Blog

5 Film Romantis Terbaik Versi Saya

Tulisan ini barangkali paling cocok dipublikasikan menjelang hari valentine. Tapi tidak masalah saya pikir, toh film-film romantis banyak yang tayang perdana bukan pada hari valentine. Saya sendiri bukan penggemar film romantis, dan sampai saat ini tidak satupun film romantis yang pernah membuat saya menangis (bukan berarti saya tidak pernah menangis saat menonton film). Daftar film romantis ini saya buat berdasarkan “sisi romantisnya” dan bukan pada sisi teknis berceritanya. Misal, Annie Hall bukan film romantis terbaik yang pernah saya tonton, padahal dalam daftar film terbaik yang pernah saya tonton, Annie Hall berada diurutan pertama. Berikut daftarnya, dimulai dari urutan kelima.

5. Annie Hall

Meskipun ini adalah film terbaik versi saya, tapi untuk ukuran film romantis, Annie Hall bukanlah pilihan pertama. Bercerita tentang seorang comic, bernama Alvy Singer yang jatuh cinta pada seorang perempuan cantik bernama Annie Hall. Film ini langsung dibuka dengan pernyataan Alvy bahwa dia telah putus dengan Annie. Jadi sejak awal telah diberitahukan bahwa film ini tidak akan berakhir bahagia.

4. Eternal Sunshine of the Spotless Mind

Sama dengan Annie Hall, film ini pun bukan film yang berakhir bahagia. Tapi film ini akan mengajarkan pada kita bahwa melupakan bukanlah cara terbaik agar bisa move on.

3. Silver Linings Playbook

Bagian yang paling saya sukai dari film ini ketika selesai membaca novel masterpiece Hemingway, berjudul A Farewell to Arms,  Pat langsung membuang novel tersebut melalui jendela seraya berkata: what the fuck! Atau saat Pat selalu merasa pusing setiap kali mendengar My Cherie Amour yang dinyanyikan oleh Stevie Wonder. Sial, dua hal yang sangat dibenci Pat itu justru dua hal yang sangat saya sukai.

2. Amelie

Film ini bercerita tentang Amelie, seorang perempuan cantik tapi selalu minder dengan laki-laki, dalam mendapatkan pujaan hatinya. Jika adegan terbaik 500 Days of Summer terdapat pada “ekspektasi vs realita”, maka Amelie sudah melakukan hal itu bertahun-tahun sebelumnya. Film ini adalah sebuah perayaan pada hal-hal kecil, namun sangat berarti bagi hidup seseorang.

1. Casablanca

Jika dua film legendaris The Usual Suspects dan Adaptation berhutang budi pada film ini, saya rasa itu cukup untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya film ini. Oke, karena utang budi kedua film itu bukan pada sisi romantisnya, maka mau tidak mau harus saya ceritakan sedikit mengapa film ini adalah drama romantis terbaik. Sebab,  kita akan selalu bersimpati pada seorang laki-laki yang ditinggal pergi kekasihnya, dan sang kekasih pada suatu hari, setelah bertahun-tahun pergi, datang kembali dengan suaminya untuk meminta bantuan pada orang yang telah dia khianati itu, dan sang lelaki tetap rela membantunya. Pada akhirnya cinta memang membuat manusia menjadi dungu.

Panduan Menonton Film-film Charlie Kaufman

Sebagai seorang yang tergila-gila dengan Charlie Kaufman, saya akan selalu menyebut beberapa judul film karyanya setiap kali ada teman yang meminta rekomendasi film untuk ditonton. Film-film Kaufman cenderung berat. Tapi bukan berarti film-filmnya tidak bisa dinikmati. Kaufman bukan tipikal sineas yang suka bergelap-gelap. Bisa dikatakan bahwa semua film yang dia tulis adalah film komedi. Itulah barangkali mengapa penonton tetap bisa tertawa sekalipun filmnya berat, suatu hal yang tidak saya temukan dalam film-film Terrence Malick, misalnya.

Daftar yang saya buat ini bukan berdasarkan peringkat film terbaik Charlie Kaufman versi saya, tapi lebih kepada film-film yang saya rasa cocok dijadikan pintu masuk untuk mengenal karya-karya Kaufman. Berikut panduan ringkasnya.

Wajin Tonton

Sampai saat ini, Kaufman baru menulis 6 film. Dan di antara 6 film itu, Eternal Sunshine of the Spotless Mind lah yang masuk kategori wajib tonton. Dosa besar jika seorang maniak film tidak menontonnya. Film ini bercerita tentang seorang lelaki yang ingin menghapus ingatannya, lewat mesin penghapus ingatan, terhadap seorang perempuan cantik yang sangat dicintainya. Kenangan, seburuk apapun dia, pada akhirnya memang bukan untuk dilupakan.

