Teknik Jitu Menaklukkan Hati Member JKT48

Kinal tahu sebagai member JKT48 dia tidak boleh berpacaran, tapi dia juga tahu tidak seorang pun yang bisa melarang dia untuk jatuh cinta. Berpacaran dan jatuh cinta adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa jatuh cinta tanpa berpacaran. Jatuh cinta adalah urusan hati, sedang berpacaran adalah tindakannya. Dan Yasushi Akimoto sekalipun tidak punya hak memecat seorang member karena jatuh cinta pada seorang lelaki, sebab dia hanya melarang untuk berpacaran, bukan jatuh cinta.

***

Cerita ini sebenarnya bukan tentang Kinal, ini cerita tentang Ahmad Winata. Dia adalah orang sungguhan, bukan karakter yang aku ciptakan. Kau bisa mencarinya lewat google kalau tidak percaya. Paragraf di atas juga bukan karanganku, itu aku kutip dari skenario komik yang dia tulis. Dia adalah penggila semua hal tentang Jepang, terutama manga dan animenya.

Sebagai otaku sejati, dia adalah orang yang akan marah besar jika kau menyamakan anime dengan manga, atau kau menyamakan JKT48 dengan girlband. Dia akan buru-buru meralatnya sebelum kau sempat melanjutkan kata-katamu, “Manga dan anime itu dua hal yang beda, dan ingat, JKT48 bukanlah girlband!” begitu katanya berulang-ulang padaku.

Winata orang yang sangat percaya takhayul. Aku tidak tahu kepercayaan ini dia dapatkan dari kesenangannya membaca manga, atau karena pengalaman pribadinya. Kerap saat bersepeda motor berdua, dan melewati jalanan yang gelap, dia akan bilang kalau perasaannya tidak enak sebab mencium bau yang aneh. Kau pasti tahu, bau yang aneh adalah ciri ada hantu di dekatmu.

Tapi aku curiga, bau aneh itu justru berasal dari badannya sendiri. Aku beri tahu satu informasi penting padamu: Winata adalah orang yang malas mandi. Kebiasaan jorok itu semakin diperburuk dengan kenyataan bahwa dia bukanlah orang yang tampan. Kau tahu, secara fisik Winata jauh dari kata menarik, badannya gemuk, berkacamata tebal, rambut awut-awutan, dan selalu berkeringat dengan aktifitas apapun yang dia lakukan.

Baiklah, kini kau telah tahu, meskipun cuma sedikit, seperti apa Ahmad Winata itu. Aku tahu kau tidak suka dengan cerita yang karakter utamanya bukanlah lelaki yang tampan. Sebagai penulis, aku pun sebenarnya tidak suka menuliskan cerita dengan karakater seperti Winata. Aku tidak menemukan ada hal puitis dengan menuliskan cerita tentangnya. Tapi tenang saja, dalam cerita ini kau akan tetap menemukan cerita tentang lelaki tampan dengan perempuan cantik. Cerita itu bukan aku yang tulis, itu adalah karangan Winata. Dia menulis skenario komik. Akan kuceritakan padamu, dengan menggunakan bahasaku sendiri, isi skenario komik yang dia tulis.

***

Dia menuliskan cerita dengan karakter seorang lelaki tampan, dingin, misterius, dan selalu tidak peduli dengan sederetan perempuan cantik yang mengaguminya. Dia tidak mungkin menamai karakternya dengan Jokowo, sebab selain terlalu ndeso, nama itu juga mirip Gubernur DKI Jakarta. Maka Ahmad Winata memenggal empat huruf terakhir dari Jokowo, lalu menambahi huruf ‘e’ setelahnya. Jadilah namanya Joe, supaya terbaca sangat urban.

Setiap kali Joe berjalan, kedua telapak tangannya selalu dimasukkan dalam saku celana. Kau tahu, memasukkan tangan dalam saku adalah kebiasaan tokoh-tokoh dingin dalam beragam serial manga dan anime yang kerap ditonton Winata.

Aku sebenarnya tidak enak pada Winata untuk mengatakan ini, tapi demi keutuhan cerita, mau tidak mau aku harus mengatakannya: Joe sebenarnya bayangan ideal diri Winata Sendiri. Dia selalu membayangkan dirinya adalah lelaki yang dingin, dengan banyak perempuan cantik yang mengaguminya. Tapi bayangan ideal dirinya dengan kenyataan yang ada sungguh sangat berbeda jauh. Supaya perbedaan itu tidak terlalu mencolok, karakter yang dia ciptakan, Joe, dibuat berkacamata seperti dirinya.

Ahmad Winata menginginkan Joe dikagumi oleh perempuan yang tidak biasa. Dia haruslah bertolak-belakang dengan semua sifat Joe. Dia cantik, sedikit cerewet, penuh optimisme, memiliki banyak teman, sangat ceria, dan tentu saja sangat populer. Kau pasti bisa menebaknya: perempuan itu adalah member JKT48.

Bukan tanpa alasan member JKT48 yang Winata jadikan tokoh perempuan dalam komiknya. Dia sangat mengidolakan JKT48. Oshinya adalah Veranda, member JKT48 yang paling feminim. Winata kerap berfantasi tentang Veranda beberapa saat sebelum dia tidur, tapi lebih sering saat dia berada di kamar mandi. Namun, untuk alasan dramatisasi dalam cerita yang dia tulis, dengan berat hati bukan Veranda yang dia jadikan karakter dalam komiknya: dia lebih memilih Kinal, kapten tim di JKT48.

***

Sebelum aku ceritakan lebih lanjut komik yang dia tulis, harus aku sampaikan kalau cerita yang dia buat sangat klise. Kau tahu, layaknya serial manga yang dia baca, Joe dan Kinal pertama kali bertemu di dalam kelas. Joe adalah mahasiswa pindahan dari Surabaya, dan kuliah di Bandung karena orang tuanya mendapat promosi jabatan di kota itu. Aku sudah berkali-kali memberikan saran untuk mengubah cara mereka bertemu, tapi Winata tetap kukuh dengan cerita awal yang dia buat. Dia sangat yakin, bertemu di dalam kelas adalah bentuk perkenalan yang paling romantis.

Joe diam-diam dikagumi mahasiswi-mahasiswi cantik, dan diam-diam juga Joe telah mengetahui kalau dia dikagumi secara diam-diam. Setiap kali berjalan, ratusan pasangan mata memerhatikannya. Tangan Joe dimasukkan dalam saku celananya, dan rambutnya, walaupun saat itu tidak ada angin yang berembus, beterbangan ke sana ke mari. Itu adalah cara berjalan paling keren yang dapat Winata bayangkan.

Joe adalah orang yang cerdas, berpengetahuan luas, di kelas dia jarang berbicara, tapi sekalinya dia bicara seisi kelas akan terdiam. Diam-diam Kinal ikut mengaguminya. Kinal lalu mencari tahu lebih jauh tentang Joe. Dari penelusurannya, ternyata Joe telah menerbitkan dua novel. Dia bukanlah novelis kenamaan, dia penulis novel cult, novel-novelnya tidak pernah best-seller, memiliki penggemar yang tidak terlalu banyak tapi selalu antusias menunggu karya-karyanya. Ceritanya kemudian bisa ditebak, Kinal membaca novel-novel Joe, dan itu membuatnya semakin mengagumi Joe. Kinal kerap mencoba mengajak Joe berbicara, namun selalu mendapat perlakuan dingin dari Joe. Selalu begitu, dan begitu, sampai suatu ketika, tatkala Kinal hampir putus asa, entah bagaimana, Joe tiba-tiba menyapa Kinal dengan “hai,” dan kau tahu, pipi Kinal seketika memerah, seperti di serial anime yang kerap ditonton Winata.

***

Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin laki-laki yang sangat dingin tiba-tiba dapat bersikap hangat pada perempuan tanpa alasan apapun? Logika ceritanya betul-betul kacau! A.S. Laksana pasti akan memaki habis-habisan cerita yang ditulis seperti itu! Saat aku menanyakan hal itu pada Winata, dengan enteng dia menjawab, “Cinta dan logika itu urusan yang beda. Jika kau memaksakan sebuah cerita harus sesuai logika, itu namanya cerita detektif, bukan cerita cinta!”

Tanpa memedulikan saran yang aku berikan, dia tetap melanjutkan cerita yang ingin dia tulis.

***

Joe dan Kinal lalu jalan berdua. Mereka ke kebun teh, dan juga pantai. Saat jalan berdua di pantai, dengan matahari senja sebagai latarnya, Kinal merentangkan tangannya, menengadahkan kepalanya ke langit, lalu berputar-putar sambil menyanyi ceria. Sedang Joe dengan tangan di dalam saku celana, serta angin senja yang menerbangkan rambutnya, hanya menatap Kinal dari belakang dengan seulas senyum di bibirnya.

