Dialog dalam Film

Saat pertama kali nonton Pulp Fiction karya Quentin Tarantino, saya cuma bisa membatin, “Ini film apaan sih?” Film itu isinya ngobrol doang, ngobrolin hal-hal yang gak penting. Dari awal sampai akhir kayak gitu. Yang bikin saya betah nontonnya, karena Pulp Fiction adalah film non-linier pertama yang saya nonton. Film itu setidaknya ngasih pelajaran kalau cerita tidak harus disampaikan secara kronologis. Bertahun-tahun kemudian, saat saya menontonnya lagi, saya baru menyadari kalo film itu sangat brilian. Saya pikir Quentin Tarantino adalah sineas pertama yang bisa bikin dialog dari hal-hal yang tidak penting. Salah satu sutradara favorit saya, Woody Allen, film-filmnya juga dialog semua. Tapi dialog dalam film-film Allen sangat high-culture. Dia membicarakan Kafka, Thomas Mann, Death in Venice, Marshall McLuhan, dan hal-hal lain yang seperti itu, yang hanya dapat dimengerti oleh penggemar sastra dan teori sosial kontemporer. Sedangkan Tarantino, justru bisa membuat dialog bagus dari hal-hal yang kita jumpai sehari-hari. Dia misalnya membuat sebuah dialog tentang mengapa orang-orang begitu membenci tikus, tapi tidak membenci tupai. Padahal, keduanya sama-sama hewan pengerat yang membawa penyakit bagi manusia. Dia juga membuat dialog tentang tomat, di mana ada ayah tomat, ibu tomat, dan anak tomat, yang pada suatu kesempatan berubah menjadi saos tomat. Percayalah, membicarakan tikus dan tomat adalah hal tidak penting, dan Tarantino mampu membuat itu menjadi sesuatu yang penting.

Sineas lain yang jago bikin dialog, siapa lagi kalau bukan Richard Linklater. Trilogi Before (Sunrise, Sunset, dan Midnight), serta Boyhood yang jadi masterpiece nya sepanjanga masa, sudah membuktikan kalau dia adalah sedikit orang yang jago bikin dialog. Tapi entah mengapa, saya lebih suka dengan gaya dialog Tarantino, yang suka bermain dengan ironi, tidak penting, dan selalu bikin penontonnya tertawa. Saya masih punya mimpi untuk bikin film pendek, dan film yang ingin saya bikin mirip-miriplah sama film-filmnya Woody Allen, Richard Linklater, atau Quentin Tarantino.

Selain Pulp Fiction, yang menjadi masterpice-nya Tarantino, saya juga suka dengan Kill Bill. Seperti film-film Tarantino yang lain, Kill Bill juga film yang tidak penting. Film itu bercerita tentang pembalasan dendam The Bride terhadap Bill. Seperti film action lainnya, sebelum berhadapan dengan sang boss, sang jagoan harus melawan anak buah sang boss terlebih dulu. Setelah mengalahkan anak buahnya dengan pertarungan sengit, tibalah The Bride berhadapan dengan Bill. Pertarungan puncak ini justru tidak diwarnai dengan aksi karate yang berdarah-darah, tapi lewat dialog panjang tentang alter-ego, dan diakhiri dengan sebuah jurus maut yang hanya dikuasai oleh The Bride. Saya pikir, jika Bill dibunuh lewat dialog saja, akan lebih menarik. Mungkin akan jadi film pertama yang bisa membunuh karakter antagonis dari dialog saja. Salah satu komik terbaik yang saya baca, The Killing Joke, menceritakan pertarungan antara Batman dan Joker lewat lelucon. Maaf kalau spoiler, tapi dalam komik itu untuk pertama kalinya Joker keluar sebagai pemenang, dan Batman harus menderita kekalahan, karena untuk pertama kalinya sepanjang sejarah dia bisa tertawa dengan kostum Batman. Joker mengalahkannya dengan sebuah lelucon yang mematikan, yang membuat Batman dan pembaca komik itu terpingkal-pingkal. Kalau kamu adalah penggemar berat Joker di film The Dark Knight nya Christopher Nolan, sekadar informasi saja, kalau The Killing Joke adalah referensi utama yang Nolan dan Heath Ledger gunakan dalam membangun karakter Joker di film itu. Kalau saya jadi sutradara, saya pikir keren juga bikin sebuah film action, di mana sang protagonis membunuh antagonis lewat lelucon mematikan, yang membuat sang antagonis mati mengenaskan karena tertawa terbahak-bahak. Begitulah.

