Menjadi Pustakawan

Beberapa bulan lalu saya sempat berpikiran, jika sekiranya saya berkesempatan untuk kuliah di luar negeri, saya akan kerja paruh waktu di sebuah toko buku. Bukan toko buku milik korporasi besar seperti Gramedia atau Togamas, tapi toko buku kecil saja. Seperti Shakespeare and Company di Paris, atau yang lebh kecil dari itu. Pokoknya bukan milik korporasi dengan toko yang ada di mana-mana. Saya pikir jika saya berkesempatan studi di Paris, saya pasti akan melamar kerja paruh waktu di sana. Rasanya pasti menyenangkan. Saya membayangkan pengunjung Shakespeare and Company adalah the next F. Scott Fitzgerald, Thomas Mann, José Saramago, Le Clézio, dan  James Joyce. Sembari melayani mereka, saya bisa ngobrol-ngobrol dengan calon-calon penulis besar itu, visi mereka tentang buku, buku-buku yang akan mereka tulis, dan mungkin diselingi dengan obrolan tentang mengapa Juventus FC adalah klub sepakbola yang begitu menjengkelkan.

Saya tertarik untuk kerja paruh waktu di toko buku karena saya begitu terobsesi mengoleksi buku. Tapi belakangan minat untuk mengoleksi buku menurun drastis. Salah satu alasannya karena penulis idola saya, Jorge Luis Borges (yang setiap malam jum’at saya kirimkan Al-Fatihah), ternyata bukan seorang kolektor buku, yang berarti jarang membeli buku. Setahu saya, sastrawan yang paling banyak membaca buku adalah Borges. Bahkan ketika dia buta pun, dia membayar orang untuk membacakan buku untuknya. Bolehlah saya katakan kalau Borges ini adalah kutunya kutu buku. Kalau jarang membeli buku, lalu di mana dia membaca? Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan. Dia seorang pustakawan dan pernah menjabat sebagai  kepala perpustakaan nasional Argentina. Maka minat untuk kerja di toko buku pun berganti dengan minat untuk menjadi pustakawan.

Terus terang saya bukan orang yang sering ke perpustakaan. Buku-buku yang ingin saya baca bisa dengan mudah saya dapatkan tanpa harus ke perpustakaan. Selama studi S2, saya baru empat kali ke perpustakaan. Saya tidak punya alasan untuk sering ke sana. Buku-buku yang saya perlukan sebagai bahan bacaan dan referensi membuat makalah bisa dengan mudah saya dapatkan di Libgen. Ini cara ilegal tentu saja. Tapi koleksi Libgen jauh lebih lengkap dan terkini ketimbang koleksi di perpustakaan mana pun di Indonesia. Untuk mengakses jurnal dan hasil penelitian seperti tesis dan disertasi, hampir semua kampus besar Indonesia sudah menyediakan akses gratis tanpa harus berkunjung ke perpustakaan. Saya baru ke perpustakaan jika membutuhkan literatur berbahasa Indonesia, sebab Libgen tidak menyediakannya.

Di antara semua perpustakaan yang pernah saya datangi, perpustakaan Universitas Brawijaya (UB) lah yang paling sering saya kunjungi. Perpustakaan ini menurut saya bagus, koleksinya lumayan lengkap. Sayangnya pengunjungnya jarang yang membaca buku di sana. Kebanyakan hanya internetan di gazebo yang berada di sekeliling perpustakaan. Mereka seperti saya, tidak punya alasan khusus untuk masuk dan membaca buku di sana. Rasanya sayang jika koleksi yang melimpah ini jarang dibaca.

Jika sekiranya saya adalah pustakawan di perpustakaan UB, ada beberapa hal yang akan saya lakukan untuk menarik pengunjung datang. Pertama, membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat umum untuk datang dan meminjam buku. Saya pikir tidak rumit membuat sistem peminjaman buku bagi masyarakat umum. Akses ini bisa lah kita sebut bagian dari pengabdian untuk masyarakat. Kedua, menyediakan tempat gratis untuk diskusi buku (termasuk peluncuruan buku), pemutaran dan diskusi film, atau peluncuran album musisi lokal. Tentu saja masyarakat umum dapat menggunakan fasilitas ini. Khusus untuk diskusi buku, sekali dalam seminggu tim pustakawan memilih satu buku koleksi perpustakaan untuk dibedah. Yang membedah tidak harus dosen, mahasiswa pun boleh jadi pembedahnya. Asalkan dia sudah membaca buku itu. Untuk diskusi film pun begitu, seminggu sekali kita adakan (harinya bebas asal berbeda dengan hari bedah buku), dan siapa saja bisa menjadi narasumbernya.

Ketiga, memasang kutipan mengenai perpustakaan di dinding depan perpustakaan UB. Ada dua kutipan yang sangat saya suka. Pertama, dari Jorge Luis Borges: I have always imagined that paradise will be a kind of library. Kedua dari Michael Embry: I don’t have to look far to find treasures. I discover them every time I visit a library. Intinya hanya sekedar mengingatkan, kalau perpustakaan itu adalah surga dan tempat harta karun berada.

