Blog

5. Like Someone in Love, Abbas Kiarostami

Saya masih meyakini puncak hubungan pria dan wanita terjadi saat mereka sedang bicara berdua saja, bicara lepas tanpa beban, lalu berciuman (ini hanya bonus). Ngobrol berkualitas sudah cukup sebenarnya. Like Someone in Love barangkali hendak merayakan itu, merayakan bahwa obrolan berkualitas adalah puncak dari hubungan pria dan wanita. Salah seorang sahabat baik saya, yang sudah gonta-ganti pacar berkali-kali, suatu kali pernah menceritakan mantan-mantan pacarnya. Dari semunya, bukan yang paling cantik yang membuatnya sangat galau karena rindu, bukan juga yang paling tulus mencintainya, pun bukan juga yang paling jago berciuman. Dia justru paling merindukan mantannya yang paling asyik diajak ngobrol.

Like Someone in Love dibuka dengan adegan seorang pelacur kelas atas yang mendapat tawaran dari germonya untuk melayani seorang profesor. Pelacur itu, bernama Akiko (diperankan oleh Rin Takanashi), sempat menolak sebab dia sudah sangat kelelahan. Sang germo tetap ngotot bahwa Akiko harus melayaninya. Karena tidak ada pilihan lain, Akiko dengan berat hati menurutinya.

Akiko langsung duduk di sofa begitu sampai di rumah Sang Profesor, yang usianya di atas 70 tahun. Yang menarik, Sang Profesor menyewa pelacur bukan untuk ditiduri, melainkan untuk diajak ngobrol sembari makan malam dan diakhiri dengan minum wine bersama. Sudah, itu saja. Di majalah Rolling Stone Indonesia, saya pernah membaca kalau musisi besar Indonesia, Gombloh, juga pernah melakukan hal yang hampir sama dengan apa yang dilakukan Sang Profesor. Waktu itu Gombloh sedang tidak punya ide untuk menciptakan lagu. Dari kamar hotel dia memesan pelacur. Setelah pelacurnya datang, pelacur itu hanya telanjang dan duduk di atas kursi. Gombloh hanya memandangi pelacur itu, tanpa menyentuhnya sama sekali, dan menciptakan lagu dengan cara memandangi pelacur itu.

Saya selalu suka dengan cerita tentang seorang lelaki yang tidak ingin berhubungan badan dengan perempuan, walaupun keadaannya sangat memungkinkan untuk itu. Salah satu bagian dari novel Cantik itu Luka, menceritakan tentang Kliwon yang pergi berlayar dengan Alamanda selama berminggu-minggu di atas perahu. Karena tidak membawa pakaian ganti, Kliwon dan Alamanda langsung mencopot begitu saja baju mereka ketika basah untuk dijemur di atas atap perahu. Awalnya Alamanda takut untuk mencopot bajunya, karena mengira Kliwon akan menidurinya. Ternyata, setelah mereka telanjang  bulat, penis Kliwon sama sekali tidak ereksi melihat tubuh Alamanda yang begitu cantik. Bukan karena Kliwon seorang homoseksual, tapi karena dia memang betul-betul tidak punya keinginan untuk bersetubuh dengan Alamanda.

Seorang sahabat yang lain, yang suka tidur dengan perempuan, selalu membanggakan dirinya yang begitu jantan karena bisa memuaskan semua perempuan yang pernah tidur dengannya. Definisi jantan baginya adalah tangguh saat berada di atas ranjang. Saya tentu saja tidak sepakat dengan dia. Lelaki sejati bagi saya justru seperti Sang Profesor di film Like Someone in Love, seperti Gombloh, atau seperti Kliwon dalam novel Cantik itu luka. Lelaki sejati adalah dia yang menolak untuk tidur dengan perempuan, walaupun keadaannya sangat memungkinkan untuk itu.

6. The Fall, Tarsem Singh

Sebuah dongeng tidak hanya bisa membuat orang bertahan hidup, tapi juga bisa membunuhnya. Film ini dimulai dengan adegan jatuhnya seorang aktor, bernama Roy, dari atas jembatan. Roy aktor yang ambisius. Dia ingin membuat adegan yang hanya bisa dilakukan oleh dirinya seorang. Saat itu film baru saja menjadi industri. Masih hitam putih dan bisu. Tak ada dialog, hanya musik yang dimainkan di bioskop. Proyektor pun masih harus diputar manual menggunakan tangan.

Roy punya ide gila, yang kala itu belum pernah terpikirkan oleh aktor-aktor lain: dia ingin membuat adegan seorang koboi yang melompat dari atas jembatan dan langsung mendarat tepat di atas kuda. Adegan itu gagal, kuda tersebut mati dan Roy mengalami patah kaki. Dia pun harus dirawat di rumah sakit. Di tempat lain, ada seorang anak kecil, usia lima tahun, bernama Alexandria. Ibunya bekerja di kebun jeruk. Suatu waktu dia ikut ibunya ke kebun. Dia memanjat pohon, memetik jeruk juga, namun akhirnya dia terjatuh. Tangan kirinya patah, dan dia harus dirawat di rumah sakit. Roy dan Alexandria dirawat di rumah sakit yang sama. Dan disitulah mereka bertemu, secara tidak sengaja tentu saja.