Kejahatan dan Hukuman

Menurut saya, Fyodor Dostoyevsky adalah penulis terbesar abad 19. Dia adalah sedikit penulis dari abad itu yang karya-karyanya masih dibaca dan dibicarakan sampai hari ini. Presiden Italia saat ini, Sergio Mattarella, bahkan menganjurkan anak muda di negaranya untuk membaca karya-karya Dostoyevksy. Katanya, biar anak-anak muda di sana paham dengan persoalan seputar kehidupan dan ideologi.

Saya pikir Sergio Mattarella benar. Dari sekian banyak karya yang dihasilkan Dostovevsky, Crime and Punishment masuk kategori wajib baca. Dosa besar bagi pecinta sastra jika tidak membacanya. Crime and Punishment bercerita tentang Rodion Raskolnikov, seorang mantan mahasiswa, dalam membunuh seorang rentenir. Meskipun novel ini masuk dalam kategori novel detektif, namun Dostoyevsky sudah memberitahukan pada pembacanya bahwa tersangkanya adalah Raskolnikov, dan seorang detektif bernama Porfiry Petrovich bermaksud untuk mengungkap siapa pembunuh rentenir tersebut. Artinya, jika kebanyakan cerita detektif mengambil sudut pandang sang detektif, maka novel ini adalah kebalikannya: mengambil sudut pandang sang pembunuh.

Raskolnikov melakukan pembunuhan dengan sangat baik. Dia tidak meninggalkan satu kesalahanpun yang akan mengarahkan perhatian detektif kepolisian padanya. Bisa dikatakan, pembunuhan yang dia lakukan berjalan dengan sempurna. Sang detektif, Porfiry Petrovich, kebingungan. Tidak ada bukti apapun yang dia temukan. Satu-satunya petunjuk yang dia punya adalah daftar lingkaran orang-orang di sekitar korban, baik keluarga, teman, ataupun orang-orang yang pernah meminjam uang ke korban. Porfiry Petrovich lalu mendalami profil dari setiap orang yang berada di lingkaran tersebut, dan perhatiannya tertuju pada Raskolnikov. Dia yakin, Raskolnikov adalah pembunuhnya. Tapi, dugaan tetaplah dugaan. Selama tidak ada bukti, maka Raskolnikov tidak bisa ditangkap.

Bagian paling menariknya, Porfiry Petrovich membuktikan Raskolnikov sebagai pembunuh bukan lewat bukti di TKP (seperti cerita detektif pada umumnya), tapi lewat permainan psikologis yang akan membuat Raskolnikov mengaku dengan sendirinya. Porfiry Petrovich ketika mempelajari profil dari lingkaran orang-orang di sekitar korban, menemukan bahwa Raskolnikov ketika masih mahasiswa pernah membuat sebuah esai tentang bagaimana seseorang bisa menjadi pahlawan. Dalam esai itu, Raskolnikov bercerita tentang Napoleon yang dianggap pahlawan oleh masyarakat Prancis, sebab dia telah menyelamatkan warga Prancis dengan cara membunuh orang-orang yang dianggap sebagai musuh Prancis. Raskolnikov lalu membandingkan Napoleon dengan pembesar-pembesar lain di dunia ini. Lewat perbandingan itu Raskolnikov lalu menyimpulkan bahwa hanya dengan membunuh orang-orang jahat lah maka seseorang dapat disebut sebagai pahlawan.

