Blog

Sebuah Perayaan Ditanggal 24

Tiga tahun dan dua bulan yang lalu, saya menyatakan rasa ketertarikan saya pada seorang perempuan. Namanya Pacar Saya. Dia tiga tahun lebih muda dari saya. Dua tahun dan dua bulan yang lalu, saya membuat sebuah cerita pendek sebagai hadiah untuk satu tahun kebersamaan kami. Saat pasangan lain merayakannya dengan makan malam romantis di tempat mahal, saya justru mengajak dia makan di kaki lima bersama Ibu saya yang kebetulan ada di Malang. Itu pertama kalinya mereka bertemu. Dan tidak lupa, setelah itu, saya berikan kado spesial untuknya: sebuah cerpen tentang saya dan dia. Cerpen itu saya publikasikan pertama kali di facebook, dan barangkali tidak ada salahnya jika saya publikasikan lagi di sini.

Perempuan yang Berubah Menjadi Puisi

Cerpen: Abdul Hair

Suatu hari, tatkala Sang Penyair sedang masyuk duduk di atas pohon sambil menuliskan sajak-sajak cinta, Arini sudah berubah menjadi bait-bait puisi. Tidak main-main, dia menjadi puisi paling indah yang pernah ada. Amir Hamzah sekalipun akan memaki-maki puisi-puisi yang dia buat, merasa puisi-puisinya tidak lebih sebagai bualan anak kecil tatkala dibandingkan dengan puisi jelmaan Arini.

Sang Penyair turun perlahan dari pohon begitu bait terakhir sajak cintanya telah dia tuliskan. Dia ingin memberikan sajak cinta itu pada Arini, kekasihnya yang hampir satu tahun dia pacari. Dia melangkah pelan menuju rumah Arini, tidak terburu-buru seperti akan buang air ke toilet. Hembusan angin pelan-pelan meraba pipinya, dan gendang telinganya bergetar begitu burung-burung bersenandung riang. Sesampainya di rumah kekasihnya, Sang Penyair masuk begitu saja dan mendapati selembar surat yang ditujukan untuknya. Dia membuka surat itu, lalu membacanya:

Penyairku tercinta, begitu engkau membaca surat ini, aku telah berubah menjadi bait-bait puisi. Aku selalu merasa kecintaanmu pada puisi melebihi cintamu padaku. Engkau lebih banyak menghabiskan waktu menulis puisi ketimbang berduaan denganku. Aku ingin jadi yang paling engkau cintai, melebihi kecintaanmu pada sajak-sajak yang terkadang tidak aku pahami apa maksudnya.

Hingga akhirnya aku sadar, hal tersebut tidak mungkin terjadi. Engkau sudah lebih dulu mengenal puisi ketimbang aku. Lama aku merenungkan itu, sebelum aku mendapati ide agar menjadi yang paling engkau cintai: aku harus berubah menjadi bait-bait puisi, puisi paling indah yang pernah ada. Hanya dengan cara ini engkau bisa mencintaiku sangat dalam, melebihi cintamu pada puisi-puisi yang lain.

Sang Penyair terperanjat setelah membaca surat itu. Memorinya seketika berkelebat ke masa silam, saat-saat dia merasa begitu dongkol pada kekasihnya. Pernah saat sedang berduaan, Arini tiba-tiba gusar pada Sang Penyair. Sang Penyair tidak mengerti sudah melakukan kesalahan apa, pokoknya Arini gusar begitu saja. Dia mengingat-ingat sudah berucap apa barusan, tapi tidak menemukan letak kesalahan dari ucapannya. Telah berkali-kali dia meminta maaf, namun Arini tidak kunjung memberikan maaf padanya. Keseokan harinya, Arini secara mengejutkan sudah manja seperti sedia kala, seperti tidak pernah terjadi apa-apa di hari sebelumnya.

Sang Penyair sudah melupakan semua memori indah bersama kekasihnya. Dia merasa tidak ada kesan sama sekali dengan yang indah-indah itu. Sebab yang diingatnya cuma kejadian-kejadian yang membuatnya begitu dongkol pada Arini. Celakanya, kejadian-kejadian itu yang justru berkesan dan membikin dia begitu merindukan Arini.

Sang Penyair memutuskan untuk mencari Arini dengan cara mendatangi kuburan Chairil Anwar. Dia merasa kalau penyair legendaris itu tahu semua hal tentang puisi.

Sesampainya di tempat yang dia tuju, Sang Penyair lalu mengucapkan jampi-jampi, yang sebenarnya lebih terdengar seperti orang yang berkumur-kumur sehabis menyikat gigi. Tidak lama setelah jampi-jampi selesai diucapkan, tanah di atas kuburan Chairil Anwar retak-retak, sebelum akhirnya sebuah tangan menampakkan wujudnya setelah menerobos tanah dari bawah. Setelah itu, tangan yang lain menampakkan wujudnya, diikuti dengan kepala, badan, lutut, telapak kaki, hingga nampak sempurna sebagai jasad utuh: jasad Chairil Anwar. Dia lalu melangkah mendekat ke Sang Penyair, yang ketika itu sedikit gemetar kakinya karena takut. Sang Penyair tiba-tiba menyesal, kenapa harus membangunkan penyair legendaris itu. Chairil Anwar pasti akan segera membunuhnya, karena Sang Penyair sudah menganggu tidur panjangnya. Dia semakin mendekat, dengan kepala yang menjulur ke depan. Pikir Sang Penyair, Chairil Anwar pasti akan menggigit lehernya, lalu menghisap habis darahnya. Dia ingin segera kabur, tapi kakinya tak bisa digerakkan. Begitu kepala Chairil Anwar semakin mendekat ke lehernya, Sang Penyair cuma bisa menutup mata sebelum mendengar sebuah pertanyaan, “Kau punya rokok?”

Sang Penyair tersentak sebelum membuka matanya. Cepat-cepat dia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku, mengambil satu isinya, memberikannya pada Chairil Anwar, lalu menyulut api dengan pemantik. Chairil Anwar memiringkan wajahnya 45 derajat ke kanan sambil menghisap rokok dalam-dalam: dia terlihat sangat mirip dengan potret dirinya yang legendaris itu.

“Ada perlu apa sampai kau harus membangunkanku?” tanya Chairil Anwar.

“A-anu, anu, aku mau tanya sesuatu padamu,” jawab Sang Penyair.

“Apa itu?”

“Menurutmu, apa puisi paling indah di dunia?”

Chairil Anwar terdiam sesaat, sebelum menjawab, “Puisi yang mampu membuat pembacanya hidup seribu tahun lagi.”

“Puisi yang bagaimana itu?” Sang Penyair mengerutkan keningnya.

“Aku juga tidak tahu pasti,” jawab Chairil Anwar enteng, sambil menghisap rokoknya.

“Aku sedang kebingungan. Pacarku baru saja berubah menjadi puisi yang paling indah di dunia. Tapi aku tidak tahu, puisi paling indah seperti apa.”

“Hmm…. Masalahmu rumit juga. Aku sarankan kau bertanya pada penyair yang masih hidup saja, Sapardi Djoko Damono, mungkin dia tahu jawaban yang kau inginkan.”

“Baiklah. Terima kasih untuk sarannya,” kata Sang Penyair, “maaf sudah menganggu tidurmu.”

“Tidak masalah,” jawab Chairil Anwar, “ngomong-ngomong boleh aku minta rokokmu satu lagi?”