Semenjak itu, Kinal jatuh cinta pada Joe. Dia tidak mungkin menyatakan rasa itu pada Joe, sebab di JKT48 para member dilarang berpacaran. Kinal dalam kondisi yang bimbang, memilih Joe atau JKT48. Dia sudah terlanjur cinta pada Joe, tapi dia tidak bisa meninggalkan JKT48 begitu saja. Dia adalah kapten di JKT48, yang notabene seorang ikon di groupnya. Dia punya banyak penggemar yang akan kecewa jika dia memutuskan keluar. Apalagi, dia sudah menganggap semua member JKT48 sebagai keluarganya sendiri, dan hal yang berat untuk meninggalkan keluarga.

***

Sungguh, saat menuliskan cerita di atas, air mata Winata jatuh menetes. Dia bukanlah lelaki yang sentimentil, tapi dia akan selalu tersetuh dengan hal apapun yang berhubungan dengan kesetiaan. Asal kau tahu saja, Winata pernah ditinggal pergi kekasihnya demi laki-laki lain yang lebih tampan, dan mapan, darinya. Semenjak itu dia seperti mendapat kutukan. Setiap kali mendekati perempuan, dia selalu mendapat penolakan. Akhirnya kau tahu, cerita yang dia tulis tidak lain merupakan kisah ideal tentang dia dengan perempuan manapun yang dia suka.

“Lalu kau mau mengakhiri komikmu dengan cerita seperti apa?” tanyaku.

“Dengan hal yang paling pembaca tidak inginkan terjadi: member JKT48 yang lain akhirnya tahu hubungan antara Kinal dan Joe!”

***

Aku akhirnya memberikan saran cerita yang jauh lebih baik dari yang bisa Winata pikirkan. Aku mengatakan padanya, kalau Joe tidak perlu digambarkan terlalu sempurna seperti yang dia buat. Menurutku, secara fisik Joe tidak perlu terlalu tampan. Kisah cintanya justru lebih bagus kalau mirip dengan kisah cinta Winata sendiri, pernah dikhianati kekasihnya, dan mendapat penolakan terus-menerus dari perempuan lain setelah itu. Teman-teman dekat Joe sampai memberi julukan orang tersial padanya. Untuk membuktikan bahwa dirinya tidak mendapat kutukan kesialan, dia harus menyatakan cinta pada perempuan cantik yang disukainya, dan tidak boleh mendapat penolakan. Lama Joe memikirkannya, dan ilham itu baru turun tatkala dia selesai membaca buku karangan A.S. Laksana, terutama di bagian Teknik Mendapatkan Cinta Sejati.

“Aku telah menyatakan cinta pada seorang perempuan cantik, dan tidak mendapat penolakan,” kata Joe bangga.

“Bagaimana bisa?” teman-temannya keheranan. “Memangnya perempuan siapa yang tidak menolakmu?”

“Kinal JKT48!”

Joe melanjutkan ceritanya, kalau dia dan Kinal bertemu tadi pagi diacara direct selling CD single JKT48 terbaru. Saat mereka berjabat tangan, Joe berkata pada Kinal, “Aku mencintaimu. Tapi sayang sekali, di JKT48 para member tidak boleh memiliki pacar. Jika peraturan seperti itu tidak ada, sejak lama aku telah mengajakmu berpacaran.” Selesai urusan. Kinal hanya tersenyum, tidak menolak, tidak menerima. Dia tersenyum seperti senyum yang selalu dia berikan pada penggemarnya, siapapun itu.

Kalau toh ditolak tatkala menyatakan cinta ke member JKT48, setidaknya bukan ditolak karena alasan-alasan seperti, “Aku masih ingin fokus belajar,” atau, “Aku telah menganggapmu sebagai sahabat,” atau, “Kita lebih cocok jadi kakak beradik.” Percayalah, semua itu adalah sinonim belaka bahwa perempuan itu tidak menyukaimu. Tapi jika kau menyatakan cinta pada member JKT48, alasan penolakanmu pastilah, “Maaf, di JKT48 kami dilarang berpacaran.”

Bayangkan, kau ditolak padahal tidak ada aturan yang melarang untuk berpacaran, itu rasanya seperti ada 70.000 pedang yang menusuk tubuhmu. Itulah sebabnya Joe sangat senang telah menyatakan perasaannya pada Kinal, sebab menyatakan cinta ke member JKT48 adalah cara jitu dalam menghindari penolakan karena alasan-alasan yang sangat umum, kurang tampan, misalnya.

***

Tapi Winata tidak mau cerita yang laksanaesque seperti saranku itu. Dia ingin dengan cerita yang lain, cerita yang telah dia rencanakan sejak awal:

Walaupun member JKT48 yang lain akhirnya tahu hubungan antara Kinal dan Joe, dan Kinal menjalani sidang internal antar member, dengan tegas Kinal berkata, “Member JKT48 memang tidak boleh berpacaran, tapi tidak pernah ada aturan yang melarang member untuk jatuh cinta. Berpacaran dan jatuh cinta adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa jatuh cinta tanpa berpacaran. Jatuh cinta adalah urusan hati, sedang berpacaran adalah tindakannya.”

Walau bagaimanapun, member lain tidak ingin Kinal keluar dari JKT48. Maka jalan tengahnya, Kinal tetap di JKT48, dan diam-diam tanpa sepengetahuan Yashushi Akimoto, para member merahasiakan perasaan Kinal pada Joe dan kenyataan bahwa mereka telah sering jalan berdua.

***

“Cerita yang berakhir bahagia ya,” kataku pada Winata.

“Orang-orang akan selalu suka dengan cerita yang berakhir bahagia, sebab dalam kehidupan nyata, hal itu tidak pernah terjadi,” jawab Winata dengan mimik muka serius.

Apa yang dia katakan itu memang benar adanya. Beberapa hari sebelum dia menuliskan akhir kisah untuk komiknya, saat dia akan pulang ke rumahnya di Surabaya, dia terjebak hujan deras. Waktu itu pukul lima sore, dan karena tidak membawa jas hujan, dia berteduh di pos kampling. Jalanan hari itu sepi. Sudah hampir sejam Winata berteduh, dan tidak ada tanda-tanda hujan akan reda. Saat itulah, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depannya. Dari kursi pengemudi, seorang perempuan cantik dengan payung di tangannya keluar untuk menghampiri Winata. Perempuan itu adalah Mei, mantan kekasih yang telah menghianati Winata.

Jika kau mengira kedatangan Mei untuk menyatakan permohonan maaf pada Winata, atau menawari dia tumpangan pulang, atau minimal menemaninya berbicara sembari menunggu hujan reda, maka kau salah besar. Sebab perempuan itu telah lupa dengan wajah Winata, dan dia berhenti tepat di depannya hanya untuk menanyakan jalan menuju pom bensin terdekat.

Malang, 11 April 2014, pukul 10.10 WIB

Borges dan Lynch

Sepintas, ada persamaan antara cerpen (atau resensi fiktif) Borges dari buku Ficciones, A Survey of the Works of Herbert Quain, dengan film karya David Lynch, Mulholland Drive. A Survey of the Works of Herbert Quain adalah sebuah cerpen berbentuk resensi terhadap seorang penulis fiktif bernama Herbert Quain. Ada tiga karya yang diresensi oleh Borges, salah satunya berjudul The Secret Mirror, sebuah naskah drama dua babak, yang mana adegan pada babak pertama sebenarnya merupakan sebuah cerita dari naskah drama yang dituliskan oleh seorang karakter yang muncul di babak kedua. Ada dua karakter berbeda dalam drama tersebut yang diperankan oleh orang yang sama. Pada babak pertama dia berperan sebagai seorang laki-laki yang tergila-gila pada seorang perempuan, dan pada babak kedua dia berperan sebagai penulis naskah drama yang sedang menulis naskah yang ceritanya persis sama dengan cerita dalam babak pertama drama tersebut. Cerita dalam Mulholland Drive karya David Lynch serupa dengan cerpen Borges di atas. Ada dua bagian dalam film tersebut, yang mana dua orang karakter di bagian pertama sedang mencari seseorang yang ternyata mati secara mengenaskan. Di bagian kedua, orang yang ditemukan mati mengenaskan itu hidup kembali, dan karakter tersebut dimainkan oleh aktris yang sama dengan yang memerankan si pencari orang mati tadi. Ringkasnya begini, di bagian pertama aktris A memerankan C, dan aktris B memerankan D. C dan D sedang mencari seseorang bernama E, yang kemudian diketahui telah mati. Di bagian kedua, E ternyata hidup lagi, dan karakter E diperankan oleh aktris A, sedang aktris B memerankan C, sebuah karakter yang sebelumnya diperankan oleh A. Bingung? Silahkan ditonton sendiri filmnya.

