Blog

Teknik Jitu Menaklukkan Hati Member JKT48

Kinal tahu sebagai member JKT48 dia tidak boleh berpacaran, tapi dia juga tahu tidak seorang pun yang bisa melarang dia untuk jatuh cinta. Berpacaran dan jatuh cinta adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa jatuh cinta tanpa berpacaran. Jatuh cinta adalah urusan hati, sedang berpacaran adalah tindakannya. Dan Yasushi Akimoto sekalipun tidak punya hak memecat seorang member karena jatuh cinta pada seorang lelaki, sebab dia hanya melarang untuk berpacaran, bukan jatuh cinta.

***

Cerita ini sebenarnya bukan tentang Kinal, ini cerita tentang Ahmad Winata. Dia adalah orang sungguhan, bukan karakter yang aku ciptakan. Kau bisa mencarinya lewat google kalau tidak percaya. Paragraf di atas juga bukan karanganku, itu aku kutip dari skenario komik yang dia tulis. Dia adalah penggila semua hal tentang Jepang, terutama manga dan animenya.

Sebagai otaku sejati, dia adalah orang yang akan marah besar jika kau menyamakan anime dengan manga, atau kau menyamakan JKT48 dengan girlband. Dia akan buru-buru meralatnya sebelum kau sempat melanjutkan kata-katamu, “Manga dan anime itu dua hal yang beda, dan ingat, JKT48 bukanlah girlband!” begitu katanya berulang-ulang padaku.

Winata orang yang sangat percaya takhayul. Aku tidak tahu kepercayaan ini dia dapatkan dari kesenangannya membaca manga, atau karena pengalaman pribadinya. Kerap saat bersepeda motor berdua, dan melewati jalanan yang gelap, dia akan bilang kalau perasaannya tidak enak sebab mencium bau yang aneh. Kau pasti tahu, bau yang aneh adalah ciri ada hantu di dekatmu.

Tapi aku curiga, bau aneh itu justru berasal dari badannya sendiri. Aku beri tahu satu informasi penting padamu: Winata adalah orang yang malas mandi. Kebiasaan jorok itu semakin diperburuk dengan kenyataan bahwa dia bukanlah orang yang tampan. Kau tahu, secara fisik Winata jauh dari kata menarik, badannya gemuk, berkacamata tebal, rambut awut-awutan, dan selalu berkeringat dengan aktifitas apapun yang dia lakukan.

Baiklah, kini kau telah tahu, meskipun cuma sedikit, seperti apa Ahmad Winata itu. Aku tahu kau tidak suka dengan cerita yang karakter utamanya bukanlah lelaki yang tampan. Sebagai penulis, aku pun sebenarnya tidak suka menuliskan cerita dengan karakater seperti Winata. Aku tidak menemukan ada hal puitis dengan menuliskan cerita tentangnya. Tapi tenang saja, dalam cerita ini kau akan tetap menemukan cerita tentang lelaki tampan dengan perempuan cantik. Cerita itu bukan aku yang tulis, itu adalah karangan Winata. Dia menulis skenario komik. Akan kuceritakan padamu, dengan menggunakan bahasaku sendiri, isi skenario komik yang dia tulis.

***

Dia menuliskan cerita dengan karakter seorang lelaki tampan, dingin, misterius, dan selalu tidak peduli dengan sederetan perempuan cantik yang mengaguminya. Dia tidak mungkin menamai karakternya dengan Jokowo, sebab selain terlalu ndeso, nama itu juga mirip Gubernur DKI Jakarta. Maka Ahmad Winata memenggal empat huruf terakhir dari Jokowo, lalu menambahi huruf ‘e’ setelahnya. Jadilah namanya Joe, supaya terbaca sangat urban.

Setiap kali Joe berjalan, kedua telapak tangannya selalu dimasukkan dalam saku celana. Kau tahu, memasukkan tangan dalam saku adalah kebiasaan tokoh-tokoh dingin dalam beragam serial manga dan anime yang kerap ditonton Winata.

Aku sebenarnya tidak enak pada Winata untuk mengatakan ini, tapi demi keutuhan cerita, mau tidak mau aku harus mengatakannya: Joe sebenarnya bayangan ideal diri Winata Sendiri. Dia selalu membayangkan dirinya adalah lelaki yang dingin, dengan banyak perempuan cantik yang mengaguminya. Tapi bayangan ideal dirinya dengan kenyataan yang ada sungguh sangat berbeda jauh. Supaya perbedaan itu tidak terlalu mencolok, karakter yang dia ciptakan, Joe, dibuat berkacamata seperti dirinya.

Ahmad Winata menginginkan Joe dikagumi oleh perempuan yang tidak biasa. Dia haruslah bertolak-belakang dengan semua sifat Joe. Dia cantik, sedikit cerewet, penuh optimisme, memiliki banyak teman, sangat ceria, dan tentu saja sangat populer. Kau pasti bisa menebaknya: perempuan itu adalah member JKT48.

Bukan tanpa alasan member JKT48 yang Winata jadikan tokoh perempuan dalam komiknya. Dia sangat mengidolakan JKT48. Oshinya adalah Veranda, member JKT48 yang paling feminim. Winata kerap berfantasi tentang Veranda beberapa saat sebelum dia tidur, tapi lebih sering saat dia berada di kamar mandi. Namun, untuk alasan dramatisasi dalam cerita yang dia tulis, dengan berat hati bukan Veranda yang dia jadikan karakter dalam komiknya: dia lebih memilih Kinal, kapten tim di JKT48.

***

Sebelum aku ceritakan lebih lanjut komik yang dia tulis, harus aku sampaikan kalau cerita yang dia buat sangat klise. Kau tahu, layaknya serial manga yang dia baca, Joe dan Kinal pertama kali bertemu di dalam kelas. Joe adalah mahasiswa pindahan dari Surabaya, dan kuliah di Bandung karena orang tuanya mendapat promosi jabatan di kota itu. Aku sudah berkali-kali memberikan saran untuk mengubah cara mereka bertemu, tapi Winata tetap kukuh dengan cerita awal yang dia buat. Dia sangat yakin, bertemu di dalam kelas adalah bentuk perkenalan yang paling romantis.

Joe diam-diam dikagumi mahasiswi-mahasiswi cantik, dan diam-diam juga Joe telah mengetahui kalau dia dikagumi secara diam-diam. Setiap kali berjalan, ratusan pasangan mata memerhatikannya. Tangan Joe dimasukkan dalam saku celananya, dan rambutnya, walaupun saat itu tidak ada angin yang berembus, beterbangan ke sana ke mari. Itu adalah cara berjalan paling keren yang dapat Winata bayangkan.

Joe adalah orang yang cerdas, berpengetahuan luas, di kelas dia jarang berbicara, tapi sekalinya dia bicara seisi kelas akan terdiam. Diam-diam Kinal ikut mengaguminya. Kinal lalu mencari tahu lebih jauh tentang Joe. Dari penelusurannya, ternyata Joe telah menerbitkan dua novel. Dia bukanlah novelis kenamaan, dia penulis novel cult, novel-novelnya tidak pernah best-seller, memiliki penggemar yang tidak terlalu banyak tapi selalu antusias menunggu karya-karyanya. Ceritanya kemudian bisa ditebak, Kinal membaca novel-novel Joe, dan itu membuatnya semakin mengagumi Joe. Kinal kerap mencoba mengajak Joe berbicara, namun selalu mendapat perlakuan dingin dari Joe. Selalu begitu, dan begitu, sampai suatu ketika, tatkala Kinal hampir putus asa, entah bagaimana, Joe tiba-tiba menyapa Kinal dengan “hai,” dan kau tahu, pipi Kinal seketika memerah, seperti di serial anime yang kerap ditonton Winata.

***

Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin laki-laki yang sangat dingin tiba-tiba dapat bersikap hangat pada perempuan tanpa alasan apapun? Logika ceritanya betul-betul kacau! A.S. Laksana pasti akan memaki habis-habisan cerita yang ditulis seperti itu! Saat aku menanyakan hal itu pada Winata, dengan enteng dia menjawab, “Cinta dan logika itu urusan yang beda. Jika kau memaksakan sebuah cerita harus sesuai logika, itu namanya cerita detektif, bukan cerita cinta!”

Tanpa memedulikan saran yang aku berikan, dia tetap melanjutkan cerita yang ingin dia tulis.

***

Joe dan Kinal lalu jalan berdua. Mereka ke kebun teh, dan juga pantai. Saat jalan berdua di pantai, dengan matahari senja sebagai latarnya, Kinal merentangkan tangannya, menengadahkan kepalanya ke langit, lalu berputar-putar sambil menyanyi ceria. Sedang Joe dengan tangan di dalam saku celana, serta angin senja yang menerbangkan rambutnya, hanya menatap Kinal dari belakang dengan seulas senyum di bibirnya.