Sang Penyair langsung memberikan sisa rokok beserta pemantik apinya pada Chairil Anwar. Setelah itu, Chairil Anwar kembali masuk ke dalam kuburannya.

Sang Penyair mendatangi rumah Sapardi Djoko Damono dengan berjalan kaki. Setelah lima jam, dia akhirnya sampai juga di rumah yang dia tuju. Sang Penyair mengetuk pintu, sebelum seorang lelaki tua keriput membukanya. Dia mempersilahkan Sang Penyair masuk, kemudian kembali menutup pintu rumahnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sapardi.

“Aku ke sini atas saran Chairil Anwar. Katanya mungkin kau bisa memecahkan masalahku,” jawab Sang Penyair.

“Apa masalahmu?”

“Pacarku tadi berubah jadi puisi. Dia perempuan yang sangat cantik, sebab itu dia berubah jadi puisi yang paling indah. Aku ingin menemukannya, tapi aku tidak tahu puisi paling indah itu seperti apa.”

Ada jeda merangkak ke ruang itu, sebelum pecah oleh jawaban Sapardi, “Puisi paling indah itu seperti isyarat yang tak sempat diucapkan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada.”

“Seperti apa rupa puisi itu?”

“Entahlah,” jawab Sapardi. “Kenapa tidak kau tanyakan saja pada penyair yang lebih muda. Pengetahuan mereka lebih banyak ketimbang saya yang baru merasakan internet setelah renta begini.”

“Ada rekomendasi penyair muda yang bisa aku mintai jawaban?” tanya Sang Penyair.

“Ada, namanya Abdul Hair,” jawab Sapardi.

Sang Penyair kaget bukan main. Dia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dia heran, kenapa Sapardi tidak menyuruhnya bertanya pada Joko Pinurbo atau Nirwan Dewanto atau Kris Budiman, dan malah menyuruhnya menemui orang yang baru pertama kali dia dengar namanya.

Setelah mengucapkan terima kasih dan pamit pulang, Sang Penyair segera pergi ke warnet terdekat. Dia lalu membuka google, dan memasukkan nama Abdul Hair di situ. Dari informasi yang dia temukan, ternyata Abdul Hair belum pernah menghasilkan puisi apapun. Heran juga dia, Sapardi sampai menyebut penyair pada orang yang belum pernah membuat puisi.

Dari google Sang Penyair tahu, Abdul Hair selalu minum kopi di tempat itu-itu saja. Dia segera beranjak menuju warung kopi langganan Abdul Hair. Sesampainya di situ, dia mendapati orang yang dicarinya sedang menulis menggunakan laptop.

“Maaf mengganggu. Betul kau yang namanya Abdul Hair?” tanya Sang Penyair.

“Betul, kau tidak salah,” jawab Abdul Hair.

“Aku ke sini atas saran Sapardi Djoko Damono.”

“Oh ya? Suatu kebanggaan kau ke sini atas saran penyair favoritku,” kata Abdul Hair.

“Aku punya masalah.”

“Apa masalahmu?”

“Pacarku tadi berubah menjadi puisi yang paling indah. Aku ingin menemukan puisi itu. Sayangnya aku tidak tahu puisi yang paling indah itu seperti apa.”

“Kau salah orang, aku tidak mengerti apa-apa soal puisi,” Abdul Hair berkata sambil tersenyum.

“Ayolah,” Sang Penyair memelas, “aku yakin kau bisa membantuku.”

“Hmm…. Aku tadi sedang menulis sebuah cerpen. Aku tidak tahu cerpen itu bagus atau tidak, tapi yang jelas bisa membuat orang tersenyum.”

“Tersenyum?” tanya Sang Penyair.

“Ya, tersenyum. Tadi ada seorang perempuan ke sini. Kau tahu, dia perempuan paling cantik yang pernah aku lihat. Tanpa buang-buang kesempatan, aku lalu memberikannya cerpen yang aku tulis. Siapa tahu saja dia jatuh cinta padaku begitu membaca cerpen yang aku buat.”

“Lalu?”

“Dia tersenyum setelah selesai membaca cerpen itu. Langsung saja aku menyatakan cinta. Eh, langsung dia terima,” kata Abdul Hair bersemangat.

“Siapa nama perempuan itu?” Sang Penyair bertanya dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Arini. Namanya Arini. Lebih lengkapnya Happy Yulfarida Arini,” jawab Abdul Hair.

“Apa?” Sang Penyair lompat karena terkejut. Setelah bisa mengendalikan emosinya, dia kembali berkata pada orang di depannya, “Bisa aku lihat cerpen yang kau buat tadi?”

Abdul Hair lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya, kemudian memberikannya pada Sang Penyair. Isi cerpen itu persis sama dengan apa yang kau baca saat ini.

Malang, 23 Juni 2013, 19:14 Wib
Untuk Happy Yulfarida Arini
sebagai kado untuk satu tahun kebersamaan

Trilogi Mimpi

Sudah tiga hari saya menulis cerita tentang mimpi di blog ini. Masing-masing berjudul Kisah Dua Pemimpi, Mimpi Basah, dan Mimpi-mimpi Setyo. Plot dasar dari ketiga cerita itu saya ambil dari tiga buku yang berbeda. Cerita pertama, Kisah Dua Pemimpi, plot dasarnya saya ambil dari novel Dictionary of the Khazars karya Milorad Pavic. Kisah Dua Pemimpi, pada intinya bercerita tentang Guru Isa dan Sang Penulis yang saling memimpikan. Mimpi yang dialami Guru Isa tidak lain adalah kenyataan yang dialami saat itu juga oleh Sang Penulis, dan mimpi yang dialami Sang Penulis adalah kenyataan yang dialami saat itu juga oleh Guru Isa. Ketika Guru Isa tertidur, Sang Penulis terbangun. Ketika Sang Penulis terbangun, Guru Isa Tertidur. Dalam novel Dictionary of the Khazars, cerita tentang dua orang yang saling memimpikan adalah bagian yang paling saya sukai. Saya pernah membaca cerita seperti itu lagi setelahnya. Saya lupa membacanya di mana. Kalau bukan di salah satu cerpen Jorge Luis Borges, kemungkinan dalam buku Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam).

Cerita kedua, Mimpi Basah, plot dasarnya saya ambil dari novel The Wind-Up Bird Chronicle karya novelis Jepang kenamaan, Haruki Murakami. Dalam salah satu bagiannya, bercerita tentang seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelacur di dalam mimpi. Bayangkan, suatu malam kamu mimpi basah, dan keesokan paginya ada seorang perempuan yang mengetuk pintu rumahmu, dan kamu begitu terkejut karena ternyata dia adalah perempuan yang kamu temui di dalam mimpi. Dia meminta sejumlah bayaran, sebab dia telah melayanimu di dalam mimpi. Mimpi basah adalah hal wajar yang dialami oleh semua laki-laki dewasa. Tapi Haruki Murakami berhasil menuliskan fenomena sehari-hari, yang biasa-biasa saja itu, menjadi sesuatu yang luar biasa.