Raskolnikov adalah pembunuh amatir, setelah pembunuhan itu berlangsung perasaannya tidak tenang. Dia selalu gelisah. Porfiry Petrovich paham dengan hal itu. Maka lewat permainan psikologis yang dia lakukan, dia memanfaatkan kegelisahan Raskolnikov agar dia mengaku dengan sendirinya. Pada akhirnya, tentu saja Raskolnikov mengakui perbuatannya. Setelah diinterogasi, dia melakukan pembunuhan karena dia ingin menjadi orang besar, seorang pahlawan, yang menyelamatkan warga Rusia dari rentenir jahat yang telah dibunuhnya. Membunuh satu orang jahat untuk kebaikan banyak orang lain bukanlah sebuah tindak kejahatan, tapi tindakan seorang pahlawan. Begitulah yang diyakini Raskolnikov.

Keyakinan Raskolnikov itu masih bertahan dalam banyak karya fiksi kontemporer. Komik superhero Watchmen karya Alan Moore misalnya. Salah satu superheronya, Ozymandias, melakukan suatu rekayasa serangan alien di muka bumi. Karena rekayasanya tersebut, jutaan orang mati. Namun berkat rekayasanya pula, perang antara Amerika dan Rusia yang sudah di depan mata akhirnya tidak terjadi, sebab pemerintah kedua negara tersebut sepakat untuk bekerja sama memberantas alien yang menyerang bumi. Jika perang Amerika dan Rusia terjadi, milyaran penduduk bumi dipastikan akan tewas. Ozymandias berkata, membunuh jutaan orang demi kebaikan milyaran orang lain bukanlah sebuah kejahatan.

Apa yang dipikirkan Raskolnikov maupun Ozymandias tentu saja mengerikan. Tapi kita tidak perlu khawatir, sebab keduanya hanyalah karakter dalam karya fiksi. Yang membuat saya begitu takut, pernyataan seperti itu ternyata pernah diucapkan oleh seseorang jenderal di masa orde baru. Ketika wartawan bertanya perihal banyak aktivis yang hilang, sang jenderal menjawab kurang lebih seperti ini: “Membunuh satu orang demi kebaikan jutaan masyarakat Indonesia bukanlah suatu masalah.”

Itu pernyataan sinting! Mengetahui hal itu, saya hampir saja terkencing-kencing.

5 Film Romantis Terbaik Versi Saya

Tulisan ini barangkali paling cocok dipublikasikan menjelang hari valentine. Tapi tidak masalah saya pikir, toh film-film romantis banyak yang tayang perdana bukan pada hari valentine. Saya sendiri bukan penggemar film romantis, dan sampai saat ini tidak satupun film romantis yang pernah membuat saya menangis (bukan berarti saya tidak pernah menangis saat menonton film). Daftar film romantis ini saya buat berdasarkan “sisi romantisnya” dan bukan pada sisi teknis berceritanya. Misal, Annie Hall bukan film romantis terbaik yang pernah saya tonton, padahal dalam daftar film terbaik yang pernah saya tonton, Annie Hall berada diurutan pertama. Berikut daftarnya, dimulai dari urutan kelima.

5. Annie Hall

Meskipun ini adalah film terbaik versi saya, tapi untuk ukuran film romantis, Annie Hall bukanlah pilihan pertama. Bercerita tentang seorang comic, bernama Alvy Singer yang jatuh cinta pada seorang perempuan cantik bernama Annie Hall. Film ini langsung dibuka dengan pernyataan Alvy bahwa dia telah putus dengan Annie. Jadi sejak awal telah diberitahukan bahwa film ini tidak akan berakhir bahagia.