Keempat, dan ini yang paling penting, pustakawan wajib tahu tentang isi buku. Dihampir semua perpustakaan negara yang saya datangi, termasuk milik universitas negeri, kerja pustakawannya hanya berhubungan dengan masalah administrasi. Alangkah menyenangkannya kalau pustakawannya juga mengerti dengan hal-hal seputar buku. Jika ada seorang mahasiswa komunikasi yang sedang menulis skripsi tentang “ngerasani dalam masyarakat Jawa” misalnya, saya bisa merekomendasikan mahasiswa itu untuk membaca Communication Theory: The Asian Perspective yang disunting Wimal Dissanayake. Saya akan memberikan semacam resensi lisan tentang isi buku itu, kalau buku itu mencoba untuk mengkritik teori komunikasi Amerika yang dianggap tidak begitu kompatibel dalam menjelaskan perilaku berkomunikasi masyarakat Asia. Jika ada mahasiswa Ilmu Sastra yang sedang kebingungan dalam membahas karya-karya Franz Kafka, saya akan merekomendasikan mahasiswa tadi membaca The Art of the Novel nya Milan Kundera, atau Illuminations nya Walter Benjamin, serta memberikan sedikit pengantar mengenai perbedaan perspektif dua orang pemikir itu dalam menilai karya-karya Franz Kafka. Tentu saja mustahil bagi saya untuk tahu semua hal tentang buku. Saya bukan jenis manusia ensiklopedi berjalan, dan tidak tertarik menjadi manusia seperti itu. Lagipula, minat saya juga sangat terbatas pada topik-topik tertentu saja, seperti komunikasi, budaya populer, dan karya fiksi. Untuk topik-topik lain, katakanlah hukum agraria atau ekonomi manajemen, ada pustakawan lain yang menguasai topik itu. Dengan demikian, kerja pustakawan dalam menjelaskan isi buku adalah kerja tim, bukan kerja perorangan.

Penulis, Usia, Karya

Beberapa hari belakangan tulisan di blog ini tidak karu-karuan. Setiap postingan hanya berisi satu kata saja. Tentu agar tidak terkena denda. Beberapa teman misuh-misuh dengan postingan saya yang seperti itu. Saya ucapkan permohonan maaf. Terus terang ada beberapa hal yang harus saya lakukan dan membuat kewajiban menulis blog jadi terbengkalai. Kegiatan pertama, tentu saja ngopi. Untuk yang satu ini, tidak bisa diganggu gugat. Kegiatan kedua, saya banyak menghabiskan waktu untuk menggarap tesis, membaca buku-buku Foucault dan beberapa literatur yang relevan. Kegiatan ketiga, saya sedang menulis suatu proyek pribadi. Tidak perlu saya ceritakan itu apa. Saya jamin, kamu akan muntah-muntah kalau saya beritahu kenarsisistisan saya dengan proyek pribadi itu.

Usia saya saat ini 25 tahun. Usia yang tergolong muda memang. Tapi di usia yang sama, atau sekitar itu, banyak orang-orang yang mampu menghasilkan karya-karya cemerlang. Ryunosuke Akutagawa misalnya. Di usia 22 tahun dia sudah menghasilkan cerpen legendaris Rashomon, pada usia 24 tahun dia menulis The Nose, dan pada usia 26 tahun dia menulis dua cerpen yang sangat saya sukai: Hell Screen dan The Spider’s Thread. Hebatnya, di usia semuda itu Akutagawa mampu menulis cerpen-cerpen yang tidak hitam putih, dalam artian menampilkan kebaikan yang ada sisi buruknya dan keburukan yang ada sisi baiknya. Bandingkan dengan penulis muda kita yang melihat moralitas secara hitam putih, dengan membuat suatu karya ambisius (namun tidak didukung skil menulis memadai) yang ingin menyelamatkan moral bangsa. Saya sangat percaya, urusan menjaga, apalagi menyelamatkan, moral bangsa bukanlah urusan penulis.

Dubliners James Joyce juga contoh menarik. 15 kumpulan cerpen di buku itu ditulis Joyce ketika dia berusia 22-25 tahun. Ceritanya tentang kelas menengah di Dublin, tentang cinta, masa lalu, krisis iman, dan sebagainya. Yang paling membekas di kepala saya adalah cerita yang terakhir, berjudul The Dead, yang ditulis Joyce saat usianya 25 tahun. Itu cerita yang sangat sendu dan lirih, tentang seorang istri yang menceritakan masa lalunya kepada sang suami, bahwa sang suami bukanlah cinta pertamanya. Baiklah, cerita dengan plot seperti itu tentu saja sudah basi. Tapi, cara Joyce menuliskan cerita itulah yang menarik. Joyce bisa membuat sebuah cerita dengan plot sederhana menjadi sebuah cerita yang memikat karena teknik menulisnya yang ciamik.

Usia 25 tahun, dan saya belum menghasilkan satupun karya yang bagus (minimal sama bagusnya dengan karya-karya Akutagawa atau Joyce). Tentu saja ini sebuah bencana. Menulis tidak sesederhana yang saya pikirkan sebelumnya. Saya kadang bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh Akutagawa dan Joyce sampai mereka bisa menulis sebagus itu? Saya pikir jawabannya tidak sesederhana karena mereka memiliki bakat dalam menulis.

Walau begitu, saya kadang menghibur diri sendiri. Toh pada usia 25 tahun Gabriel Garcia Marquez belum menghasilkan karya yang bagus. The Stranger Albert Camus terbit saat usianya 29 tahun, begitu juga dengan Lapar Knut Hamsun. Artinya, usia seseorang dalam menghasilkan suatu karya bagus itu beragam. Ada yang cepat, seperti Akutagawa dan Joyce, ada juga yang lambat seperti Marquez (One Hundred Years of Solitude terbit saat usianya 40 tahun). Karena saya tidak bisa menjadi seperti Akutagawa, menjadi seperti Marquez tentu tidak ada salahnya bukan?