Cerita ketiga, Mimpi-mimpi Prasetyo, adalah cerita yang plot dasarnya saya ambil dari buku Alf Laylah wa Laylah terjemahan Sir Richard Burton. Salah satu bagian dalam buku itu, The Ruined Man who Became Rich Again through a Dream, bercerita tentang orang Baghdad yang bermimpi akan mendapatkan keberuntungan di Kairo. Dia percaya dengan mimpi itu, dan memutuskan untuk berangkat ke sana. Di Kairo dia tidak mendapatkan keberuntungan apapun, bahkan terkena sial. Hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang penduduk Kairo yang bermimpi akan mendapatkan keberuntungan jika datang ke Baghdad. Namun orang Kairo itu tidak memercayai mimpinya, sehingga dia tidak mendatangi Baghdad. Orang Baghdad itu memang tidak mendapatkan keberuntungannya di Kairo, tapi lewat cerita orang Kairo yang dia temui itu, dia lalu balik ke Baghdad. Orang Kairo itu bercerita bahwa dalam mimpinya dia akan mendapatkan harta karun yang terkubur di pekarangan suatu rumah, dan ciri rumah itu persis sama dengan rumah yang dimiliki si orang Baghdad. Orang Baghdad itu segera pulang ke kampung halamannya, menggali tanah di pekarangan rumahnya, dan mendapatkan hartu karun di situ. Cerita itu lalu ditiru oleh banyak penulis lain. Jorge Luis Borges melakukannya dengan membuat cerita berjudul The Story of the Two Dreamers. Paulo Coelho, penulis terkenal asal Brazil, juga meniru plot cerita itu dalam novelnya yang paling masyhur, The Alchemist. Eka Kurniawan juga meniru cerita itu, dengan sedikit perubahan. Jika dalam Alf Laylah wa Laylah bercerita tentang penemuan harta karun, maka Eka memodifikasinya menjadi cerita tentang dua orang pemimpi dalam menemukan kekasih hati.

Penjelasan saya terhadap tiga cerita yang saya buat itu barangkali tidak penting. Cuma buat jaga-jaga saja, jika ada orang yang kebetulan membacanya, lalu menuduh saya sebagai seorang plagiator. Dalam dunia menulis, meniru karya orang lain adalah tahap pertama dalam kreatifitas. Lagi pula, karena sudah meniru suatu cerita, apakah Jorge Luis Borges lantas masuk dalam kategori plagiator? Tentu saja tidak.

Mimpi-mimpi Setyo

Harus aku beritahukan sejak awal kalau karakter dalam cerita ini adalah orang sungguhan. Namanya Setyo, mahasiswa kampus UGM Yogyakarta. Dia baru saja patah hati, sebab perempuan yang disukainya sudah menyatakan penolakannya sebanyak tujuh belas kali di hadapannya, ditambah dengan pernyataan perempuan itu untuk tidak lagi mau bertemu dengannya. Di malam sabtu minggu ketiga bulan Juli, Setyo bermimpi sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan berjilbab. Dia perempuan yang cantik, dan sepanjang mereka berjalan berdua, perempuan itu selalu tertawa kegirangan. Setyo terbangun, dan logikanya segera berkata bahwa mimpi itu hanya perwujudan dari hasratnya untuk memiliki seorang kekasih. Tapi keesokan harinya mimpi itu terulang lagi, dengan adegan yang persis sama, hanya saja kali ini Setyo memanggil perempuan itu dengan nama Lia. Ketika terbangun, Setyo tetap berpikir bahwa mimpi selama dua malam berturut-turut itu tidak memiliki arti apapun. Dimalam berikutnya, dia bermimpi yang sama lagi. Kali ini dia tahu kalau mereka sedang berjalan-jalan di AEON Mall Tangerang, bergandengan tangan masuk dari satu unit ke unit yang lain, mencoba sepatu Hush Puppies terbaru, dan diakhiri dengan makan Sushi bersama ayah Lia, seorang bapak-bapak berkumis usia 50-an tahun. Saat terbangun, Setyo teringat akan kisah Ibrahim yang mendapatkan mimpi sebanyak tiga kali untuk menyembelih Ismail. Sebuah keyakinan kuat tiba-tiba menyeruak ke dalam dirinya. Dia sangat yakin bahwa mimpi itu adalah bisikan dari Tuhan, dan dia juga yakin bahwa Lia adalah perempuan yang akan dinikahinya nanti.

Setyo memutuskan untuk mencari Lia di Tangerang. Dari Jogja dia naik kereta ekonomi dari stasiun Lempuyangan. Dari jendela kereta, dia melihat hamparan padi yang masih menghijau, dengan orang-orangan sawah yang selalu bergerak ke kiri dan ke kanan. Setyo sering melihat pemandangan seperti ini setiap kali dia naik kereta, tapi entah mengapa pemandangan kali ini terlihat jauh lebih puitis dari biasanya. Dua belas jam sudah terlewat, Setyo pun turun di stasiun Senen. Dari situ dia naik bis ke Tangerang. Tempat tujuannya, di mana lagi kalau bukan AEON Mall. Dia mencari Lia di sana, di tempat mereka mencoba sepatu Hush Puppies, di tempat mereka makan Sushi bersama. Di hari pertama kedatangannya, dia tidak menemukan ada jejak Lia di sana. Esok harinya dia ke sana lagi, dan kembali menemui kegagalan yang sama seperti kemarin. Perlahan Setyo pesimis. Mimpi yang dia dapatkan bisa jadi hanya mimpi biasa, tidak memiliki makna khusus seperti yang sebelumnya dia yakini. Dia berjanji, jika dihari ketiga Lia tidak juga nampak, dia akan langsung pulang ke Jogja saja. Satu jam, tiga jam, lima jam, delapan jam dia menunggu di AEON Mall, dan wajah Lia tidak juga nampak. Hampir putus asa, saat hendak meninggalkan tempat itu, Setyo melihat wajah lelaki berkumis yang juga selalu dia jumpai dalam mimpi-mimpinya. Setyo berlari menghampirinya, memperkenalkan namanya, sebelum bertanya, “Bapak orang tua dari Lia kan? Saya sudah tiga hari mencari Lia di sini, tapi tidak juga ketemu.” Setelah tertawa dengan tawa khas bapak-bapak usia 50-an, laki-laki berkumis itu berkata, “Dasar anak muda, mudah saja percaya dengan mimpi.” Dia berhenti bicara sejenak, sedang Setyo terhenyak sebab dia tidak bercerita apa-apa soal mimpinya. Dia merasa kalau laki-laki itu sedang menyindirnya. Laki-laki itu melanjutkan, “Tiga hari yang lalu Lia ke Jogja. Katanya, dia mendapatkan mimpi yang sama setiap malam. Dalam mimpinya itu, dia sedang bergandengan tangan dengan seorang laki-laki di Ambarukmo Plaza, beli celana Levi’s di sana, dan diakhiri dengan makan pisang bersama di depan Carrefour. Lia yakin, kalau pria yang dia temui dalam mimpi itu adalah orang yang akan menemaninya di kursi pelaminan kelak.”

Saat itulah, tak tertahankan, Setyo ingin segera pulang ke Jogja. Dengan ekspresi penuh kemenangan, Setyo membakar batang terakhir rokok Dunhill di saku kiri celananya. Inilah batang rokok paling nikmat yang pernah dia hisap seumur hidup.

