Aku, Setyo, dan Probo benar-benar kebingungan setelah mendengar cerita dari Samsir, Desi, dan Lumiana. Dua yang pertama adalah teman kami, sedang yang terakhir adalah pacar Samsir dan kami baru sekali itu bertemu dengannya. Dihari selasa minggu ketiga bulan Mei, bertepatan dengan aku yang sedang membaca cerpen In a Grove karya Ryunosuke Akutagawa, Desi mendatangi kami sambil menangis. Dia adalah teman kami yang paling lugu. Setahu kami, di 24 tahun usianya, dia sama sekali belum berpacaran. Probo bertanya pada Desi, mengapa dia sampai menangis begitu. Dengan tangis yang semakin kencang, Desi hanya menjawab dengan menyebut nama Samsir berulang-ulang. Kami segera mengerti bahwa dia pasti sedang bertengkar dengan Samsir. Asal kamu tahu saja, Samsir sedang berpacaran jarak jauh dengan Lumiana. Tanpa sepengetahuan pacarnya, Samsir juga dekat Desi. Dia bahkan sudah menyatakan rasa ketertarikannya pada Desi. Dengan sebuah keyakinan buta khas perempuan lugu, Desi merasa bahwa Samsir sedang ada masalah dengan Lumiana, dan segera setelah ini dia akan memutuskan hubungan dengan pacarnya.
Aku segera menelpon Samsir, dan menceritakan Desi yang tiba-tiba datang kepada kami sambil menangis. Aku menyuruhnya datang. Dia segera paham, dan berjanji akan sampai dalam dua puluh menit lagi. Tentu saja dia bohong, sebab 47 menit kemudian dia baru sampai di tempat kami. Dan betapa kagetnya kami saat tahu kalau Samsir tidak datang sendiri: dia datang bersama Lumiana. Suasana saat itu begitu canggung. Setyo yang dari tadi lebih banyak diam, akhirnya bertanya, sebenarnya apa yang terjadi. Lumiana yang terlihat begitu marah, akhirnya angkat bicara.
Pengakuan Lumiana
Aku dan Samsir sudah tiga tahun berpacaran, dan empat bulan ini kami berpacaran jarak jauh karena aku harus kerja di Jakarta. Hari ini aku memutuskan untuk main ke Jogja. Samsir tidak aku beritahu, sebab aku ingin memberi kejutan untuknya. Jam enam pagi aku pergi ke kosnya. Aku tahu dia ada di sana, sebab sepagi itu dia pasti malas keluar. Lima belas menit kemudian aku sudah berdiri di depan kamarnya. Aku lihat, ada sepatu berhak tinggi di situ. Aku mulai curiga. Pintu kamar aku buka, dan astaga, aku melihat Samsir dan seorang perempuan sedang berciuman! Perempuan itu di bawah, dan Samsir di atas. Jelas aku marah. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku kacau. Aku bingung. Lama setelah itu, baru mereka sadar dengan kehadiranku. Aku menangis. Samsir dan perempuan itu diam saja di atas tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa, aku segera pergi dari tempat itu. Samsir juga sama sekali tidak mengejarku. Dua puluh menit yang lalu, dia mendatangiku di rumah. Dan mengajakku ke sini untuk menjelaskan semuanya. Dia berkata kalau semuanya tidak seperti yang aku lihat. Jadilah aku di sini, ingin mendengar penjelasan Samsir dan perempuan itu.