Kisah selanjutnya mengingatkan saya akan buku Alf Laylah Wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam), terutama kisah Syahrazad yang mendongeng setiap malam kepada Raja Syahrayar. Saat pertama kali bertemu, Roy langsung mendongeng kepada Alexandria. Bedanya, jika Syahrazad menceritakan banyak sekali kisah kepada Raja Syahrayar, Roy hanya menceritakan dua kisah kepada Alexandria: kisah mengenai Alexander the Great yang membuang seluruh persediaan air saat dia tersesat di gurun pasir dengan pasukannya, dan sebuah kisah epic mengenai enam ksatria yang ingin balas dendam terhadap penguasa jahat lagi keji, Governor Odiuos.

Itu perbedaan pertama. Perbedaan selanjutnya, dan ini yang paling penting, Syahrazad mendongeng setiap malam kepada Raja Syahrazad agar dia bisa terbebas dari hukuman mati di pagi hari. Syahrazad selalu menggantung cerita setiap malam, sehingga Raja Syahrayar selalu penasaran dengan kelanjutan kisah selanjutnya. Untuk menghilangkan rasa penasaran ini, Raja Syahrayar selalu menunda hukuman mati untuk Syahrazad agar dia bisa mendengarkan kelanjutan dongeng di malam berikutnya. Dongeng bagi Syahrazad adalah senjata untuk bertahan hidup. Sedangkan dalam The Fall, dongeng Roy kepada Alexandria adalah senjata baginya agar bisa bunuh diri. Setiap hari Roy menggantung ceritanya dan membuat Alexandria penasaran. Roy baru akan melanjutkan ceritanya jika Alexandria mau memenuhi permintaannya: mengambilkan sebotol penuh pil Morhin agar dia dapat bunuh diri dengan itu dan mati keesokan paginya.

Pada akhirnya sebuah dongeng tidak hanya bisa membuat orang bertahan hidup, tapi juga bisa membunuhnya.

Belajar Dari Film

Saat sedang berdiskusi mengenai karakter dalam karya fiksi dengan seorang teman di Malang, saya mengutarakan ingin membuat cerita mengenai seseorang yang menjadi bijak karena membaca kitab-kitab klasik. Teman saya memberi saran yang menurut saya kala itu sangat konyol: karakter itu menjadi bijak justru karena membaca karya-karya populer. Saya tidak bisa membayangkan ada orang yang menjadi bijak karena membaca komik Naruto, novel-novel Ilana Tan, atau Dilan untuk karya yang lebih baru. Saya langsung teringat pada teman saya, seorang penggemar budaya populer Jepang sejati, yang terus terang saja jauh dari sifat bijak.

Lama-kelamaan, dan terutama karena kuliah di jurusan Cultural Studies, saya jadi berpikiran bahwa ide teman saya itu ternyata menarik juga. Saya membayangkan ada anak muda yang sangat bijak, dan dia menjadi tempat bagi orang-orang untuk meminta nasihat. Saking bijaknya, banyak orang yang menganggap bahwa dia telah mencapai tahap spiritual tertinggi. Yang orang-orang tidak tahu, sifat bijaknya itu dia dapatkan dari mengonsumsi budaya populer: mendengarkan Me Gustas Tu dari Gfriend, menonton Full Metal Alchemist, atau menghayati lirik-lirik JKT48.

Menjadi bijak karena mengonsumsi budaya populer bukanlah cerita baru. Cinema Paradiso, film Italia yang disutradarai Giuseppe Tornatore, juga bercerita hal yang sama. Seorang operator bioskop yang tak pernah mengenyam pendidikan formal justru menjadi guru bagi seorang anak muda yang bertahun-tahun nanti menjadi sutradara terkenal di Italia. Pengetahuan yang dia dapatkan semuanya dari film-film yang dia tonton. Dia sering memberi petuah bijak pada anak muda itu dengan mengutip pernyataan karakter film yang dia sukai.

Hal penting yang ingin saya tekankan di sini adalah, kita bisa belajar dari apa saja, termasuk dari film. Banyak film-film secara tersurat memberi motivasi hidup untuk penontonnya. The Shawshank Redemption masuk kategori ini. Ada juga film yang sepintas tidak memberikan apa-apa, tapi saya percaya, film paling kelam sekalipun pasti memberikan sesuatu bagi penontonnya, sekecil apapun itu. Selama enam hari kedepan, saya ingin berbagi enam film yang saya anggap memberi sesuatu bagi penontonnya. Enam film ini bukanlah film pemenang Oscar atau Cannes, bukan juga film yang masuk daftar 250 film terbaik versi IMDB. Enam film ini saya pilih bukan karena hal-hal seperti itu, bukan juga karena mendapat pujian dari kritikus atau karena nama besar sutradaranya. Enam film ini saya pilih karena, paling tidak, memberikan perspektif baru bagi saya tentang film, tentang berpikir, dan (ini terkesan muluk memang) tentang menjalani hidup.

Setiap harinya akan saya tulis ulasan mengenai satu film. Ulasan ringkas saja, tentang hal-hal yang saya sukai dari film tersebut. Kemungkinan besar akan ada spoiler. Bagi yang keberatan, cukup baca judulnya saja. Tapi saya percaya, film bagus akan tetap bagus sekalipun jalan ceritanya telah kita ketahui. Itulah barangkali mengapa suatu film akan tetap menarik sekalipun kita telah menontonnya puluhan kali.