Wajib Kifayah Ditonton

Barangkali istilah kifayah kurang tepat. Namun Being John Malkovich adalah film yang wajib ditonton siapa saja yang menyukai Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Bercerita tentang seorang dalang boneka yang menemukan portal untuk masuk ke dalam pikiran John Malkovich. Masuk di sini bukan memengaruhi John Malkovich seperti apa yang dilakukan oleh orang yang bisa melakukan hipnotis, tapi masuk dalam artian yang denotatif: seluruh tubuh masuk ke dalam pikiran John Malkovich. Semoga saja di dunia nyata portal seperti itu ada, dan alangkah menyenangkannya jika portal itu menuju ke dalam pikiran Chelsea Islan.

Penggemar Berat Charlie Kaufman

Bagi yang menyukai kedua film yang telah saya sebutkan tadi, otomatis akan menjadi penggemar berat Charlie Kaufman. Kalau sudah begini, dua film metafiksi yang dia tulis adalah tontonan wajib selanjutnya. Yang pertama berjudul Adaptation. Bercerita tentang seorang penulis skenario yang kebingungan dalam menulis skenario yang diadaptasi dari sebuah buku non-fiksi. Penulis skenario itu bernama Charlie Kaufman, dan skenario film yang sedang dia buat berjudul Adaptation. Jadi, film ini adalah film tentang Charlie Kaufman yang sedang kebingungan dalam menuliskan skenario film Adaptation. Sepengetahuan saya, film ini adalah film pertama yang menampilkan penulis skenarionya sebagai karakter utama di dalam cerita. Yang kedua berjudul Synecdoche, New York. Film ini merupakan film pertama yang disutradarai sendiri oleh Charlie Kaufman. Bercerita tentang seorang sutradara drama, yang ingin membuat sebuah pagelaran drama terbesar yang pernah ada. Drama yang ingin dia buat adalah sebuah copy paste dari kehidupannya sendiri. Karena dalam kehidupan sehari-hari dia adalah seorang sutradara drama, maka drama yang dia buat, awalnya dia beri judul Simulacrum, bercerita tentang dirinya sendiri beserta semua kru yang sedang membuat sebuah drama yang juga berjudul Simulacrum. Begitu seterusnya, sampai dia tidak mengenal lagi siapa kru yang benar, dan siapa aktor yang berperan sebagai kru.

Untuk yang Tergila-gila dengan Charlie Kaufman

Human Nature dan Confession of a Dangerous Mind adalah dua film minor dari Charlie Kaufman, dan barangkali hanya cocok ditonton oleh orang yang tergila-gila dengan karyanya. Ceritanya sendiri barangkali tidak lagi menjadi penting, sebab jika sudah tergila-gila, dengan sendirinya akan tetap menonton karyanya tanpa perlu diberitahu seperti apa jalan ceritanya.

PS: Jika ingin menikmati karyanya, saya sarankan jangan dilakukan secara maraton seperti menonton trilogi The Lord of the Ring.

Buku-buku yang Tidak Pernah Ada

Saya jarang mengunjungi perpustakaan. Jika ingin membaca suatu buku saya lebih memilih untuk membelinya. Akhir-akhir ini saya lebih banyak mengunduh buku secara gratis, semuanya berbahasa Inggris, beberapa di antaranya novel, tapi lebih banyak buku tentang kajian budaya. Diantara kunjungan saya yang sedikit itu, saya pernah berkunjung ke perpustakaan Babel. Perpustakaan yang lebih mirip labirin ini memiliki banyak ruang yang semuanya berbentuk segi enam. Perpustakaan Babel dinobatkan sebagai perpustakaan terbesar di dunia, selain karena bangunannya yang sangat besar, perpustakaan ini juga memiliki koleksi seluruh buku yang pernah ditulis umat manusia. Yang unik, perpustakaan Babel hanya memiliki satu salinan untuk setiap judul buku, berbeda dengan perpustakaan lain yang memiliki banyak salinan untuk buku dengan judul yang sama.

Salah satu orang yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel adalah Umberto Eco. Dia sangat terkesima dengan perpustakaan ini. Konon katanya, dia mendapat ide untuk menulis novel The Name of the Rose setelah berkunjung ke perpustakaan ini. Dalam novel yang dia tulis itu, Eco membuat sebuah cerita tentang perpustakaan yang bentuk bangunannya meniru bentuk bangunan perpustakaan Babel. Perpustakaan di novel Eco itu dijaga oleh seorang pustakawan buta bernama Jorge of Burgos. Bagi yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel akan segera mengerti bahwa Jorge of Burgos diambil dari nama pendiri perpustakaan Babel yang juga buta: Jorge Luis Borges.

