Mengimajinasikan Imajinasi

Kemarin saya menonton Inside Out, garapan Pixar. Semenjak Toy Story 3, inilah film Pixar yang bisa bikin saya tertawa sekaligus tersentuh. Saya tidak perlu menceritakan seperti apa jalan cerita film ini, sebab resensinya sudah banyak sekali bertebaran di internet. Yang menarik bagi saya, adalah usaha Pete Docter, sang sutradara, dalam mendeskripsikan pikiran manusia. Saya pikir itu brilian sekali!

Dalam novel dikenal istilah aliran kesadaran (stream of consciuousness), sebuah gaya bercerita yang mendeskripsikan pikiran karakter. Tentu saja banyak novel, bahkan sinetron, yang juga menggunakan deskripsi pikiran. Yang membedakan, aliran kesadaran berisi pikiran-pikiran spontan karakter, cenderung tidak tertata, dan kadang ngalor-ngidul. Pikiran manusia tentu saja rumit, dan aliran kesadaran adalah salah satu cara untuk menceritakan kerumitan pikiran manusia itu.

Inside Out melampaui aliran kesadaran, sebab film itu mendekripsikan pikiran manusia dengan analogi dunia: pikiran manusia ibarat dunia, dengan orang-orang yang memiliki tugas yang berbeda-beda agar dunia itu bisa berjalan. Dalam pikiran manusia ada sistem memori, yang digambarkan seperti sebuah perpustakaan raksasa dengan luas tak terhingga. Bedanya, tidak ada buku di situ, yang ada hanya bola-bola yang berisi memori. Jika jarang digunakan, memori itu akan dibuang begitu saja, oleh petugas pembersih memori.

Yang menarik juga, bagian-bagian pikiran yang bertugas untuk membuat hal-hal abstrak dan imajjnasi, juga digambarkan dalam film itu. Artinya, karena setiap cerita filksi pada dasarnya adalah imajinasi, maka film itu mencoba untuk mengimajinasikan hal-hal abstrak dan mengimajinasikan imajinasi. Gila, ada imajinasi dari imajinasi: metaimajinasi! Dalam bagian imajinasi ini, kita kita akan menemukan kota berbentuk awan, dengan bangunan yang terbuat dari awan, yang penghuninya adalah orang-orang yang juga terbuat dari awan. Kita juga akan menemukan hutan kentang goreng, bahkan pacar imajiner juga ada.

Tokoh-tokoh utama Inside Out adalah emosi-emosi manusia. Masing-masing bernama Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust. Setiap manusia, memiliki lima emosi ini di dalam pikirannya, dan lima emosi inilah yang mengendalikan manusia. Cerita mengenai Riley dan orang tuanya digambarkan dengan sangat sederhana. Kita sering melihat orang yang tanpa alasan kuat tiba-tiba menangis begitu saja. Ini hal sepele, tapi percayalah, dalam tindakan sepele itu terdapat proses pikiran yang rumit. Kerumitan dalam film ini tidak terdapat pada cerita mengenai Riley dan orang tuanya, melainkan terdapat pada pikiran Riley itu sendiri.

Yang mengganjal bagi saya, setiap emosi juga merasakan emosi yang lain. Joy, yang seharusnya hanya mengenal perasaan bahagia, nyatanya bisa menangis dan bersedih juga. Anger, yang seharusnya hanya merasakan kemarahan, nyatanya bisa ketakutan juga. Baiklah, toh hal-hal yang mengganjal itu tidak mengurangi kenikmatan saya menonton film ini.

Dan bagian paling menarik dari film ini, ketika diakhir cerita sang sutradara menggambarkan proses dalam pikiran seekor kucing. Kita tahu, kucing adalah hewan yang paling sulit untuk dipahami. Tindakan dan gerakan kucing juga sulit diprediksi. Seekor kucing terkadang berjalan entah ke mana, dengan misi yang sepertinya terlihat sangat misterius. Kesulitan kita untuk memahami kucing terjadi karena tiga alasan. Pertama, lima emosi yang tinggal dalam pikiran seekor kucing selalu bertengkar. Kedua, papan kontrol yang berfungsi untuk mengendalikan tubuh kucing, itu sangat rumit. Bahkan, papan kontrol dalam pikiran seekor kucing digambarkan sama rumitnya dengan papan kontrol Riley saat usianya 11 tahun. Ketiga, lima emosi itu, yang digambarkan sebagai kucing juga, tidak mengetahui kalau mereka adalah emosi dalam diri sang kucing, dan tidak tahu juga kalau mereka sedang berada dalam pikiran sang kucing. Jadilah emosi-emosi itu bergerak sak karepe dewe, sehingga tidak mengherankan kalau seekor kucing memang selalu bergerak sak karepe dewe.

Leave a comment