Mengimajinasikan Imajinasi

Kemarin saya menonton Inside Out, garapan Pixar. Semenjak Toy Story 3, inilah film Pixar yang bisa bikin saya tertawa sekaligus tersentuh. Saya tidak perlu menceritakan seperti apa jalan cerita film ini, sebab resensinya sudah banyak sekali bertebaran di internet. Yang menarik bagi saya, adalah usaha Pete Docter, sang sutradara, dalam mendeskripsikan pikiran manusia. Saya pikir itu brilian sekali!

Dalam novel dikenal istilah aliran kesadaran (stream of consciuousness), sebuah gaya bercerita yang mendeskripsikan pikiran karakter. Tentu saja banyak novel, bahkan sinetron, yang juga menggunakan deskripsi pikiran. Yang membedakan, aliran kesadaran berisi pikiran-pikiran spontan karakter, cenderung tidak tertata, dan kadang ngalor-ngidul. Pikiran manusia tentu saja rumit, dan aliran kesadaran adalah salah satu cara untuk menceritakan kerumitan pikiran manusia itu.

Inside Out melampaui aliran kesadaran, sebab film itu mendekripsikan pikiran manusia dengan analogi dunia: pikiran manusia ibarat dunia, dengan orang-orang yang memiliki tugas yang berbeda-beda agar dunia itu bisa berjalan. Dalam pikiran manusia ada sistem memori, yang digambarkan seperti sebuah perpustakaan raksasa dengan luas tak terhingga. Bedanya, tidak ada buku di situ, yang ada hanya bola-bola yang berisi memori. Jika jarang digunakan, memori itu akan dibuang begitu saja, oleh petugas pembersih memori.

Yang menarik juga, bagian-bagian pikiran yang bertugas untuk membuat hal-hal abstrak dan imajjnasi, juga digambarkan dalam film itu. Artinya, karena setiap cerita filksi pada dasarnya adalah imajinasi, maka film itu mencoba untuk mengimajinasikan hal-hal abstrak dan mengimajinasikan imajinasi. Gila, ada imajinasi dari imajinasi: metaimajinasi! Dalam bagian imajinasi ini, kita kita akan menemukan kota berbentuk awan, dengan bangunan yang terbuat dari awan, yang penghuninya adalah orang-orang yang juga terbuat dari awan. Kita juga akan menemukan hutan kentang goreng, bahkan pacar imajiner juga ada.

Tokoh-tokoh utama Inside Out adalah emosi-emosi manusia. Masing-masing bernama Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust. Setiap manusia, memiliki lima emosi ini di dalam pikirannya, dan lima emosi inilah yang mengendalikan manusia. Cerita mengenai Riley dan orang tuanya digambarkan dengan sangat sederhana. Kita sering melihat orang yang tanpa alasan kuat tiba-tiba menangis begitu saja. Ini hal sepele, tapi percayalah, dalam tindakan sepele itu terdapat proses pikiran yang rumit. Kerumitan dalam film ini tidak terdapat pada cerita mengenai Riley dan orang tuanya, melainkan terdapat pada pikiran Riley itu sendiri.

Yang mengganjal bagi saya, setiap emosi juga merasakan emosi yang lain. Joy, yang seharusnya hanya mengenal perasaan bahagia, nyatanya bisa menangis dan bersedih juga. Anger, yang seharusnya hanya merasakan kemarahan, nyatanya bisa ketakutan juga. Baiklah, toh hal-hal yang mengganjal itu tidak mengurangi kenikmatan saya menonton film ini.

Dan bagian paling menarik dari film ini, ketika diakhir cerita sang sutradara menggambarkan proses dalam pikiran seekor kucing. Kita tahu, kucing adalah hewan yang paling sulit untuk dipahami. Tindakan dan gerakan kucing juga sulit diprediksi. Seekor kucing terkadang berjalan entah ke mana, dengan misi yang sepertinya terlihat sangat misterius. Kesulitan kita untuk memahami kucing terjadi karena tiga alasan. Pertama, lima emosi yang tinggal dalam pikiran seekor kucing selalu bertengkar. Kedua, papan kontrol yang berfungsi untuk mengendalikan tubuh kucing, itu sangat rumit. Bahkan, papan kontrol dalam pikiran seekor kucing digambarkan sama rumitnya dengan papan kontrol Riley saat usianya 11 tahun. Ketiga, lima emosi itu, yang digambarkan sebagai kucing juga, tidak mengetahui kalau mereka adalah emosi dalam diri sang kucing, dan tidak tahu juga kalau mereka sedang berada dalam pikiran sang kucing. Jadilah emosi-emosi itu bergerak sak karepe dewe, sehingga tidak mengherankan kalau seekor kucing memang selalu bergerak sak karepe dewe.

Penulis, Usia, Karya

Beberapa hari belakangan tulisan di blog ini tidak karu-karuan. Setiap postingan hanya berisi satu kata saja. Tentu agar tidak terkena denda. Beberapa teman misuh-misuh dengan postingan saya yang seperti itu. Saya ucapkan permohonan maaf. Terus terang ada beberapa hal yang harus saya lakukan dan membuat kewajiban menulis blog jadi terbengkalai. Kegiatan pertama, tentu saja ngopi. Untuk yang satu ini, tidak bisa diganggu gugat. Kegiatan kedua, saya banyak menghabiskan waktu untuk menggarap tesis, membaca buku-buku Foucault dan beberapa literatur yang relevan. Kegiatan ketiga, saya sedang menulis suatu proyek pribadi. Tidak perlu saya ceritakan itu apa. Saya jamin, kamu akan muntah-muntah kalau saya beritahu kenarsisistisan saya dengan proyek pribadi itu.