Saat berkunjung ke perpustakaan Babel, saya pun terkesima layaknya Umberto Eco. Namun di antara semua perpustakaan yang pernah saya datangi, perpustakaan Lucien lah yang paling menakjubkan. Perpustakaan ini jauh lebih kecil dari perpustakaan Babel. Saat pertama kali masuk, tidak ada yang istimewa dengan perpustakaan ini. Namun kata Lucien, penjaga perpustakaan yang namanya dijadikan nama untuk perpustakaan yang dia jaga, koleksi buku di perpustakaan ini tidak mungkin ditemukan di tempat lain. Berbulan-bulan kemudian saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya melakukan pengecekan terhadap apa yang dikatakan oleh Lucien, dan betapa terkejutnya saya saat mengetahui tidak satupun koleksi perpustakaan Lucien yang dimiliki oleh perpustakaan Babel.

Karena minat saya yang teramat besar terhadap karya fiksi, setiap kali berkunjung ke perpustakaan saya akan langsung mendatangi rak fiksi. Demikian juga dengan kunjungan saya ke perpustakaan Lucien. Di rak fiksi saya menemukan nama-nama yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Ada Mir Bahadur Ali (seorang penulis dari India), ada Pierre Menard (seorang pengarang dari Prancis), Jaromir Hladik, dan Herbert Quain. Saya lalu mengambil sebuah buku karya Mir Bahadur Ali berjudul The Approach to Al-Mu’tasim, dan sebuah buku karangan Herbert Quain yang berjudul The Secret Mirror. Saya lalu membaca kedua buku tersebut di sudut perpustakaan.

The Approach to Al-Mu’tasim adalah novel berat. Membacanya harus pelan-pelan. Bercerita tentang seorang mahasiswa hukum, yang tidak pernah diberitahukan namanya, pada suatu ketika membunuh seorang gembel beragama hindu di atas menara. Setelah membunuh orang itu, dan sang mahasiswa melakukan pelarian, dia mendapati suatu kenyataan bahwa gembel yang dibunuhnya itu hanya perwujudan mimpi dari orang lain, atau mimpi dari orang lain yang bermimpi tentang orang lain, atau seseorang yang memimpikan orang lain sedang bermimpi tentang orang lain yang bermimpi tentang orang lain. Begitu seterusnya, sampai pada seorang pemimpi yang pertama. Mahasiswa itu yakin akan adanya pemimpi pertama itu, seseorang yang bernama Al-Mu’tasim. Novel ini kemudian bercerita tentang petualangan mahasiswa tersebut dalam mencari Al-Mu’tasim. Sang pengarang, Mir Bahadur Ali, nampaknya ingin mengecoh pembacanya. Sebab Al-Mu’tasim, pemimpi pertama yang dicari-cari oleh mahasiswa tersebut, sebenarnya adalah orang hindu yang dibunuhnya di atas menara.

Herbert Quain sendiri menulis buku dengan semangat bermain-main antara serius dan tidak serius. Cerita-cerita yang dia tulis terkesan serius tapi sebenarnya tidak, terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius. The Secret Mirror misalnya, adalah sebuah naskah drama dua babak, yang babak pertamanya bercerita tentang seorang penulis naskah drama bernama Wilfred Quarles yang tergila-gila pada seorang perempuan bernama Ulrica Thrale. Di babak kedua, orang yang memerankan Wilfred Quarles muncul kembali, tapi dengan nama dan peran yang berbeda. Kali ini dia berperan sebagai John William Quigley, seorang pedagang keliling asal Liverpool. Quigley ini juga seorang penulis naskah drama. Cerita tentang Wilfred Quarles yang tergila-gila dengan Ulrica Thrale pada babak pertama tadi tidak lain merupakan sebuah sebuah cerita dalam naskah drama yang ditulis oleh John William Quigley. Jadi, adegan pada babak pertama sebenarnya merupakan sebuah cerita dari naskah drama yang dituliskan oleh seorang karakter yang muncul di babak kedua.

