delapan belas tahun yang bercita-cita menjadi penulis, akan saya beritahukan padanya dua kalimat di atas agar dia termotivasi. Tapi, jika ada seseorang berusia 25 tahun yang bercita-cita menjadi penulis karena ingin hidup abadi, akan saya katakan bahwa dua kalimat di atas adalah omong kosong belaka. Kita mengenal Homer, seorang pujangga yang hidup 2.700 tahun sebelum kita, karena dia telah menulis dua puisi epik yang terus dibaca hingga kini: The Iliad dan The Odyssey. Kita juga mengenal Miguel de Cervantes, karena dia telah menulis novel modern pertama di dunia: Don Quixote. Kita bisa membuat daftar panjang para penulis yang karya-karyanya terus dibaca sampai hari ini. Namun bukan mereka yang ingin saya bicarakan. Sebab saya ingin berbicara tentang Maximus Barker, Goe Xin Min, Takashi Minato, Michel Clements, atau Emran Makhmur el-Jabari. Pernahkah kamu mendengar nama-nama mereka?

Baiklah, nama-nama itu hanyalah karangan saya belaka. Tapi bagaimana jika mereka sebenarnya ada, mereka adalah penulis yang telah menghasilkan banyak buku, dan kita tidak mengenal mereka karena kita tidak pernah membaca karya-karya mereka? Dari semenjak manusia mengenal tulisan, ada berapa orang yang pernah menulis dan berniat untuk menjadi seorang penulis? Barangkali sudah ada ratusan miliar orang yang pernah hidup di bumi ini, maka kita asumsikan saja ada lima juta orang yang pernah menulis. Apakah mereka semua abadi karena mereka pernah menulis? Sayangnya tidak.

Saya pikir menjadi penulis karena ingin hidup abadi adalah mimpi yang terlalu muluk. Minimal kita harus sama jeniusnya dengan Homer agar bisa abadi dengan menulis. Sehingga, tatkala memutuskan untuk menjadi penulis, siap-siap saja karya kita menjadi tidak terbaca karena berbagai alasan. Itu baru persoalan pertama. Persoalan berikutnya, menjadi penulis di Indonesia tidak akan membuat seseorang menjadi kaya. Tidak ada gunanya menjadi penulis produktif agar bisa mendapat uang yang banyak. Selain karena minat baca masyarakat kita yang kurang, sistem perbukuan di Indonesia juga tidak memungkinkan penulis untuk mendapat untung yang besar. Maka salah satu pilihan yang bisa ditempuh, menulis dengan pertimbangan kualitas, bukannya kuantitas. Menulis dengan mempertimbangkan kualitas, memungkinkan karya kita untuk dibaca oleh pembaca luar Indonesia. Dengan catatan, karya kita harus diterjemahkan ke bahasa internasional, minimal bahasa Inggris atau Prancis.

Jika bicara strata, maka bahasa Indonesia berada di strata paling bawah bahasa dunia. Bahasa yang menempati strata tertinggi tentu saja ditempati oleh bahasa yang dituturkan oleh penjajah di masa lampau, seperti Inggris, Prancis, Spanyol, atau Portugis. Itulah mengapa sastra Amerika Latin, yang menggunakan bahasa Spanyol dan Portugis, menjadi mudah untuk terbaca oleh pembaca internasional. Strata kedua ditempati oleh bahasa Arab, Cina, dan Jepang, sebab bahasa-bahasa tersebut tergolong bahasa yang usianya sudah sangat tua. Sedang bahasa Indonesia, berada di strata keenam, strata paling bawah. Indonesia bukanlah negara dengan kekuatan politik dan ekonomi yang diperhitungkan, hal ini menyebabkan minat orang untuk mempelajari Indonesia tidak sebesar minat orang untuk mempelajari Tiongkok atau India. Harus diakui, ketertarikan orang asing untuk mempelajari suatu bahasa karena suatu negara yang menjadi penutur bahasa tersebut relatif kuat secara politik dan ekonomi. Itulah sebabnya minat mempelajari bahasa Korea semakin meningkat, sebab secara ekonomi Korsel sedang mengalami peningkatan juga. Bahasa Indonesia juga hanya dituturkan oleh orang Indonesia, sehingga hal ini sedikit membuat kesulitan penulis-penulis Indonesia untuk memperkenalkan karyanya ke pembaca di luar negeri.

Artinya, memutuskan untuk menjadi penulis di Indonesia perlu dengan pertimbangan yang matang. Sebab, selain karena dibutuhkan kejeniusan yang sangat tinggi untuk menjadi penulis yang abadi, calon-calon penulis dari Indonesia juga patut untuk resah sebab bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat tidak populer dalam pergaulan Internasional. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa minat orang-orang untuk menerjemahkan karya dari Indonesia tidak sebesar minat untuk menerjemahkan karya dari Tiongkok, sebab karya dari tiongkok lebih menarik untuk dikaji ketimbang karya dari Indonesia hanya karena secara politik dan ekonomi negara kita tertinggal jauh dari tiongkok.

3 thoughts on “Menjadi Penulis di Indonesia”

Leave a comment