5 Buku yang Memecahkan Kepala Saya

Franz Kafka pernah mengatakan kalau sebuah buku haruslah menjadi kapak yang memecahkan es di kepala kita. Dalam kalimat lain, sebuah buku haruslah memecahkan kebekuan pikiran kita. Ada lima buku yang sangat bagus menurut saya karena mampu memecahkan kebekuan saya dalam berpikir. Lima buku itu adalah:

1. Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam), Anonymous

Inilah buku terbaik yang pernah saya baca. Kekaguman saya pada buku ini terutama pada struktur narasi dalam narasinya. Ada banyak cerita dalam buku ini, dan semua cerita itu merupakan dongeng yang diceritakan oleh Syahrazad untuk raja Syahrayar. Dalam dongeng yang diceritakan Syahrazad tersebut, terdapat dongeng lain, sampai pada tingkat keempat. Jadi ada dongeng di dalam dongeng. Tidak ada satu orang pun yang tahu siapa penulis dongeng-dongeng tersebut, dan tak ada juga yang mengetahui siapa orang yang menyusun semua dongeng-dongeng itu ke dalam struktur cerita dalam cerita. Jika saja saya tahu siapa orangnya, saya akan ziarah ke kuburannya sembari membacakan surah Yasin di sana.

2. The Adventures of Huckleberry Finn, Mark Twain

100 halaman terakhir dalam buku ini membuat saya misuh tiada henti. Ide-ide Tom Sawyer dan Huck Finn dalam membebaskan seorang tahanan dalam “penjara” membuat saya ketawa tanpa henti. Ide-ide mereka sangat lucu, tapi di sisi lain sangat brilian. Novel ini adalah sebuah contoh yang bagus kalau menulis novel komedi tidak harus menampilkan hal-hal konyol.

3. Ficciones, Jorge Luis Borges

Bayangkan ada sebuah buku yang tidak pernah dituliskan, tetapi di sebuah surat kabar tiba-tiba muncul sebuah resensi yang membahas buku tersebut. Seperti itulah Borges membuat cerita. Dengan cara itu, dia mampu menuliskan sebuah cerita yang seharusnya setebal 1001 halaman menjadi 10 halaman saja.

4. Dictionary of the Khazars, Milorad Pavic

Membaca buku tidak harus dari halaman pertama ke halaman terakhir. Kita bisa membaca sebuah buku dari halaman paling belakang ke halaman paling awal, atau membaca dari tengah, lalu ke akhir, lalu ke awal, atau membaca bagian manapun yang kita suka dan diakhiri di bagian manapun yang kita inginkan. Buku ini dapat dibaca sesuka hati. Sebab yang namanya kamus memang bisa kita baca dari mana saja bukan?

5. The Old Man and the Sea, Ernest Hemingway

Pikiran dan perasaan seseorang dapat diketahui pembaca dari apa yang orang tersebut lakukan. Saya pikir, itulah kehebatan utama novel ini. Yang lebih hebat lagi, novel ini terlihat sangat sederhana secara teknik, padahal jika dibaca berulang-ulang, teknik yang digunakan Hemingway dalam menulis novel ini amatlah rumit. Hal ini mengingatkan saya pada gaya bermain Paul Scholes di Manchester United. Bagi penonton kebanyakan, teknik permainan Scholes sangat sederhana, namun para pemain dan pelatih sering bengong-bengong sendiri dengan teknik yang diperagakan Scholes. Ada kerumitan di balik kesederhanaan, begitulah.

Cerita Cinta Murahan

Aku, Setyo, dan Probo benar-benar kebingungan setelah mendengar cerita dari Samsir, Desi, dan Lumiana. Dua yang pertama adalah teman kami, sedang yang terakhir adalah pacar Samsir dan kami baru sekali itu bertemu dengannya. Dihari selasa minggu ketiga bulan Mei, bertepatan dengan aku yang sedang membaca cerpen In a Grove karya Ryunosuke Akutagawa, Desi mendatangi kami sambil menangis. Dia adalah teman kami yang paling lugu. Setahu kami, di 24 tahun usianya, dia sama sekali belum berpacaran. Probo bertanya pada Desi, mengapa dia sampai menangis begitu. Dengan tangis yang semakin kencang, Desi hanya menjawab dengan menyebut nama Samsir berulang-ulang. Kami segera mengerti bahwa dia pasti sedang bertengkar dengan Samsir. Asal kamu tahu saja, Samsir sedang berpacaran jarak jauh dengan Lumiana. Tanpa sepengetahuan pacarnya, Samsir juga dekat Desi. Dia bahkan sudah menyatakan rasa ketertarikannya pada Desi. Dengan sebuah keyakinan buta khas perempuan lugu, Desi merasa bahwa Samsir sedang ada masalah dengan Lumiana, dan segera setelah ini dia akan memutuskan hubungan dengan pacarnya.

Aku segera menelpon Samsir, dan menceritakan Desi yang tiba-tiba datang kepada kami sambil menangis. Aku menyuruhnya datang. Dia segera paham, dan berjanji akan sampai dalam dua puluh menit lagi. Tentu saja dia bohong, sebab 47 menit kemudian dia baru sampai di tempat kami. Dan betapa kagetnya kami saat tahu kalau Samsir tidak datang sendiri: dia datang bersama Lumiana. Suasana saat itu begitu canggung. Setyo yang dari tadi lebih banyak diam, akhirnya bertanya, sebenarnya apa yang terjadi. Lumiana yang terlihat begitu marah, akhirnya angkat bicara.

Pengakuan Lumiana

Aku dan Samsir sudah tiga tahun berpacaran, dan empat bulan ini kami berpacaran jarak jauh karena aku harus kerja di Jakarta. Hari ini aku memutuskan untuk main ke Jogja. Samsir tidak aku beritahu, sebab aku ingin memberi kejutan untuknya. Jam enam pagi aku pergi ke kosnya. Aku tahu dia ada di sana, sebab sepagi itu dia pasti malas keluar. Lima belas menit kemudian aku sudah berdiri di depan kamarnya. Aku lihat, ada sepatu berhak tinggi di situ. Aku mulai curiga. Pintu kamar aku buka, dan astaga, aku melihat Samsir dan seorang perempuan sedang berciuman! Perempuan itu di bawah, dan Samsir di atas. Jelas aku marah. Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku kacau. Aku bingung. Lama setelah itu, baru mereka sadar dengan kehadiranku. Aku menangis. Samsir dan perempuan itu diam saja di atas tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa, aku segera pergi dari tempat itu. Samsir juga sama sekali tidak mengejarku. Dua puluh menit yang lalu, dia mendatangiku di rumah. Dan mengajakku ke sini untuk menjelaskan semuanya. Dia berkata kalau semuanya tidak seperti yang aku lihat. Jadilah aku di sini, ingin mendengar penjelasan Samsir dan perempuan itu.

Pengakuan Desi

Sudah dua bulan ini Samsir mendekatiku. Kalian pasti tahu kalau selama ini aku tidak pernah berpacaran. Banyak yang pernah mendekatiku, tapi tidak ada yang betul-betul serius seperti Samsir. Dia selalu mengajakku makan hampir setiap hari, membantuku jika ada masalah, dan memberikan perhatian yang lebih dari sekadar teman. Kemarin malam, Samsir mengajakku keluar. Saat jam sembilan malam, aku meminta Samsir untuk mengantarku pulang karena jam sepuluh pintu utama kosku sudah dikunci dari dalam. Tapi kata Samsir, nanti saja. Aku menurutinya. Jam 9.45 aku memintanya untuk kembali mengantarku pulang. Tapi karena Samsir meyakinkanku bahwa aku bisa meminta teman kos untuk membuka pintu untukku, maka aku kembali menurutinya. Jam 1 dini hari Samsir baru mengatarku ke kos. Sesampainya di sana aku menelpon teman kos, tapi tidak ada yang menganggat panggilan teleponku. Mereka pasti sudah tidur. Samsir menawari aku untuk menginap di kosnya, dan berjanji bahwa dia tidak akan melakukan apa-apa terhadapku. Aku mempercayainya. Maka berangkatlah kami ke kosnya. Sesampainya di sana, aku gelisah. Semalaman aku tidak ingin tidur, berjaga-jaga jika Samsir melakukan sesuatu padaku. Hingga akhirnya, jam lima shubuh aku tidak kuat lagi. Maka tertidurlah aku. Saat terbangun, aku melihat Samsir menindih tubuhku sambil mencium bibirku. Pintu tiba-tiba terbuka. Seorang perempuan datang. Dia adalah Lumiana. Bukannya memarahi Samsir, perempuan itu malah memarahiku, menampar mukaku, dan mengataiku sebagai pelacur. Mereka berdua meninggalkanku sendiri. Sambil menangis, aku pergi dari sana, naik taksi, dan sampailah aku di sini menemui kalian.

