“Hati seorang perempuan adalah samudera rahasia yang dalam,” adalah kutipan yang sangat terkenal dari fim Titanic. Bertahun-tahun saya mengamini kebenaran kutipan itu sampai akhirnya saya menganggap kutipan itu omong kosong belaka setelah saya membaca Kokoro karya Natsume Sōseki. Novel ini bercerita tentang keterasingan tokoh Sensei dari dunia luar akibat perbuatan-perbuatan yang dia lakukan di masa lalu. Novel ini mengingatkan saya pada seorang teman yang lebih senior yang sering saya panggil Suhu. Antara Sensei dan Suhu memiliki sifat yang kurang lebih sama. Bersikap tenang dan selalu tampak tidak peduli dengan dunia luar. Tentu saja sikap yang demikian bukan bawaan lahir, tetapi akibat dari hal-hal yang mereka lakukan di masa lalu. Hanya saja, jika Sensei perubahannya berlangsung secara bertahap, Suhu justru sangat tiba-tiba.
Tiga tahun lalu, saat saya masih tinggal di Malang, Suhu merekomendasikan saya untuk membaca Kokoro. Waktu itu Suhu belum mengasingkan diri dari dunia luar. Dia adalah orang yang sangat ambisius dan ekspresif, suatu sikap yang terus terang saja lebih saya senangi ketimbang sikap diam dan bijaknya saat ini. Suhu memang banyak merekomendasikan buku pada saya. Bacaannya kebanyakan sastra klasik, dan oleh karena itu rekomendasi bukunya kebanyakan dari para sastrawan bangkotan semacam Dostoyevsky, Nabokov, serta raksasa-raksasa kesusastraan Jepang seperti Ryūnosuke Akutagawa, Jun’ichirō Tanizaki, Osamu Dazai, dan Natsume Sōseki. Di antara semua rekomendasinya itu, Suhu “sedikit mewajibkan” saya untuk membaca Kokoro dan No Longer Human nya Osamu Dazai. Kedua novel itu bercerita tentang keterasingan manusia, dan saat ini Suhu, dalam pandangan saya, memutuskan untuk mengasingkan diri. Suatu kebetulan kah? Atau keteransingan yang suhu alami karena membaca dua novel itu?
Kembali ke Kokoro, narator utama dalam novel ini adalah tokoh Aku, yang tidak pernah disebutkan namanya, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi. Tokoh Aku merasa kuliah-kuliah dari profesor di universitas sama sekali tidak membangkitkan gairah intelektual dalam dirinya. Tetapi pembicaraan-pembicaraannya dengan Sensei selalu saja membuat tokoh Aku merasa mendapat pelajaran tentang hidup. Sudah pasti, meskipun hanya lulusan S1, tapi Aku jauh lebih mengangumi kecerdasan Sensei ketimbang profesor di universtas. Suhu yang saya ceritakan juga lulusan S1, tapi saya merasa obrolan dengan Suhu berjam-jam di warung kopi Joker jauh lebih bermanfaat ketimbang mengikuti kuliah di kampus. Saya sangat mengagumi Suhu, seperti karakter Aku yang begitu mengangumi Sensei.
Saya awalnya tidak tertarik untuk membaca sastra Jepang. Bagi saya, sastra itu ya Eropa. Novel yang cemerlang hanya ada di Eropa, bukan di tempat lain. Tapi itu dulu. Bertahun-tahun kemudian saya merasa pendapat saya itu teramat lugu, dan hanya dilontarkan oleh seorang mahasiswa tingkat pertama yang sedang puber intelektual. Keengganan saya membaca novel Jepang karena anggapan yang keliru bahwa alur novel Jepang sudah pasti lambat seperti Dragon Ball, dan karakternya sama sekali tidak hidup seperti serial Naruto. Suhu lah yang meyakinkan saya bahwa pandangan seperti itu keliru luar biasa. Mulai saat itu saya banyak membaca sastra Jepang, meskipun jumlahnya tidak betul-betul banyak. Saya membaca cerpen-cerpen Akutagawa, serta novel-novel Haruki Murakami dan Yasunari Kawabata. Semuanya karya cemerlang. Tapi tidak ada yang sebegitu dahsyatnya bagi saya seperti Kokoro. Saya punya list lima novel terbaik versi saya. Setelah selesai membaca Kokoro ada satu pekerjaan yang menanti saya untuk segera saya lakukan: merombak list novel terbaik yang pernah saya baca itu tentu saja.