Setelah saya mengembalikan kedua buku itu di tempat semula, saya mendatangi Lucien, dan menanyainya beberapa hal tentang perpustakaan yang dia jaga tersebut. Saya memang baru membaca dua buku di perpustakaan ini, tapi karena dua buku yang saya baca itu adalah buku-buku yang mengagumkan, saya berkesimpulan bahwa semua buku di perpustakaan Lucien ini pastilah mengagumkan. Sayang sekali jika buku-buku yang mengagumkan ini hanya bisa dibaca di tempat ini saja. Saat saya ingin meminjam dua buku tersebut untuk di fotokopi, Lucien bersikeras bahwa buku-buku koleksi perpustakaannya tidak boleh dibawa keluar. Saya lalu mengatakan, ingin menyalinnya kembali di perpustakaan ini saja, dengan cara tulis tangan. Lucien lalu mengatakan, jika hal itu saya lakukan maka buku yang ingin saya tulis ulang itu akan terbakar dengan sendirinya. Lucien melanjutkan, bahwa buku-buku yang ada di perpustakaan ini sesungguhnya adalah buku-buku yang tidak pernah ada di dunia nyata, buku-buku yang tidak pernah ditulis oleh seorang pengarang, atau tidak pernah selesai dituliskan, kecuali di dalam mimpi. Jadi buku-buku di perpustakaan ini bisa ada hanya jika seorang pengarang berkeinginan menulis suatu buku, tapi tidak pernah menuliskan atau menyelesaikan buku yang dia inginkan itu. Karena hanya ada dalam impian, buku-buku tersebut tidak boleh menjadi kenyataan, sebab ketika sudah menjadi kenyataan maka tidak ada lagi buku yang diimpikan. Itulah mengapa buku di perpustakaan Lucien akan terbakar begitu buku tersebut telah terwujud di dunia nyata. Saya teringat akan kerangka novel yang ingin saya tulis, judulnya Metafiksi, dan sudah hampir dua tahun kerangka novel itu belum juga rampung. Untuk membuktikan perkataannya, saya lalu menuju ke rak fiksi, dan mencari sebuah buku berjudul Metafiksi yang ditulis oleh seseorang bernama Abdul Hair. Dan ternyata buku itu ada, dengan sampul dan isi yang sama persis seperti yang saya inginkan.

Berbulan-bulan kemudian, saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya mendapati kenyataan bahwa pendiri perpustakaan tersebut, Jorge Luis Borges, juga seorang penulis. Saya menuju rak fiksi, melihat beberapa buku yang pada sampulnya tertulis nama Borges, lalu mengambil salah satu buku tersebut secara acak. Buku yang saya ambil berjudul Ficciones, berisi beberapa cerita pendek, esai, dan resensi buku. Dua diantara yang dia tulis, ternyata resensi terhadap karya Mir Bahadur Ali dan Herbert Quain, dua orang penulis yang karyanya pernah saya baca saat berada di perpustakaan Lucien. Borges, menuliskan resensi terhadap karya kedua penulis itu dengan begitu cemerlang. Dia menuliskan tentang karakter-karakternya, ringkasan ceritanya, membuat sebuah skema dari cerita yang ditulis Herbert Quain, serta membuat sebuah telaah kalau cerita The Approach to Al-Mu’tasim karya Mir Bahadur Ali sebenarnya paralel dengan cerita dalam buku puisi karya seorang sufi persia, Farid al-din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim Attar, yang berjudul Mantiq al-Tair (jika diterjemahkan menjadi Musyawarah Burung).

Banyak kritikus sastra yang mengatakan bahwa Jorge Luis Borges menuliskan sebuah resensi fiktif dalam buku Ficciones, sebab buku-buku yang yang dia ulas tidak pernah ada di dunia. Tentu saja para kritikus itu salah, sebab Borges pernah membaca buku-buku yang dia ulas itu. Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan Lucien. Dengan cara membuat resensi, alih-alih menyalinnya kembali, Borges mampu mengambil intisari dari buku-buku yang ada di perpustakaan Lucien tanpa membuat buku-buku tersebut terbakar. Dengan cara itulah Borges memperkenalkan koleksi perpustakaan Lucien kepada dunia, sesuatu yang ingin saya lakukan tapi gagal karena ketidaktelitian saya kalau aturan yang ditetapkan oleh Lucien memiliki beberapa peluang untuk dilanggar.

Halo Dunia

Saya mulai menulis blog tahun 2008, dan blog ini adalah blog saya yang ketiga. Blog saya yang pertama dan kedua, menggunakan domain berbayar. Itu berarti blog ini adalah satu-satunya blog saya yang gratis. Blog pertama saya, rumahair.com sudah lama almarhum. Karena saya dulu rajin mengurusnya, blog itu memiliki page rank yang tinggi. Ketika saya memutuskan untuk tidak memperpanjang kepemilikan domain tersebut, seseorang dari luar negeri sana membelinya. Saya tidak tahu bagaimana nasib domain itu, sampai suatu ketika seorang teman blogger yang berdomisili di Jakarta, Ridu, mengabari saya kalau domain itu sudah menjadi situs porno!