Semenjak itu, Kinal jatuh cinta pada Joe. Dia tidak mungkin menyatakan rasa itu pada Joe, sebab di JKT48 para member dilarang berpacaran. Kinal dalam kondisi yang bimbang, memilih Joe atau JKT48. Dia sudah terlanjur cinta pada Joe, tapi dia tidak bisa meninggalkan JKT48 begitu saja. Dia adalah kapten di JKT48, yang notabene seorang ikon di groupnya. Dia punya banyak penggemar yang akan kecewa jika dia memutuskan keluar. Apalagi, dia sudah menganggap semua member JKT48 sebagai keluarganya sendiri, dan hal yang berat untuk meninggalkan keluarga.

***

Sungguh, saat menuliskan cerita di atas, air mata Winata jatuh menetes. Dia bukanlah lelaki yang sentimentil, tapi dia akan selalu tersetuh dengan hal apapun yang berhubungan dengan kesetiaan. Asal kau tahu saja, Winata pernah ditinggal pergi kekasihnya demi laki-laki lain yang lebih tampan, dan mapan, darinya. Semenjak itu dia seperti mendapat kutukan. Setiap kali mendekati perempuan, dia selalu mendapat penolakan. Akhirnya kau tahu, cerita yang dia tulis tidak lain merupakan kisah ideal tentang dia dengan perempuan manapun yang dia suka.

“Lalu kau mau mengakhiri komikmu dengan cerita seperti apa?” tanyaku.

“Dengan hal yang paling pembaca tidak inginkan terjadi: member JKT48 yang lain akhirnya tahu hubungan antara Kinal dan Joe!”

***

Aku akhirnya memberikan saran cerita yang jauh lebih baik dari yang bisa Winata pikirkan. Aku mengatakan padanya, kalau Joe tidak perlu digambarkan terlalu sempurna seperti yang dia buat. Menurutku, secara fisik Joe tidak perlu terlalu tampan. Kisah cintanya justru lebih bagus kalau mirip dengan kisah cinta Winata sendiri, pernah dikhianati kekasihnya, dan mendapat penolakan terus-menerus dari perempuan lain setelah itu. Teman-teman dekat Joe sampai memberi julukan orang tersial padanya. Untuk membuktikan bahwa dirinya tidak mendapat kutukan kesialan, dia harus menyatakan cinta pada perempuan cantik yang disukainya, dan tidak boleh mendapat penolakan. Lama Joe memikirkannya, dan ilham itu baru turun tatkala dia selesai membaca buku karangan A.S. Laksana, terutama di bagian Teknik Mendapatkan Cinta Sejati.

“Aku telah menyatakan cinta pada seorang perempuan cantik, dan tidak mendapat penolakan,” kata Joe bangga.

“Bagaimana bisa?” teman-temannya keheranan. “Memangnya perempuan siapa yang tidak menolakmu?”

“Kinal JKT48!”

Joe melanjutkan ceritanya, kalau dia dan Kinal bertemu tadi pagi diacara direct selling CD single JKT48 terbaru. Saat mereka berjabat tangan, Joe berkata pada Kinal, “Aku mencintaimu. Tapi sayang sekali, di JKT48 para member tidak boleh memiliki pacar. Jika peraturan seperti itu tidak ada, sejak lama aku telah mengajakmu berpacaran.” Selesai urusan. Kinal hanya tersenyum, tidak menolak, tidak menerima. Dia tersenyum seperti senyum yang selalu dia berikan pada penggemarnya, siapapun itu.

Kalau toh ditolak tatkala menyatakan cinta ke member JKT48, setidaknya bukan ditolak karena alasan-alasan seperti, “Aku masih ingin fokus belajar,” atau, “Aku telah menganggapmu sebagai sahabat,” atau, “Kita lebih cocok jadi kakak beradik.” Percayalah, semua itu adalah sinonim belaka bahwa perempuan itu tidak menyukaimu. Tapi jika kau menyatakan cinta pada member JKT48, alasan penolakanmu pastilah, “Maaf, di JKT48 kami dilarang berpacaran.”

Bayangkan, kau ditolak padahal tidak ada aturan yang melarang untuk berpacaran, itu rasanya seperti ada 70.000 pedang yang menusuk tubuhmu. Itulah sebabnya Joe sangat senang telah menyatakan perasaannya pada Kinal, sebab menyatakan cinta ke member JKT48 adalah cara jitu dalam menghindari penolakan karena alasan-alasan yang sangat umum, kurang tampan, misalnya.

***

Tapi Winata tidak mau cerita yang laksanaesque seperti saranku itu. Dia ingin dengan cerita yang lain, cerita yang telah dia rencanakan sejak awal:

Walaupun member JKT48 yang lain akhirnya tahu hubungan antara Kinal dan Joe, dan Kinal menjalani sidang internal antar member, dengan tegas Kinal berkata, “Member JKT48 memang tidak boleh berpacaran, tapi tidak pernah ada aturan yang melarang member untuk jatuh cinta. Berpacaran dan jatuh cinta adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa jatuh cinta tanpa berpacaran. Jatuh cinta adalah urusan hati, sedang berpacaran adalah tindakannya.”

Walau bagaimanapun, member lain tidak ingin Kinal keluar dari JKT48. Maka jalan tengahnya, Kinal tetap di JKT48, dan diam-diam tanpa sepengetahuan Yashushi Akimoto, para member merahasiakan perasaan Kinal pada Joe dan kenyataan bahwa mereka telah sering jalan berdua.

***

“Cerita yang berakhir bahagia ya,” kataku pada Winata.

“Orang-orang akan selalu suka dengan cerita yang berakhir bahagia, sebab dalam kehidupan nyata, hal itu tidak pernah terjadi,” jawab Winata dengan mimik muka serius.

Apa yang dia katakan itu memang benar adanya. Beberapa hari sebelum dia menuliskan akhir kisah untuk komiknya, saat dia akan pulang ke rumahnya di Surabaya, dia terjebak hujan deras. Waktu itu pukul lima sore, dan karena tidak membawa jas hujan, dia berteduh di pos kampling. Jalanan hari itu sepi. Sudah hampir sejam Winata berteduh, dan tidak ada tanda-tanda hujan akan reda. Saat itulah, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depannya. Dari kursi pengemudi, seorang perempuan cantik dengan payung di tangannya keluar untuk menghampiri Winata. Perempuan itu adalah Mei, mantan kekasih yang telah menghianati Winata.

Jika kau mengira kedatangan Mei untuk menyatakan permohonan maaf pada Winata, atau menawari dia tumpangan pulang, atau minimal menemaninya berbicara sembari menunggu hujan reda, maka kau salah besar. Sebab perempuan itu telah lupa dengan wajah Winata, dan dia berhenti tepat di depannya hanya untuk menanyakan jalan menuju pom bensin terdekat.

Malang, 11 April 2014, pukul 10.10 WIB

Menjadi Pustakawan

Beberapa bulan lalu saya sempat berpikiran, jika sekiranya saya berkesempatan untuk kuliah di luar negeri, saya akan kerja paruh waktu di sebuah toko buku. Bukan toko buku milik korporasi besar seperti Gramedia atau Togamas, tapi toko buku kecil saja. Seperti Shakespeare and Company di Paris, atau yang lebh kecil dari itu. Pokoknya bukan milik korporasi dengan toko yang ada di mana-mana. Saya pikir jika saya berkesempatan studi di Paris, saya pasti akan melamar kerja paruh waktu di sana. Rasanya pasti menyenangkan. Saya membayangkan pengunjung Shakespeare and Company adalah the next F. Scott Fitzgerald, Thomas Mann, José Saramago, Le Clézio, dan  James Joyce. Sembari melayani mereka, saya bisa ngobrol-ngobrol dengan calon-calon penulis besar itu, visi mereka tentang buku, buku-buku yang akan mereka tulis, dan mungkin diselingi dengan obrolan tentang mengapa Juventus FC adalah klub sepakbola yang begitu menjengkelkan.

Saya tertarik untuk kerja paruh waktu di toko buku karena saya begitu terobsesi mengoleksi buku. Tapi belakangan minat untuk mengoleksi buku menurun drastis. Salah satu alasannya karena penulis idola saya, Jorge Luis Borges (yang setiap malam jum’at saya kirimkan Al-Fatihah), ternyata bukan seorang kolektor buku, yang berarti jarang membeli buku. Setahu saya, sastrawan yang paling banyak membaca buku adalah Borges. Bahkan ketika dia buta pun, dia membayar orang untuk membacakan buku untuknya. Bolehlah saya katakan kalau Borges ini adalah kutunya kutu buku. Kalau jarang membeli buku, lalu di mana dia membaca? Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan. Dia seorang pustakawan dan pernah menjabat sebagai  kepala perpustakaan nasional Argentina. Maka minat untuk kerja di toko buku pun berganti dengan minat untuk menjadi pustakawan.

