Saya masih meyakini puncak hubungan pria dan wanita terjadi saat mereka sedang bicara berdua saja, bicara lepas tanpa beban, lalu berciuman (ini hanya bonus). Ngobrol berkualitas sudah cukup sebenarnya. Like Someone in Love barangkali hendak merayakan itu, merayakan bahwa obrolan berkualitas adalah puncak dari hubungan pria dan wanita. Salah seorang sahabat baik saya, yang sudah gonta-ganti pacar berkali-kali, suatu kali pernah menceritakan mantan-mantan pacarnya. Dari semunya, bukan yang paling cantik yang membuatnya sangat galau karena rindu, bukan juga yang paling tulus mencintainya, pun bukan juga yang paling jago berciuman. Dia justru paling merindukan mantannya yang paling asyik diajak ngobrol.
Like Someone in Love dibuka dengan adegan seorang pelacur kelas atas yang mendapat tawaran dari germonya untuk melayani seorang profesor. Pelacur itu, bernama Akiko (diperankan oleh Rin Takanashi), sempat menolak sebab dia sudah sangat kelelahan. Sang germo tetap ngotot bahwa Akiko harus melayaninya. Karena tidak ada pilihan lain, Akiko dengan berat hati menurutinya.
Akiko langsung duduk di sofa begitu sampai di rumah Sang Profesor, yang usianya di atas 70 tahun. Yang menarik, Sang Profesor menyewa pelacur bukan untuk ditiduri, melainkan untuk diajak ngobrol sembari makan malam dan diakhiri dengan minum wine bersama. Sudah, itu saja. Di majalah Rolling Stone Indonesia, saya pernah membaca kalau musisi besar Indonesia, Gombloh, juga pernah melakukan hal yang hampir sama dengan apa yang dilakukan Sang Profesor. Waktu itu Gombloh sedang tidak punya ide untuk menciptakan lagu. Dari kamar hotel dia memesan pelacur. Setelah pelacurnya datang, pelacur itu hanya telanjang dan duduk di atas kursi. Gombloh hanya memandangi pelacur itu, tanpa menyentuhnya sama sekali, dan menciptakan lagu dengan cara memandangi pelacur itu.
Saya selalu suka dengan cerita tentang seorang lelaki yang tidak ingin berhubungan badan dengan perempuan, walaupun keadaannya sangat memungkinkan untuk itu. Salah satu bagian dari novel Cantik itu Luka, menceritakan tentang Kliwon yang pergi berlayar dengan Alamanda selama berminggu-minggu di atas perahu. Karena tidak membawa pakaian ganti, Kliwon dan Alamanda langsung mencopot begitu saja baju mereka ketika basah untuk dijemur di atas atap perahu. Awalnya Alamanda takut untuk mencopot bajunya, karena mengira Kliwon akan menidurinya. Ternyata, setelah mereka telanjang bulat, penis Kliwon sama sekali tidak ereksi melihat tubuh Alamanda yang begitu cantik. Bukan karena Kliwon seorang homoseksual, tapi karena dia memang betul-betul tidak punya keinginan untuk bersetubuh dengan Alamanda.
Seorang sahabat yang lain, yang suka tidur dengan perempuan, selalu membanggakan dirinya yang begitu jantan karena bisa memuaskan semua perempuan yang pernah tidur dengannya. Definisi jantan baginya adalah tangguh saat berada di atas ranjang. Saya tentu saja tidak sepakat dengan dia. Lelaki sejati bagi saya justru seperti Sang Profesor di film Like Someone in Love, seperti Gombloh, atau seperti Kliwon dalam novel Cantik itu luka. Lelaki sejati adalah dia yang menolak untuk tidur dengan perempuan, walaupun keadaannya sangat memungkinkan untuk itu.
Ceritamu ini mirip dengan salah satu cerpen Arab. Ketika seorang pemuda mengajak pulang seorang pelacur, bukan untuk diajak begituan, tapi cuma pengen denger omongan si perempuan itu. Juga mirip dengan novel Dewi Lestari yang Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Juga mirip dengan ceritanya Chairil Anwar yang kerap pergi ke Kramat Tunggak ketika ia jenuh dengan dunia.
Apa lagi ya..
Kalau begitu, apakah benar ya bahwa perempuan itu racun dunia bagi para lelaki/
Cerita kayak gitu banyak banget Ul. Beberapa kali di film muncul juga yang kayak gitu. Kita bisa ubah ceritanya, menjadi perempuan yang menolak berhubungan badan dengan lelaki ketika keadaan memungkinkan dia untuk itu. Bukankah perempuan kayak keren banget? Tidak ada yang menjadi racun bagi siapa-siapa, tergantung perspektif saja menurutku. Atau bisa kita perluas, perempuan yang keren itu ketika dia mampu menahan hasrat untuk belanja disaat dia punya banyak uang, atau laki-laki yang mampu menahan hasrat untuk tidak beli mobil sport baru saat dia lagi banyak uang juga. Intinya itu kemampuan manusia untuk menahan hasrat, baik biologis atau yang lain. Itu yang keren menurutku
abbas kariostami, taste of cherry dongs
Taste of Cherry itu memang di Cannes. Semua tulisan di BBKU Mini hanya untuk ngeresensi film-film bagus yang gak menang Oscar, gak menang di Cannes, dan gak masuk TOP 250 IMDB.
hihihi iya iya kak.