Mimpi Basah

Beberapa saat setelah rebahan di kamar hotelnya, Samsir menelpon Higal, teman baiknya yang sekarang kerja di Jogja, untuk mencarikannya seorang pelacur. “Yang penting servisnya oke,” Samsir berpesan. Higal paham betul seperti apa selera Samsir. Dengan keterus-terangan seorang teman, Higal berkata, “Ini pelacur oke punya. Lebih mahal dari kemarin-kemarin memang. Tapi dijamin puas. 1,5 juta sekali main. Gimana?” Tanpa pikir panjang Samsir mengiyakan. Setiap kali dia berkunjung ke Jogja, dan memesan pelacur ke Higal, dia tidak pernah dikecewakan. “Baiklah, tunggu saja di kamarmu. Sebentar lagi dia datang.” Percakapan lewat telepon berakhir.

Samsir pergi menyikat gigi, membersihkan penisnya dengan sabun, lalu mengganti celana dalamnya. Dia lalu menunggu di dalam kamarnya, rebahan di atas ranjang sambil mengganti channel TV. Lima menit, sepuluh menit, 45 menit, pelacur yang dijanjikan tidak juga datang. Tiba-tiba Samsir ngantuk berat. Saat hendak tertidur, seseorang dari luar kamarnya mengetuk pintu. Tanpa beranjak dari ranjangnya, Samsir mempersilahkan orang itu masuk. Dia adalah seorang perempuan berkulit sawo matang, mengenakan celana jeans biru dongker, dan kaos putih tanpa lengan. Perempuan itu memperkenalkan diri, namanya Tatyana, dan dia datang atas permintaan Higal. Dia sangat cantik, pikir Samsir. Seumur hidup, Samsir belum pernah bertemu perempuan secantik ini.

Tanpa diperintah, Tatyana segera menjilati dada Samsir setelah melepas baju kaosnya terlebih dahulu. Jilatannya mengarah ke bawah. Begitu sampai di pusar, Tatyana memainkan lidahnya di situ. Samsir menggelinjang pelan. Tatyana melirik sebentar ke wajah Samsir, tertawa pelan, sebelum kembali mengarahkan jilatannya ke bawah. Celana pendek yang Samsir kenakan dilorotkan dengan lembut oleh Tatyana, hingga Samsir kini tinggal mengenakan celana dalam saja. Tatyana lalu menggigit pelan penis Samsir yang telah mengeras dari luar celana dalamnya. Tidak berapa lama, Tatyana lalu melepaskan celana dalam Samsir, hingga penisnya yang hitam terlihat jelas. Diusapnya pelan penis itu, digenggam dengan lembut, dan dia naik turunkan genggamannya. Samsir mengerang. Karena tidak tahan, dia lalu menurunkan resleting serta membuka kancing celana jeans Tatyana, dan mendapati perempuan itu tidak mengenakan celana dalam. Dia melihat bulu-bulu tipis di balik celana itu. Begitu menggairahkan. Samsir mengarahkan tangannya ke sana, ke vagina Tatyana, yang saat itu telah basah. Dia mainkan klitorisnya. Tatyana mengerang sebentar, lalu menyingkirkan tangan Samsir dari pangkal pahanya. Dia menyuruh Samsir diam saja, dan laki-laki itu menurutinya. Bibir merah Tatyana kemudian menyentuh ujung penis Samsir, lidahnya dia mainkan sebentar di situ. Dia lalu membuka mulutnya, dan memasukkan penis Samsir ke sana. Kepalanya dia naik turunkan. Samsir menggelinjang hebat, matanya dia pejamkan. Tidak sampai lima menit, Samsir orgasme. Sebagian spermanya di telan Tatyana, sebagian lagi muncrat di wajah cantiknya. Samsir yang sudah tidur dengan 37 perempuan, tidak pernah merasakan kenikmatan sehebat ini.

Samsir terbangun. Dia pegang penisnya dari luar celana. Ada cairan di situ. Ternyata dia cuma mimpi basah. Dia beranjak dari kasurnya, membersihkan pangkal pahanya, lalu mengganti celana. Dari luar terdengar ketukan pintu. Samsir beranjak ke sana. Di balik pintu, seorang perempuan cantik tersenyum. Samsir terkejut, sebab dia adalah perempuan yang Samsir lihat di dalam mimpinya barusan. Perempuan itu datang untuk meminta bayaran. Samsir tidak mengerti dengan semua ini. Perempuan itu paham dengan kebingungan Samsir, kemudian menjelaskan, “Aku lah Tatyana, pelacur yang kamu pesan. Tapi aku bukan pelacur sembarangan. Sebab aku adalah pelacur di dalam mimpi. Lewat mimpilah aku tadi mendatangimu. Lewat mimpi pula aku memuaskanmu.”

Kisah Dua Pemimpi

Guru Isa, di hari kemerdekaan Indonesia yang ke 70, mendapat penghargaan sebagai guru teladan di desanya. Penghargaan itu diberikan langsung oleh Pak Bupati setelah upacara digelar. Di desanya, Guru Isa dikenal sebagai orang yang santun. Murid-muridnya begitu hormat padanya. Guru Isa selalu datang paling pagi ke sekolah, dan pulang ke rumah ketika magrib akan menjelang. Jam satu siang seluruh kegiatan sekolah telah berakhir. Ketika semua guru sudah pulang, dia tetap duduk di meja kerjanya. Katanya kepada guru-guru yang lain, “Saya masih harus memeriksa pekerjaan murid-murid saya.” Cerita tentang keteladanannya itu, pergi sekolah paling pagi dan pulang paling akhir, lalu tersebar ke seluruh penjuru desa. Pak Bupati mendengarnya, dan diberikanlah penghargaan untuk Guru Isa. Setiap malam Guru Isa selalu tidur beberapa saat setelah adzan Isya berkumandang, dan setiap malam pula dia selalu memimpikan orang yang sama: seorang penulis yang setiap malam selalu begadang untuk menyelesaikan naskah-naskahnya. Malam itu Guru Isa memimpikan Sang Penulis sedang menuliskan kisah hidupnya sebagai seorang guru yang mendapat penghargaan dari Pak Bupati. Ketika shubuh datang, kisah itu sudah selesai dituliskan, dan Sang Penulis kembali tidur ketika jam dindingnya menunjuk ke angka 5. Tepat saat itulah Guru Isa terbangun.

Ratusan ribu kilometer dari tempat Guru Isa tinggal, hiduplah seorang penulis. Karya-karyanya tidak pernah bestseller, tapi selalu mendapat tanggapan bagus dari kritikus. Dia selalu menulis saat malam hari, dimulai dari jam 1 dini hari sampai jam 5 shubuh. Setelah itu dia akan tertidur, dan baru bangun kembali saat adzan Isya selesai berkumandang. Dia biasanya akan pergi makan beberapa saat setelah bangun. Setelah kenyang, dia pergi membaca buku. Dua jam setelah itu dia akan menonton TV. Jika tidak ada acara yang bagus, dia menyalakan DVD player, dan menonton film-film klasik dari David Lynch atau Stanley Kubrick. Baru setelah itu dia mulai menulis. Ketika dia tidur, dia selalu memimpikan orang yang sama, memimpikan seorang guru yang hidupnya tidak pernah tenang. Setiap hari guru itu selalu diomeli istrinya. Karena capek mendengar omelan Sang Istri, guru itu tidak pernah betah di rumah. Setiap hari Sang Guru pergi ke sekolah paling pagi, dan selalu pulang paling akhir ketika magrib akan menjelang. Guru itu juga selalu tidur lebih awal, beberapa saat setelah adzan Isya berkumandang, agar dia tidak perlu berlama-lama mendengar omelan istrinya. Begitulah siklus hidupnya setiap hari, sampai suatu ketika Sang Guru mendapat penghargaan dari Bupati sebagai guru teladan. Sang Penulis yang setiap hari memimpikan orang yang sama, malam itu memutuskan untuk menulis cerpen yang ceritanya persis sama dengan cerita dalam mimpi yang dia alami. Setelah cerpen itu selesai ditulis, dia lalu mengirimkannya ke salah satu koran nasional, sebelum akhirnya tertidur tepat jam 5 shubuh.