Pengakuan Samsir

Malam kemarin Desi mengajakku keluar. Aku menurutinya. Kami keliling kota. Jam sembilan malam aku ingin mengantar Desi pulang, karena aku tahu jam sepuluh malam pintu utama kosnya dikunci dari dalam. Tapi dia memelas masih ingin keluar denganku. Aku turuti permintaannya. Jam 9.45 sekali lagi aku ingin mengantarnya pulang. Dia meyakinkanku bahwa dia bisa menghubungi teman kosnya untuk membuka pintu. Sekali lagi aku menuruti permintaannya. Jam satu dini hari, aku mengantarnya pulang. Sampai di sana, Desi menelepon teman kosnya. Tidak ada yang mengangkat, sebab selarut itu semua teman kosnya pasti sudah tidur. Aku mengatakan padanya, kita bisa pergi ke Luxury, warnet 24 jam, sambil menunggu waktu pagi. Tapi dia mengatakan kalau dia sangat kelelahan, dan ingin beristirahat di kosku saja. Awalnya aku menolak, karena dia terus mendesak, akhirnya aku iyakan juga. Aku tidak tidur semalaman, dan memilih untuk main game saja. Aku lihat Desi sudah tidur. Jam 5.30 pagi, dia bangun. Dia mengajakku bicara. Semakin lama, arah pembicaraan kami mengarah ke masalah hubungan laki-laki dan perempuan. Desi lalu menarik tanganku agar lebih dekat dengannya. Aku lihat bibirnya, entah mengapa begitu menggoda. Aku ingin menciummnya, tapi tidak berani. Sebab setahuku, Desi sama sekali belum pernah berpacaran. Ketika aku mendekatkan kepalaku, dia diam saja. Akhirnya aku beranikan diri untuk menciumnya, dan ternyata dia juga mau. Dia lalu baring di kasurku, dan menarik tubuhku ke situ. Saat itulah, Lumiana datang. Aku terkejut, mendatanginya, dan menjelaskan kalau semua ini karena Desi yang ingin tidur dikamarku. Lumiana jelas tidak memercayainya perkataanku. Dia lalu menampar wajahku, lalu segera pergi dari situ. Aku begitu marah, dan menyuruh Desi segera pergi dari kamarku. Saat Desi telah pergi itulah aku akhirnya tersadar, bahwa aku bukanlah lelaki pertama yang pernah bercumbu dengannya.

Sebuah Perayaan Ditanggal 24

Tiga tahun dan dua bulan yang lalu, saya menyatakan rasa ketertarikan saya pada seorang perempuan. Namanya Pacar Saya. Dia tiga tahun lebih muda dari saya. Dua tahun dan dua bulan yang lalu, saya membuat sebuah cerita pendek sebagai hadiah untuk satu tahun kebersamaan kami. Saat pasangan lain merayakannya dengan makan malam romantis di tempat mahal, saya justru mengajak dia makan di kaki lima bersama Ibu saya yang kebetulan ada di Malang. Itu pertama kalinya mereka bertemu. Dan tidak lupa, setelah itu, saya berikan kado spesial untuknya: sebuah cerpen tentang saya dan dia. Cerpen itu saya publikasikan pertama kali di facebook, dan barangkali tidak ada salahnya jika saya publikasikan lagi di sini.

Perempuan yang Berubah Menjadi Puisi

Cerpen: Abdul Hair

Suatu hari, tatkala Sang Penyair sedang masyuk duduk di atas pohon sambil menuliskan sajak-sajak cinta, Arini sudah berubah menjadi bait-bait puisi. Tidak main-main, dia menjadi puisi paling indah yang pernah ada. Amir Hamzah sekalipun akan memaki-maki puisi-puisi yang dia buat, merasa puisi-puisinya tidak lebih sebagai bualan anak kecil tatkala dibandingkan dengan puisi jelmaan Arini.

Sang Penyair turun perlahan dari pohon begitu bait terakhir sajak cintanya telah dia tuliskan. Dia ingin memberikan sajak cinta itu pada Arini, kekasihnya yang hampir satu tahun dia pacari. Dia melangkah pelan menuju rumah Arini, tidak terburu-buru seperti akan buang air ke toilet. Hembusan angin pelan-pelan meraba pipinya, dan gendang telinganya bergetar begitu burung-burung bersenandung riang. Sesampainya di rumah kekasihnya, Sang Penyair masuk begitu saja dan mendapati selembar surat yang ditujukan untuknya. Dia membuka surat itu, lalu membacanya:

Penyairku tercinta, begitu engkau membaca surat ini, aku telah berubah menjadi bait-bait puisi. Aku selalu merasa kecintaanmu pada puisi melebihi cintamu padaku. Engkau lebih banyak menghabiskan waktu menulis puisi ketimbang berduaan denganku. Aku ingin jadi yang paling engkau cintai, melebihi kecintaanmu pada sajak-sajak yang terkadang tidak aku pahami apa maksudnya.

Hingga akhirnya aku sadar, hal tersebut tidak mungkin terjadi. Engkau sudah lebih dulu mengenal puisi ketimbang aku. Lama aku merenungkan itu, sebelum aku mendapati ide agar menjadi yang paling engkau cintai: aku harus berubah menjadi bait-bait puisi, puisi paling indah yang pernah ada. Hanya dengan cara ini engkau bisa mencintaiku sangat dalam, melebihi cintamu pada puisi-puisi yang lain.

Sang Penyair terperanjat setelah membaca surat itu. Memorinya seketika berkelebat ke masa silam, saat-saat dia merasa begitu dongkol pada kekasihnya. Pernah saat sedang berduaan, Arini tiba-tiba gusar pada Sang Penyair. Sang Penyair tidak mengerti sudah melakukan kesalahan apa, pokoknya Arini gusar begitu saja. Dia mengingat-ingat sudah berucap apa barusan, tapi tidak menemukan letak kesalahan dari ucapannya. Telah berkali-kali dia meminta maaf, namun Arini tidak kunjung memberikan maaf padanya. Keseokan harinya, Arini secara mengejutkan sudah manja seperti sedia kala, seperti tidak pernah terjadi apa-apa di hari sebelumnya.

Sang Penyair sudah melupakan semua memori indah bersama kekasihnya. Dia merasa tidak ada kesan sama sekali dengan yang indah-indah itu. Sebab yang diingatnya cuma kejadian-kejadian yang membuatnya begitu dongkol pada Arini. Celakanya, kejadian-kejadian itu yang justru berkesan dan membikin dia begitu merindukan Arini.

Sang Penyair memutuskan untuk mencari Arini dengan cara mendatangi kuburan Chairil Anwar. Dia merasa kalau penyair legendaris itu tahu semua hal tentang puisi.

Sesampainya di tempat yang dia tuju, Sang Penyair lalu mengucapkan jampi-jampi, yang sebenarnya lebih terdengar seperti orang yang berkumur-kumur sehabis menyikat gigi. Tidak lama setelah jampi-jampi selesai diucapkan, tanah di atas kuburan Chairil Anwar retak-retak, sebelum akhirnya sebuah tangan menampakkan wujudnya setelah menerobos tanah dari bawah. Setelah itu, tangan yang lain menampakkan wujudnya, diikuti dengan kepala, badan, lutut, telapak kaki, hingga nampak sempurna sebagai jasad utuh: jasad Chairil Anwar. Dia lalu melangkah mendekat ke Sang Penyair, yang ketika itu sedikit gemetar kakinya karena takut. Sang Penyair tiba-tiba menyesal, kenapa harus membangunkan penyair legendaris itu. Chairil Anwar pasti akan segera membunuhnya, karena Sang Penyair sudah menganggu tidur panjangnya. Dia semakin mendekat, dengan kepala yang menjulur ke depan. Pikir Sang Penyair, Chairil Anwar pasti akan menggigit lehernya, lalu menghisap habis darahnya. Dia ingin segera kabur, tapi kakinya tak bisa digerakkan. Begitu kepala Chairil Anwar semakin mendekat ke lehernya, Sang Penyair cuma bisa menutup mata sebelum mendengar sebuah pertanyaan, “Kau punya rokok?”