Usia saya saat ini 25 tahun. Usia yang tergolong muda memang. Tapi di usia yang sama, atau sekitar itu, banyak orang-orang yang mampu menghasilkan karya-karya cemerlang. Ryunosuke Akutagawa misalnya. Di usia 22 tahun dia sudah menghasilkan cerpen legendaris Rashomon, pada usia 24 tahun dia menulis The Nose, dan pada usia 26 tahun dia menulis dua cerpen yang sangat saya sukai: Hell Screen dan The Spider’s Thread. Hebatnya, di usia semuda itu Akutagawa mampu menulis cerpen-cerpen yang tidak hitam putih, dalam artian menampilkan kebaikan yang ada sisi buruknya dan keburukan yang ada sisi baiknya. Bandingkan dengan penulis muda kita yang melihat moralitas secara hitam putih, dengan membuat suatu karya ambisius (namun tidak didukung skil menulis memadai) yang ingin menyelamatkan moral bangsa. Saya sangat percaya, urusan menjaga, apalagi menyelamatkan, moral bangsa bukanlah urusan penulis.

Dubliners James Joyce juga contoh menarik. 15 kumpulan cerpen di buku itu ditulis Joyce ketika dia berusia 22-25 tahun. Ceritanya tentang kelas menengah di Dublin, tentang cinta, masa lalu, krisis iman, dan sebagainya. Yang paling membekas di kepala saya adalah cerita yang terakhir, berjudul The Dead, yang ditulis Joyce saat usianya 25 tahun. Itu cerita yang sangat sendu dan lirih, tentang seorang istri yang menceritakan masa lalunya kepada sang suami, bahwa sang suami bukanlah cinta pertamanya. Baiklah, cerita dengan plot seperti itu tentu saja sudah basi. Tapi, cara Joyce menuliskan cerita itulah yang menarik. Joyce bisa membuat sebuah cerita dengan plot sederhana menjadi sebuah cerita yang memikat karena teknik menulisnya yang ciamik.

Usia 25 tahun, dan saya belum menghasilkan satupun karya yang bagus (minimal sama bagusnya dengan karya-karya Akutagawa atau Joyce). Tentu saja ini sebuah bencana. Menulis tidak sesederhana yang saya pikirkan sebelumnya. Saya kadang bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh Akutagawa dan Joyce sampai mereka bisa menulis sebagus itu? Saya pikir jawabannya tidak sesederhana karena mereka memiliki bakat dalam menulis.

Walau begitu, saya kadang menghibur diri sendiri. Toh pada usia 25 tahun Gabriel Garcia Marquez belum menghasilkan karya yang bagus. The Stranger Albert Camus terbit saat usianya 29 tahun, begitu juga dengan Lapar Knut Hamsun. Artinya, usia seseorang dalam menghasilkan suatu karya bagus itu beragam. Ada yang cepat, seperti Akutagawa dan Joyce, ada juga yang lambat seperti Marquez (One Hundred Years of Solitude terbit saat usianya 40 tahun). Karena saya tidak bisa menjadi seperti Akutagawa, menjadi seperti Marquez tentu tidak ada salahnya bukan?

Borges dan Lynch

Sepintas, ada persamaan antara cerpen (atau resensi fiktif) Borges dari buku Ficciones, A Survey of the Works of Herbert Quain, dengan film karya David Lynch, Mulholland Drive. A Survey of the Works of Herbert Quain adalah sebuah cerpen berbentuk resensi terhadap seorang penulis fiktif bernama Herbert Quain. Ada tiga karya yang diresensi oleh Borges, salah satunya berjudul The Secret Mirror, sebuah naskah drama dua babak, yang mana adegan pada babak pertama sebenarnya merupakan sebuah cerita dari naskah drama yang dituliskan oleh seorang karakter yang muncul di babak kedua. Ada dua karakter berbeda dalam drama tersebut yang diperankan oleh orang yang sama. Pada babak pertama dia berperan sebagai seorang laki-laki yang tergila-gila pada seorang perempuan, dan pada babak kedua dia berperan sebagai penulis naskah drama yang sedang menulis naskah yang ceritanya persis sama dengan cerita dalam babak pertama drama tersebut. Cerita dalam Mulholland Drive karya David Lynch serupa dengan cerpen Borges di atas. Ada dua bagian dalam film tersebut, yang mana dua orang karakter di bagian pertama sedang mencari seseorang yang ternyata mati secara mengenaskan. Di bagian kedua, orang yang ditemukan mati mengenaskan itu hidup kembali, dan karakter tersebut dimainkan oleh aktris yang sama dengan yang memerankan si pencari orang mati tadi. Ringkasnya begini, di bagian pertama aktris A memerankan C, dan aktris B memerankan D. C dan D sedang mencari seseorang bernama E, yang kemudian diketahui telah mati. Di bagian kedua, E ternyata hidup lagi, dan karakter E diperankan oleh aktris A, sedang aktris B memerankan C, sebuah karakter yang sebelumnya diperankan oleh A. Bingung? Silahkan ditonton sendiri filmnya.