Big Brother, Soeharto, dan Politik Bahasa

Barangkali Big Brother adalah penguasa tiran yang paling terkenal setelah Hitler. Dia adalah penguasa Oceania, negeri fiktif dalam novel 1984 karangan George Orwell. Kekuasannya absolut. Dia tidak pernah salah, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Jika ramalan yang dia katakan tidak terbukti, maka ramalan itu akan diperbaiki, dan penduduk Oceania akan mengalami amnesia massal, seolah-olah kesalahan itu tidak pernah diucapkan Big Brother.

Big Brother adalah politisi hebat. Dia paham betul bagaimana cara mempertahankan kekuasannya. Salah satunya melalui politik bahasa. Kebijakan yang dia keluarkan, tahun 2050 nanti semua penduduk Oceania harus menggunakan bahasa Inggris Newspeak. Bahasa Inggris saat ini, yang dalam novel itu disebut Oldspeak, adalah bahasa Inggris yang kita gunakan sehari-hari, dengan kosakata yang sangat kaya. Newspeak adalah penyempurnaan dari Oldspeak. Bahasa, kita tahu, selalu berkembang. Sehingga kamus terbaru akan selalu lebih tebal dari kamus edisi sebelumnya. Tapi Newspeak berbeda, sebab bukannya bertambah, kosakatanya malah semakin berkurang. Saya membayangkan, saking sedikitnya kosakata Newspeak, di tahun 2050 nanti ketika Newspeak resmi digunakan, kamus Newspeak justru hanya setebal 37 halaman saja!

Pikiran kita bekerja di dalam bahasa. Kita tidak bisa memikirkan sesuatu di luar bahasa. Ketika kita sedang berkhayal, sekalipun itu khayalan paling tidak masuk akal yang pernah ada, tetap saja khayalan kita berada di dalam bahasa. Artinya, kemampuan kita dalam berpikir ditentukan oleh seberapa banyak kosakata yang kita kuasai. Sebab sebuah kosakata niscaya sebuah ekspresi dari pikiran. Itulah sebabnya orang yang suka membaca buku memiliki kualitas berpikir yang lebih baik ketimbang yang tidak. Sebab selain mendapat pengetahuan baru, membaca buku juga dapat memperkaya kosakata kita, yang itu berarti kita memiliki tambahan kata untuk mengeksperesikan apa yang kita pikirkan.Kosakata yang dihilangkan Big Brother adalah kosakata yang memungkinkan orang untuk berpikir tentang penggulingan kekuasaan. Maka, semua kosakata yang mengarah ke sana akan dihapus. Dengan jumlah kosakata yang sangat sedikit, maka penduduk Oceania jadi tidak bisa memikirkan tentang penggulingan kekuasaan. Dan itu berarti kekuasaan Big Brother akan bertahan selamanya.

Indonesia pernah dipimpin oleh seorang presiden yang pintar betul mempertahankan kekuasaanya. Namanya Soeharto. Sepanjang sejarah Indonesia yang sudah 70 tahun, dia pernah memimpin selama 32 tahun. Salah satu yang membuat masa berkuasanya begitu lama, karena politik bahasa juga. Dia pernah mengeluarkan kebijakan pengubahan Edjaan Soewandi menjadi Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Sepintas kebijakan ini tidak bermasalah. Tapi disitulah letak kecerdikan Soeharto.

Pengubahan ejaan ini memiliki dampak politis yang sangat besar. Sebab anak-anak muda tidak lagi bisa membaca buku yang dicetak dengan ejaan lama (kalaupun bisa, pasti akan sangat melelahkan). Memang, Soeharto menjalankan proyek penerjemahan, dari Edjaan Soewandi ke Ejaan yang Disempurnakan. Tapi buku-buku yang diterjemahkan adalah buku-buku yang menurut Soeharto tidak membahayakan kekuasaannya ketika dibaca masyarakat umum. Buku-buku yang ditulis Soekarno, Tan Malaka, dan beberapa orang-orang PKI, tentu saja tidak diterjemahkan. Yang terjadi kemudian, buku-buku progresif revolusioner seperti itu jadi tidak dibaca oleh generasi muda. Dan yang lebih parah lagi, buku-buku sejarah “otentik” yang kebanyakan ditulis dalam ejaan lama menjadi tidak terbaca. Inilah salah satu sebab mengapa sejarah yang dituliskan pemerintah Soeharto dipercaya begitu saja oleh banyak masyarakat Indonesia, sebab mereka tidak punya kemampuan untuk membaca buku-buku sejarah yang fakta-faktanya belum diputar balikkan Soeharto.

Pengubahan ejaan, dengan demikian, berhasil melanggengkan kekuasaan Soeharto. Sebab masyarakat Indonesia tidak pernah membaca buku yang berbicara tentang semangat revolusi, dan mereka menjadi buta sejarah dengan hanya membaca sejarah versi orde baru.

Kejahatan dan Hukuman

Menurut saya, Fyodor Dostoyevsky adalah penulis terbesar abad 19. Dia adalah sedikit penulis dari abad itu yang karya-karyanya masih dibaca dan dibicarakan sampai hari ini. Presiden Italia saat ini, Sergio Mattarella, bahkan menganjurkan anak muda di negaranya untuk membaca karya-karya Dostoyevksy. Katanya, biar anak-anak muda di sana paham dengan persoalan seputar kehidupan dan ideologi.

Saya pikir Sergio Mattarella benar. Dari sekian banyak karya yang dihasilkan Dostovevsky, Crime and Punishment masuk kategori wajib baca. Dosa besar bagi pecinta sastra jika tidak membacanya. Crime and Punishment bercerita tentang Rodion Raskolnikov, seorang mantan mahasiswa, dalam membunuh seorang rentenir. Meskipun novel ini masuk dalam kategori novel detektif, namun Dostoyevsky sudah memberitahukan pada pembacanya bahwa tersangkanya adalah Raskolnikov, dan seorang detektif bernama Porfiry Petrovich bermaksud untuk mengungkap siapa pembunuh rentenir tersebut. Artinya, jika kebanyakan cerita detektif mengambil sudut pandang sang detektif, maka novel ini adalah kebalikannya: mengambil sudut pandang sang pembunuh.

Raskolnikov melakukan pembunuhan dengan sangat baik. Dia tidak meninggalkan satu kesalahanpun yang akan mengarahkan perhatian detektif kepolisian padanya. Bisa dikatakan, pembunuhan yang dia lakukan berjalan dengan sempurna. Sang detektif, Porfiry Petrovich, kebingungan. Tidak ada bukti apapun yang dia temukan. Satu-satunya petunjuk yang dia punya adalah daftar lingkaran orang-orang di sekitar korban, baik keluarga, teman, ataupun orang-orang yang pernah meminjam uang ke korban. Porfiry Petrovich lalu mendalami profil dari setiap orang yang berada di lingkaran tersebut, dan perhatiannya tertuju pada Raskolnikov. Dia yakin, Raskolnikov adalah pembunuhnya. Tapi, dugaan tetaplah dugaan. Selama tidak ada bukti, maka Raskolnikov tidak bisa ditangkap.