Pengakuan Desi
Sudah dua bulan ini Samsir mendekatiku. Kalian pasti tahu kalau selama ini aku tidak pernah berpacaran. Banyak yang pernah mendekatiku, tapi tidak ada yang betul-betul serius seperti Samsir. Dia selalu mengajakku makan hampir setiap hari, membantuku jika ada masalah, dan memberikan perhatian yang lebih dari sekadar teman. Kemarin malam, Samsir mengajakku keluar. Saat jam sembilan malam, aku meminta Samsir untuk mengantarku pulang karena jam sepuluh pintu utama kosku sudah dikunci dari dalam. Tapi kata Samsir, nanti saja. Aku menurutinya. Jam 9.45 aku memintanya untuk kembali mengantarku pulang. Tapi karena Samsir meyakinkanku bahwa aku bisa meminta teman kos untuk membuka pintu untukku, maka aku kembali menurutinya. Jam 1 dini hari Samsir baru mengatarku ke kos. Sesampainya di sana aku menelpon teman kos, tapi tidak ada yang menganggat panggilan teleponku. Mereka pasti sudah tidur. Samsir menawari aku untuk menginap di kosnya, dan berjanji bahwa dia tidak akan melakukan apa-apa terhadapku. Aku mempercayainya. Maka berangkatlah kami ke kosnya. Sesampainya di sana, aku gelisah. Semalaman aku tidak ingin tidur, berjaga-jaga jika Samsir melakukan sesuatu padaku. Hingga akhirnya, jam lima shubuh aku tidak kuat lagi. Maka tertidurlah aku. Saat terbangun, aku melihat Samsir menindih tubuhku sambil mencium bibirku. Pintu tiba-tiba terbuka. Seorang perempuan datang. Dia adalah Lumiana. Bukannya memarahi Samsir, perempuan itu malah memarahiku, menampar mukaku, dan mengataiku sebagai pelacur. Mereka berdua meninggalkanku sendiri. Sambil menangis, aku pergi dari sana, naik taksi, dan sampailah aku di sini menemui kalian.
Pengakuan Samsir
Malam kemarin Desi mengajakku keluar. Aku menurutinya. Kami keliling kota. Jam sembilan malam aku ingin mengantar Desi pulang, karena aku tahu jam sepuluh malam pintu utama kosnya dikunci dari dalam. Tapi dia memelas masih ingin keluar denganku. Aku turuti permintaannya. Jam 9.45 sekali lagi aku ingin mengantarnya pulang. Dia meyakinkanku bahwa dia bisa menghubungi teman kosnya untuk membuka pintu. Sekali lagi aku menuruti permintaannya. Jam satu dini hari, aku mengantarnya pulang. Sampai di sana, Desi menelepon teman kosnya. Tidak ada yang mengangkat, sebab selarut itu semua teman kosnya pasti sudah tidur. Aku mengatakan padanya, kita bisa pergi ke Luxury, warnet 24 jam, sambil menunggu waktu pagi. Tapi dia mengatakan kalau dia sangat kelelahan, dan ingin beristirahat di kosku saja. Awalnya aku menolak, karena dia terus mendesak, akhirnya aku iyakan juga. Aku tidak tidur semalaman, dan memilih untuk main game saja. Aku lihat Desi sudah tidur. Jam 5.30 pagi, dia bangun. Dia mengajakku bicara. Semakin lama, arah pembicaraan kami mengarah ke masalah hubungan laki-laki dan perempuan. Desi lalu menarik tanganku agar lebih dekat dengannya. Aku lihat bibirnya, entah mengapa begitu menggoda. Aku ingin menciummnya, tapi tidak berani. Sebab setahuku, Desi sama sekali belum pernah berpacaran. Ketika aku mendekatkan kepalaku, dia diam saja. Akhirnya aku beranikan diri untuk menciumnya, dan ternyata dia juga mau. Dia lalu baring di kasurku, dan menarik tubuhku ke situ. Saat itulah, Lumiana datang. Aku terkejut, mendatanginya, dan menjelaskan kalau semua ini karena Desi yang ingin tidur dikamarku. Lumiana jelas tidak memercayainya perkataanku. Dia lalu menampar wajahku, lalu segera pergi dari situ. Aku begitu marah, dan menyuruh Desi segera pergi dari kamarku. Saat Desi telah pergi itulah aku akhirnya tersadar, bahwa aku bukanlah lelaki pertama yang pernah bercumbu dengannya.