Sang Penyair tersentak sebelum membuka matanya. Cepat-cepat dia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku, mengambil satu isinya, memberikannya pada Chairil Anwar, lalu menyulut api dengan pemantik. Chairil Anwar memiringkan wajahnya 45 derajat ke kanan sambil menghisap rokok dalam-dalam: dia terlihat sangat mirip dengan potret dirinya yang legendaris itu.

“Ada perlu apa sampai kau harus membangunkanku?” tanya Chairil Anwar.

“A-anu, anu, aku mau tanya sesuatu padamu,” jawab Sang Penyair.

“Apa itu?”

“Menurutmu, apa puisi paling indah di dunia?”

Chairil Anwar terdiam sesaat, sebelum menjawab, “Puisi yang mampu membuat pembacanya hidup seribu tahun lagi.”

“Puisi yang bagaimana itu?” Sang Penyair mengerutkan keningnya.

“Aku juga tidak tahu pasti,” jawab Chairil Anwar enteng, sambil menghisap rokoknya.

“Aku sedang kebingungan. Pacarku baru saja berubah menjadi puisi yang paling indah di dunia. Tapi aku tidak tahu, puisi paling indah seperti apa.”

“Hmm…. Masalahmu rumit juga. Aku sarankan kau bertanya pada penyair yang masih hidup saja, Sapardi Djoko Damono, mungkin dia tahu jawaban yang kau inginkan.”

“Baiklah. Terima kasih untuk sarannya,” kata Sang Penyair, “maaf sudah menganggu tidurmu.”

“Tidak masalah,” jawab Chairil Anwar, “ngomong-ngomong boleh aku minta rokokmu satu lagi?”

Sang Penyair langsung memberikan sisa rokok beserta pemantik apinya pada Chairil Anwar. Setelah itu, Chairil Anwar kembali masuk ke dalam kuburannya.

Sang Penyair mendatangi rumah Sapardi Djoko Damono dengan berjalan kaki. Setelah lima jam, dia akhirnya sampai juga di rumah yang dia tuju. Sang Penyair mengetuk pintu, sebelum seorang lelaki tua keriput membukanya. Dia mempersilahkan Sang Penyair masuk, kemudian kembali menutup pintu rumahnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sapardi.

“Aku ke sini atas saran Chairil Anwar. Katanya mungkin kau bisa memecahkan masalahku,” jawab Sang Penyair.

“Apa masalahmu?”

“Pacarku tadi berubah jadi puisi. Dia perempuan yang sangat cantik, sebab itu dia berubah jadi puisi yang paling indah. Aku ingin menemukannya, tapi aku tidak tahu puisi paling indah itu seperti apa.”

Ada jeda merangkak ke ruang itu, sebelum pecah oleh jawaban Sapardi, “Puisi paling indah itu seperti isyarat yang tak sempat diucapkan awan kepada hujan, yang menjadikannya tiada.”

“Seperti apa rupa puisi itu?”

“Entahlah,” jawab Sapardi. “Kenapa tidak kau tanyakan saja pada penyair yang lebih muda. Pengetahuan mereka lebih banyak ketimbang saya yang baru merasakan internet setelah renta begini.”

“Ada rekomendasi penyair muda yang bisa aku mintai jawaban?” tanya Sang Penyair.

“Ada, namanya Abdul Hair,” jawab Sapardi.

Sang Penyair kaget bukan main. Dia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dia heran, kenapa Sapardi tidak menyuruhnya bertanya pada Joko Pinurbo atau Nirwan Dewanto atau Kris Budiman, dan malah menyuruhnya menemui orang yang baru pertama kali dia dengar namanya.

Setelah mengucapkan terima kasih dan pamit pulang, Sang Penyair segera pergi ke warnet terdekat. Dia lalu membuka google, dan memasukkan nama Abdul Hair di situ. Dari informasi yang dia temukan, ternyata Abdul Hair belum pernah menghasilkan puisi apapun. Heran juga dia, Sapardi sampai menyebut penyair pada orang yang belum pernah membuat puisi.

Dari google Sang Penyair tahu, Abdul Hair selalu minum kopi di tempat itu-itu saja. Dia segera beranjak menuju warung kopi langganan Abdul Hair. Sesampainya di situ, dia mendapati orang yang dicarinya sedang menulis menggunakan laptop.

“Maaf mengganggu. Betul kau yang namanya Abdul Hair?” tanya Sang Penyair.

“Betul, kau tidak salah,” jawab Abdul Hair.

“Aku ke sini atas saran Sapardi Djoko Damono.”

“Oh ya? Suatu kebanggaan kau ke sini atas saran penyair favoritku,” kata Abdul Hair.

“Aku punya masalah.”

“Apa masalahmu?”

“Pacarku tadi berubah menjadi puisi yang paling indah. Aku ingin menemukan puisi itu. Sayangnya aku tidak tahu puisi yang paling indah itu seperti apa.”

“Kau salah orang, aku tidak mengerti apa-apa soal puisi,” Abdul Hair berkata sambil tersenyum.

“Ayolah,” Sang Penyair memelas, “aku yakin kau bisa membantuku.”

“Hmm…. Aku tadi sedang menulis sebuah cerpen. Aku tidak tahu cerpen itu bagus atau tidak, tapi yang jelas bisa membuat orang tersenyum.”

“Tersenyum?” tanya Sang Penyair.

“Ya, tersenyum. Tadi ada seorang perempuan ke sini. Kau tahu, dia perempuan paling cantik yang pernah aku lihat. Tanpa buang-buang kesempatan, aku lalu memberikannya cerpen yang aku tulis. Siapa tahu saja dia jatuh cinta padaku begitu membaca cerpen yang aku buat.”

“Lalu?”

“Dia tersenyum setelah selesai membaca cerpen itu. Langsung saja aku menyatakan cinta. Eh, langsung dia terima,” kata Abdul Hair bersemangat.

“Siapa nama perempuan itu?” Sang Penyair bertanya dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Arini. Namanya Arini. Lebih lengkapnya Happy Yulfarida Arini,” jawab Abdul Hair.

“Apa?” Sang Penyair lompat karena terkejut. Setelah bisa mengendalikan emosinya, dia kembali berkata pada orang di depannya, “Bisa aku lihat cerpen yang kau buat tadi?”

Abdul Hair lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya, kemudian memberikannya pada Sang Penyair. Isi cerpen itu persis sama dengan apa yang kau baca saat ini.

Malang, 23 Juni 2013, 19:14 Wib
Untuk Happy Yulfarida Arini
sebagai kado untuk satu tahun kebersamaan

Trilogi Mimpi

Sudah tiga hari saya menulis cerita tentang mimpi di blog ini. Masing-masing berjudul Kisah Dua Pemimpi, Mimpi Basah, dan Mimpi-mimpi Setyo. Plot dasar dari ketiga cerita itu saya ambil dari tiga buku yang berbeda. Cerita pertama, Kisah Dua Pemimpi, plot dasarnya saya ambil dari novel Dictionary of the Khazars karya Milorad Pavic. Kisah Dua Pemimpi, pada intinya bercerita tentang Guru Isa dan Sang Penulis yang saling memimpikan. Mimpi yang dialami Guru Isa tidak lain adalah kenyataan yang dialami saat itu juga oleh Sang Penulis, dan mimpi yang dialami Sang Penulis adalah kenyataan yang dialami saat itu juga oleh Guru Isa. Ketika Guru Isa tertidur, Sang Penulis terbangun. Ketika Sang Penulis terbangun, Guru Isa Tertidur. Dalam novel Dictionary of the Khazars, cerita tentang dua orang yang saling memimpikan adalah bagian yang paling saya sukai. Saya pernah membaca cerita seperti itu lagi setelahnya. Saya lupa membacanya di mana. Kalau bukan di salah satu cerpen Jorge Luis Borges, kemungkinan dalam buku Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam).

Cerita kedua, Mimpi Basah, plot dasarnya saya ambil dari novel The Wind-Up Bird Chronicle karya novelis Jepang kenamaan, Haruki Murakami. Dalam salah satu bagiannya, bercerita tentang seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelacur di dalam mimpi. Bayangkan, suatu malam kamu mimpi basah, dan keesokan paginya ada seorang perempuan yang mengetuk pintu rumahmu, dan kamu begitu terkejut karena ternyata dia adalah perempuan yang kamu temui di dalam mimpi. Dia meminta sejumlah bayaran, sebab dia telah melayanimu di dalam mimpi. Mimpi basah adalah hal wajar yang dialami oleh semua laki-laki dewasa. Tapi Haruki Murakami berhasil menuliskan fenomena sehari-hari, yang biasa-biasa saja itu, menjadi sesuatu yang luar biasa.