Menjadi Penulis di Indonesia

Yang diucapkan akan tertiup angin, yang ditulis akan abadi.” – Peribahasa Latin.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer.

Jika ada seorang remaja delapan belas tahun yang bercita-cita menjadi penulis, akan saya beritahukan padanya dua kalimat di atas agar dia termotivasi. Tapi, jika ada seseorang berusia 25 tahun yang bercita-cita menjadi penulis karena ingin hidup abadi, akan saya katakan bahwa dua kalimat di atas adalah omong kosong belaka. Kita mengenal Homer, seorang pujangga yang hidup 2.700 tahun sebelum kita, karena dia telah menulis dua puisi epik yang terus dibaca hingga kini: The Iliad dan The Odyssey. Kita juga mengenal Miguel de Cervantes, karena dia telah menulis novel modern pertama di dunia: Don Quixote. Kita bisa membuat daftar panjang para penulis yang karya-karyanya terus dibaca sampai hari ini. Namun bukan mereka yang ingin saya bicarakan. Sebab saya ingin berbicara tentang Maximus Barker, Goe Xin Min, Takashi Minato, Michel Clements, atau Emran Makhmur el-Jabari. Pernahkah kamu mendengar nama-nama mereka?

Baiklah, nama-nama itu hanyalah karangan saya belaka. Tapi bagaimana jika mereka sebenarnya ada, mereka adalah penulis yang telah menghasilkan banyak buku, dan kita tidak mengenal mereka karena kita tidak pernah membaca karya-karya mereka? Dari semenjak manusia mengenal tulisan, ada berapa orang yang pernah menulis dan berniat untuk menjadi seorang penulis? Barangkali sudah ada ratusan miliar orang yang pernah hidup di bumi ini, maka kita asumsikan saja ada lima juta orang yang pernah menulis. Apakah mereka semua abadi karena mereka pernah menulis? Sayangnya tidak.

Saya pikir menjadi penulis karena ingin hidup abadi adalah mimpi yang terlalu muluk. Minimal kita harus sama jeniusnya dengan Homer agar bisa abadi dengan menulis. Sehingga, tatkala memutuskan untuk menjadi penulis, siap-siap saja karya kita menjadi tidak terbaca karena berbagai alasan. Itu baru persoalan pertama. Persoalan berikutnya, menjadi penulis di Indonesia tidak akan membuat seseorang menjadi kaya. Tidak ada gunanya menjadi penulis produktif agar bisa mendapat uang yang banyak. Selain karena minat baca masyarakat kita yang kurang, sistem perbukuan di Indonesia juga tidak memungkinkan penulis untuk mendapat untung yang besar. Maka salah satu pilihan yang bisa ditempuh, menulis dengan pertimbangan kualitas, bukannya kuantitas. Menulis dengan mempertimbangkan kualitas, memungkinkan karya kita untuk dibaca oleh pembaca luar Indonesia. Dengan catatan, karya kita harus diterjemahkan ke bahasa internasional, minimal bahasa Inggris atau Prancis.

Jika bicara strata, maka bahasa Indonesia berada di strata paling bawah bahasa dunia. Bahasa yang menempati strata tertinggi tentu saja ditempati oleh bahasa yang dituturkan oleh penjajah di masa lampau, seperti Inggris, Prancis, Spanyol, atau Portugis. Itulah mengapa sastra Amerika Latin, yang menggunakan bahasa Spanyol dan Portugis, menjadi mudah untuk terbaca oleh pembaca internasional. Strata kedua ditempati oleh bahasa Arab, Cina, dan Jepang, sebab bahasa-bahasa tersebut tergolong bahasa yang usianya sudah sangat tua. Sedang bahasa Indonesia, berada di strata keenam, strata paling bawah. Indonesia bukanlah negara dengan kekuatan politik dan ekonomi yang diperhitungkan, hal ini menyebabkan minat orang untuk mempelajari Indonesia tidak sebesar minat orang untuk mempelajari Tiongkok atau India. Harus diakui, ketertarikan orang asing untuk mempelajari suatu bahasa karena suatu negara yang menjadi penutur bahasa tersebut relatif kuat secara politik dan ekonomi. Itulah sebabnya minat mempelajari bahasa Korea semakin meningkat, sebab secara ekonomi Korsel sedang mengalami peningkatan juga. Bahasa Indonesia juga hanya dituturkan oleh orang Indonesia, sehingga hal ini sedikit membuat kesulitan penulis-penulis Indonesia untuk memperkenalkan karyanya ke pembaca di luar negeri.

Artinya, memutuskan untuk menjadi penulis di Indonesia perlu dengan pertimbangan yang matang. Sebab, selain karena dibutuhkan kejeniusan yang sangat tinggi untuk menjadi penulis yang abadi, calon-calon penulis dari Indonesia juga patut untuk resah sebab bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat tidak populer dalam pergaulan Internasional. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa minat orang-orang untuk menerjemahkan karya dari Indonesia tidak sebesar minat untuk menerjemahkan karya dari Tiongkok, sebab karya dari tiongkok lebih menarik untuk dikaji ketimbang karya dari Indonesia hanya karena secara politik dan ekonomi negara kita tertinggal jauh dari tiongkok.