Menjadi Penulis di Indonesia

Yang diucapkan akan tertiup angin, yang ditulis akan abadi.” – Peribahasa Latin.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer.

Jika ada seorang remaja delapan belas tahun yang bercita-cita menjadi penulis, akan saya beritahukan padanya dua kalimat di atas agar dia termotivasi. Tapi, jika ada seseorang berusia 25 tahun yang bercita-cita menjadi penulis karena ingin hidup abadi, akan saya katakan bahwa dua kalimat di atas adalah omong kosong belaka. Kita mengenal Homer, seorang pujangga yang hidup 2.700 tahun sebelum kita, karena dia telah menulis dua puisi epik yang terus dibaca hingga kini: The Iliad dan The Odyssey. Kita juga mengenal Miguel de Cervantes, karena dia telah menulis novel modern pertama di dunia: Don Quixote. Kita bisa membuat daftar panjang para penulis yang karya-karyanya terus dibaca sampai hari ini. Namun bukan mereka yang ingin saya bicarakan. Sebab saya ingin berbicara tentang Maximus Barker, Goe Xin Min, Takashi Minato, Michel Clements, atau Emran Makhmur el-Jabari. Pernahkah kamu mendengar nama-nama mereka?

Baiklah, nama-nama itu hanyalah karangan saya belaka. Tapi bagaimana jika mereka sebenarnya ada, mereka adalah penulis yang telah menghasilkan banyak buku, dan kita tidak mengenal mereka karena kita tidak pernah membaca karya-karya mereka? Dari semenjak manusia mengenal tulisan, ada berapa orang yang pernah menulis dan berniat untuk menjadi seorang penulis? Barangkali sudah ada ratusan miliar orang yang pernah hidup di bumi ini, maka kita asumsikan saja ada lima juta orang yang pernah menulis. Apakah mereka semua abadi karena mereka pernah menulis? Sayangnya tidak.

Saya pikir menjadi penulis karena ingin hidup abadi adalah mimpi yang terlalu muluk. Minimal kita harus sama jeniusnya dengan Homer agar bisa abadi dengan menulis. Sehingga, tatkala memutuskan untuk menjadi penulis, siap-siap saja karya kita menjadi tidak terbaca karena berbagai alasan. Itu baru persoalan pertama. Persoalan berikutnya, menjadi penulis di Indonesia tidak akan membuat seseorang menjadi kaya. Tidak ada gunanya menjadi penulis produktif agar bisa mendapat uang yang banyak. Selain karena minat baca masyarakat kita yang kurang, sistem perbukuan di Indonesia juga tidak memungkinkan penulis untuk mendapat untung yang besar. Maka salah satu pilihan yang bisa ditempuh, menulis dengan pertimbangan kualitas, bukannya kuantitas. Menulis dengan mempertimbangkan kualitas, memungkinkan karya kita untuk dibaca oleh pembaca luar Indonesia. Dengan catatan, karya kita harus diterjemahkan ke bahasa internasional, minimal bahasa Inggris atau Prancis.

Jika bicara strata, maka bahasa Indonesia berada di strata paling bawah bahasa dunia. Bahasa yang menempati strata tertinggi tentu saja ditempati oleh bahasa yang dituturkan oleh penjajah di masa lampau, seperti Inggris, Prancis, Spanyol, atau Portugis. Itulah mengapa sastra Amerika Latin, yang menggunakan bahasa Spanyol dan Portugis, menjadi mudah untuk terbaca oleh pembaca internasional. Strata kedua ditempati oleh bahasa Arab, Cina, dan Jepang, sebab bahasa-bahasa tersebut tergolong bahasa yang usianya sudah sangat tua. Sedang bahasa Indonesia, berada di strata keenam, strata paling bawah. Indonesia bukanlah negara dengan kekuatan politik dan ekonomi yang diperhitungkan, hal ini menyebabkan minat orang untuk mempelajari Indonesia tidak sebesar minat orang untuk mempelajari Tiongkok atau India. Harus diakui, ketertarikan orang asing untuk mempelajari suatu bahasa karena suatu negara yang menjadi penutur bahasa tersebut relatif kuat secara politik dan ekonomi. Itulah sebabnya minat mempelajari bahasa Korea semakin meningkat, sebab secara ekonomi Korsel sedang mengalami peningkatan juga. Bahasa Indonesia juga hanya dituturkan oleh orang Indonesia, sehingga hal ini sedikit membuat kesulitan penulis-penulis Indonesia untuk memperkenalkan karyanya ke pembaca di luar negeri.

Artinya, memutuskan untuk menjadi penulis di Indonesia perlu dengan pertimbangan yang matang. Sebab, selain karena dibutuhkan kejeniusan yang sangat tinggi untuk menjadi penulis yang abadi, calon-calon penulis dari Indonesia juga patut untuk resah sebab bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat tidak populer dalam pergaulan Internasional. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa minat orang-orang untuk menerjemahkan karya dari Indonesia tidak sebesar minat untuk menerjemahkan karya dari Tiongkok, sebab karya dari tiongkok lebih menarik untuk dikaji ketimbang karya dari Indonesia hanya karena secara politik dan ekonomi negara kita tertinggal jauh dari tiongkok.