Cerita ketiga, Mimpi-mimpi Prasetyo, adalah cerita yang plot dasarnya saya ambil dari buku Alf Laylah wa Laylah terjemahan Sir Richard Burton. Salah satu bagian dalam buku itu, The Ruined Man who Became Rich Again through a Dream, bercerita tentang orang Baghdad yang bermimpi akan mendapatkan keberuntungan di Kairo. Dia percaya dengan mimpi itu, dan memutuskan untuk berangkat ke sana. Di Kairo dia tidak mendapatkan keberuntungan apapun, bahkan terkena sial. Hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang penduduk Kairo yang bermimpi akan mendapatkan keberuntungan jika datang ke Baghdad. Namun orang Kairo itu tidak memercayai mimpinya, sehingga dia tidak mendatangi Baghdad. Orang Baghdad itu memang tidak mendapatkan keberuntungannya di Kairo, tapi lewat cerita orang Kairo yang dia temui itu, dia lalu balik ke Baghdad. Orang Kairo itu bercerita bahwa dalam mimpinya dia akan mendapatkan harta karun yang terkubur di pekarangan suatu rumah, dan ciri rumah itu persis sama dengan rumah yang dimiliki si orang Baghdad. Orang Baghdad itu segera pulang ke kampung halamannya, menggali tanah di pekarangan rumahnya, dan mendapatkan hartu karun di situ. Cerita itu lalu ditiru oleh banyak penulis lain. Jorge Luis Borges melakukannya dengan membuat cerita berjudul The Story of the Two Dreamers. Paulo Coelho, penulis terkenal asal Brazil, juga meniru plot cerita itu dalam novelnya yang paling masyhur, The Alchemist. Eka Kurniawan juga meniru cerita itu, dengan sedikit perubahan. Jika dalam Alf Laylah wa Laylah bercerita tentang penemuan harta karun, maka Eka memodifikasinya menjadi cerita tentang dua orang pemimpi dalam menemukan kekasih hati.

Penjelasan saya terhadap tiga cerita yang saya buat itu barangkali tidak penting. Cuma buat jaga-jaga saja, jika ada orang yang kebetulan membacanya, lalu menuduh saya sebagai seorang plagiator. Dalam dunia menulis, meniru karya orang lain adalah tahap pertama dalam kreatifitas. Lagi pula, karena sudah meniru suatu cerita, apakah Jorge Luis Borges lantas masuk dalam kategori plagiator? Tentu saja tidak.

Mimpi-mimpi Setyo

Harus aku beritahukan sejak awal kalau karakter dalam cerita ini adalah orang sungguhan. Namanya Setyo, mahasiswa kampus UGM Yogyakarta. Dia baru saja patah hati, sebab perempuan yang disukainya sudah menyatakan penolakannya sebanyak tujuh belas kali di hadapannya, ditambah dengan pernyataan perempuan itu untuk tidak lagi mau bertemu dengannya. Di malam sabtu minggu ketiga bulan Juli, Setyo bermimpi sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan berjilbab. Dia perempuan yang cantik, dan sepanjang mereka berjalan berdua, perempuan itu selalu tertawa kegirangan. Setyo terbangun, dan logikanya segera berkata bahwa mimpi itu hanya perwujudan dari hasratnya untuk memiliki seorang kekasih. Tapi keesokan harinya mimpi itu terulang lagi, dengan adegan yang persis sama, hanya saja kali ini Setyo memanggil perempuan itu dengan nama Lia. Ketika terbangun, Setyo tetap berpikir bahwa mimpi selama dua malam berturut-turut itu tidak memiliki arti apapun. Dimalam berikutnya, dia bermimpi yang sama lagi. Kali ini dia tahu kalau mereka sedang berjalan-jalan di AEON Mall Tangerang, bergandengan tangan masuk dari satu unit ke unit yang lain, mencoba sepatu Hush Puppies terbaru, dan diakhiri dengan makan Sushi bersama ayah Lia, seorang bapak-bapak berkumis usia 50-an tahun. Saat terbangun, Setyo teringat akan kisah Ibrahim yang mendapatkan mimpi sebanyak tiga kali untuk menyembelih Ismail. Sebuah keyakinan kuat tiba-tiba menyeruak ke dalam dirinya. Dia sangat yakin bahwa mimpi itu adalah bisikan dari Tuhan, dan dia juga yakin bahwa Lia adalah perempuan yang akan dinikahinya nanti.

Setyo memutuskan untuk mencari Lia di Tangerang. Dari Jogja dia naik kereta ekonomi dari stasiun Lempuyangan. Dari jendela kereta, dia melihat hamparan padi yang masih menghijau, dengan orang-orangan sawah yang selalu bergerak ke kiri dan ke kanan. Setyo sering melihat pemandangan seperti ini setiap kali dia naik kereta, tapi entah mengapa pemandangan kali ini terlihat jauh lebih puitis dari biasanya. Dua belas jam sudah terlewat, Setyo pun turun di stasiun Senen. Dari situ dia naik bis ke Tangerang. Tempat tujuannya, di mana lagi kalau bukan AEON Mall. Dia mencari Lia di sana, di tempat mereka mencoba sepatu Hush Puppies, di tempat mereka makan Sushi bersama. Di hari pertama kedatangannya, dia tidak menemukan ada jejak Lia di sana. Esok harinya dia ke sana lagi, dan kembali menemui kegagalan yang sama seperti kemarin. Perlahan Setyo pesimis. Mimpi yang dia dapatkan bisa jadi hanya mimpi biasa, tidak memiliki makna khusus seperti yang sebelumnya dia yakini. Dia berjanji, jika dihari ketiga Lia tidak juga nampak, dia akan langsung pulang ke Jogja saja. Satu jam, tiga jam, lima jam, delapan jam dia menunggu di AEON Mall, dan wajah Lia tidak juga nampak. Hampir putus asa, saat hendak meninggalkan tempat itu, Setyo melihat wajah lelaki berkumis yang juga selalu dia jumpai dalam mimpi-mimpinya. Setyo berlari menghampirinya, memperkenalkan namanya, sebelum bertanya, “Bapak orang tua dari Lia kan? Saya sudah tiga hari mencari Lia di sini, tapi tidak juga ketemu.” Setelah tertawa dengan tawa khas bapak-bapak usia 50-an, laki-laki berkumis itu berkata, “Dasar anak muda, mudah saja percaya dengan mimpi.” Dia berhenti bicara sejenak, sedang Setyo terhenyak sebab dia tidak bercerita apa-apa soal mimpinya. Dia merasa kalau laki-laki itu sedang menyindirnya. Laki-laki itu melanjutkan, “Tiga hari yang lalu Lia ke Jogja. Katanya, dia mendapatkan mimpi yang sama setiap malam. Dalam mimpinya itu, dia sedang bergandengan tangan dengan seorang laki-laki di Ambarukmo Plaza, beli celana Levi’s di sana, dan diakhiri dengan makan pisang bersama di depan Carrefour. Lia yakin, kalau pria yang dia temui dalam mimpi itu adalah orang yang akan menemaninya di kursi pelaminan kelak.”

Saat itulah, tak tertahankan, Setyo ingin segera pulang ke Jogja. Dengan ekspresi penuh kemenangan, Setyo membakar batang terakhir rokok Dunhill di saku kiri celananya. Inilah batang rokok paling nikmat yang pernah dia hisap seumur hidup.

Mimpi Basah

Beberapa saat setelah rebahan di kamar hotelnya, Samsir menelpon Higal, teman baiknya yang sekarang kerja di Jogja, untuk mencarikannya seorang pelacur. “Yang penting servisnya oke,” Samsir berpesan. Higal paham betul seperti apa selera Samsir. Dengan keterus-terangan seorang teman, Higal berkata, “Ini pelacur oke punya. Lebih mahal dari kemarin-kemarin memang. Tapi dijamin puas. 1,5 juta sekali main. Gimana?” Tanpa pikir panjang Samsir mengiyakan. Setiap kali dia berkunjung ke Jogja, dan memesan pelacur ke Higal, dia tidak pernah dikecewakan. “Baiklah, tunggu saja di kamarmu. Sebentar lagi dia datang.” Percakapan lewat telepon berakhir.