Terus terang saya bukan orang yang sering ke perpustakaan. Buku-buku yang ingin saya baca bisa dengan mudah saya dapatkan tanpa harus ke perpustakaan. Selama studi S2, saya baru empat kali ke perpustakaan. Saya tidak punya alasan untuk sering ke sana. Buku-buku yang saya perlukan sebagai bahan bacaan dan referensi membuat makalah bisa dengan mudah saya dapatkan di Libgen. Ini cara ilegal tentu saja. Tapi koleksi Libgen jauh lebih lengkap dan terkini ketimbang koleksi di perpustakaan mana pun di Indonesia. Untuk mengakses jurnal dan hasil penelitian seperti tesis dan disertasi, hampir semua kampus besar Indonesia sudah menyediakan akses gratis tanpa harus berkunjung ke perpustakaan. Saya baru ke perpustakaan jika membutuhkan literatur berbahasa Indonesia, sebab Libgen tidak menyediakannya.

Di antara semua perpustakaan yang pernah saya datangi, perpustakaan Universitas Brawijaya (UB) lah yang paling sering saya kunjungi. Perpustakaan ini menurut saya bagus, koleksinya lumayan lengkap. Sayangnya pengunjungnya jarang yang membaca buku di sana. Kebanyakan hanya internetan di gazebo yang berada di sekeliling perpustakaan. Mereka seperti saya, tidak punya alasan khusus untuk masuk dan membaca buku di sana. Rasanya sayang jika koleksi yang melimpah ini jarang dibaca.

Jika sekiranya saya adalah pustakawan di perpustakaan UB, ada beberapa hal yang akan saya lakukan untuk menarik pengunjung datang. Pertama, membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat umum untuk datang dan meminjam buku. Saya pikir tidak rumit membuat sistem peminjaman buku bagi masyarakat umum. Akses ini bisa lah kita sebut bagian dari pengabdian untuk masyarakat. Kedua, menyediakan tempat gratis untuk diskusi buku (termasuk peluncuruan buku), pemutaran dan diskusi film, atau peluncuran album musisi lokal. Tentu saja masyarakat umum dapat menggunakan fasilitas ini. Khusus untuk diskusi buku, sekali dalam seminggu tim pustakawan memilih satu buku koleksi perpustakaan untuk dibedah. Yang membedah tidak harus dosen, mahasiswa pun boleh jadi pembedahnya. Asalkan dia sudah membaca buku itu. Untuk diskusi film pun begitu, seminggu sekali kita adakan (harinya bebas asal berbeda dengan hari bedah buku), dan siapa saja bisa menjadi narasumbernya.

Ketiga, memasang kutipan mengenai perpustakaan di dinding depan perpustakaan UB. Ada dua kutipan yang sangat saya suka. Pertama, dari Jorge Luis Borges: I have always imagined that paradise will be a kind of library. Kedua dari Michael Embry: I don’t have to look far to find treasures. I discover them every time I visit a library. Intinya hanya sekedar mengingatkan, kalau perpustakaan itu adalah surga dan tempat harta karun berada.

Keempat, dan ini yang paling penting, pustakawan wajib tahu tentang isi buku. Dihampir semua perpustakaan negara yang saya datangi, termasuk milik universitas negeri, kerja pustakawannya hanya berhubungan dengan masalah administrasi. Alangkah menyenangkannya kalau pustakawannya juga mengerti dengan hal-hal seputar buku. Jika ada seorang mahasiswa komunikasi yang sedang menulis skripsi tentang “ngerasani dalam masyarakat Jawa” misalnya, saya bisa merekomendasikan mahasiswa itu untuk membaca Communication Theory: The Asian Perspective yang disunting Wimal Dissanayake. Saya akan memberikan semacam resensi lisan tentang isi buku itu, kalau buku itu mencoba untuk mengkritik teori komunikasi Amerika yang dianggap tidak begitu kompatibel dalam menjelaskan perilaku berkomunikasi masyarakat Asia. Jika ada mahasiswa Ilmu Sastra yang sedang kebingungan dalam membahas karya-karya Franz Kafka, saya akan merekomendasikan mahasiswa tadi membaca The Art of the Novel nya Milan Kundera, atau Illuminations nya Walter Benjamin, serta memberikan sedikit pengantar mengenai perbedaan perspektif dua orang pemikir itu dalam menilai karya-karya Franz Kafka. Tentu saja mustahil bagi saya untuk tahu semua hal tentang buku. Saya bukan jenis manusia ensiklopedi berjalan, dan tidak tertarik menjadi manusia seperti itu. Lagipula, minat saya juga sangat terbatas pada topik-topik tertentu saja, seperti komunikasi, budaya populer, dan karya fiksi. Untuk topik-topik lain, katakanlah hukum agraria atau ekonomi manajemen, ada pustakawan lain yang menguasai topik itu. Dengan demikian, kerja pustakawan dalam menjelaskan isi buku adalah kerja tim, bukan kerja perorangan.

Kokoro, Natsume Sōseki

“Hati seorang perempuan adalah samudera rahasia yang dalam,” adalah kutipan yang sangat terkenal dari fim Titanic. Bertahun-tahun saya mengamini kebenaran kutipan itu sampai akhirnya saya menganggap kutipan itu omong kosong belaka setelah saya membaca Kokoro karya Natsume Sōseki. Novel ini bercerita tentang keterasingan tokoh Sensei dari dunia luar akibat perbuatan-perbuatan yang dia lakukan di masa lalu. Novel ini mengingatkan saya pada seorang teman yang lebih senior yang sering saya panggil Suhu. Antara Sensei dan Suhu memiliki sifat yang kurang lebih sama. Bersikap tenang dan selalu tampak tidak peduli dengan dunia luar. Tentu saja sikap yang demikian bukan bawaan lahir, tetapi akibat dari hal-hal yang mereka lakukan di masa lalu. Hanya saja, jika Sensei perubahannya berlangsung secara bertahap, Suhu justru sangat tiba-tiba.

Tiga tahun lalu, saat saya masih tinggal di Malang, Suhu merekomendasikan saya untuk membaca Kokoro. Waktu itu Suhu belum mengasingkan diri dari dunia luar. Dia adalah orang yang sangat ambisius dan ekspresif, suatu sikap yang terus terang saja lebih saya senangi ketimbang sikap diam dan bijaknya saat ini. Suhu memang banyak merekomendasikan buku pada saya. Bacaannya kebanyakan sastra klasik, dan oleh karena itu rekomendasi bukunya kebanyakan dari para sastrawan bangkotan semacam Dostoyevsky, Nabokov, serta raksasa-raksasa kesusastraan Jepang seperti Ryūnosuke Akutagawa, Jun’ichirō Tanizaki, Osamu Dazai, dan Natsume Sōseki. Di antara semua rekomendasinya itu, Suhu “sedikit mewajibkan” saya untuk membaca Kokoro dan No Longer Human nya Osamu Dazai. Kedua novel itu bercerita tentang keterasingan manusia, dan saat ini Suhu, dalam pandangan saya, memutuskan untuk mengasingkan diri. Suatu kebetulan kah? Atau keteransingan yang suhu alami karena membaca dua novel itu?

Kembali ke Kokoro, narator utama dalam novel ini adalah tokoh Aku, yang tidak pernah disebutkan namanya, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi. Tokoh Aku merasa kuliah-kuliah dari profesor di universitas sama sekali tidak membangkitkan gairah intelektual dalam dirinya. Tetapi pembicaraan-pembicaraannya dengan Sensei selalu saja membuat tokoh Aku merasa mendapat pelajaran tentang hidup. Sudah pasti, meskipun hanya lulusan S1, tapi Aku jauh lebih mengangumi kecerdasan Sensei ketimbang profesor di universtas. Suhu yang saya ceritakan juga lulusan S1, tapi saya merasa obrolan dengan Suhu berjam-jam di warung kopi Joker jauh lebih bermanfaat ketimbang mengikuti kuliah di kampus. Saya sangat mengagumi Suhu, seperti karakter Aku yang begitu mengangumi Sensei.

Saya awalnya tidak tertarik untuk membaca sastra Jepang. Bagi saya, sastra itu ya Eropa. Novel yang cemerlang hanya ada di Eropa, bukan di tempat lain. Tapi itu dulu. Bertahun-tahun kemudian saya merasa pendapat saya itu teramat lugu, dan hanya dilontarkan oleh seorang mahasiswa tingkat pertama yang sedang puber intelektual. Keengganan saya membaca novel Jepang karena anggapan yang keliru bahwa alur novel Jepang sudah pasti lambat seperti Dragon Ball, dan karakternya sama sekali tidak hidup seperti serial Naruto. Suhu lah yang meyakinkan saya bahwa pandangan seperti itu keliru luar biasa. Mulai saat itu saya banyak membaca sastra Jepang, meskipun jumlahnya tidak betul-betul banyak. Saya membaca cerpen-cerpen Akutagawa, serta novel-novel Haruki Murakami dan Yasunari Kawabata. Semuanya karya cemerlang. Tapi tidak ada yang sebegitu dahsyatnya bagi saya seperti Kokoro. Saya punya list lima novel terbaik versi saya. Setelah selesai membaca Kokoro ada satu pekerjaan yang menanti saya untuk segera saya lakukan: merombak list novel terbaik yang pernah saya baca itu tentu saja.