Saya mengeceknya, dan ternyata benar. Saya juga tidak ambil pusing. Mungkin memang sudah nasibnya begitu. Saat pagi tadi saya mengeceknya kembali, ternyata domain itu sudah berpindah tangan lagi. Pemiliknya kali ini dari Indonesia, orang Surabaya yang memiliki usaha bernama Rumah Air. Websitenya masih under construction, padahal dia membelinya sudah satu setengah bulan yang lalu, waktu yang lebih dari cukup untuk membuat sebuah web tentunya.

Blog saya yang kedua menggunakan nama saya sendiri, abdulhair.com. Blog itu saya buat pada pertengahan 2013, sebagai wadah untuk melatih kemampuan saya dalam menulis. Saya bercita-cita menjadi penulis, dan untuk mengejar cita-cita itulah saya masuk jurusan Ilmu Komunikasi. Saya tidak ingin menjadi jurnalis, meskipun jurnalis juga seorang penulis. Saya ingin menjadi seorang penulis cerita fiksi, entah itu novel atau skenario film. Novel dan film adalah minat utama saya, dan tema-tema seputar dua hal itu adalah tema-tema yang paling saya kuasai. Tidak seperti rumahair.com yang isinya campur aduk, abdulhair.com isinya sangat spesifik, hanya membicarakan novel, cerpen, komik, film, atau apapun yang berhubungan dengan karya fiksi.

Setelah saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, saya ingin benar-benar fokus belajar di kampus dan blog tersebut tidak saya perpanjang lagi. Barangkali itu adalah salah satu penyesalan saya yang terbesar, sebab dengan tidak melatih kemampuan menulis lewat blog seperti yang dulu saya lakukan, tulisan-tulisan saya jadi kering, tidak enak dibaca, dan saya begitu frustasi saat membaca paper mata kuliah yang saya kerjakan ternyata tidak lebih baik dari tulisan anak SMA.

Satu tahun sudah blog itu almarhum, dan kali ini saya mencoba untuk aktif menulis blog lagi. Kali ini saya menggunakan jasa blog gratisan saja, biar blog ini tidak akan pernah lagi menjadi almarhum seperti dua blog awal yang saya buat. Blog ini sebenarnya sudah ada sejak 2011, bukan untuk menjadi blog pribadi, tapi untuk menjadi sebuah web zine. Saya beserta tiga orang teman di Malang , dengan semangat memberontak ala anak muda, pernah membuat sebuah zine bernama KERetek. Nama itu adalah plesetan dari Kretek, jenis rokok dengan campuran cengkeh, yang kebetulan kami semua adalah konsumen rokok Kretek. Diantara huruf K dan R, kami menambahkan huruf E, sehingga terciptalah kata KERetek. KER sendiri adalah bahasa jawa walikan khas Malang, yang artinya adalah sebuah bentuk sapaan terhadap teman. KERetek adalah zine lokal Malang, yang isinya membahas tentang musik, politik, dan budaya yang ada di Malang. Isinya sendiri lebih banyak membicarakan kalau musik lewat jalur indie itu keren, liputan tentang gigs-gigs  di Malang, dan beberapa himbauan (mungkin lebih tepat disebut khotbah) kalau generasi muda seharusnya melek dengan politik. Karena sejak awal blog KERetek tidak pernah digunakan, jadi saya ambil alih saya kepemilikannya. Saya pikir tiga teman saya yang lain tidak akan keberatan.

Seperti blog saya sebelumnya, abdulhair.com, blog keretek ini juga hanya akan membahas tentang karya fiksi saja, baik itu novel, cerpen, film, ataupun komik. Saya pikir saya tidak akan kehabisan bahan untuk membicarakan tema fiksi. Saya sudah membaca banyak buku-buku fiksi, dan jumlah film yang pernah saya tonton barangkali sudah menembus angka ribuan (saya juga tidak tahu pasti, sebab saya tidak pernah menghitungnya). Saya bisa membicarakan di mana bagian paling menarik dari novel The Adventures of Huckleberry Finn karya Mark Twain, inovasi struktur bercerita pada film Annie Hall karya Woody Allen, atau membuat sebuah resensi terhadap buku-buku yang tidak pernah ada seperti yang dilakukan Jorge Luis Borges.

Saya ingin seperti dulu, menulis setiap hari. Sebab hanya dengan latihan menulis setiap hari lah kemampuan menulis saya bisa bertambah. Dan blog ini adalah tempat saya untuk berlatih, seperti para kesatria dalam cerita pewayangan yang berlatih di kawah candradimuka.