Samsir pergi menyikat gigi, membersihkan penisnya dengan sabun, lalu mengganti celana dalamnya. Dia lalu menunggu di dalam kamarnya, rebahan di atas ranjang sambil mengganti channel TV. Lima menit, sepuluh menit, 45 menit, pelacur yang dijanjikan tidak juga datang. Tiba-tiba Samsir ngantuk berat. Saat hendak tertidur, seseorang dari luar kamarnya mengetuk pintu. Tanpa beranjak dari ranjangnya, Samsir mempersilahkan orang itu masuk. Dia adalah seorang perempuan berkulit sawo matang, mengenakan celana jeans biru dongker, dan kaos putih tanpa lengan. Perempuan itu memperkenalkan diri, namanya Tatyana, dan dia datang atas permintaan Higal. Dia sangat cantik, pikir Samsir. Seumur hidup, Samsir belum pernah bertemu perempuan secantik ini.

Tanpa diperintah, Tatyana segera menjilati dada Samsir setelah melepas baju kaosnya terlebih dahulu. Jilatannya mengarah ke bawah. Begitu sampai di pusar, Tatyana memainkan lidahnya di situ. Samsir menggelinjang pelan. Tatyana melirik sebentar ke wajah Samsir, tertawa pelan, sebelum kembali mengarahkan jilatannya ke bawah. Celana pendek yang Samsir kenakan dilorotkan dengan lembut oleh Tatyana, hingga Samsir kini tinggal mengenakan celana dalam saja. Tatyana lalu menggigit pelan penis Samsir yang telah mengeras dari luar celana dalamnya. Tidak berapa lama, Tatyana lalu melepaskan celana dalam Samsir, hingga penisnya yang hitam terlihat jelas. Diusapnya pelan penis itu, digenggam dengan lembut, dan dia naik turunkan genggamannya. Samsir mengerang. Karena tidak tahan, dia lalu menurunkan resleting serta membuka kancing celana jeans Tatyana, dan mendapati perempuan itu tidak mengenakan celana dalam. Dia melihat bulu-bulu tipis di balik celana itu. Begitu menggairahkan. Samsir mengarahkan tangannya ke sana, ke vagina Tatyana, yang saat itu telah basah. Dia mainkan klitorisnya. Tatyana mengerang sebentar, lalu menyingkirkan tangan Samsir dari pangkal pahanya. Dia menyuruh Samsir diam saja, dan laki-laki itu menurutinya. Bibir merah Tatyana kemudian menyentuh ujung penis Samsir, lidahnya dia mainkan sebentar di situ. Dia lalu membuka mulutnya, dan memasukkan penis Samsir ke sana. Kepalanya dia naik turunkan. Samsir menggelinjang hebat, matanya dia pejamkan. Tidak sampai lima menit, Samsir orgasme. Sebagian spermanya di telan Tatyana, sebagian lagi muncrat di wajah cantiknya. Samsir yang sudah tidur dengan 37 perempuan, tidak pernah merasakan kenikmatan sehebat ini.

Samsir terbangun. Dia pegang penisnya dari luar celana. Ada cairan di situ. Ternyata dia cuma mimpi basah. Dia beranjak dari kasurnya, membersihkan pangkal pahanya, lalu mengganti celana. Dari luar terdengar ketukan pintu. Samsir beranjak ke sana. Di balik pintu, seorang perempuan cantik tersenyum. Samsir terkejut, sebab dia adalah perempuan yang Samsir lihat di dalam mimpinya barusan. Perempuan itu datang untuk meminta bayaran. Samsir tidak mengerti dengan semua ini. Perempuan itu paham dengan kebingungan Samsir, kemudian menjelaskan, “Aku lah Tatyana, pelacur yang kamu pesan. Tapi aku bukan pelacur sembarangan. Sebab aku adalah pelacur di dalam mimpi. Lewat mimpilah aku tadi mendatangimu. Lewat mimpi pula aku memuaskanmu.”

Kisah Dua Pemimpi

Guru Isa, di hari kemerdekaan Indonesia yang ke 70, mendapat penghargaan sebagai guru teladan di desanya. Penghargaan itu diberikan langsung oleh Pak Bupati setelah upacara digelar. Di desanya, Guru Isa dikenal sebagai orang yang santun. Murid-muridnya begitu hormat padanya. Guru Isa selalu datang paling pagi ke sekolah, dan pulang ke rumah ketika magrib akan menjelang. Jam satu siang seluruh kegiatan sekolah telah berakhir. Ketika semua guru sudah pulang, dia tetap duduk di meja kerjanya. Katanya kepada guru-guru yang lain, “Saya masih harus memeriksa pekerjaan murid-murid saya.” Cerita tentang keteladanannya itu, pergi sekolah paling pagi dan pulang paling akhir, lalu tersebar ke seluruh penjuru desa. Pak Bupati mendengarnya, dan diberikanlah penghargaan untuk Guru Isa. Setiap malam Guru Isa selalu tidur beberapa saat setelah adzan Isya berkumandang, dan setiap malam pula dia selalu memimpikan orang yang sama: seorang penulis yang setiap malam selalu begadang untuk menyelesaikan naskah-naskahnya. Malam itu Guru Isa memimpikan Sang Penulis sedang menuliskan kisah hidupnya sebagai seorang guru yang mendapat penghargaan dari Pak Bupati. Ketika shubuh datang, kisah itu sudah selesai dituliskan, dan Sang Penulis kembali tidur ketika jam dindingnya menunjuk ke angka 5. Tepat saat itulah Guru Isa terbangun.

Ratusan ribu kilometer dari tempat Guru Isa tinggal, hiduplah seorang penulis. Karya-karyanya tidak pernah bestseller, tapi selalu mendapat tanggapan bagus dari kritikus. Dia selalu menulis saat malam hari, dimulai dari jam 1 dini hari sampai jam 5 shubuh. Setelah itu dia akan tertidur, dan baru bangun kembali saat adzan Isya selesai berkumandang. Dia biasanya akan pergi makan beberapa saat setelah bangun. Setelah kenyang, dia pergi membaca buku. Dua jam setelah itu dia akan menonton TV. Jika tidak ada acara yang bagus, dia menyalakan DVD player, dan menonton film-film klasik dari David Lynch atau Stanley Kubrick. Baru setelah itu dia mulai menulis. Ketika dia tidur, dia selalu memimpikan orang yang sama, memimpikan seorang guru yang hidupnya tidak pernah tenang. Setiap hari guru itu selalu diomeli istrinya. Karena capek mendengar omelan Sang Istri, guru itu tidak pernah betah di rumah. Setiap hari Sang Guru pergi ke sekolah paling pagi, dan selalu pulang paling akhir ketika magrib akan menjelang. Guru itu juga selalu tidur lebih awal, beberapa saat setelah adzan Isya berkumandang, agar dia tidak perlu berlama-lama mendengar omelan istrinya. Begitulah siklus hidupnya setiap hari, sampai suatu ketika Sang Guru mendapat penghargaan dari Bupati sebagai guru teladan. Sang Penulis yang setiap hari memimpikan orang yang sama, malam itu memutuskan untuk menulis cerpen yang ceritanya persis sama dengan cerita dalam mimpi yang dia alami. Setelah cerpen itu selesai ditulis, dia lalu mengirimkannya ke salah satu koran nasional, sebelum akhirnya tertidur tepat jam 5 shubuh.

Buku-buku yang Tidak Pernah Ada

Saya jarang mengunjungi perpustakaan. Jika ingin membaca suatu buku saya lebih memilih untuk membelinya. Akhir-akhir ini saya lebih banyak mengunduh buku secara gratis, semuanya berbahasa Inggris, beberapa di antaranya novel, tapi lebih banyak buku tentang kajian budaya. Diantara kunjungan saya yang sedikit itu, saya pernah berkunjung ke perpustakaan Babel. Perpustakaan yang lebih mirip labirin ini memiliki banyak ruang yang semuanya berbentuk segi enam. Perpustakaan Babel dinobatkan sebagai perpustakaan terbesar di dunia, selain karena bangunannya yang sangat besar, perpustakaan ini juga memiliki koleksi seluruh buku yang pernah ditulis umat manusia. Yang unik, perpustakaan Babel hanya memiliki satu salinan untuk setiap judul buku, berbeda dengan perpustakaan lain yang memiliki banyak salinan untuk buku dengan judul yang sama.

Salah satu orang yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel adalah Umberto Eco. Dia sangat terkesima dengan perpustakaan ini. Konon katanya, dia mendapat ide untuk menulis novel The Name of the Rose setelah berkunjung ke perpustakaan ini. Dalam novel yang dia tulis itu, Eco membuat sebuah cerita tentang perpustakaan yang bentuk bangunannya meniru bentuk bangunan perpustakaan Babel. Perpustakaan di novel Eco itu dijaga oleh seorang pustakawan buta bernama Jorge of Burgos. Bagi yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel akan segera mengerti bahwa Jorge of Burgos diambil dari nama pendiri perpustakaan Babel yang juga buta: Jorge Luis Borges.