Cakram

Cerpen: Jorge Luis Borges

Aku seorang penebang pohon. Namaku tidaklah penting. Gubuk tempatku lahir, dan mati kelak, terletak di pinggir hutan. Kata mereka hutan ini membentang nun jauh ke sana, tepat menuju samudera yang mengelilingi seluruh dunia; kata mereka rumah-rumah kayu yang seperti milikku itu menjelajah di atas samudera. Aku tidak tahu; aku belum pernah melihatnya. Aku belum pernah melihat hutan dari sisi yang lain, sisi yang satunya lagi. Kakak pertamaku, ketika kami masih bocah, membuatku berjanji bahwa antara kami berdua akan membabat habis hutan ini sampai tidak ada lagi pohon yang berdiri. Saat ini kakakku telah mati, dan beginilah aku setelah itu, dan selalu akan seperti ini. Searah dengan lokasi terbenamnya matahari terdapat sebuah sungai, tempat aku menangkap ikan dengan kedua tanganku. Banyak serigala di hutan ini, tapi serigala-serigala itu sama sekali tidak membuatku takut, dan kapak milikku tidak pernah membuatku kalah. Aku tidak pernah lagi menghitung usiaku, tapi aku tahu kalau aku sudah tua – mataku tidak lagi mampu melihat apapun. Turun ke desa, yang tidak berani lagi aku lakukan sebab akan membuatku tersesat, semua orang berkata aku pelit, namun berapa banyak uang yang mampu ditabung seorang penebang pohon?

Aku menjaga pintu rumahku tetap tertutup dengan sebuah batu supaya salju di luar tidak masuk ke dalam. Disuatu petang aku mendengar suara langkah kaki yang diseret dan sebuah ketukan. Pintu kubuka dan orang asing itu masuk ke dalam. Dia lelaki dengan tubuh yang tinggi, lelaki tua dengan tubuh yang dibungkus selimut tua nan usang. Sebuah bekas luka tergores di wajahnya. Tahun-tahun tampak telah memberinya otoritas berlebih ketimbang tubuh yang ringkih, meski demikian aku melihat dia kesulitan saat berjalan tanpa mencondongkan tubuh ke tongkat yang dia pakai. Kami bertukar beberapa patah kata yang tidak lagi aku ingat. Hingga akhirnya lelaki itu berujar:

“Aku tidak punya rumah. Dan aku tidur di mana pun aku bisa. Aku telah mengembara ke seluruh penjuru Saxony.”

Kata-katanya sesuai dengan usianya. Ayahku sering bercerita tentang “Saxony”; sekarang orang-orang menyebutnya Inggris.

Ada roti dan beberapa ekor ikan di rumah. Ketika kami makan, kami tidak saling bicara. Hujan mulai turun. Aku mengambil beberapa selerang dan membuat sebuah kasur untuknya di atas lantai kotor tempat kakakku mati. Saat malam datang kami pun tidur.

Fajar telah menjelang saat kami meninggalkan rumah. Hujan telah berhenti dan salju baru menyelimuti permukaan tanah. Lelaki itu menjatuhkan tongkatnya dan memintaku untuk mengambilnya.

“Mengapa aku harus menuruti apa yang kau perintahkan?” kataku padanya.

“Sebab aku seorang raja,” dia menjawab.

Aku pikir dia sinting. Aku mengambil tongkat itu dan menyerahkan padanya.

Bersamaan dengan kata-kata berikutnya, suaranya pun berubah.

“Aku adalah raja dari Secgens. Berkali-kali aku memimpin mereka memenangi pertempuran sengit, tapi saat takdir telah ditetapkan, aku kehilangan kerajaanku. Namaku Isern dan aku adalah keturunan Odin.”

“Aku tidak menyembah Odin,” jawabku. “Aku menyembah Kritstus.”

Dia melanjutkan kata-katanya seakan tidak mendengarku.

“Aku mengembara di jalan pengasingan, tapi selama aku memiliki cakram, aku masih seorang raja. Kau ingin melihatnya?”

Dia membuka tangannya dan memperlihatkan padaku telapak tangannya yang kurus. Tangannya kosong. Hanya sekali itu saat aku menyadari bahwa dia akan selalu menjaganya untuk tetap tertutup rapat.

Dia menatap mataku.

“Kau mungkin dapat menyentuhnya.”

Aku ragu, tapi aku mengulurkan tangan dan menyentuh telapak tangannya dengan jariku. Aku merasakan sesuatu yang dingin, dan sekilas aku melihat kilauan cahaya. Tanggannya menutup dengan tarikan kuat dan tiba-tiba. Aku diam saja.

“Ini adalah cakram Odin,” orang tua itu berkata dengan nada bicara yang sabar, seperti saat dia bicara dengan seorang bocah. “Cakram ini hanya memiliki satu sisi. Tidak ada benda lain lagi di dunia ini yang hanya memiliki satu sisi. Selama aku tetap menggenggamnya di tanganku, aku akan terus menjadi raja.”

“Emas kah itu?” aku bertanya.

“Aku tidak tahu. Ini adalah cakram Odin dan benda ini hanya memiliki satu sisi.”

Setelah itu sebuah perasaan untuk memiliki cakram itu menggerogotiku. Jika benda itu jadi milikku, aku bisa menjualnya untuk ditukar dengan sebatang emas dan kemudian aku akan menjadi raja.

“Aku menemukan sebuah peti berisi uang yang aku sembunyikan di pondokku. Koin-koin emas yang bersinar seperti kapakku,” aku berkata pada pengembara itu, seseorang yang hari ini aku benci. “Jika kau memberi cakram Odin itu padaku, akan aku berikan peti itu padamu.”

“Aku tidak mau,” jawabnya kasar.

“Maka kau bisa melanjutkan perjalananmu,” kataku.

Dia berpaling. Hanya diperlukan satu ayunan kapak di belakang kepala untuk membuatnya goyah dan jatuh, tetapi karena dia jatuh dia lalu membuka tangannya, dan aku melihat percikan cahaya cakram itu di udara. Aku menandai tempat itu dengan kapakku dan aku seret ke bawah tubuh itu menuju dasar sungai, sungai yang aku tahu telah bergelombang. Di situlah aku membuang tubuhnya.

Ketika aku kembali, aku mencari cakram itu. Tapi aku tidak menemukannya. Aku telah mencarinya selama bertahun-tahun.

***

NB: Diterjemahkan secara hore-hore oleh saya sendiri. Sumber terjemahan: Collected Fictions, Penguin Books. Ditulis dalam bahasa Spanyol dengan judul El Disco. Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Andrew Hurley dengan judul The Disk.

Anomali Seorang Lisa

Sepanjang pertengahan pertama 2016, saya sudah menyaksikan beberapa film dan membaca beberapa novel, termasuk dua novel cemerlang karya dua penulis Indonesia yang saya kagumi. Tapi tidak ada yang sebegitu mengganggunya seperti Anomalisa, film terbaru Charlie Kaufman. Sepanjang tahun ini, hanya tiga hal yang setiap hari selalu saya pikirkan: Ibu saya, kewajiban menyelesaikan tesis, dan Anomalisa. Seperti film-film Charlie Kaufman lainnya yang selalu bermain dengan bentuk, film ini pun seperti itu. Saya selalu menganggap permainan bentuk film pasti hanya berkisar pada elemen visual (Stanley Kubrick dan Terrence Malick adalah dewa dalam hal ini) atau plot (film terdahulu Charlie Kaufman banyak mengeksplorasi wilayah ini). Anggapan saya selama ini salah, sebab film adalah medium visual yang menggabungkan berbagai unsur medium lain: drama, novel, musik, dan suara. Film adalah medium yang kompleks. Seorang sutradara bisa saja mengeksplorasi wilayah di luar plot dan visual. Musik misalnya. Dari ekplorasi terhadap wilayah ini kita bisa menyaksikan film opera (yang seluruh dialognya adalah nyanyian) seperti Chicago, atau Opera Jawa untuk menyebut contoh dari Indonesia.

Anomalisa adalah film animasi yang mengeksplorasi wilayah suara. Kita tahu, meskipun tidak semua, karakter dalam film animasi pastilah memiliki suara. Agar setiap karakter memiliki suara yang berbeda, suara setiap karakter diisi oleh orang yang berbeda pula. Sebuah pertanyaan muncul, bagaimana jika suara semua karakter dalam film animasi hanya diisi oleh satu orang saja?

