4. Whisper of the Heart, Yoshifumi Kondo

Ini film tentang pencarian jadi diri seorang siswi SMP di Tokyo. Shizuku, nama gadis itu, gemar pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Dia selalu mendatangi rak fiksi, membacanya sebentar di perpustkaan, lalu meminjam buku itu untuk dibaca di rumah. Setiap kali meminjam buku, selalu ada nama Seiji Amasawa di daftar orang yang pernah meminjam buku tersebut. Artinya, Seiji Amasawa sudah membaca lebih dulu buku-buku yang dipinjam oleh Shizuku.

Sebagai seorang gadis yang memasuki masa pubertas, dia penasaran dengan sosok Seiji Amasawa. Dia selalu membayangkan bahwa Seiji Amasawa adalah sosok yang tampan lagi cerdas, kharismatik, dan tentu saja sosok yang cool. Suatu ketika, secara tidak sengaja, karena menguntit seekor kucing, Shizuku masuk ke sebuah toko perabotan antik. Seorang kakek yang menjaga toko itu sedang memperbaiki sebuah jam antik besar, yang dibuat oleh seorang seniman yang patah hati. Setiap jam 12, jam itu berbunyi, bagian bawahnya terbuka, dan muncullah sebuah pertunjukan singkat tentang raja kurcaci yang tidak mampu menjalin kasih dengan seorang peri nan cantik. Kisah dalam jam itulah yang membuat kakek itu yakin bahwa seniman pembuat jam itu sedang patah hati kala membuatnya.

Singkat cerita, Shizuku bertemu Seiji. Yang tidak disangka olehnya, Seiji justru pemuda yang menyebalkan, jauh dari bayangan awal Shizuku. Di toko antik itulah Seiji tinggal, dan kakek pemilik toko adalah kakek Seiji. Di belakang toko terdapat studio untuk membuat biola. Seiji ingin menjadi seorang pembuat biola handal. Dia selalu berlatih setiap hari. Tapi kemampuannya tidak akan meningkat jika dia hanya belajar di Tokyo saja. Dia harus belajar pada ahlinya di Cremona, Itali, jika ingin meningkatkan kemampuannya. Akhirnya Seiji berangkat juga ke sana. Saat itulah Shizuku galau setengah mati. Bukan karena kepergian orang yang diam-diam dia sukai (meskipun awalnya menyebalkan, pada akhirnya Shizuku jatuh hati juga pada Seiji), tapi karena diusia yang begitu muda Seiji sudah tahu apa bakatnya dan ingin mengembangkan bakatnya itu. Sedangkan Shizuku, tidak tahu menahu harus menjadi apa. Namun saat sedang ngobrol berdua dengan sahabatnya, Shizuku akhirnya tahu harus menjadi apa: dia memutuskan menjadi seorang penulis!

Teman-temannya selalu memuji syair-syair yang ditulis Shizuku. Ditambah dengan kegemarannya terhadap karya fiksi, Shizuku mantap ingin menjadi penulis. Selama dua minggu dia menulis terus, padahal saat itu sedang ada ujian akhir di sekolahnya. Nilai-nilainya jeblok tentu saja, tapi Shizuku tidak peduli dengan itu. Dia tetap menulis. Sekalipun orang tuanya sudah menegurnya, dia masih tetap menulis. Setelah novelnya selesai, dia lalu memperlihatkan novel itu pada kakek Seiji. Masih banyak kekurangan memang, tapi disitulah keunikan novel Shizuku. Kakek itu mengatakan bahwa Shizuku seperti berlian yang belum diasah, perlu digosok agar kilaunya terlihat lebih cemerlang.

Saya berkaca pada diri saya yang sekarang, betapa saya malu pada Shizuku seandainya dia adalah orang sungguhan, bukan karakter fiksional dalam sebuah film animasi. Saya dulu pernah seperti Shizuku. Aktif menulis dan meninggalkan kuliah sejenak. Orang tua saya menegur agar segera menyelesaikan kuliah, tapi saya tidak peduli. Sebab saya tahu menulis adalah kesenangan saya, dan saya ingin hidup sebagai seorang penulis. Nilai-nilai saya jeblok, banyak yang dapat D, dan sama sekali tidak saya ulang. Biar saja begitu. Tapi saya bukan Shizuku, bukan berlian yang belum diasah. Setelah novel saya jadi dan diterbitkan, novel itu gagal total. Selain karena tidak laku, isinya pun kalau mau jujur tidak memuaskan saya. Teman-teman saya mencaci novel itu, dan saya tahu cacian mereka itu adalah satu-satunya kejujuran yang pernah mereka katakan pada saya. Dan lihat saya sekarang, malas menulis, dan cuma berfokus dapat nilai bagus. Tragis saja rasanya saat dapat nilai B dan tetap saya ulang supaya dapat A. Celakanya, setelah diulang saya justru dapat nilai C!

Idealisme terhadap substansi dan bukan pada nilai yang kini hilang. Saya pikir itu barang mahal, terutama bagi seorang pemuda kere seperti saya. Dan setiap kali menonton ulang Whisper of the Heart, saya selalu diingatkan kembali bahwa mendapat nilai tinggi bukanlah tujuan utama dalam belajar. Sebab, seperti kata orang bijak, belajar itu bertujuan untuk mengenal diri sendiri, menemukan potensi diri yang harusnya kita kembangkan, menjadi ikan yang pandai berenang, bukan menjadi ikan yang pandai memanjat pohon.

One thought on “4. Whisper of the Heart, Yoshifumi Kondo”

Leave a comment