Trilogi Mimpi

Sudah tiga hari saya menulis cerita tentang mimpi di blog ini. Masing-masing berjudul Kisah Dua Pemimpi, Mimpi Basah, dan Mimpi-mimpi Setyo. Plot dasar dari ketiga cerita itu saya ambil dari tiga buku yang berbeda. Cerita pertama, Kisah Dua Pemimpi, plot dasarnya saya ambil dari novel Dictionary of the Khazars karya Milorad Pavic. Kisah Dua Pemimpi, pada intinya bercerita tentang Guru Isa dan Sang Penulis yang saling memimpikan. Mimpi yang dialami Guru Isa tidak lain adalah kenyataan yang dialami saat itu juga oleh Sang Penulis, dan mimpi yang dialami Sang Penulis adalah kenyataan yang dialami saat itu juga oleh Guru Isa. Ketika Guru Isa tertidur, Sang Penulis terbangun. Ketika Sang Penulis terbangun, Guru Isa Tertidur. Dalam novel Dictionary of the Khazars, cerita tentang dua orang yang saling memimpikan adalah bagian yang paling saya sukai. Saya pernah membaca cerita seperti itu lagi setelahnya. Saya lupa membacanya di mana. Kalau bukan di salah satu cerpen Jorge Luis Borges, kemungkinan dalam buku Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam).

Cerita kedua, Mimpi Basah, plot dasarnya saya ambil dari novel The Wind-Up Bird Chronicle karya novelis Jepang kenamaan, Haruki Murakami. Dalam salah satu bagiannya, bercerita tentang seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelacur di dalam mimpi. Bayangkan, suatu malam kamu mimpi basah, dan keesokan paginya ada seorang perempuan yang mengetuk pintu rumahmu, dan kamu begitu terkejut karena ternyata dia adalah perempuan yang kamu temui di dalam mimpi. Dia meminta sejumlah bayaran, sebab dia telah melayanimu di dalam mimpi. Mimpi basah adalah hal wajar yang dialami oleh semua laki-laki dewasa. Tapi Haruki Murakami berhasil menuliskan fenomena sehari-hari, yang biasa-biasa saja itu, menjadi sesuatu yang luar biasa.

Cerita ketiga, Mimpi-mimpi Prasetyo, adalah cerita yang plot dasarnya saya ambil dari buku Alf Laylah wa Laylah terjemahan Sir Richard Burton. Salah satu bagian dalam buku itu, The Ruined Man who Became Rich Again through a Dream, bercerita tentang orang Baghdad yang bermimpi akan mendapatkan keberuntungan di Kairo. Dia percaya dengan mimpi itu, dan memutuskan untuk berangkat ke sana. Di Kairo dia tidak mendapatkan keberuntungan apapun, bahkan terkena sial. Hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang penduduk Kairo yang bermimpi akan mendapatkan keberuntungan jika datang ke Baghdad. Namun orang Kairo itu tidak memercayai mimpinya, sehingga dia tidak mendatangi Baghdad. Orang Baghdad itu memang tidak mendapatkan keberuntungannya di Kairo, tapi lewat cerita orang Kairo yang dia temui itu, dia lalu balik ke Baghdad. Orang Kairo itu bercerita bahwa dalam mimpinya dia akan mendapatkan harta karun yang terkubur di pekarangan suatu rumah, dan ciri rumah itu persis sama dengan rumah yang dimiliki si orang Baghdad. Orang Baghdad itu segera pulang ke kampung halamannya, menggali tanah di pekarangan rumahnya, dan mendapatkan hartu karun di situ. Cerita itu lalu ditiru oleh banyak penulis lain. Jorge Luis Borges melakukannya dengan membuat cerita berjudul The Story of the Two Dreamers. Paulo Coelho, penulis terkenal asal Brazil, juga meniru plot cerita itu dalam novelnya yang paling masyhur, The Alchemist. Eka Kurniawan juga meniru cerita itu, dengan sedikit perubahan. Jika dalam Alf Laylah wa Laylah bercerita tentang penemuan harta karun, maka Eka memodifikasinya menjadi cerita tentang dua orang pemimpi dalam menemukan kekasih hati.

Penjelasan saya terhadap tiga cerita yang saya buat itu barangkali tidak penting. Cuma buat jaga-jaga saja, jika ada orang yang kebetulan membacanya, lalu menuduh saya sebagai seorang plagiator. Dalam dunia menulis, meniru karya orang lain adalah tahap pertama dalam kreatifitas. Lagi pula, karena sudah meniru suatu cerita, apakah Jorge Luis Borges lantas masuk dalam kategori plagiator? Tentu saja tidak.

Tlön, Oceania, Saussure

Beberapa bulan lalu saya membaca tulisan Jorge Luis Borges. Judulnya Tlön, Uqbar, Orbis Tertius. Tulisannya sendiri berbentuk esai, esai fiktif lebih tepatnya, tentang sebuah eksiklopedia setebal 1001 halaman mengenai suatu dunia bernama Tlön. Dalam ensiklopedia itu dijelaskan semua hal tentang Tlön, sistem filsafatnya, cara mereka dalam berhitung, kondisi geografisnya, benda-benda yang ada, sampai pada sistem bahasanya. Yang menarik bagi saya, orang-orang di bagian utara Tlön tidak mengenal kata kerja dan kata benda, sebab mereka hanya mengenal kata sifat saja. Untuk menyebut suatu benda, mereka akan menggabungkan beberapa kata sifat yang merujuk pada benda yang dirujuk tersebut. Bulan, misalnya. Orang-orang Tlön tidak mengenal kata bulan. Untuk menyebut ‘bulan’, orang-orang Tlön akan menyebutnya seperti ini: aerial-bright above dark-round, atau soft-amberish-celestial, atau kombinasi kata sifat lain yang tetap merujuk ke ‘bulan’.