4. Eternal Sunshine of the Spotless Mind

Sama dengan Annie Hall, film ini pun bukan film yang berakhir bahagia. Tapi film ini akan mengajarkan pada kita bahwa melupakan bukanlah cara terbaik agar bisa move on.

3. Silver Linings Playbook

Bagian yang paling saya sukai dari film ini ketika selesai membaca novel masterpiece Hemingway, berjudul A Farewell to Arms,  Pat langsung membuang novel tersebut melalui jendela seraya berkata: what the fuck! Atau saat Pat selalu merasa pusing setiap kali mendengar My Cherie Amour yang dinyanyikan oleh Stevie Wonder. Sial, dua hal yang sangat dibenci Pat itu justru dua hal yang sangat saya sukai.

2. Amelie

Film ini bercerita tentang Amelie, seorang perempuan cantik tapi selalu minder dengan laki-laki, dalam mendapatkan pujaan hatinya. Jika adegan terbaik 500 Days of Summer terdapat pada “ekspektasi vs realita”, maka Amelie sudah melakukan hal itu bertahun-tahun sebelumnya. Film ini adalah sebuah perayaan pada hal-hal kecil, namun sangat berarti bagi hidup seseorang.

1. Casablanca

Jika dua film legendaris The Usual Suspects dan Adaptation berhutang budi pada film ini, saya rasa itu cukup untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya film ini. Oke, karena utang budi kedua film itu bukan pada sisi romantisnya, maka mau tidak mau harus saya ceritakan sedikit mengapa film ini adalah drama romantis terbaik. Sebab,  kita akan selalu bersimpati pada seorang laki-laki yang ditinggal pergi kekasihnya, dan sang kekasih pada suatu hari, setelah bertahun-tahun pergi, datang kembali dengan suaminya untuk meminta bantuan pada orang yang telah dia khianati itu, dan sang lelaki tetap rela membantunya. Pada akhirnya cinta memang membuat manusia menjadi dungu.

Panduan Menonton Film-film Charlie Kaufman

Sebagai seorang yang tergila-gila dengan Charlie Kaufman, saya akan selalu menyebut beberapa judul film karyanya setiap kali ada teman yang meminta rekomendasi film untuk ditonton. Film-film Kaufman cenderung berat. Tapi bukan berarti film-filmnya tidak bisa dinikmati. Kaufman bukan tipikal sineas yang suka bergelap-gelap. Bisa dikatakan bahwa semua film yang dia tulis adalah film komedi. Itulah barangkali mengapa penonton tetap bisa tertawa sekalipun filmnya berat, suatu hal yang tidak saya temukan dalam film-film Terrence Malick, misalnya.

Daftar yang saya buat ini bukan berdasarkan peringkat film terbaik Charlie Kaufman versi saya, tapi lebih kepada film-film yang saya rasa cocok dijadikan pintu masuk untuk mengenal karya-karya Kaufman. Berikut panduan ringkasnya.

Wajin Tonton

Sampai saat ini, Kaufman baru menulis 6 film. Dan di antara 6 film itu, Eternal Sunshine of the Spotless Mind lah yang masuk kategori wajib tonton. Dosa besar jika seorang maniak film tidak menontonnya. Film ini bercerita tentang seorang lelaki yang ingin menghapus ingatannya, lewat mesin penghapus ingatan, terhadap seorang perempuan cantik yang sangat dicintainya. Kenangan, seburuk apapun dia, pada akhirnya memang bukan untuk dilupakan.

Wajib Kifayah Ditonton

Barangkali istilah kifayah kurang tepat. Namun Being John Malkovich adalah film yang wajib ditonton siapa saja yang menyukai Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Bercerita tentang seorang dalang boneka yang menemukan portal untuk masuk ke dalam pikiran John Malkovich. Masuk di sini bukan memengaruhi John Malkovich seperti apa yang dilakukan oleh orang yang bisa melakukan hipnotis, tapi masuk dalam artian yang denotatif: seluruh tubuh masuk ke dalam pikiran John Malkovich. Semoga saja di dunia nyata portal seperti itu ada, dan alangkah menyenangkannya jika portal itu menuju ke dalam pikiran Chelsea Islan.