Anomalisa bukanlah film yang menjawab pertanyaan di atas. Tapi bentuknya kurang lebih seperti itu. Ada banyak karater dalam Anomalisa, tapi karakter utamanya hanya dua: Michael dan Lisa. Suara Michael diisi oleh David Thewlis, suara Lisa diisi oleh Jennifer Jason Leigh, dan suara karakter lain, lebih dari dua puluh karakter, semuanya diisi oleh Tom Noonan. Film ini penuh dengan suara: orang-orang ngobrol di pesawat, pengumuman di bandara, sopir taksi yang terus membual, bisik-bisik di belakang, atau pertengkaran di lorong hotel. Semua keriuhan itu adalah suara “Tom Noonan” seorang. Semua orang memiliki suara yang sama, hanya Michael saja yang suaranya berbeda. Michael begitu bosan, atau mungkin muak, dengan dunia ini. Bayangkan saja, setiap hari dia bertemu dengan orang yang sama. Di manapun dia berada, orang-orangnya selalu sama. Penampilan mereka boleh berbeda, tapi suaranya pasti sama. Entah itu laki-laki atau perempuan, istri atau anaknya, suaranya pasti suara seorang laki-laki, suara “Tom Noonan”.

Hingga suatu malam, saat sedang berada dalam kamar hotel, sebuah anomali terjadi. Michael untuk kali pertama mendengar suara perempuan. Dia mencari asal suara itu dan menemukannya. Suara itu ternyata milik seorang perempuan bernama Lisa. Mereka lalu berkenalan, dan menghabiskan malam itu berdua saja dengan ngobrol santai dan bercinta. Michael lebih senang menjadi pendengar. Bukan karena obrolan Lisa menarik, tapi karena untuk pertama kali selama hidupnya Michael mendengar suara “perempuan”.

Kekaguman saya pada film ini lebih dikarenakan pemahaman Charlie Kaufman yang begitu mendalam akan medium bercerita. Saya tidak bisa membayangkan jika film ini dibuat dalam bentuk live-action. Saya yakin mustahil hasil akhirnya bisa maksimal. Bentuk animasi, yang butuh pengisi suara, adalah bentuk yang paling sempurna untuk film ini. Oh iya, sejujurnya saya tidak tahu bagaimana cara mengakhiri tulisan ini. Tidak mungkin juga tulisan ini saya akhiri tepat pada dua kalimat sebelum kalimat ini. Tulisan ini akan terasa menggantung jika diakhiri dengan kalimat seperti itu. Tapi jika uraian ini saya perdalam, hanya ada dua hal buruk yang akan saya tulis. Pertama, cerita lengkap mengenai film ini, yang pastinya akan bikin kesal orang yang belum menontonnya, sebab kenikmatan menonton jauh berkurang karena sudah mengetahui seluruh jalan cerita. Kedua, puja-puji norak saya pada Charlie Kaufman, yang menurut saya, adalah filmmaker terbaik saat ini. Jadi bersama dengan kalimat ini, saya nyatakan inilah akhir dari tulisan ini, sekian dan terima kasih.

Seperti Dendam, O Harus Dibaca Tuntas

“Enggak gampang menulis novel seperti ini,” pikirku, selesai membaca novel O nya Eka Kurniawan. Sejak halaman kedua saya segera tahu kalau novel ini memiliki struktur yang sama dengan novel Eka yang terdahulu, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Fragmen-fragmen singkat, melompat-lompat, dan tidak linier. Barangkali bukan cuma struktur, tapi teknik menulisnya pun sama persis, cara memberi nama pada karakter, humor yang melimpah, dan tokoh-tokoh yang hampir semuanya bajingan. Yang membedakan cuma satu, dan saya yakin ini membuat penggemar Eka sedikit kecewa: di novel O kita tidak mendapati satupun fragmen yang membuat kontol kita jadi ngaceng.

          

Salah satu hasrat terbesar Eka barangkali memadukan antara yang “sastra” dan yang “populer,” yang “elit” dan yang “kacangan” dalam novel-novelnya. Haruki Murakami dalam karya-karyanya sering mengutip nama penulis-penulis elit, Thomas Mann, Kafka, Dostoyevsky. Juga musisi elit, Beethoven, Schubert. Dan sutradara elit, Truffaut. Dari beberapa karyanya yang saya baca, dia tidak pernah sekalipun menyebut nama penulis, musisi, ataupun sutradara yang  menghasilkan karya-karya kacangan. Dia misalnya tidak pernah menyebut musik-musik MLTR dan NSync, film-film Sylvester Stallon, atau novel-novel Agatha Christie. Penyebutan penulis, musisi, dan sutradara elit hanya berarti satu hal: si penulis memiliki selera bacaan, musik, dan film bermutu. Dan lewat inspirasi yang didapatkan dari karya-karya bermutu itulah si penulis membuat novelnya.

          

Saya curiga Eka memiliki banyak hewan peliharaan di rumahnya. Secara diam-diam, di tengah kesibukannya sebagai penulis, Eka aktif dalam organisasi penyayang binatang. Saya pikir itu sebab paling masuk akal mengapa karakter binatang dalam novel O bisa begitu hidup. Dan di antara semua hewan peliharaannya, Eka paling menyayangi seekor monyet. Itu adalah hewan peliharaannya yang pertama. Dia menemukannya secara tidak sengaja di pinggir jalan sehabis mengantar istrinya ke kantor. Monyet itu penuh luka di punggungnya. Eka menyelamatkannya. Eka tahu luka itu karena cambukan manusia. Mulai saat itu, karena geram dengan manusia yang tidak menyayangi binatang, Eka ikut bergabung dengan organisasi penyayang binatang. Setelah monyet itu sembuh, setiap sore Eka menemani monyetnya jalan-jalan, sembari menceritakan rahasia-rahasinya ke monyet itu. Rahasia yang bahkan istrinya sekalipun tidak tahu. Sebab Eka paham, seekor monyet tidak mungkin membocorkan rahasianya, sekalipun monyet itu telah berubah menjadi manusia.

          

Lewat blognya kita bisa tahu seperti apa bacaan Eka, dan bagaimana pendapatnya tentang sastra secara umum. Eka memiliki selera bacaan yang tidak lazim. Dia membaca novel-novel stensil, horor, dan silat, yang bagi banyak orang dianggap sebagai karya kacangan. Dia juga lebih suka membaca novel-novel dari penulis yang belum begitu terkenal, paling tidak belum terkenal di Indonesia. Dia tidak pernah malu untuk mengungkapkan betapa dia begitu mengidolakan SNSD, suatu hal yang hampir mustahil dilakukan oleh Murakami seandainya dia juga seorang Sone. Hal ini berarti bahwa Eka memang memiliki selera bacaan yang tidak lazim, selera musik yang tidak lazim. Atau bisa juga dia hanya sok memiliki selera yang kacangan, padahal dalam kenyataanya dia tetap memiliki selera yang tinggi. Hal itu dia lakukan sebagai penanda untuk membedakan dia dengan penulis lain, bahwa meskipun dia membaca novel dan mendengar musik kacangan, toh dia tetap mampu menghasilkan karya bermutu macam O dan Seperti Dendam. Entah mana yang benar. Hanya Tuhan, Eka, dan monyet peliharaannya yang tahu.

          

Desember 2015, saat mengantar ibu saya belanja batik di Solo untuk kali terakhir, saya menunggu di depan toko sambil membaca Lelaki Harimau, novel kedua Eka. Di depan toko banyak tukang becak ikut nongkrong, menunggu pelanggannya yang singgah sebentar di toko itu. Seorang tukang becak yang usianya di atas 40 tahun menghampiri saya. Dia mengatakan telah membaca Lelaki Harimau, dan hampir semua karya Eka. Dia menceritakan bagaimana kesan-kesannya terhadap Lelaki Harimau, dan menceritakan karakter-karakter di novel tersebut. Tapi tidak satupun nama karakter yang dia sebutkan ada di Lelaki Harimau. Saya pikir dia cuma membual, sebelum akhirnya dia mengatakan kalau dia terakhir kali membaca novel saat masih SMP. Itu berarti dia membacanya sekitar 25 tahun yang lalu. Lelaki Harimau saat itu belum ditulis, bahkan saat itu Eka barangkali belum berpikir akan jadi penulis. Dia salah ingat. Ternyata bukan Lelaki Harimau yang dia baca, tapi Manusia Harimau nya S.B. Chandra.

          

Saya tidak tahu pasti siapa saja yang membaca karya-karya Eka. Tapi kuat dugaan saya kalau mayoritas pembacanya adalah anak muda kelas menengah, yang semoga saja tidak ngehek. Sampai sekarang saya tidak pernah melihat, atau paling tidak mendengar berita, ada tukang becak, tukang kayu, tukang pijat, tukang palak, atau tukang pukul yang membaca Seperti Dendam dan O.