Ada satu lagi karya fiksi dengan sistem bahasa yang menarik. Judulnya 1984, karangan George Orwell. Di novel tersebut, tidak ada Eropa, yang ada adalah Oceania. Keduanya daratan yang sama, walaupun Oceania yang digambarkan Orwell sedikit lebih besar dari Eropa yang kita kenal sekarang. Oceania adalah negeri yang dikuasai seorang diktator bernama Big Brother. Penduduk Oceania sehari-hari berbahasa Inggris. Pemerintah Oceania sedang merancang struktur bahasa baru, yang diberi nama Newspeak. Jadi, bahasa Inggris yang selama ini dipakai adalah Oldspeak, dan pada tahun 2050 diharapkan semua penduduk Oceania akan menggunakan Newspeak sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bisa dikatakan, Newspeak adalah penyempurnaan dari Oldspeak. Kita tahu, bahasa selalu berkembang, kosa kata menjadi semakin banyak, sehingga setiap edisi kamus terbaru selalu lebih tebal dari kamus edisi sebelumnya. Berbeda dengan Newspeak, bukannya bertambah, kosa katanya malah semakin berkurang! Saya membayangkan, saking sedikitnya kosa kata dalam Newspeak, di tahun 2050 nanti kamus Newspeak hanya akan setebal 37 halaman saja.

Ketika saya membaca esai Robert Hodge dan Gunther Kress yang berjudul Saussure and the Origin of Semiotics, mau tidak mau saya teringat pada dua cerita di atas. Esai itu berisi tentang pemikiran Saussure mengenai sistem bahasa dan kritik terhadap pemikirannya. Ciri khas dalam teori linguistik Saussure adalah, dia selalu mengajukan gagasan yang berpasangan. Langue dan parole, sinkroni dan diakroni, paradigmatik dan sintagmatik, atau penanda dan petanda. Ada hierarki dalam gagasan yang berpasangan itu, dalam artian ada salah satu konsep dalam gagasan yang berpasangan itu yang dianggap lebih penting oleh Saussure. Langue lebih penting ketimbang parole, sinkroni lebih penting ketimbang diakroni, atau penanda lebih penting ketimbang petanda. Kritik yang mengarah pada Saussure, dia hanya mementingkan bagaimana bahasa itu bekerja, dan luput membahas bahwa kerja suatu bahasa tidak terlepas dari budaya, kondisi sosial, dan ideologi yang bekerja dalam suatu masyarakat.

Kritik yang diarahkan pada Saussure mungkin benar. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya, sebab dalam kondisi ideologi seperti apapun cara kerja bahasa tetap sama, seperti apa yang digambarkan Saussure. Penduduk Tlön tidak mengenal kata benda (noun), sebab mereka menganut paham idealisme, bahwa segala yang berada di luar pikiran tidak lain sebagai persepsi semata. Membendakan sesuatu (dengan cara memberi nama untuk benda-benda), berarti bertentangan dengan prinsip idealisme itu sendiri, sebab pemberian nama untuk benda sama dengan pengakuan adanya dunia yang maujud di luar persepsi manusia. Atau, kosa kata Newspeak yang semakin berkurang, dengan tujuan agar rakyat Oceania tidak dapat mengekspresikan pikiran mereka secara berlebih, sebab kosa kata mereka sangat terbatas. Dengan begini, rakyat Oceania tidak akan mampu untuk memikirkan cara untuk menggulingkan kekuasaan Big Brother.

Walaupun Indonesia menganut ideologi Pancasila, Inggris dengan monarkinya, Cina dengan komunismenya, Tlön dengan idealismenya, atau Oceania dengan otoriternya, toh cara kerja bahasa di semua tempat itu sama saja, tetap sesuai dengan teori yang diajukan Saussure. Bagi saya, kritik terhadap pemikiran Saussure bukan berarti apa yang dia kemukakan itu salah atau lemah. Kritik terhadap pemikiran Saussure lebih tepat dimaknai sebagai pengembangan dari hal-hal yang sebelumnya tidak atau belum dibahas oleh Saussure.

Tongkat yang Hanya Memiliki Sebuah Ujung

Sewaktu SMA, dengan kegenitan berpikir ala remaja, seorang teman melontarkan sebuah pertanyaan untuk saya, “Jika benar Tuhan itu Maha Kuasa, bisakah Dia menciptakan sebuah tongkat yang hanya memiliki sebuah ujung?” Kita tahu, setiap tongkat pastilah memiliki dua ujung, dan sampai sekarang tidak satupun tongkat yang ujungnya hanya satu. Dengan kegenitan yang sama pula, saya menjawab, “Tentu saja Tuhan tidak bisa. Sebab jika ujungnya hanya satu, benda yang diciptakan itu tidak lagi bernama tongkat.”