Bagian paling menariknya, Porfiry Petrovich membuktikan Raskolnikov sebagai pembunuh bukan lewat bukti di TKP (seperti cerita detektif pada umumnya), tapi lewat permainan psikologis yang akan membuat Raskolnikov mengaku dengan sendirinya. Porfiry Petrovich ketika mempelajari profil dari lingkaran orang-orang di sekitar korban, menemukan bahwa Raskolnikov ketika masih mahasiswa pernah membuat sebuah esai tentang bagaimana seseorang bisa menjadi pahlawan. Dalam esai itu, Raskolnikov bercerita tentang Napoleon yang dianggap pahlawan oleh masyarakat Prancis, sebab dia telah menyelamatkan warga Prancis dengan cara membunuh orang-orang yang dianggap sebagai musuh Prancis. Raskolnikov lalu membandingkan Napoleon dengan pembesar-pembesar lain di dunia ini. Lewat perbandingan itu Raskolnikov lalu menyimpulkan bahwa hanya dengan membunuh orang-orang jahat lah maka seseorang dapat disebut sebagai pahlawan.

Raskolnikov adalah pembunuh amatir, setelah pembunuhan itu berlangsung perasaannya tidak tenang. Dia selalu gelisah. Porfiry Petrovich paham dengan hal itu. Maka lewat permainan psikologis yang dia lakukan, dia memanfaatkan kegelisahan Raskolnikov agar dia mengaku dengan sendirinya. Pada akhirnya, tentu saja Raskolnikov mengakui perbuatannya. Setelah diinterogasi, dia melakukan pembunuhan karena dia ingin menjadi orang besar, seorang pahlawan, yang menyelamatkan warga Rusia dari rentenir jahat yang telah dibunuhnya. Membunuh satu orang jahat untuk kebaikan banyak orang lain bukanlah sebuah tindak kejahatan, tapi tindakan seorang pahlawan. Begitulah yang diyakini Raskolnikov.

Keyakinan Raskolnikov itu masih bertahan dalam banyak karya fiksi kontemporer. Komik superhero Watchmen karya Alan Moore misalnya. Salah satu superheronya, Ozymandias, melakukan suatu rekayasa serangan alien di muka bumi. Karena rekayasanya tersebut, jutaan orang mati. Namun berkat rekayasanya pula, perang antara Amerika dan Rusia yang sudah di depan mata akhirnya tidak terjadi, sebab pemerintah kedua negara tersebut sepakat untuk bekerja sama memberantas alien yang menyerang bumi. Jika perang Amerika dan Rusia terjadi, milyaran penduduk bumi dipastikan akan tewas. Ozymandias berkata, membunuh jutaan orang demi kebaikan milyaran orang lain bukanlah sebuah kejahatan.

Apa yang dipikirkan Raskolnikov maupun Ozymandias tentu saja mengerikan. Tapi kita tidak perlu khawatir, sebab keduanya hanyalah karakter dalam karya fiksi. Yang membuat saya begitu takut, pernyataan seperti itu ternyata pernah diucapkan oleh seseorang jenderal di masa orde baru. Ketika wartawan bertanya perihal banyak aktivis yang hilang, sang jenderal menjawab kurang lebih seperti ini: “Membunuh satu orang demi kebaikan jutaan masyarakat Indonesia bukanlah suatu masalah.”

Itu pernyataan sinting! Mengetahui hal itu, saya hampir saja terkencing-kencing.

Tlön, Oceania, Saussure

Beberapa bulan lalu saya membaca tulisan Jorge Luis Borges. Judulnya Tlön, Uqbar, Orbis Tertius. Tulisannya sendiri berbentuk esai, esai fiktif lebih tepatnya, tentang sebuah eksiklopedia setebal 1001 halaman mengenai suatu dunia bernama Tlön. Dalam ensiklopedia itu dijelaskan semua hal tentang Tlön, sistem filsafatnya, cara mereka dalam berhitung, kondisi geografisnya, benda-benda yang ada, sampai pada sistem bahasanya. Yang menarik bagi saya, orang-orang di bagian utara Tlön tidak mengenal kata kerja dan kata benda, sebab mereka hanya mengenal kata sifat saja. Untuk menyebut suatu benda, mereka akan menggabungkan beberapa kata sifat yang merujuk pada benda yang dirujuk tersebut. Bulan, misalnya. Orang-orang Tlön tidak mengenal kata bulan. Untuk menyebut ‘bulan’, orang-orang Tlön akan menyebutnya seperti ini: aerial-bright above dark-round, atau soft-amberish-celestial, atau kombinasi kata sifat lain yang tetap merujuk ke ‘bulan’.

Ada satu lagi karya fiksi dengan sistem bahasa yang menarik. Judulnya 1984, karangan George Orwell. Di novel tersebut, tidak ada Eropa, yang ada adalah Oceania. Keduanya daratan yang sama, walaupun Oceania yang digambarkan Orwell sedikit lebih besar dari Eropa yang kita kenal sekarang. Oceania adalah negeri yang dikuasai seorang diktator bernama Big Brother. Penduduk Oceania sehari-hari berbahasa Inggris. Pemerintah Oceania sedang merancang struktur bahasa baru, yang diberi nama Newspeak. Jadi, bahasa Inggris yang selama ini dipakai adalah Oldspeak, dan pada tahun 2050 diharapkan semua penduduk Oceania akan menggunakan Newspeak sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bisa dikatakan, Newspeak adalah penyempurnaan dari Oldspeak. Kita tahu, bahasa selalu berkembang, kosa kata menjadi semakin banyak, sehingga setiap edisi kamus terbaru selalu lebih tebal dari kamus edisi sebelumnya. Berbeda dengan Newspeak, bukannya bertambah, kosa katanya malah semakin berkurang! Saya membayangkan, saking sedikitnya kosa kata dalam Newspeak, di tahun 2050 nanti kamus Newspeak hanya akan setebal 37 halaman saja.

Ketika saya membaca esai Robert Hodge dan Gunther Kress yang berjudul Saussure and the Origin of Semiotics, mau tidak mau saya teringat pada dua cerita di atas. Esai itu berisi tentang pemikiran Saussure mengenai sistem bahasa dan kritik terhadap pemikirannya. Ciri khas dalam teori linguistik Saussure adalah, dia selalu mengajukan gagasan yang berpasangan. Langue dan parole, sinkroni dan diakroni, paradigmatik dan sintagmatik, atau penanda dan petanda. Ada hierarki dalam gagasan yang berpasangan itu, dalam artian ada salah satu konsep dalam gagasan yang berpasangan itu yang dianggap lebih penting oleh Saussure. Langue lebih penting ketimbang parole, sinkroni lebih penting ketimbang diakroni, atau penanda lebih penting ketimbang petanda. Kritik yang mengarah pada Saussure, dia hanya mementingkan bagaimana bahasa itu bekerja, dan luput membahas bahwa kerja suatu bahasa tidak terlepas dari budaya, kondisi sosial, dan ideologi yang bekerja dalam suatu masyarakat.