5 Buku yang Memecahkan Kepala Saya

Franz Kafka pernah mengatakan kalau sebuah buku haruslah menjadi kapak yang memecahkan es di kepala kita. Dalam kalimat lain, sebuah buku haruslah memecahkan kebekuan pikiran kita. Ada lima buku yang sangat bagus menurut saya karena mampu memecahkan kebekuan saya dalam berpikir. Lima buku itu adalah:

1. Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam), Anonymous

Inilah buku terbaik yang pernah saya baca. Kekaguman saya pada buku ini terutama pada struktur narasi dalam narasinya. Ada banyak cerita dalam buku ini, dan semua cerita itu merupakan dongeng yang diceritakan oleh Syahrazad untuk raja Syahrayar. Dalam dongeng yang diceritakan Syahrazad tersebut, terdapat dongeng lain, sampai pada tingkat keempat. Jadi ada dongeng di dalam dongeng. Tidak ada satu orang pun yang tahu siapa penulis dongeng-dongeng tersebut, dan tak ada juga yang mengetahui siapa orang yang menyusun semua dongeng-dongeng itu ke dalam struktur cerita dalam cerita. Jika saja saya tahu siapa orangnya, saya akan ziarah ke kuburannya sembari membacakan surah Yasin di sana.

2. The Adventures of Huckleberry Finn, Mark Twain

100 halaman terakhir dalam buku ini membuat saya misuh tiada henti. Ide-ide Tom Sawyer dan Huck Finn dalam membebaskan seorang tahanan dalam “penjara” membuat saya ketawa tanpa henti. Ide-ide mereka sangat lucu, tapi di sisi lain sangat brilian. Novel ini adalah sebuah contoh yang bagus kalau menulis novel komedi tidak harus menampilkan hal-hal konyol.

3. Ficciones, Jorge Luis Borges

Bayangkan ada sebuah buku yang tidak pernah dituliskan, tetapi di sebuah surat kabar tiba-tiba muncul sebuah resensi yang membahas buku tersebut. Seperti itulah Borges membuat cerita. Dengan cara itu, dia mampu menuliskan sebuah cerita yang seharusnya setebal 1001 halaman menjadi 10 halaman saja.

4. Dictionary of the Khazars, Milorad Pavic

Membaca buku tidak harus dari halaman pertama ke halaman terakhir. Kita bisa membaca sebuah buku dari halaman paling belakang ke halaman paling awal, atau membaca dari tengah, lalu ke akhir, lalu ke awal, atau membaca bagian manapun yang kita suka dan diakhiri di bagian manapun yang kita inginkan. Buku ini dapat dibaca sesuka hati. Sebab yang namanya kamus memang bisa kita baca dari mana saja bukan?

5. The Old Man and the Sea, Ernest Hemingway

Pikiran dan perasaan seseorang dapat diketahui pembaca dari apa yang orang tersebut lakukan. Saya pikir, itulah kehebatan utama novel ini. Yang lebih hebat lagi, novel ini terlihat sangat sederhana secara teknik, padahal jika dibaca berulang-ulang, teknik yang digunakan Hemingway dalam menulis novel ini amatlah rumit. Hal ini mengingatkan saya pada gaya bermain Paul Scholes di Manchester United. Bagi penonton kebanyakan, teknik permainan Scholes sangat sederhana, namun para pemain dan pelatih sering bengong-bengong sendiri dengan teknik yang diperagakan Scholes. Ada kerumitan di balik kesederhanaan, begitulah.

Dialog dalam Film

Saat pertama kali nonton Pulp Fiction karya Quentin Tarantino, saya cuma bisa membatin, “Ini film apaan sih?” Film itu isinya ngobrol doang, ngobrolin hal-hal yang gak penting. Dari awal sampai akhir kayak gitu. Yang bikin saya betah nontonnya, karena Pulp Fiction adalah film non-linier pertama yang saya nonton. Film itu setidaknya ngasih pelajaran kalau cerita tidak harus disampaikan secara kronologis. Bertahun-tahun kemudian, saat saya menontonnya lagi, saya baru menyadari kalo film itu sangat brilian. Saya pikir Quentin Tarantino adalah sineas pertama yang bisa bikin dialog dari hal-hal yang tidak penting. Salah satu sutradara favorit saya, Woody Allen, film-filmnya juga dialog semua. Tapi dialog dalam film-film Allen sangat high-culture. Dia membicarakan Kafka, Thomas Mann, Death in Venice, Marshall McLuhan, dan hal-hal lain yang seperti itu, yang hanya dapat dimengerti oleh penggemar sastra dan teori sosial kontemporer. Sedangkan Tarantino, justru bisa membuat dialog bagus dari hal-hal yang kita jumpai sehari-hari. Dia misalnya membuat sebuah dialog tentang mengapa orang-orang begitu membenci tikus, tapi tidak membenci tupai. Padahal, keduanya sama-sama hewan pengerat yang membawa penyakit bagi manusia. Dia juga membuat dialog tentang tomat, di mana ada ayah tomat, ibu tomat, dan anak tomat, yang pada suatu kesempatan berubah menjadi saos tomat. Percayalah, membicarakan tikus dan tomat adalah hal tidak penting, dan Tarantino mampu membuat itu menjadi sesuatu yang penting.