Saya pikir, selain Tuhan, hanya ahli matematika (khususnya geometri) dan seniman lah yang bisa menciptakan sebuah benda (tongkat) yang ujungnya cuma satu. Dalam dunia tiga dimensi hal itu mungkin mustahil. Tapi dalam realitas dua dimensi, menciptakan sebuah tongkat seperti itu sangat mudah. Kita cukup menggambar sebuah lingkaran di atas kertas, kita warnai lingkaran itu, dan simsalabim, jadilah sebuah tongkat yang hanya memiliki sebuah ujung. Lingkaran yang kita gambar tersebut adalah ujung dari sebuah tongkat. Karena perspektif dari gambar tersebut hanya memperlihatkan satu ujung saja, maka ujung satunya lagi tidak mungkin terlihat. Meskipun begitu kita sama-sama tahu bahwa lingkaran itu adalah sebuah tongkat.

372px-Impossible_staircase.svgLebih dari 50 tahun yang lalu, dua orang ahli matematika Inggris menciptakan sebuah tangga tidak berujung, sebuah tangga yang hanya mungkin ada dalam realitas dua dimensi, dan mustahil ada dalam realitas tiga dimensi, realitas tempat kita tinggal. Tangga itu bernama Penrose, diambil dari nama sang penemu, Lionel Penrose dan Roger Penrose. Lima tahun yang lalu, seorang seniman, yang juga berasal dari Inggris, membuat tangga Penrose yang maujud di realitas tiga dimensi. Banyak yang tidak percaya, tapi tangga itu benar-benar ada, dan setiap manusia dapat menaikinya. Seniman itu bernama Christopher Nolan, dan tangga itu merupakan bagian dari plot dalam film garapannya: Inception.

Ada satu seniman lain yang dapat membuat hal-hal semacam itu. Namanya Jorge Luis Borges. Dia dapat membuat sebuah cakram yang hanya memiliki satu sisi namun maujud di ruang tiga dimensi. Kita tahu, hal itu mustahil. Sebab cakram yang memiliki satu sisi hanya mungkin ada dalam realitas dua dimensi. Tapi cakram seperti itu ada, dapat disentuh dan dilihat, dingin dan berkilau.

Dalam seni, hal-hal semacam itu dapat kita kategorikan dalam genre realisme magis. Dan pagi tadi saya mendapati seorang pelukis yang karyanya berada dalam genre tersebut. Namanya Rob Gonsalves, pelukis yang mengandalkan ilusi optikal dalam realitas dua dimensi. Saya suka semua lukisannya. Tapi ada dua lukisan yang paling saya sukai. Saya tidak tahu apa judulnya, sebab di website tempat saya menemukan lukisan-lukisannya, tidak diberitahukan judul dari tiap lukisan. Berikut dua lukisan itu (klik untuk memperbesar).

magic-realism-paintings-rob-gonsalves-4__880

magic-realism-paintings-rob-gonsalves-24__880

Pada lukisan pertama, terdapat dua orang yang sedang melukis langit dan tujuh orang yang sedang membuat puzzle. Dua orang yang sedang melukis langit itu sesungguhnya gambar dari puzzle yang sedang dirangkai. Begitu juga dengan lima orang yang sedang merangkai puzzle, sesungguhnya mereka adalah bagian dari puzzle itu sendiri: karakter di dalam puzzle yang sedang membuat puzzle itu sendiri. Tinggal dua orang lain, seorang anak laki-laki dan seorang gadis. Anak laki-laki itu adalah pembuat puzzle yang sebenarnya, sebab dia berada di luar puzzle. Sedang seorang gadis berada di wilayah abu-abu, antara nyata atau bagian dari puzzle juga. Meskipun ukuran tubuhnya besar, tapi dia berada di dalam frame puzzle itu sendiri. Gadis ini adalah bagian paling menarik dari lukisan ini, sebab dia adalah “pintu gerbang” antara pembuat puzzle yang asli dengan karakter di dalam puzzle.

Lukisan kedua lebih gila lagi. Tentang kastil dan benteng yang berdiri di atas hutan saat musim dingin. Jika dilihat dari jauh dan di atas ketinggian tertentu, kastil-kastil itu terlihat seperti bidak catur, dan pohon-pohon serta salju di atas tanah menyerupai papan caturnya. Ada dua orang di sana, seorang kakek dan cucunya. Sang cucu memegang bidak kuda, dan dengan perspektif tertentu, membuat benda itu terlihat sama besarnya dengan benteng yang berdiri di atas hutan. Sedang sang kakek bermain catur sendirian, dengan papan catur yang langsung tersambung dengan tanah di hutan itu. Bidak catur yang dimainkan sang kakek dan cucunya itu tidak lain merupakan kastil yang benar-benar berdiri di atas tanah. Dan karena mereka bermain catur dengan kastil-kastil itu sebagai bidaknya, dengan sendirinya mereka dapat memindahkan kastil itu sesuka hati. Sampai di sini saja, lukisan ini sudah terlihat luar biasa. Tapi jangan lupa, bahwa kakek dan cucunya itu berada di atas sebuah kastil, dan itu berarti ada orang lain yang sedang menjadikan kastil yang mereka tinggali sebagai bidak catur juga. Begitu seterusnya.

