Beberapa hari belakangan, saat tulisan ini saya buat, ada diskusi di Threads terkait tes IELTS yang sebenarnya melanggengkan praktik neoliberalisme pendidikan yang hanya menguntungkan institusi-institusi di Global North, terutama yang bahasa pengantarnya adalah Bahasa Inggris. Saya sepenuhnya setuju dengan diskusi tersebut. Namun dalam kasus saya, seseorang yang sedang merintis karis sebagai akademikus, problemnya justru jauh lebih rumit dari sekedar tes IELTS. Tulisan ini adalah refleksi singkat saya mengenai beberapa hambatan struktural menjadi akademikus di Global South.
Sebagai gambaran, saat ini saya sedang melakukan riset terkait ekspresi nasionalisme di media diaspora Indonesia di masa kolonial, dengan menggunakan pendekatan poskolonial/dekolonial. Riset tersebut adalah penelitian doktoral saya di University of Edinburgh, institusi di Global North dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Saya lahir dan besar di Tolitoli, Sulawesi Tengah, daerah yang termasuk 3T di Indonesia. Karena termasuk dalam kawasan timur Indonesia (harap dibedakan antara timur Indonesia sebagai kawasan geografis dengan Waktu Indonesia Timur sebagai kategori pembagian waktu), saya tidak mendapat kesempatan pendidikan bagus yang sama seperti yang orang-orang dapat jika tinggal di Pulau Jawa, terutama di Jakarta.
Saya baru belajar Bahasa Inggris secara serius baru saat kuliah S1 di Universitas Brawijaya, Malang, karena referensi perkuliahan mayoritas berbahasa Inggris. Guru bahasa Inggris saya di SMP dan SMA tidak jauh berbeda dengan guru-guru Bahasa Inggris lain di Indonesia: lebih banyak mengajarkan grammar dan menghafal kosakata, atau dengan kata lain, mengajarkan Bahasa Inggris untuk menjawab soal, bukan untuk berkomunikasi. Yang paling membuat saya tercengang adalah, kompetensi berbahasa Inggris guru Bahasa Inggris di Indonesia ternyata, mayoritas, berada di level A2, yang berarti masih sangat dasar. Problem pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia ternyata jauh lebih kompleks dari sekedar kemampuan guru dalam menyampaikan ilmunya, sebab apa yang mau disampaikan jika kemampuan dasar berbahasa Inggris saja masih jauh di bawah rata-rata?
Karena bahasa ibu saya bukan Bahasa Inggris, saya harus bekerja lebih keras dari teman-teman saya yang sejak lahir sudah berbahasa Inggris. Dibandingkan dengan teman-teman saya yang tinggal di Jakarta dan Surabaya saja, saya harus belajar dua kali lebih keras karena kami tidak memulai dari start yang sama ketika belajar Bahasa Inggris. Skor tes IELTS saya 7.5, skor yang di atas rata-rata untuk bisa masuk di mayoritas kampus top dunia. Tapi ternyata, saat menjalani studi, saya tetap kewalahan juga.
Problem berikutnya adalah problem substansi dari apa yang saya pelajari. Karena menggunakan pendekatan poskolonial/dekolonial, saya juga harus bekerja dua kali lebih keras ketimbang teman-teman saya yang berasal dari Global North. Yang pertama, saya harus memahami dengan baik perspektif Barat atau Global North dengan baik. Kedua, setelah memahaminya dengan baik, saya harus melakukan kritik epistemik terhadap pendekatan-pendekatan itu. Di Indonesia, penggunaan pendekatan poskolonial/dekolonial mulai marak digunakan, tapi tanpa pernah benar-benar memahami apa yang hendak dikritisi (perspektif Global North itu sendiri). Kritik tanpa memahami dengan baik apa yang hendak didiskusikan tentu saja bukan budaya ilmiah yang baik, yang sialnya, inilah yang dilakukan oleh banyak akademisi di Indonesia. Bandingkan dengan teman-teman saya yang berasal dari negara-negara Global North, yang cukup memahami dengan baik perspektif teoritis yang muncul dan berkembang dari wilayah mereka sendiri, dengan melakukan beberapa kritik tentunya, tetapi tanpa perlu melakukan kritik epistemik terhadap pendekatan-pendekatan tersebut.
Problem terakhir, ketika riset saya sudah selesai, juga riset-riset lain yang akan saya lakukan di masa mendatang, riset tersebut harus didesiminasikan tidak hanya dalam skala nasional, tetapi terutama skala global. Sudah banyak kajian yang memperlihatkan bahwa publikasi ilmiah dalam rumpun sosial-humaniora mayoritas berasal dari negara-negara Global North. Bukan hanya karena mereka memiliki dana yang melimpah, tetapi juga karena secara ideologis, mereka lebih suka menerbitkan hasil riset yang sesuai dengan episteme mereka sendiri, yakni episteme Barat tadi. Sehingga, dalam urusan mempublikasi hasil riset, saya kembali akan bekerja lebih keras ketimbang orang-orang yang memang berasal dari Global North.
Menjadi akademikus dari Global South, dengan demikian, saya harus bekerja lebih keras dibandingkan dengan orang-orang yang berasal dari Global North, sebab bahasa Inggris bukanlah bahasa pertama saya, perspektif yang saya gunakan bukan perspektif dominan yang diajarkan di kampus tempat saya belajar, dan saat mempublikasikan hasil riset saya nantinya, saya harus melawan tren publikasi yang lebih menyukai mempublikasikan hasil riset yang sesuai dengan episteme dominan di negara-negara Global North.
Dan bagian paling sialnya adalah: penghasilan sebagai akademikus di Indonesia jauh dari kata menyejahterakan.