          

Dalam blognya Eka pernah menyinggung tentang usia 40 tahun, usia matang dan barangkali usia paling penting untuk manusia. Eka menyinggung Pramoedya yang di tangkap dan dibuang ke Pulau Buru saat berusia 40 tahun, dan Gabriel Garcia Marquez yang menerbitkan One Hundred Years of Solitude, yang menggegerkan jagat sastra dunia dan dibaca oleh semua kalangan dari kelas bawah sampai kelas atas, juga diusia 40 tahun. Diusia yang sama Eka menerbitkan O. Saya berkeyakinan bahwa novel ini punya potensi untuk menggegerkan jagat sastra dunia, tapi untuk dibaca semua kalangan, terutama oleh kalangan bawah, saya meragukan itu.

          

Eka, sebagaimana hampir semua peminat sastra dan kaum intelektual Indonesia, sangat mengagumi Pramoedya. Dia juga sangat mengagumi S.B. Chandra, Motinggo Busye, S.H. Mintardja, Abdullah Harahap, dan terutama Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Lima penulis yang saya sebutkan belakangan adalah penulis-penulis yang namanya tidak pernah tertulis di buku ajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Itu berarti karya kelimanya tidak pernah dianggap sebagai karya sastra. Boleh dibilang karya populer lagi kacangan. Hanya dibaca oleh kalangan bawah dan sampai saat ini hanya diulas oleh sedikit sekali akademisi kita. Eka membaca karya “kacangan” kelima penulis itu, juga membaca karya-karya sastra yang dianggap kanon. Hingga lahirlah novel Seperti Dendam dan O, yang memiliki alur, plot, dan penokohan yang rumit seperti novel sastra kanon, tapi tetap memiliki elemen-elemen populer dari novel-novel yang dianggap kacangan itu.

          

Hasrat Eka untuk menyatukan yang populer dan yang sastra dalam novelnya sudah terlihat sejak dia menerbitkan Lelaki Harimau. Tapi hasrat itu paling terlihat jelas dalam Seperti Dendam dan O. Terus terang saja, cerita yang terbagi dalam fragmen-fragmen pendek, dan antara fragmen yang satu dengan yang lain saling bersilangan hingga menciptakan cerita yang kaya namun tetap menyatu utuh, adalah sebuah teknik bercerita yang cemerlang. Teknik seperti ini hanya bisa ditemui dalam novel-novel kanon. Tapi cerita tentang orang ngentot, kontol yang enggak bisa ngaceng, memek basah, biduan dangdut, topeng monyet, adegan berkelahi ala silat, waria yang mengamen dari bus ke bus, dan dialog dengan bahasa pasar, adalah hal-hal yang khas dalam novel-novel populer. Kita bisa menemukan itu semua dalam dua novel Eka yang terakhir.

          

Berhasilkah Eka menyatukan yang populer dan yang sastra dalam novel-novelnya? Sayangnya tidak. Saya lebih suka menyebut Seperti Dendam dan O sebagai novel sastra yang meminjam banyak elemen novel populer untuk memuaskan pembaca dari kelas menengah. Sekalipun Eka menggunakan bahasa pasar dalam dialognya, atau membuat adegan seperti cerita stensilan, tetap saja novelnya adalah novel elit, bukan novel yang berhasil mengaduk elemen sastra dan populer. Kita bisa menganalogikannya dengan lagu Drama Romantika nya Maliq & D’Essentials. Bagi kelas menengah, lagu-lagu Maliq tentu saja lebih berkualitas dari lagu dangdut. Tapi dalam Drama Romantika, Maliq meminjam elemen musik dangdut. Seolah-olah musiknya turun kelas menjadi tidak lagi berkualitas (perlu diingat, Maliq adalah akronim dari music and live instrument quality), padahal tidak. Hal itu tidak menjadikan lagu tersebut sebagai lagu dangdut, dan tidak menjadikan penggemar musik dangdut menyukai lagu itu. Drama Romantika tidak lebih sebagai lagu yang meminjam elemen musik dangdut sebagai sarana eksperimentasi kelompok musik yang digemari anak muda kelas menengah. Begitu juga dengan Seperti Dendam dan O, yang meminjam elemen novel populer bukan untuk membuat novel yang membaurkan antara yang sastra dan yang populer, tapi untuk membuat novel sastra yang tidak mentok pada hal yang itu-itu saja. Bahwa novel sastra bisa diperluas ke hal-hal yang sebelumnya belum terjamah.

          

Eka, sebagaimana yang selama ini dia citrakan, memiliki dua sisi selera bacaan yang tampaknya saling bertolak bekalang: sastra dan populer. Sisi sastranya bolehlah kita katakan diwakili oleh Pramoedya, dan sisi populernya diwakili oleh Kho Ping Hoo. Cantik itu Luka adalah obsesi Eka pada karya-karya Pramoedya, sedangkan Seperti Dendam dan O adalah obsesinya pada idolanya yang lain: Kho Ping Hoo, dan semua penulis novel “kacangan” lain tentu saja.

          

Kita bisa membandingkan Tetralogi Buru nya Pramoedya dengan Cantik itu Luka nya Eka. Keduanya adalah novel poskolonial yang menceritakan terjadinya suatu bangsa bernama Indonesia. Keduanya novel cemerlang, sama-sama diterjemahkan dalam banyak bahasa asing, dan diterbitkan oleh penerbit yang memiliki reputasi baik di luar negeri. Minke, dalam Tetralogi Buru, adalah metafora bagi Indonesia. Begitu juga dengan Dewi Ayu dan seluruh keluarga besarnya, dalam Cantik itu Luka, yang juga metafora bagi Indonesia. Jika Minke adalah Indonesia, itu berarti Indonesia adalah bangsa yang berdiri karena jasa dari kalangan priyayi terdidik. Bagi saya gagasan ini bermasalah sebab terlalu elitis, melupakan peran dari kalangan bawah, terutama petani. Cantik itu Luka kebalikannya. Jika Dewi Ayu dan semua keluarga besarnya adalah Indonesia itu sendiri, itu berarti Indonesia dibangun lewat hubungan yang rumit antara penjajah Belanda dengan masyarakat “lokal” (Ted Stamler dan Ma Iyang), lewat campur tangan Jepang (Alamanda), dan terutama oleh kalangan militer (Shodanco), komunis (Kamerad Kliwon), dan preman serta kalangan bawah lainnya (Maman Gendeng). Sekali lagi, keduanya adalah novel yang hebat. Tapi secara gagasan, bagi saya Cantik itu Luka berhasil melampaui Tetralogi Buru.

          

Bagaimana dengan sisi populer Eka yang diwakili oleh Kho Ping Hoo? Sekadar mengingatkan, karya Kho Ping Hoo dibaca oleh kalangan yang sangat luas, terutama oleh kalangan bawah. Dulunya cerita silat Kho Ping Hoo memang dianggap karya murahan. Saat ini novel-novel Kho Ping Hoo mulai mendapat pengakuan, bahwa novel-novelnya merupakan karya sastra yang bermartabat. Eka memiliki hasrat seperti ini, menampilkan elemen silat (dan elemen populer lainnya) dalam Seperti Dendam dan O, serta dibaca oleh kalangan luas. Tetap nyastra tapi populer, populer tapi nyastra, seperti cerita silatnya Kho Ping Hoo. Sayangnya Eka belum berhasil memenuhi hasrat itu. Eka memang berhasil berguru dengan sangat baik pada Pramoedya. Tapi pada Kho Ping Hoo, Eka sepertinya harus belajar lebih banyak lagi di padepokan silatnya.

1. Days of Heaven, Terrence Malick

Franz Kafka pernah bilang kalau sebuah buku harusnya menjadi kapak yang memecahkan lautan es di kepala kita. Saya pikir sebuah film juga harusnya demikian, memecahkan kebuntuan kita dalam berpikir, membangunkan kita dengan hantaman keras di kepala, bahwa ada kemungkinan-kemungkinan lain dari sebuah film. Sebelum berkenalan dengan film-film Terrence Malick, saya selalu berpikiran kalau film adalah hanyalah bentuk lain dari karya fiksi. Entah itu novel, drama, komik, atau film, yang terpenting adalah ceritanya. Medium bisa berbeda, selama ceritanya bagus, ya karya fiksi itu akan tetap bagus.

Itu dulu. Sekarang beda. Salah satu kriteria baru bagi saya untuk mengatakan karya fiksi itu bagus atau tidak adalah kemampuan kreatornya dalam memaksimalkan medium bercerita, bahwa cerita itu hanya bisa ditulis dalam medium tertentu saja. Misalnya, novel Ulysses nya James Joyce. Saya pikir novel ini tidak bisa dibuat dalam bentuk film, atau dibuat versi komiknya. Novel itu adalah ekperimen Joyce terhadap bahasa, khususnya bahasa Inggris. Joyce paham betul bahwa menulis novel berarti menggunakan bahasa sebagai senjatanya. Maka penekanannya ada pada bahasa, dengan mengekspolarisi kemungkinan berbahasa sampai pada titiknya yang paling jauh. Amat susah mengadaptasi novel dengan kerumitan berbahasa seperti Ulysses ke dalam bentuk film atau komik yang titik tekan utamanya ada pada visual.