Kritik yang diarahkan pada Saussure mungkin benar. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya, sebab dalam kondisi ideologi seperti apapun cara kerja bahasa tetap sama, seperti apa yang digambarkan Saussure. Penduduk Tlön tidak mengenal kata benda (noun), sebab mereka menganut paham idealisme, bahwa segala yang berada di luar pikiran tidak lain sebagai persepsi semata. Membendakan sesuatu (dengan cara memberi nama untuk benda-benda), berarti bertentangan dengan prinsip idealisme itu sendiri, sebab pemberian nama untuk benda sama dengan pengakuan adanya dunia yang maujud di luar persepsi manusia. Atau, kosa kata Newspeak yang semakin berkurang, dengan tujuan agar rakyat Oceania tidak dapat mengekspresikan pikiran mereka secara berlebih, sebab kosa kata mereka sangat terbatas. Dengan begini, rakyat Oceania tidak akan mampu untuk memikirkan cara untuk menggulingkan kekuasaan Big Brother.

Walaupun Indonesia menganut ideologi Pancasila, Inggris dengan monarkinya, Cina dengan komunismenya, Tlön dengan idealismenya, atau Oceania dengan otoriternya, toh cara kerja bahasa di semua tempat itu sama saja, tetap sesuai dengan teori yang diajukan Saussure. Bagi saya, kritik terhadap pemikiran Saussure bukan berarti apa yang dia kemukakan itu salah atau lemah. Kritik terhadap pemikiran Saussure lebih tepat dimaknai sebagai pengembangan dari hal-hal yang sebelumnya tidak atau belum dibahas oleh Saussure.

Musik dan Komposisi Novel

Tahun lalu saya membaca The Art of the Novel, buku kumpulan esai karya novelis Ceko kenamaan, Milan Kundera. Esai itu terdiri dari tujuh bagian, dan setiap bagian membahas hal yang berbeda-beda namun tetap dalam tema besar yang sama: estetika novel. Esai-esainya sangat mengagumkan. Dia membahas tentang Cervantes (penulis Don Quixote, novel modern pertama di dunia), yang menurutnya, bersama Descartes telah menemukan dunia modern. Dia juga membahas Franz Kafka, yang karya-karyanya memiliki logika yang berkebalikan dengan Crime and Punishment nya Fyodor Dostoyevsky. Dan di bagian terakhir, dia membahas kalau novel tercipta untuk membuat manusia tertawa, sebab novel adalah gema tawa Tuhan, dan Tuhan selalu tertawa saat melihat manusia sedang berpikir.

Salah satu bagian dari buku itu membahas tentang seni komposisi novel (saya lebih suka menyebutnya arsitektur novel). Novel tentu saja dapat ditulis dengan metode apapun. Ada penulis yang lebih suka melakukannya dengan pergi ke taman, duduk di salah satu bangkunya, lalu mulai menuliskan novelnya secara spontan, tanpa perencanaan apa yang ingin dituliskan sebelumnya. Atau seorang penulis pergi ke suatu cafe, memesan secangkir kopi arabica, lalu mulai menulis apa saja yang ada di pikirannya saat itu juga di depan laptop yang telah dia sediakan sebelumnya. Atau ada juga penulis yang membuat arsitektur novelnya terlebih dulu, menyusun kerangka ceritanya, tempo dan irama, sebelum merasa yakin untuk mulai menuliskan novelnya (Milan Kundera termasuk dalam kategori ini).

Kundera sangat mengagumi musik klasik. Bach, Vivaldi, dan Beethoven adalah komposer idolanya. Dia mempelajari komposisi (arsitektur) musik ketiga komposer itu, juga komposer-komposer lain tentu saja. Quartet Opos 131 karya Beethoven, menurut Kundera, adalah musik dengan arsitektur yang paling sempurna. Dia mempelajari pembagian-pembagian dalam musik itu (semuanya berjumlah tujuh bagian), tempo dan iramanya, serta proporsi matematis yang tercipta.

Hasil pembacaannya terhadap arsitektur musik itu kemudian dia terjemahkan ke dalam arsitektur novel. The Joke, novel pertama yang dia tulis, misalnya. Terdiri dari tujuh bagian (seperti komposisi karya Beethoven), dengan tempo yang berbeda di setiap bagian. Seperti musik, ada bagian yang temponya lambat, ada bagian yang temponya cepat. Tempo yang lambat membuat pembaca lebih rileks, sedangkan bagian dengan tempo yang cepat membuat pembaca merasa tegang. Musik dengan tempo yang statis tentu saja tidak menarik. Begitupun dengan novel. Itulah sebabnya Kundera sangat memerhatikan pembagian-pembagian tersebut di dalam novelnya.

Yang paling menarik, paling tidak menurut saya, adalah usaha Kundera menerjemahkan arsitektur musik menjadi arsitektur novel. Kita selalu kagum dengan penerjemah yang mampu menerjemahkan buku dengan baik. Edith Grossman menuai pujian saat menerjemahkan Don Quixote dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris. Hasil terjemahannya membuat Don Quixote seperti bukan karya terjemahan, tetapi karya baru yang ditulis oleh orang Amerika. Penerjemahan novel, dari suatu bahasa ke bahasa lain, membutuhkan kepekaan bahasa yang tinggi, serta tidak semua penulis mampu melakukannya. Dan Kundera melakukan salah satu usaha penerjemahan paling gila yang pernah dilakukan umat manusia. Kita tahu, musik dan novel menggunakan dua medium yang berbeda. Musik menggunakan bunyi, sedangkan novel menggunakan kertas. Usaha penerjemahan ini mustahil bisa dilakukan oleh seorang penulis, sebab hanya seorang jeniuslah yang mampu melakukannya.

Baiklah, pernyataan tersebut mungkin berlebihan, dan penjelasan saya di atas terlalu menyederhanakan kerumitan dari proses penerjemahan yang Kundera lakukan. Tapi, seorang kritikus sastra asal Ceko pernah membuat sebuah telaah tentang novel The Joke. Telaah yang dia buat berjudul The Geometry of the Joke, isinya tentang pembagian monolog karakter-karakternya, yang ternyata, memiliki proporsi matematika yang cantik. Ada empat karakter dalam novel tersebut: Ludvik, Jaroslav, Kostka, dan Helena. Monolog Ludvik menghabiskan 2/3 buku, Jaroslav 1/6, Kostka 1/3, dan Helena 1/18. Sekarang mari kita lihat arsitektur dalam musik klasik yang diciptakan Vivaldi. Kundera menjelaskan, bahwa karya Vivaldi memiliki skema A-B-A. Bagian A berdurasi 70 detik, bagian B berdurasi 105 detik, dan balasan untuk bagian A berdurasi 10 detik (andaikan balasan ini dimainkan secara penuh, durasinya akan menjadi 70 detik). Musik dengan skema simetris 70:105:70 bagi Kundera akan terdengar membosankan. Tapi Vivaldi merombak skema musiknya menjadi asimetris, 70:105:10. Dari sini didapatkan suatu proporsi musik yang memiliki keindahan matematis, 10×7:15×7:10×7; sama dengan 2:3:2,7. Bandingkan dengan  proporsi monolog dalam novel The Joke, 2/3:1/6:1/3:1/18. Jadinya, (2×1/3):(1/2×1/3):(1X1/3):(1/6×1/3). Artinya, proporsi monolog dalam The Joke memiliki keindahan matematis sebab setiap monolog adalah kelipatan dari angka 1/3!