Dalam sastra, hal seperti ini dapat kita jumpai dalam Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam). Berkisah tentang Syahrazad yang harus mendongeng setiap malam kepada raja Syahrayar agar tidak dihukum mati. Dengan demikian, Syahrazad adalah narator dalam Alf Laylah wa Laylah, sebab dialah yang menceritakan semua dongeng itu kepada raja, dan juga pada pembaca. Tapi jangan dilupakan, kisah tentang Syahrazad pun sesungguhnya bagian dari dongeng dalam Alf Laylah wa Laylah. Sehingga pada suatu malam, Syahrazad akan bercerita tentang dirinya sendiri yang mendongeng kepada raja Syahrayar agar tidak dihukum mati. Begitu seterusnya, tanpa akhir, tanpa ujung, seperti tangga Penrose yang telah saya ceritakan di atas.

Buku-buku yang Tidak Pernah Ada

Saya jarang mengunjungi perpustakaan. Jika ingin membaca suatu buku saya lebih memilih untuk membelinya. Akhir-akhir ini saya lebih banyak mengunduh buku secara gratis, semuanya berbahasa Inggris, beberapa di antaranya novel, tapi lebih banyak buku tentang kajian budaya. Diantara kunjungan saya yang sedikit itu, saya pernah berkunjung ke perpustakaan Babel. Perpustakaan yang lebih mirip labirin ini memiliki banyak ruang yang semuanya berbentuk segi enam. Perpustakaan Babel dinobatkan sebagai perpustakaan terbesar di dunia, selain karena bangunannya yang sangat besar, perpustakaan ini juga memiliki koleksi seluruh buku yang pernah ditulis umat manusia. Yang unik, perpustakaan Babel hanya memiliki satu salinan untuk setiap judul buku, berbeda dengan perpustakaan lain yang memiliki banyak salinan untuk buku dengan judul yang sama.

Salah satu orang yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel adalah Umberto Eco. Dia sangat terkesima dengan perpustakaan ini. Konon katanya, dia mendapat ide untuk menulis novel The Name of the Rose setelah berkunjung ke perpustakaan ini. Dalam novel yang dia tulis itu, Eco membuat sebuah cerita tentang perpustakaan yang bentuk bangunannya meniru bentuk bangunan perpustakaan Babel. Perpustakaan di novel Eco itu dijaga oleh seorang pustakawan buta bernama Jorge of Burgos. Bagi yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel akan segera mengerti bahwa Jorge of Burgos diambil dari nama pendiri perpustakaan Babel yang juga buta: Jorge Luis Borges.

Saat berkunjung ke perpustakaan Babel, saya pun terkesima layaknya Umberto Eco. Namun di antara semua perpustakaan yang pernah saya datangi, perpustakaan Lucien lah yang paling menakjubkan. Perpustakaan ini jauh lebih kecil dari perpustakaan Babel. Saat pertama kali masuk, tidak ada yang istimewa dengan perpustakaan ini. Namun kata Lucien, penjaga perpustakaan yang namanya dijadikan nama untuk perpustakaan yang dia jaga, koleksi buku di perpustakaan ini tidak mungkin ditemukan di tempat lain. Berbulan-bulan kemudian saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya melakukan pengecekan terhadap apa yang dikatakan oleh Lucien, dan betapa terkejutnya saya saat mengetahui tidak satupun koleksi perpustakaan Lucien yang dimiliki oleh perpustakaan Babel.

Karena minat saya yang teramat besar terhadap karya fiksi, setiap kali berkunjung ke perpustakaan saya akan langsung mendatangi rak fiksi. Demikian juga dengan kunjungan saya ke perpustakaan Lucien. Di rak fiksi saya menemukan nama-nama yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Ada Mir Bahadur Ali (seorang penulis dari India), ada Pierre Menard (seorang pengarang dari Prancis), Jaromir Hladik, dan Herbert Quain. Saya lalu mengambil sebuah buku karya Mir Bahadur Ali berjudul The Approach to Al-Mu’tasim, dan sebuah buku karangan Herbert Quain yang berjudul The Secret Mirror. Saya lalu membaca kedua buku tersebut di sudut perpustakaan.

The Approach to Al-Mu’tasim adalah novel berat. Membacanya harus pelan-pelan. Bercerita tentang seorang mahasiswa hukum, yang tidak pernah diberitahukan namanya, pada suatu ketika membunuh seorang gembel beragama hindu di atas menara. Setelah membunuh orang itu, dan sang mahasiswa melakukan pelarian, dia mendapati suatu kenyataan bahwa gembel yang dibunuhnya itu hanya perwujudan mimpi dari orang lain, atau mimpi dari orang lain yang bermimpi tentang orang lain, atau seseorang yang memimpikan orang lain sedang bermimpi tentang orang lain yang bermimpi tentang orang lain. Begitu seterusnya, sampai pada seorang pemimpi yang pertama. Mahasiswa itu yakin akan adanya pemimpi pertama itu, seseorang yang bernama Al-Mu’tasim. Novel ini kemudian bercerita tentang petualangan mahasiswa tersebut dalam mencari Al-Mu’tasim. Sang pengarang, Mir Bahadur Ali, nampaknya ingin mengecoh pembacanya. Sebab Al-Mu’tasim, pemimpi pertama yang dicari-cari oleh mahasiswa tersebut, sebenarnya adalah orang hindu yang dibunuhnya di atas menara.