Penggemar Berat Charlie Kaufman

Bagi yang menyukai kedua film yang telah saya sebutkan tadi, otomatis akan menjadi penggemar berat Charlie Kaufman. Kalau sudah begini, dua film metafiksi yang dia tulis adalah tontonan wajib selanjutnya. Yang pertama berjudul Adaptation. Bercerita tentang seorang penulis skenario yang kebingungan dalam menulis skenario yang diadaptasi dari sebuah buku non-fiksi. Penulis skenario itu bernama Charlie Kaufman, dan skenario film yang sedang dia buat berjudul Adaptation. Jadi, film ini adalah film tentang Charlie Kaufman yang sedang kebingungan dalam menuliskan skenario film Adaptation. Sepengetahuan saya, film ini adalah film pertama yang menampilkan penulis skenarionya sebagai karakter utama di dalam cerita. Yang kedua berjudul Synecdoche, New York. Film ini merupakan film pertama yang disutradarai sendiri oleh Charlie Kaufman. Bercerita tentang seorang sutradara drama, yang ingin membuat sebuah pagelaran drama terbesar yang pernah ada. Drama yang ingin dia buat adalah sebuah copy paste dari kehidupannya sendiri. Karena dalam kehidupan sehari-hari dia adalah seorang sutradara drama, maka drama yang dia buat, awalnya dia beri judul Simulacrum, bercerita tentang dirinya sendiri beserta semua kru yang sedang membuat sebuah drama yang juga berjudul Simulacrum. Begitu seterusnya, sampai dia tidak mengenal lagi siapa kru yang benar, dan siapa aktor yang berperan sebagai kru.

Untuk yang Tergila-gila dengan Charlie Kaufman

Human Nature dan Confession of a Dangerous Mind adalah dua film minor dari Charlie Kaufman, dan barangkali hanya cocok ditonton oleh orang yang tergila-gila dengan karyanya. Ceritanya sendiri barangkali tidak lagi menjadi penting, sebab jika sudah tergila-gila, dengan sendirinya akan tetap menonton karyanya tanpa perlu diberitahu seperti apa jalan ceritanya.

PS: Jika ingin menikmati karyanya, saya sarankan jangan dilakukan secara maraton seperti menonton trilogi The Lord of the Ring.

Halo Dunia

Saya mulai menulis blog tahun 2008, dan blog ini adalah blog saya yang ketiga. Blog saya yang pertama dan kedua, menggunakan domain berbayar. Itu berarti blog ini adalah satu-satunya blog saya yang gratis. Blog pertama saya, rumahair.com sudah lama almarhum. Karena saya dulu rajin mengurusnya, blog itu memiliki page rank yang tinggi. Ketika saya memutuskan untuk tidak memperpanjang kepemilikan domain tersebut, seseorang dari luar negeri sana membelinya. Saya tidak tahu bagaimana nasib domain itu, sampai suatu ketika seorang teman blogger yang berdomisili di Jakarta, Ridu, mengabari saya kalau domain itu sudah menjadi situs porno!

Saya mengeceknya, dan ternyata benar. Saya juga tidak ambil pusing. Mungkin memang sudah nasibnya begitu. Saat pagi tadi saya mengeceknya kembali, ternyata domain itu sudah berpindah tangan lagi. Pemiliknya kali ini dari Indonesia, orang Surabaya yang memiliki usaha bernama Rumah Air. Websitenya masih under construction, padahal dia membelinya sudah satu setengah bulan yang lalu, waktu yang lebih dari cukup untuk membuat sebuah web tentunya.

