Penulis, Usia, Karya

Beberapa hari belakangan tulisan di blog ini tidak karu-karuan. Setiap postingan hanya berisi satu kata saja. Tentu agar tidak terkena denda. Beberapa teman misuh-misuh dengan postingan saya yang seperti itu. Saya ucapkan permohonan maaf. Terus terang ada beberapa hal yang harus saya lakukan dan membuat kewajiban menulis blog jadi terbengkalai. Kegiatan pertama, tentu saja ngopi. Untuk yang satu ini, tidak bisa diganggu gugat. Kegiatan kedua, saya banyak menghabiskan waktu untuk menggarap tesis, membaca buku-buku Foucault dan beberapa literatur yang relevan. Kegiatan ketiga, saya sedang menulis suatu proyek pribadi. Tidak perlu saya ceritakan itu apa. Saya jamin, kamu akan muntah-muntah kalau saya beritahu kenarsisistisan saya dengan proyek pribadi itu.

Usia saya saat ini 25 tahun. Usia yang tergolong muda memang. Tapi di usia yang sama, atau sekitar itu, banyak orang-orang yang mampu menghasilkan karya-karya cemerlang. Ryunosuke Akutagawa misalnya. Di usia 22 tahun dia sudah menghasilkan cerpen legendaris Rashomon, pada usia 24 tahun dia menulis The Nose, dan pada usia 26 tahun dia menulis dua cerpen yang sangat saya sukai: Hell Screen dan The Spider’s Thread. Hebatnya, di usia semuda itu Akutagawa mampu menulis cerpen-cerpen yang tidak hitam putih, dalam artian menampilkan kebaikan yang ada sisi buruknya dan keburukan yang ada sisi baiknya. Bandingkan dengan penulis muda kita yang melihat moralitas secara hitam putih, dengan membuat suatu karya ambisius (namun tidak didukung skil menulis memadai) yang ingin menyelamatkan moral bangsa. Saya sangat percaya, urusan menjaga, apalagi menyelamatkan, moral bangsa bukanlah urusan penulis.

Dubliners James Joyce juga contoh menarik. 15 kumpulan cerpen di buku itu ditulis Joyce ketika dia berusia 22-25 tahun. Ceritanya tentang kelas menengah di Dublin, tentang cinta, masa lalu, krisis iman, dan sebagainya. Yang paling membekas di kepala saya adalah cerita yang terakhir, berjudul The Dead, yang ditulis Joyce saat usianya 25 tahun. Itu cerita yang sangat sendu dan lirih, tentang seorang istri yang menceritakan masa lalunya kepada sang suami, bahwa sang suami bukanlah cinta pertamanya. Baiklah, cerita dengan plot seperti itu tentu saja sudah basi. Tapi, cara Joyce menuliskan cerita itulah yang menarik. Joyce bisa membuat sebuah cerita dengan plot sederhana menjadi sebuah cerita yang memikat karena teknik menulisnya yang ciamik.

Usia 25 tahun, dan saya belum menghasilkan satupun karya yang bagus (minimal sama bagusnya dengan karya-karya Akutagawa atau Joyce). Tentu saja ini sebuah bencana. Menulis tidak sesederhana yang saya pikirkan sebelumnya. Saya kadang bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh Akutagawa dan Joyce sampai mereka bisa menulis sebagus itu? Saya pikir jawabannya tidak sesederhana karena mereka memiliki bakat dalam menulis.

Walau begitu, saya kadang menghibur diri sendiri. Toh pada usia 25 tahun Gabriel Garcia Marquez belum menghasilkan karya yang bagus. The Stranger Albert Camus terbit saat usianya 29 tahun, begitu juga dengan Lapar Knut Hamsun. Artinya, usia seseorang dalam menghasilkan suatu karya bagus itu beragam. Ada yang cepat, seperti Akutagawa dan Joyce, ada juga yang lambat seperti Marquez (One Hundred Years of Solitude terbit saat usianya 40 tahun). Karena saya tidak bisa menjadi seperti Akutagawa, menjadi seperti Marquez tentu tidak ada salahnya bukan?

One thought on “Penulis, Usia, Karya”

  1. Sabar, mas. Nggak semua penulis bagus itu muda. Seperti kamu bilang sendiri, Tuan Marquez menulis Hundred Years di umur 40. Alan Rickman baru sukses sebagai pemeran Severus Snape di umur 40-an juga. Saya sendiri dihinggapi kekhawatiran yang sama, sebenarnya. Namun saya mencoba untuk tidak memikirkannya terlalu banyak.

    Btw, iklim penerbitan di sini juga sedang kurang mendukung untuk karakter penulisan yang tidak hitam putih. Penerbit cari duit, dan duit ada di novel-novel dan karya-karya non-puisi sederhana.

    Salam kenal.

Leave a comment