Sineas lain yang jago bikin dialog, siapa lagi kalau bukan Richard Linklater. Trilogi Before (Sunrise, Sunset, dan Midnight), serta Boyhood yang jadi masterpiece nya sepanjanga masa, sudah membuktikan kalau dia adalah sedikit orang yang jago bikin dialog. Tapi entah mengapa, saya lebih suka dengan gaya dialog Tarantino, yang suka bermain dengan ironi, tidak penting, dan selalu bikin penontonnya tertawa. Saya masih punya mimpi untuk bikin film pendek, dan film yang ingin saya bikin mirip-miriplah sama film-filmnya Woody Allen, Richard Linklater, atau Quentin Tarantino.

Selain Pulp Fiction, yang menjadi masterpice-nya Tarantino, saya juga suka dengan Kill Bill. Seperti film-film Tarantino yang lain, Kill Bill juga film yang tidak penting. Film itu bercerita tentang pembalasan dendam The Bride terhadap Bill. Seperti film action lainnya, sebelum berhadapan dengan sang boss, sang jagoan harus melawan anak buah sang boss terlebih dulu. Setelah mengalahkan anak buahnya dengan pertarungan sengit, tibalah The Bride berhadapan dengan Bill. Pertarungan puncak ini justru tidak diwarnai dengan aksi karate yang berdarah-darah, tapi lewat dialog panjang tentang alter-ego, dan diakhiri dengan sebuah jurus maut yang hanya dikuasai oleh The Bride. Saya pikir, jika Bill dibunuh lewat dialog saja, akan lebih menarik. Mungkin akan jadi film pertama yang bisa membunuh karakter antagonis dari dialog saja. Salah satu komik terbaik yang saya baca, The Killing Joke, menceritakan pertarungan antara Batman dan Joker lewat lelucon. Maaf kalau spoiler, tapi dalam komik itu untuk pertama kalinya Joker keluar sebagai pemenang, dan Batman harus menderita kekalahan, karena untuk pertama kalinya sepanjang sejarah dia bisa tertawa dengan kostum Batman. Joker mengalahkannya dengan sebuah lelucon yang mematikan, yang membuat Batman dan pembaca komik itu terpingkal-pingkal. Kalau kamu adalah penggemar berat Joker di film The Dark Knight nya Christopher Nolan, sekadar informasi saja, kalau The Killing Joke adalah referensi utama yang Nolan dan Heath Ledger gunakan dalam membangun karakter Joker di film itu. Kalau saya jadi sutradara, saya pikir keren juga bikin sebuah film action, di mana sang protagonis membunuh antagonis lewat lelucon mematikan, yang membuat sang antagonis mati mengenaskan karena tertawa terbahak-bahak. Begitulah.

Cerita Cinta Murahan

Aku, Setyo, dan Probo benar-benar kebingungan setelah mendengar cerita dari Samsir, Desi, dan Lumiana. Dua yang pertama adalah teman kami, sedang yang terakhir adalah pacar Samsir dan kami baru sekali itu bertemu dengannya. Dihari selasa minggu ketiga bulan Mei, bertepatan dengan aku yang sedang membaca cerpen In a Grove karya Ryunosuke Akutagawa, Desi mendatangi kami sambil menangis. Dia adalah teman kami yang paling lugu. Setahu kami, di 24 tahun usianya, dia sama sekali belum berpacaran. Probo bertanya pada Desi, mengapa dia sampai menangis begitu. Dengan tangis yang semakin kencang, Desi hanya menjawab dengan menyebut nama Samsir berulang-ulang. Kami segera mengerti bahwa dia pasti sedang bertengkar dengan Samsir. Asal kamu tahu saja, Samsir sedang berpacaran jarak jauh dengan Lumiana. Tanpa sepengetahuan pacarnya, Samsir juga dekat Desi. Dia bahkan sudah menyatakan rasa ketertarikannya pada Desi. Dengan sebuah keyakinan buta khas perempuan lugu, Desi merasa bahwa Samsir sedang ada masalah dengan Lumiana, dan segera setelah ini dia akan memutuskan hubungan dengan pacarnya.

Aku segera menelpon Samsir, dan menceritakan Desi yang tiba-tiba datang kepada kami sambil menangis. Aku menyuruhnya datang. Dia segera paham, dan berjanji akan sampai dalam dua puluh menit lagi. Tentu saja dia bohong, sebab 47 menit kemudian dia baru sampai di tempat kami. Dan betapa kagetnya kami saat tahu kalau Samsir tidak datang sendiri: dia datang bersama Lumiana. Suasana saat itu begitu canggung. Setyo yang dari tadi lebih banyak diam, akhirnya bertanya, sebenarnya apa yang terjadi. Lumiana yang terlihat begitu marah, akhirnya angkat bicara.