Meskipun film dan komik sama-sama menekankan pada visualitas, tapi tidak serta-merta komik dapat diadaptasi ke dalam bentuk film, atau sebaliknya. Komik Watchmen nya Alan Moore dan Dave Gibbons pernah diadaptasi ke dalam bentuk film oleh Zack Snyder. Hasilnya tidak maksimal. Salah satu karakter dalam dalam cerita itu, Doctor Manhattan, hidup di tiga masa sekaligus: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dia hidup disemua masa pada saat yang bersamaan. Dia ada saat perang dunia terjadi, saat perang dingin diperiode 70an, atau saat bumi telah kiamat nanti. Dan semua itu terjadi secara simultan padanya. Katakanlah mesin waktu benar-benar ada, dan kita dapat berpindah waktu sesuka hati. Jika kita hidup di tahun 2016, kita bisa melompat ke tahun 1749, atau ke tahun 2034. Saat itu kita lakukan, raga kita tidak lagi berada di tahun 2016. Doctor Manhattan tidak seperti itu. Bayangkan, ada seorang manusia yang jasadnya ada di tahun 2016, 1749, 2034, atau disemua waktu lainnya pada saat yang bersamaan. karakteristik Doctor Manhattan yang seperti ini, dapat dijelaskan dengan sangat baik dalam medium komik, tapi tak mampu dijelaskan dalam medium film. Puncak dari eksplorasi visual Watchmen ada pada panel-panel komik di suatu halaman yang simetris dengan panel komik pada halaman yang lain. Cerita dengan panel yang simetris ini tidak mungkin bisa dibuat dalam medium film, sekalipun keduanya sama-sama mengunakan visual sebagai titik tekannya.

Days of Heaven seperti itu. Lewat film ini Terrence Malick mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan dari sebuah film. Sebagai medium visual, titik tekan utama film ada pada visualitasnya, bukan pada ceritanya. Days of Heaven bukanlah film dengan plot yang rumit, yang membuat penontonnya mengkerutkan dahi seperti film-film Christopher Nolan. Bayangkan kita sedang berkunjung ke sebuah pameran foto. Katakanlah pameran foto yang diselenggarakan National Geographic. Di sana kita akan menemukan gambar-gambar yang memukau. Tanpa ada captionnya sekalipun, foto-foto itu bercerita dengan sangat banyak pada kita. Itulah mengapa saya menyebut foto-foto National Geographic sebagai gambar yang bercerita, bukan cerita bergambar. Karena eksplorasinya ada pada visual, Days of Heaven tidak memberi penekanan pada plot, melainkan pada keindahan visual. Jika kita menonton film ini untuk mendapat ketegangan yang tercipta lewat plot, percayalah, kita hanya akan mendapatkan kekecewaan. Nontonlah film ini seperti sedang berkunjung ke pameran foto. Dengan demikian kita akan menemukan sebuah film yang bercerita, bukan sebuah cerita yang dibuat ke dalam bentuk film.

2. Being John Malkovich, Spike Jonze

Terkadang kita tidak percaya dengan kemampuan sendiri. Pada titik itu kita terkadang ingin menjadi orang lain. Menjadi orang terkenal tentu saja. Saya masih ingat betul saat SMP, saya naksir seorang gadis. Dia cantik, berambut pendek, dan seingat saya dia memiliki lesung pipit. Sebagai anak ingusan, saya tentu saja tidak berani mendekatinya. Saya mengatakan pada temen-teman terdekat saya bahwa saya mencintainya. Teman-teman saya, yang juga teman-teman dia, lantas mengatakan pada gadis itu bahwa saya suka padanya. Saya malu betul, dan tidak pernah berani untuk menatap dia secara langsung. Terkadang, dan kebanyakan karena ketidaksengajaan, kami ngobrol berdua. Obrolan yang kikuk tentunya. Saya kikuk karena saya suka padanya, dan dia kikuk karena tahu saya suka padanya.

Karena kebodohan itulah saya lantas ingin menjadi Rangga saja, orang yang dingin, pandai membuat puisi, dan tentu saja tampan tiada tara. Saya membayangkan dia adalah Cinta, meskipun dia tidak pandai membuat puisi. Kebetulan, seperti Cinta di film AADC, gadis yang saya sukai juga gadis paling cantik di sekolah. Boleh dibilang saya kala itu tidak memiliki saingan. Selain karena tidak ada siswa lain yang berani mendekatinya, saya waktu itu menjabat sebagai Ketua Osis, siswa paling terkenal di sekolah, siswa yang paling sering memegang mic saat apel pagi dan berpidato dihadapan lebih dari 800 siswa. Dengan status tersebut, saya ternyata masih tidak percaya diri juga untuk menyatakan rasa saya pada gadis itu.

Ketidakpercayaan pada diri sendiri dan keinginan untuk menjadi orang lain itulah yang coba diangkat oleh Spike Jonze (sutradara) dan Charlie Kaufman (penulis skenario) dalam film Being John Malkovich. Berkisah tentang Craig, seorang pemain orang-orangan (puppet), yang karyanya tidak pernah diapresiasi orang lain. Setiap hari dia memeragakan permainan puppetnya di jalanan, dan lewat itulah dia menghasilkan uang. Dia ingin jadi seniman besar, namun itu dia, karyanya tidak mendapat apresiasi, sehingga sulit baginya untuk memeragakan karya seninya di sebuah panggung besar. Namun suatu hari Craig menemukan sebuah lubang di dinding kantor. Bukan lubang sembarangan, sebab lubang itu adalah sebuah portal menuju ke pikiran orang lain. Yang di tuju bukan orang sembarang pula, sebab portal itu langsung menuju ke pikirian John Malkovich, seorang aktor terkenal Hollywood!

Saat masuk ke portal tersebut dan berada di pikiran John Malkovich, kita bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi John Malkovich. Kita bisa merasakan betapa mudahnya berciuman dan tidur dengan seorang gadis jika kita adalah seorang aktor terkenal. Kita juga bisa merasakan sensasi menjadi orang terkenal, dikejar-kejar banyak orang, serta diwawancarai wartawan televisi nasional. Craig mampu menguasai pikiran John Malkovich, sehingga John Malkovich bukan lagi John Malkovich yang dulu, sebab tubuhnya sepenuhnya dalam kendali Craig. Lewat tubuh John Malkovich inilah Craig memperkenalkan permainan puppetnya. John Malkovich yang berada dalam kendali Craig ini lalu memutuskan pensiun sebagai aktor dan beralih profesi sebagai puppeter. Dia mulai memeragakan aksinya di panggung besar, dengan ribuan penonton dihadapannya, dan mendapat tepuk tangan begitu riuh dari mereka semua. Itu adalah saat-saat di mana Craig merasa betul-betul diapresiasi sebagai seorang seniman.

Melihat Craig di film ini mengingatkan saya pada diri saya saat SMP dulu, begitu terobsesi untuk menjadi orang lain agar keinginan mendapatkan gadis itu menjadi mudah untuk terkabul. Untunglah itu tidak berlangsung terlalu lama. Bertahun-tahun kemudian, saat saya baru saja lulus SMA, seorang gadis menelpon saya. Dia adalah gadis yang dulu pernah saya sukai. Hampir setiap hari kita teleponan. Kadang saya menelponnya lebih dulu, kadang juga dia yang lebih dulu memulai. Suatu kali saya mengutarakan padanya, kalau dulu saat SMP saya pernah jatuh hati padanya. Saya menduga dia akan menjawab bahwa dia juga dulu menyukai saya, hanya karena saya yang tidak berani mengungkapkannya lebih dulu maka dia memilih memendam perasaannya. Dugaan saya keliru. Mendengar saya mengatakan itu, dia hanya tertawa, lalu mengubah topik pembicaraan ke arah lain.

3. Chungking Express, Wong Kar-wai

Akhir-akhir ini sering beredar berita yang menayangkan betapa menyebalkannya polisi lalu lintas. Meskipun Polri melakukan pencitraan dengan merekrut banyak polwan cantik, tetap saja jumlah polisi lalu lintas yang menyebalkan tidak kunjung berkurang. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, muncul sebuah film yang menceritakan melankoli dua orang polisi. Sayangnya bukan polisi Indonesia, tapi polisi Hongkong. Paling tidak, dari berbagai kisah menyebalkan tentang polisi, masih ada kisah tentang polisi yang membuat kita tertawa, sekalipun itu bukan di Indonesia.

