Sudah tiga hari saya menulis cerita tentang mimpi di blog ini. Masing-masing berjudul Kisah Dua Pemimpi, Mimpi Basah, dan Mimpi-mimpi Setyo. Plot dasar dari ketiga cerita itu saya ambil dari tiga buku yang berbeda. Cerita pertama, Kisah Dua Pemimpi, plot dasarnya saya ambil dari novel Dictionary of the Khazars karya Milorad Pavic. Kisah Dua Pemimpi, pada intinya bercerita tentang Guru Isa dan Sang Penulis yang saling memimpikan. Mimpi yang dialami Guru Isa tidak lain adalah kenyataan yang dialami saat itu juga oleh Sang Penulis, dan mimpi yang dialami Sang Penulis adalah kenyataan yang dialami saat itu juga oleh Guru Isa. Ketika Guru Isa tertidur, Sang Penulis terbangun. Ketika Sang Penulis terbangun, Guru Isa Tertidur. Dalam novel Dictionary of the Khazars, cerita tentang dua orang yang saling memimpikan adalah bagian yang paling saya sukai. Saya pernah membaca cerita seperti itu lagi setelahnya. Saya lupa membacanya di mana. Kalau bukan di salah satu cerpen Jorge Luis Borges, kemungkinan dalam buku Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam).
Cerita kedua, Mimpi Basah, plot dasarnya saya ambil dari novel The Wind-Up Bird Chronicle karya novelis Jepang kenamaan, Haruki Murakami. Dalam salah satu bagiannya, bercerita tentang seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelacur di dalam mimpi. Bayangkan, suatu malam kamu mimpi basah, dan keesokan paginya ada seorang perempuan yang mengetuk pintu rumahmu, dan kamu begitu terkejut karena ternyata dia adalah perempuan yang kamu temui di dalam mimpi. Dia meminta sejumlah bayaran, sebab dia telah melayanimu di dalam mimpi. Mimpi basah adalah hal wajar yang dialami oleh semua laki-laki dewasa. Tapi Haruki Murakami berhasil menuliskan fenomena sehari-hari, yang biasa-biasa saja itu, menjadi sesuatu yang luar biasa.
Cerita ketiga, Mimpi-mimpi Prasetyo, adalah cerita yang plot dasarnya saya ambil dari buku Alf Laylah wa Laylah terjemahan Sir Richard Burton. Salah satu bagian dalam buku itu, The Ruined Man who Became Rich Again through a Dream, bercerita tentang orang Baghdad yang bermimpi akan mendapatkan keberuntungan di Kairo. Dia percaya dengan mimpi itu, dan memutuskan untuk berangkat ke sana. Di Kairo dia tidak mendapatkan keberuntungan apapun, bahkan terkena sial. Hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang penduduk Kairo yang bermimpi akan mendapatkan keberuntungan jika datang ke Baghdad. Namun orang Kairo itu tidak memercayai mimpinya, sehingga dia tidak mendatangi Baghdad. Orang Baghdad itu memang tidak mendapatkan keberuntungannya di Kairo, tapi lewat cerita orang Kairo yang dia temui itu, dia lalu balik ke Baghdad. Orang Kairo itu bercerita bahwa dalam mimpinya dia akan mendapatkan harta karun yang terkubur di pekarangan suatu rumah, dan ciri rumah itu persis sama dengan rumah yang dimiliki si orang Baghdad. Orang Baghdad itu segera pulang ke kampung halamannya, menggali tanah di pekarangan rumahnya, dan mendapatkan hartu karun di situ. Cerita itu lalu ditiru oleh banyak penulis lain. Jorge Luis Borges melakukannya dengan membuat cerita berjudul The Story of the Two Dreamers. Paulo Coelho, penulis terkenal asal Brazil, juga meniru plot cerita itu dalam novelnya yang paling masyhur, The Alchemist. Eka Kurniawan juga meniru cerita itu, dengan sedikit perubahan. Jika dalam Alf Laylah wa Laylah bercerita tentang penemuan harta karun, maka Eka memodifikasinya menjadi cerita tentang dua orang pemimpi dalam menemukan kekasih hati.
Penjelasan saya terhadap tiga cerita yang saya buat itu barangkali tidak penting. Cuma buat jaga-jaga saja, jika ada orang yang kebetulan membacanya, lalu menuduh saya sebagai seorang plagiator. Dalam dunia menulis, meniru karya orang lain adalah tahap pertama dalam kreatifitas. Lagi pula, karena sudah meniru suatu cerita, apakah Jorge Luis Borges lantas masuk dalam kategori plagiator? Tentu saja tidak.