Pengakuan Lumiana

Aku dan Samsir sudah tiga tahun berpacaran, dan empat bulan ini kami berpacaran jarak jauh karena aku harus kerja di Jakarta. Hari ini aku memutuskan untuk main ke Jogja. Samsir tidak aku beritahu, sebab aku ingin memberi kejutan untuknya. Jam enam pagi aku pergi ke kosnya. Aku tahu dia ada di sana, sebab sepagi itu dia pasti malas keluar. Lima belas menit kemudian aku sudah berdiri di depan kamarnya. Aku lihat, ada sepatu berhak tinggi di situ. Aku mulai curiga. Pintu kamar aku buka, dan astaga, aku melihat Samsir dan seorang perempuan sedang berciuman! Perempuan itu di bawah, dan Samsir di atas. Jelas aku marah. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku kacau. Aku bingung. Lama setelah itu, baru mereka sadar dengan kehadiranku. Aku menangis. Samsir dan perempuan itu diam saja di atas tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa, aku segera pergi dari tempat itu. Samsir juga sama sekali tidak mengejarku. Dua puluh menit yang lalu, dia mendatangiku di rumah. Dan mengajakku ke sini untuk menjelaskan semuanya. Dia berkata kalau semuanya tidak seperti yang aku lihat. Jadilah aku di sini, ingin mendengar penjelasan Samsir dan perempuan itu.

Pengakuan Desi

Sudah dua bulan ini Samsir mendekatiku. Kalian pasti tahu kalau selama ini aku tidak pernah berpacaran. Banyak yang pernah mendekatiku, tapi tidak ada yang betul-betul serius seperti Samsir. Dia selalu mengajakku makan hampir setiap hari, membantuku jika ada masalah, dan memberikan perhatian yang lebih dari sekadar teman. Kemarin malam, Samsir mengajakku keluar. Saat jam sembilan malam, aku meminta Samsir untuk mengantarku pulang karena jam sepuluh pintu utama kosku sudah dikunci dari dalam. Tapi kata Samsir, nanti saja. Aku menurutinya. Jam 9.45 aku memintanya untuk kembali mengantarku pulang. Tapi karena Samsir meyakinkanku bahwa aku bisa meminta teman kos untuk membuka pintu untukku, maka aku kembali menurutinya. Jam 1 dini hari Samsir baru mengatarku ke kos. Sesampainya di sana aku menelpon teman kos, tapi tidak ada yang menganggat panggilan teleponku. Mereka pasti sudah tidur. Samsir menawari aku untuk menginap di kosnya, dan berjanji bahwa dia tidak akan melakukan apa-apa terhadapku. Aku mempercayainya. Maka berangkatlah kami ke kosnya. Sesampainya di sana, aku gelisah. Semalaman aku tidak ingin tidur, berjaga-jaga jika Samsir melakukan sesuatu padaku. Hingga akhirnya, jam lima shubuh aku tidak kuat lagi. Maka tertidurlah aku. Saat terbangun, aku melihat Samsir menindih tubuhku sambil mencium bibirku. Pintu tiba-tiba terbuka. Seorang perempuan datang. Dia adalah Lumiana. Bukannya memarahi Samsir, perempuan itu malah memarahiku, menampar mukaku, dan mengataiku sebagai pelacur. Mereka berdua meninggalkanku sendiri. Sambil menangis, aku pergi dari sana, naik taksi, dan sampailah aku di sini menemui kalian.

Pengakuan Samsir

Malam kemarin Desi mengajakku keluar. Aku menurutinya. Kami keliling kota. Jam sembilan malam aku ingin mengantar Desi pulang, karena aku tahu jam sepuluh malam pintu utama kosnya dikunci dari dalam. Tapi dia memelas masih ingin keluar denganku. Aku turuti permintaannya. Jam 9.45 sekali lagi aku ingin mengantarnya pulang. Dia meyakinkanku bahwa dia bisa menghubungi teman kosnya untuk membuka pintu. Sekali lagi aku menuruti permintaannya. Jam satu dini hari, aku mengantarnya pulang. Sampai di sana, Desi menelepon teman kosnya. Tidak ada yang mengangkat, sebab selarut itu semua teman kosnya pasti sudah tidur. Aku mengatakan padanya, kita bisa pergi ke Luxury, warnet 24 jam, sambil menunggu waktu pagi. Tapi dia mengatakan kalau dia sangat kelelahan, dan ingin beristirahat di kosku saja. Awalnya aku menolak, karena dia terus mendesak, akhirnya aku iyakan juga. Aku tidak tidur semalaman, dan memilih untuk main game saja. Aku lihat Desi sudah tidur. Jam 5.30 pagi, dia bangun. Dia mengajakku bicara. Semakin lama, arah pembicaraan kami mengarah ke masalah hubungan laki-laki dan perempuan. Desi lalu menarik tanganku agar lebih dekat dengannya. Aku lihat bibirnya, entah mengapa begitu menggoda. Aku ingin menciummnya, tapi tidak berani. Sebab setahuku, Desi sama sekali belum pernah berpacaran. Ketika aku mendekatkan kepalaku, dia diam saja. Akhirnya aku beranikan diri untuk menciumnya, dan ternyata dia juga mau. Dia lalu baring di kasurku, dan menarik tubuhku ke situ. Saat itulah, Lumiana datang. Aku terkejut, mendatanginya, dan menjelaskan kalau semua ini karena Desi yang ingin tidur dikamarku. Lumiana jelas tidak memercayainya perkataanku. Dia lalu menampar wajahku, lalu segera pergi dari situ. Aku begitu marah, dan menyuruh Desi segera pergi dari kamarku. Saat Desi telah pergi itulah aku akhirnya tersadar, bahwa aku bukanlah lelaki pertama yang pernah bercumbu dengannya.