Dua orang polisi ini diceritakan dalam dua kisah berbeda. Mereka hanya pernah bertemu sekali saja, dan tidak saling bertegur sapa, sebab mereka memang tidak saling mengenal. Kisah pertama bercerita tentang polisi bernomor anggota 223 (selanjutnya akan saya sebut Cop 223). Tanggal satu April dia putus dari pacarnya yang bernama May. Dia galau setengah mati. Namun dia masih berharap dapat rujuk dengan May. Kebetulan, tanggal satu Mei (May jika dalam bahasa Inggris) Cop 223 berulang tahun. Selama sebulan penuh, mulai tanggal satu April sampai tiga puluh April dia membeli dan memakan satu nanas kaleng setiap hari. Tapi dia hanya membeli nanas kaleng yang akan kadaluarsa tepat di tanggal satu Mei. Cop 223 rupanya sedikit berfilsafat di sini. Dia menganalogikan kisah cintanya dengan May seperti nanas kaleng itu. Jika sampai tanggal satu Mei mereka belum juga rujuk, maka cinta mereka akan kadaluarsa selamanya, seperti nanas kaleng yang kadaluarsa pada tanggal satu Mei.

Kisah kedua bercerita tentang seorang perempuan cantik penjaga kedai bernama Faye yang jatuh cinta pada seorang polisi dengan nomor anggota 663 (selanjutnya akan saya sebut Cop 663). Saat Cop 663 membeli makan di kedai yang dijaga Faye, saat itulah Faye langsung jatuh cinta padanya. Sayangnya Faye tidak berani berterus terang dengan perasaannya. Setiap hari Faye diam-diam masuk ke apartemen Cop 663. Dia membersihkan apartemen itu setiap hari, menukar CD musik favorit Cop 663 dengan CD musik favoritnya, melakukan apapun yang dia suka di sana, dan akhirnya pergi sebelum Cop 663 pulang. Hal itu dia lakukan setiap hari, sebelum akhirnya tertangkap basah oleh Cop 663. Semenjak itu Faye tidak mau lagi bertemu Cop 663, dia kadung malu. Cop 663 akhirnya tahu bahwa Faye melakukan hal itu karena dia jatuh cinta padanya. Saat Cop 663 ingin bertemu, Faye sudah pergi ke Amerika. Dia hanya meninggalkan selembar tisu yang digambar mirip boarding pass pesawat udara. Faye juga meninggalkan catatan, yang kurang lebih berbunyi begini: kalau mau bertemu silahkan susul aku, dengan “boarding pass” yang telah aku tinggalkan untukmu.

Yang saya tangkap dari film ini adalah, sebaiknya kita mengatakan dengan terus terang saja mengenai apa yang kita rasakan pada orang yang kita cinta. Jika ingin rujuk, ya sebaiknya bilang duluan kalau ingin rujuk, dan bukannya menunggu orang yang kita cinta mengatakannya lebih dulu. Jika kita jatuh cinta pada seseorang, ya sebaiknya bilang saja, tidak perlu malu untuk mengakui itu. Barangkali ini pesan yang terdengar kacangan, dan sudah sangat sering kita dengar dari media lain. Tapi ada satu pesan yang saya yakin belum pernah kita dengar di media lain, bukan juga pesan kacangan seperti yang saya tulis di atas. Ini tips dari Cop 223, tentang bagaimana cara agar kita tidak menangis saat sedang patah hati. Sederhana saja, kita hanya perlu jogging sampai tubuh kita megeluarkan banyak keringat. Saat itu terjadi, tubuh kita kehilangan cairan, dan itu berarti tubuh kita tidak punya stok cairan air mata yang akan keluar saat kita bersedih. Tips yang cemerlang bukan?

4. Whisper of the Heart, Yoshifumi Kondo

Ini film tentang pencarian jadi diri seorang siswi SMP di Tokyo. Shizuku, nama gadis itu, gemar pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Dia selalu mendatangi rak fiksi, membacanya sebentar di perpustkaan, lalu meminjam buku itu untuk dibaca di rumah. Setiap kali meminjam buku, selalu ada nama Seiji Amasawa di daftar orang yang pernah meminjam buku tersebut. Artinya, Seiji Amasawa sudah membaca lebih dulu buku-buku yang dipinjam oleh Shizuku.

Sebagai seorang gadis yang memasuki masa pubertas, dia penasaran dengan sosok Seiji Amasawa. Dia selalu membayangkan bahwa Seiji Amasawa adalah sosok yang tampan lagi cerdas, kharismatik, dan tentu saja sosok yang cool. Suatu ketika, secara tidak sengaja, karena menguntit seekor kucing, Shizuku masuk ke sebuah toko perabotan antik. Seorang kakek yang menjaga toko itu sedang memperbaiki sebuah jam antik besar, yang dibuat oleh seorang seniman yang patah hati. Setiap jam 12, jam itu berbunyi, bagian bawahnya terbuka, dan muncullah sebuah pertunjukan singkat tentang raja kurcaci yang tidak mampu menjalin kasih dengan seorang peri nan cantik. Kisah dalam jam itulah yang membuat kakek itu yakin bahwa seniman pembuat jam itu sedang patah hati kala membuatnya.

Singkat cerita, Shizuku bertemu Seiji. Yang tidak disangka olehnya, Seiji justru pemuda yang menyebalkan, jauh dari bayangan awal Shizuku. Di toko antik itulah Seiji tinggal, dan kakek pemilik toko adalah kakek Seiji. Di belakang toko terdapat studio untuk membuat biola. Seiji ingin menjadi seorang pembuat biola handal. Dia selalu berlatih setiap hari. Tapi kemampuannya tidak akan meningkat jika dia hanya belajar di Tokyo saja. Dia harus belajar pada ahlinya di Cremona, Itali, jika ingin meningkatkan kemampuannya. Akhirnya Seiji berangkat juga ke sana. Saat itulah Shizuku galau setengah mati. Bukan karena kepergian orang yang diam-diam dia sukai (meskipun awalnya menyebalkan, pada akhirnya Shizuku jatuh hati juga pada Seiji), tapi karena diusia yang begitu muda Seiji sudah tahu apa bakatnya dan ingin mengembangkan bakatnya itu. Sedangkan Shizuku, tidak tahu menahu harus menjadi apa. Namun saat sedang ngobrol berdua dengan sahabatnya, Shizuku akhirnya tahu harus menjadi apa: dia memutuskan menjadi seorang penulis!

Teman-temannya selalu memuji syair-syair yang ditulis Shizuku. Ditambah dengan kegemarannya terhadap karya fiksi, Shizuku mantap ingin menjadi penulis. Selama dua minggu dia menulis terus, padahal saat itu sedang ada ujian akhir di sekolahnya. Nilai-nilainya jeblok tentu saja, tapi Shizuku tidak peduli dengan itu. Dia tetap menulis. Sekalipun orang tuanya sudah menegurnya, dia masih tetap menulis. Setelah novelnya selesai, dia lalu memperlihatkan novel itu pada kakek Seiji. Masih banyak kekurangan memang, tapi disitulah keunikan novel Shizuku. Kakek itu mengatakan bahwa Shizuku seperti berlian yang belum diasah, perlu digosok agar kilaunya terlihat lebih cemerlang.

Saya berkaca pada diri saya yang sekarang, betapa saya malu pada Shizuku seandainya dia adalah orang sungguhan, bukan karakter fiksional dalam sebuah film animasi. Saya dulu pernah seperti Shizuku. Aktif menulis dan meninggalkan kuliah sejenak. Orang tua saya menegur agar segera menyelesaikan kuliah, tapi saya tidak peduli. Sebab saya tahu menulis adalah kesenangan saya, dan saya ingin hidup sebagai seorang penulis. Nilai-nilai saya jeblok, banyak yang dapat D, dan sama sekali tidak saya ulang. Biar saja begitu. Tapi saya bukan Shizuku, bukan berlian yang belum diasah. Setelah novel saya jadi dan diterbitkan, novel itu gagal total. Selain karena tidak laku, isinya pun kalau mau jujur tidak memuaskan saya. Teman-teman saya mencaci novel itu, dan saya tahu cacian mereka itu adalah satu-satunya kejujuran yang pernah mereka katakan pada saya. Dan lihat saya sekarang, malas menulis, dan cuma berfokus dapat nilai bagus. Tragis saja rasanya saat dapat nilai B dan tetap saya ulang supaya dapat A. Celakanya, setelah diulang saya justru dapat nilai C!

Idealisme terhadap substansi dan bukan pada nilai yang kini hilang. Saya pikir itu barang mahal, terutama bagi seorang pemuda kere seperti saya. Dan setiap kali menonton ulang Whisper of the Heart, saya selalu diingatkan kembali bahwa mendapat nilai tinggi bukanlah tujuan utama dalam belajar. Sebab, seperti kata orang bijak, belajar itu bertujuan untuk mengenal diri sendiri, menemukan potensi diri yang harusnya kita kembangkan, menjadi ikan yang pandai berenang, bukan menjadi ikan yang pandai memanjat pohon.