Setelah membaca esai Kundera tentang seni komposisi novel, saya pun jadi tertarik untuk melakukan hal serupa. Saya sangat menyukai Roman Picisan, dan ingin membuat sebuah cerpen yang arsitekturnya merupakan hasil terjemahan dari arsitektur musik gubahan Ahmad Dhani tersebut. Cerpen tersebut tidak pernah selesai, sebab terhambat suatu permasalahan mendasar: saya tidak mengerti dengan komposisi musik. Saya pikir membuat arsitektur novel dapat diadaptasi dari apa saja, tidak hanya dari musik seperti yang dilakukan Kundera. Lewat penerjemahan arsitektur gedung Burj Khalifa, misalnya.

Tongkat yang Hanya Memiliki Sebuah Ujung

Sewaktu SMA, dengan kegenitan berpikir ala remaja, seorang teman melontarkan sebuah pertanyaan untuk saya, “Jika benar Tuhan itu Maha Kuasa, bisakah Dia menciptakan sebuah tongkat yang hanya memiliki sebuah ujung?” Kita tahu, setiap tongkat pastilah memiliki dua ujung, dan sampai sekarang tidak satupun tongkat yang ujungnya hanya satu. Dengan kegenitan yang sama pula, saya menjawab, “Tentu saja Tuhan tidak bisa. Sebab jika ujungnya hanya satu, benda yang diciptakan itu tidak lagi bernama tongkat.”

Saya pikir, selain Tuhan, hanya ahli matematika (khususnya geometri) dan seniman lah yang bisa menciptakan sebuah benda (tongkat) yang ujungnya cuma satu. Dalam dunia tiga dimensi hal itu mungkin mustahil. Tapi dalam realitas dua dimensi, menciptakan sebuah tongkat seperti itu sangat mudah. Kita cukup menggambar sebuah lingkaran di atas kertas, kita warnai lingkaran itu, dan simsalabim, jadilah sebuah tongkat yang hanya memiliki sebuah ujung. Lingkaran yang kita gambar tersebut adalah ujung dari sebuah tongkat. Karena perspektif dari gambar tersebut hanya memperlihatkan satu ujung saja, maka ujung satunya lagi tidak mungkin terlihat. Meskipun begitu kita sama-sama tahu bahwa lingkaran itu adalah sebuah tongkat.

372px-Impossible_staircase.svgLebih dari 50 tahun yang lalu, dua orang ahli matematika Inggris menciptakan sebuah tangga tidak berujung, sebuah tangga yang hanya mungkin ada dalam realitas dua dimensi, dan mustahil ada dalam realitas tiga dimensi, realitas tempat kita tinggal. Tangga itu bernama Penrose, diambil dari nama sang penemu, Lionel Penrose dan Roger Penrose. Lima tahun yang lalu, seorang seniman, yang juga berasal dari Inggris, membuat tangga Penrose yang maujud di realitas tiga dimensi. Banyak yang tidak percaya, tapi tangga itu benar-benar ada, dan setiap manusia dapat menaikinya. Seniman itu bernama Christopher Nolan, dan tangga itu merupakan bagian dari plot dalam film garapannya: Inception.

Ada satu seniman lain yang dapat membuat hal-hal semacam itu. Namanya Jorge Luis Borges. Dia dapat membuat sebuah cakram yang hanya memiliki satu sisi namun maujud di ruang tiga dimensi. Kita tahu, hal itu mustahil. Sebab cakram yang memiliki satu sisi hanya mungkin ada dalam realitas dua dimensi. Tapi cakram seperti itu ada, dapat disentuh dan dilihat, dingin dan berkilau.

Dalam seni, hal-hal semacam itu dapat kita kategorikan dalam genre realisme magis. Dan pagi tadi saya mendapati seorang pelukis yang karyanya berada dalam genre tersebut. Namanya Rob Gonsalves, pelukis yang mengandalkan ilusi optikal dalam realitas dua dimensi. Saya suka semua lukisannya. Tapi ada dua lukisan yang paling saya sukai. Saya tidak tahu apa judulnya, sebab di website tempat saya menemukan lukisan-lukisannya, tidak diberitahukan judul dari tiap lukisan. Berikut dua lukisan itu (klik untuk memperbesar).

magic-realism-paintings-rob-gonsalves-4__880

magic-realism-paintings-rob-gonsalves-24__880

Pada lukisan pertama, terdapat dua orang yang sedang melukis langit dan tujuh orang yang sedang membuat puzzle. Dua orang yang sedang melukis langit itu sesungguhnya gambar dari puzzle yang sedang dirangkai. Begitu juga dengan lima orang yang sedang merangkai puzzle, sesungguhnya mereka adalah bagian dari puzzle itu sendiri: karakter di dalam puzzle yang sedang membuat puzzle itu sendiri. Tinggal dua orang lain, seorang anak laki-laki dan seorang gadis. Anak laki-laki itu adalah pembuat puzzle yang sebenarnya, sebab dia berada di luar puzzle. Sedang seorang gadis berada di wilayah abu-abu, antara nyata atau bagian dari puzzle juga. Meskipun ukuran tubuhnya besar, tapi dia berada di dalam frame puzzle itu sendiri. Gadis ini adalah bagian paling menarik dari lukisan ini, sebab dia adalah “pintu gerbang” antara pembuat puzzle yang asli dengan karakter di dalam puzzle.

Lukisan kedua lebih gila lagi. Tentang kastil dan benteng yang berdiri di atas hutan saat musim dingin. Jika dilihat dari jauh dan di atas ketinggian tertentu, kastil-kastil itu terlihat seperti bidak catur, dan pohon-pohon serta salju di atas tanah menyerupai papan caturnya. Ada dua orang di sana, seorang kakek dan cucunya. Sang cucu memegang bidak kuda, dan dengan perspektif tertentu, membuat benda itu terlihat sama besarnya dengan benteng yang berdiri di atas hutan. Sedang sang kakek bermain catur sendirian, dengan papan catur yang langsung tersambung dengan tanah di hutan itu. Bidak catur yang dimainkan sang kakek dan cucunya itu tidak lain merupakan kastil yang benar-benar berdiri di atas tanah. Dan karena mereka bermain catur dengan kastil-kastil itu sebagai bidaknya, dengan sendirinya mereka dapat memindahkan kastil itu sesuka hati. Sampai di sini saja, lukisan ini sudah terlihat luar biasa. Tapi jangan lupa, bahwa kakek dan cucunya itu berada di atas sebuah kastil, dan itu berarti ada orang lain yang sedang menjadikan kastil yang mereka tinggali sebagai bidak catur juga. Begitu seterusnya.

Dalam sastra, hal seperti ini dapat kita jumpai dalam Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam). Berkisah tentang Syahrazad yang harus mendongeng setiap malam kepada raja Syahrayar agar tidak dihukum mati. Dengan demikian, Syahrazad adalah narator dalam Alf Laylah wa Laylah, sebab dialah yang menceritakan semua dongeng itu kepada raja, dan juga pada pembaca. Tapi jangan dilupakan, kisah tentang Syahrazad pun sesungguhnya bagian dari dongeng dalam Alf Laylah wa Laylah. Sehingga pada suatu malam, Syahrazad akan bercerita tentang dirinya sendiri yang mendongeng kepada raja Syahrayar agar tidak dihukum mati. Begitu seterusnya, tanpa akhir, tanpa ujung, seperti tangga Penrose yang telah saya ceritakan di atas.