Blog saya yang kedua menggunakan nama saya sendiri, abdulhair.com. Blog itu saya buat pada pertengahan 2013, sebagai wadah untuk melatih kemampuan saya dalam menulis. Saya bercita-cita menjadi penulis, dan untuk mengejar cita-cita itulah saya masuk jurusan Ilmu Komunikasi. Saya tidak ingin menjadi jurnalis, meskipun jurnalis juga seorang penulis. Saya ingin menjadi seorang penulis cerita fiksi, entah itu novel atau skenario film. Novel dan film adalah minat utama saya, dan tema-tema seputar dua hal itu adalah tema-tema yang paling saya kuasai. Tidak seperti rumahair.com yang isinya campur aduk, abdulhair.com isinya sangat spesifik, hanya membicarakan novel, cerpen, komik, film, atau apapun yang berhubungan dengan karya fiksi.

Setelah saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, saya ingin benar-benar fokus belajar di kampus dan blog tersebut tidak saya perpanjang lagi. Barangkali itu adalah salah satu penyesalan saya yang terbesar, sebab dengan tidak melatih kemampuan menulis lewat blog seperti yang dulu saya lakukan, tulisan-tulisan saya jadi kering, tidak enak dibaca, dan saya begitu frustasi saat membaca paper mata kuliah yang saya kerjakan ternyata tidak lebih baik dari tulisan anak SMA.

Satu tahun sudah blog itu almarhum, dan kali ini saya mencoba untuk aktif menulis blog lagi. Kali ini saya menggunakan jasa blog gratisan saja, biar blog ini tidak akan pernah lagi menjadi almarhum seperti dua blog awal yang saya buat. Blog ini sebenarnya sudah ada sejak 2011, bukan untuk menjadi blog pribadi, tapi untuk menjadi sebuah web zine. Saya beserta tiga orang teman di Malang , dengan semangat memberontak ala anak muda, pernah membuat sebuah zine bernama KERetek. Nama itu adalah plesetan dari Kretek, jenis rokok dengan campuran cengkeh, yang kebetulan kami semua adalah konsumen rokok Kretek. Diantara huruf K dan R, kami menambahkan huruf E, sehingga terciptalah kata KERetek. KER sendiri adalah bahasa jawa walikan khas Malang, yang artinya adalah sebuah bentuk sapaan terhadap teman. KERetek adalah zine lokal Malang, yang isinya membahas tentang musik, politik, dan budaya yang ada di Malang. Isinya sendiri lebih banyak membicarakan kalau musik lewat jalur indie itu keren, liputan tentang gigs-gigs  di Malang, dan beberapa himbauan (mungkin lebih tepat disebut khotbah) kalau generasi muda seharusnya melek dengan politik. Karena sejak awal blog KERetek tidak pernah digunakan, jadi saya ambil alih saya kepemilikannya. Saya pikir tiga teman saya yang lain tidak akan keberatan.

Seperti blog saya sebelumnya, abdulhair.com, blog keretek ini juga hanya akan membahas tentang karya fiksi saja, baik itu novel, cerpen, film, ataupun komik. Saya pikir saya tidak akan kehabisan bahan untuk membicarakan tema fiksi. Saya sudah membaca banyak buku-buku fiksi, dan jumlah film yang pernah saya tonton barangkali sudah menembus angka ribuan (saya juga tidak tahu pasti, sebab saya tidak pernah menghitungnya). Saya bisa membicarakan di mana bagian paling menarik dari novel The Adventures of Huckleberry Finn karya Mark Twain, inovasi struktur bercerita pada film Annie Hall karya Woody Allen, atau membuat sebuah resensi terhadap buku-buku yang tidak pernah ada seperti yang dilakukan Jorge Luis Borges.

Saya ingin seperti dulu, menulis setiap hari. Sebab hanya dengan latihan menulis setiap hari lah kemampuan menulis saya bisa bertambah. Dan blog ini adalah tempat saya untuk berlatih, seperti para kesatria dalam cerita pewayangan yang berlatih di kawah candradimuka.