Saat berkunjung ke perpustakaan Babel, saya pun terkesima layaknya Umberto Eco. Namun di antara semua perpustakaan yang pernah saya datangi, perpustakaan Lucien lah yang paling menakjubkan. Perpustakaan ini jauh lebih kecil dari perpustakaan Babel. Saat pertama kali masuk, tidak ada yang istimewa dengan perpustakaan ini. Namun kata Lucien, penjaga perpustakaan yang namanya dijadikan nama untuk perpustakaan yang dia jaga, koleksi buku di perpustakaan ini tidak mungkin ditemukan di tempat lain. Berbulan-bulan kemudian saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya melakukan pengecekan terhadap apa yang dikatakan oleh Lucien, dan betapa terkejutnya saya saat mengetahui tidak satupun koleksi perpustakaan Lucien yang dimiliki oleh perpustakaan Babel.

Karena minat saya yang teramat besar terhadap karya fiksi, setiap kali berkunjung ke perpustakaan saya akan langsung mendatangi rak fiksi. Demikian juga dengan kunjungan saya ke perpustakaan Lucien. Di rak fiksi saya menemukan nama-nama yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Ada Mir Bahadur Ali (seorang penulis dari India), ada Pierre Menard (seorang pengarang dari Prancis), Jaromir Hladik, dan Herbert Quain. Saya lalu mengambil sebuah buku karya Mir Bahadur Ali berjudul The Approach to Al-Mu’tasim, dan sebuah buku karangan Herbert Quain yang berjudul The Secret Mirror. Saya lalu membaca kedua buku tersebut di sudut perpustakaan.

The Approach to Al-Mu’tasim adalah novel berat. Membacanya harus pelan-pelan. Bercerita tentang seorang mahasiswa hukum, yang tidak pernah diberitahukan namanya, pada suatu ketika membunuh seorang gembel beragama hindu di atas menara. Setelah membunuh orang itu, dan sang mahasiswa melakukan pelarian, dia mendapati suatu kenyataan bahwa gembel yang dibunuhnya itu hanya perwujudan mimpi dari orang lain, atau mimpi dari orang lain yang bermimpi tentang orang lain, atau seseorang yang memimpikan orang lain sedang bermimpi tentang orang lain yang bermimpi tentang orang lain. Begitu seterusnya, sampai pada seorang pemimpi yang pertama. Mahasiswa itu yakin akan adanya pemimpi pertama itu, seseorang yang bernama Al-Mu’tasim. Novel ini kemudian bercerita tentang petualangan mahasiswa tersebut dalam mencari Al-Mu’tasim. Sang pengarang, Mir Bahadur Ali, nampaknya ingin mengecoh pembacanya. Sebab Al-Mu’tasim, pemimpi pertama yang dicari-cari oleh mahasiswa tersebut, sebenarnya adalah orang hindu yang dibunuhnya di atas menara.

Herbert Quain sendiri menulis buku dengan semangat bermain-main antara serius dan tidak serius. Cerita-cerita yang dia tulis terkesan serius tapi sebenarnya tidak, terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius. The Secret Mirror misalnya, adalah sebuah naskah drama dua babak, yang babak pertamanya bercerita tentang seorang penulis naskah drama bernama Wilfred Quarles yang tergila-gila pada seorang perempuan bernama Ulrica Thrale. Di babak kedua, orang yang memerankan Wilfred Quarles muncul kembali, tapi dengan nama dan peran yang berbeda. Kali ini dia berperan sebagai John William Quigley, seorang pedagang keliling asal Liverpool. Quigley ini juga seorang penulis naskah drama. Cerita tentang Wilfred Quarles yang tergila-gila dengan Ulrica Thrale pada babak pertama tadi tidak lain merupakan sebuah sebuah cerita dalam naskah drama yang ditulis oleh John William Quigley. Jadi, adegan pada babak pertama sebenarnya merupakan sebuah cerita dari naskah drama yang dituliskan oleh seorang karakter yang muncul di babak kedua.

Setelah saya mengembalikan kedua buku itu di tempat semula, saya mendatangi Lucien, dan menanyainya beberapa hal tentang perpustakaan yang dia jaga tersebut. Saya memang baru membaca dua buku di perpustakaan ini, tapi karena dua buku yang saya baca itu adalah buku-buku yang mengagumkan, saya berkesimpulan bahwa semua buku di perpustakaan Lucien ini pastilah mengagumkan. Sayang sekali jika buku-buku yang mengagumkan ini hanya bisa dibaca di tempat ini saja. Saat saya ingin meminjam dua buku tersebut untuk di fotokopi, Lucien bersikeras bahwa buku-buku koleksi perpustakaannya tidak boleh dibawa keluar. Saya lalu mengatakan, ingin menyalinnya kembali di perpustakaan ini saja, dengan cara tulis tangan. Lucien lalu mengatakan, jika hal itu saya lakukan maka buku yang ingin saya tulis ulang itu akan terbakar dengan sendirinya. Lucien melanjutkan, bahwa buku-buku yang ada di perpustakaan ini sesungguhnya adalah buku-buku yang tidak pernah ada di dunia nyata, buku-buku yang tidak pernah ditulis oleh seorang pengarang, atau tidak pernah selesai dituliskan, kecuali di dalam mimpi. Jadi buku-buku di perpustakaan ini bisa ada hanya jika seorang pengarang berkeinginan menulis suatu buku, tapi tidak pernah menuliskan atau menyelesaikan buku yang dia inginkan itu. Karena hanya ada dalam impian, buku-buku tersebut tidak boleh menjadi kenyataan, sebab ketika sudah menjadi kenyataan maka tidak ada lagi buku yang diimpikan. Itulah mengapa buku di perpustakaan Lucien akan terbakar begitu buku tersebut telah terwujud di dunia nyata. Saya teringat akan kerangka novel yang ingin saya tulis, judulnya Metafiksi, dan sudah hampir dua tahun kerangka novel itu belum juga rampung. Untuk membuktikan perkataannya, saya lalu menuju ke rak fiksi, dan mencari sebuah buku berjudul Metafiksi yang ditulis oleh seseorang bernama Abdul Hair. Dan ternyata buku itu ada, dengan sampul dan isi yang sama persis seperti yang saya inginkan.

Berbulan-bulan kemudian, saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya mendapati kenyataan bahwa pendiri perpustakaan tersebut, Jorge Luis Borges, juga seorang penulis. Saya menuju rak fiksi, melihat beberapa buku yang pada sampulnya tertulis nama Borges, lalu mengambil salah satu buku tersebut secara acak. Buku yang saya ambil berjudul Ficciones, berisi beberapa cerita pendek, esai, dan resensi buku. Dua diantara yang dia tulis, ternyata resensi terhadap karya Mir Bahadur Ali dan Herbert Quain, dua orang penulis yang karyanya pernah saya baca saat berada di perpustakaan Lucien. Borges, menuliskan resensi terhadap karya kedua penulis itu dengan begitu cemerlang. Dia menuliskan tentang karakter-karakternya, ringkasan ceritanya, membuat sebuah skema dari cerita yang ditulis Herbert Quain, serta membuat sebuah telaah kalau cerita The Approach to Al-Mu’tasim karya Mir Bahadur Ali sebenarnya paralel dengan cerita dalam buku puisi karya seorang sufi persia, Farid al-din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim Attar, yang berjudul Mantiq al-Tair (jika diterjemahkan menjadi Musyawarah Burung).

Banyak kritikus sastra yang mengatakan bahwa Jorge Luis Borges menuliskan sebuah resensi fiktif dalam buku Ficciones, sebab buku-buku yang yang dia ulas tidak pernah ada di dunia. Tentu saja para kritikus itu salah, sebab Borges pernah membaca buku-buku yang dia ulas itu. Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan Lucien. Dengan cara membuat resensi, alih-alih menyalinnya kembali, Borges mampu mengambil intisari dari buku-buku yang ada di perpustakaan Lucien tanpa membuat buku-buku tersebut terbakar. Dengan cara itulah Borges memperkenalkan koleksi perpustakaan Lucien kepada dunia, sesuatu yang ingin saya lakukan tapi gagal karena ketidaktelitian saya kalau aturan yang ditetapkan oleh Lucien memiliki beberapa peluang untuk dilanggar.