Herbert Quain sendiri menulis buku dengan semangat bermain-main antara serius dan tidak serius. Cerita-cerita yang dia tulis terkesan serius tapi sebenarnya tidak, terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius. The Secret Mirror misalnya, adalah sebuah naskah drama dua babak, yang babak pertamanya bercerita tentang seorang penulis naskah drama bernama Wilfred Quarles yang tergila-gila pada seorang perempuan bernama Ulrica Thrale. Di babak kedua, orang yang memerankan Wilfred Quarles muncul kembali, tapi dengan nama dan peran yang berbeda. Kali ini dia berperan sebagai John William Quigley, seorang pedagang keliling asal Liverpool. Quigley ini juga seorang penulis naskah drama. Cerita tentang Wilfred Quarles yang tergila-gila dengan Ulrica Thrale pada babak pertama tadi tidak lain merupakan sebuah sebuah cerita dalam naskah drama yang ditulis oleh John William Quigley. Jadi, adegan pada babak pertama sebenarnya merupakan sebuah cerita dari naskah drama yang dituliskan oleh seorang karakter yang muncul di babak kedua.

Setelah saya mengembalikan kedua buku itu di tempat semula, saya mendatangi Lucien, dan menanyainya beberapa hal tentang perpustakaan yang dia jaga tersebut. Saya memang baru membaca dua buku di perpustakaan ini, tapi karena dua buku yang saya baca itu adalah buku-buku yang mengagumkan, saya berkesimpulan bahwa semua buku di perpustakaan Lucien ini pastilah mengagumkan. Sayang sekali jika buku-buku yang mengagumkan ini hanya bisa dibaca di tempat ini saja. Saat saya ingin meminjam dua buku tersebut untuk di fotokopi, Lucien bersikeras bahwa buku-buku koleksi perpustakaannya tidak boleh dibawa keluar. Saya lalu mengatakan, ingin menyalinnya kembali di perpustakaan ini saja, dengan cara tulis tangan. Lucien lalu mengatakan, jika hal itu saya lakukan maka buku yang ingin saya tulis ulang itu akan terbakar dengan sendirinya. Lucien melanjutkan, bahwa buku-buku yang ada di perpustakaan ini sesungguhnya adalah buku-buku yang tidak pernah ada di dunia nyata, buku-buku yang tidak pernah ditulis oleh seorang pengarang, atau tidak pernah selesai dituliskan, kecuali di dalam mimpi. Jadi buku-buku di perpustakaan ini bisa ada hanya jika seorang pengarang berkeinginan menulis suatu buku, tapi tidak pernah menuliskan atau menyelesaikan buku yang dia inginkan itu. Karena hanya ada dalam impian, buku-buku tersebut tidak boleh menjadi kenyataan, sebab ketika sudah menjadi kenyataan maka tidak ada lagi buku yang diimpikan. Itulah mengapa buku di perpustakaan Lucien akan terbakar begitu buku tersebut telah terwujud di dunia nyata. Saya teringat akan kerangka novel yang ingin saya tulis, judulnya Metafiksi, dan sudah hampir dua tahun kerangka novel itu belum juga rampung. Untuk membuktikan perkataannya, saya lalu menuju ke rak fiksi, dan mencari sebuah buku berjudul Metafiksi yang ditulis oleh seseorang bernama Abdul Hair. Dan ternyata buku itu ada, dengan sampul dan isi yang sama persis seperti yang saya inginkan.

Berbulan-bulan kemudian, saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya mendapati kenyataan bahwa pendiri perpustakaan tersebut, Jorge Luis Borges, juga seorang penulis. Saya menuju rak fiksi, melihat beberapa buku yang pada sampulnya tertulis nama Borges, lalu mengambil salah satu buku tersebut secara acak. Buku yang saya ambil berjudul Ficciones, berisi beberapa cerita pendek, esai, dan resensi buku. Dua diantara yang dia tulis, ternyata resensi terhadap karya Mir Bahadur Ali dan Herbert Quain, dua orang penulis yang karyanya pernah saya baca saat berada di perpustakaan Lucien. Borges, menuliskan resensi terhadap karya kedua penulis itu dengan begitu cemerlang. Dia menuliskan tentang karakter-karakternya, ringkasan ceritanya, membuat sebuah skema dari cerita yang ditulis Herbert Quain, serta membuat sebuah telaah kalau cerita The Approach to Al-Mu’tasim karya Mir Bahadur Ali sebenarnya paralel dengan cerita dalam buku puisi karya seorang sufi persia, Farid al-din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim Attar, yang berjudul Mantiq al-Tair (jika diterjemahkan menjadi Musyawarah Burung).

Banyak kritikus sastra yang mengatakan bahwa Jorge Luis Borges menuliskan sebuah resensi fiktif dalam buku Ficciones, sebab buku-buku yang yang dia ulas tidak pernah ada di dunia. Tentu saja para kritikus itu salah, sebab Borges pernah membaca buku-buku yang dia ulas itu. Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan Lucien. Dengan cara membuat resensi, alih-alih menyalinnya kembali, Borges mampu mengambil intisari dari buku-buku yang ada di perpustakaan Lucien tanpa membuat buku-buku tersebut terbakar. Dengan cara itulah Borges memperkenalkan koleksi perpustakaan Lucien kepada dunia, sesuatu yang ingin saya lakukan tapi gagal karena ketidaktelitian saya kalau aturan yang ditetapkan oleh Lucien memiliki beberapa peluang untuk dilanggar.