Kokoro, Natsume Sōseki

“Hati seorang perempuan adalah samudera rahasia yang dalam,” adalah kutipan yang sangat terkenal dari fim Titanic. Bertahun-tahun saya mengamini kebenaran kutipan itu sampai akhirnya saya menganggap kutipan itu omong kosong belaka setelah saya membaca Kokoro karya Natsume Sōseki. Novel ini bercerita tentang keterasingan tokoh Sensei dari dunia luar akibat perbuatan-perbuatan yang dia lakukan di masa lalu. Novel ini mengingatkan saya pada seorang teman yang lebih senior yang sering saya panggil Suhu. Antara Sensei dan Suhu memiliki sifat yang kurang lebih sama. Bersikap tenang dan selalu tampak tidak peduli dengan dunia luar. Tentu saja sikap yang demikian bukan bawaan lahir, tetapi akibat dari hal-hal yang mereka lakukan di masa lalu. Hanya saja, jika Sensei perubahannya berlangsung secara bertahap, Suhu justru sangat tiba-tiba.

Tiga tahun lalu, saat saya masih tinggal di Malang, Suhu merekomendasikan saya untuk membaca Kokoro. Waktu itu Suhu belum mengasingkan diri dari dunia luar. Dia adalah orang yang sangat ambisius dan ekspresif, suatu sikap yang terus terang saja lebih saya senangi ketimbang sikap diam dan bijaknya saat ini. Suhu memang banyak merekomendasikan buku pada saya. Bacaannya kebanyakan sastra klasik, dan oleh karena itu rekomendasi bukunya kebanyakan dari para sastrawan bangkotan semacam Dostoyevsky, Nabokov, serta raksasa-raksasa kesusastraan Jepang seperti Ryūnosuke Akutagawa, Jun’ichirō Tanizaki, Osamu Dazai, dan Natsume Sōseki. Di antara semua rekomendasinya itu, Suhu “sedikit mewajibkan” saya untuk membaca Kokoro dan No Longer Human nya Osamu Dazai. Kedua novel itu bercerita tentang keterasingan manusia, dan saat ini Suhu, dalam pandangan saya, memutuskan untuk mengasingkan diri. Suatu kebetulan kah? Atau keteransingan yang suhu alami karena membaca dua novel itu?

Kembali ke Kokoro, narator utama dalam novel ini adalah tokoh Aku, yang tidak pernah disebutkan namanya, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi. Tokoh Aku merasa kuliah-kuliah dari profesor di universitas sama sekali tidak membangkitkan gairah intelektual dalam dirinya. Tetapi pembicaraan-pembicaraannya dengan Sensei selalu saja membuat tokoh Aku merasa mendapat pelajaran tentang hidup. Sudah pasti, meskipun hanya lulusan S1, tapi Aku jauh lebih mengangumi kecerdasan Sensei ketimbang profesor di universtas. Suhu yang saya ceritakan juga lulusan S1, tapi saya merasa obrolan dengan Suhu berjam-jam di warung kopi Joker jauh lebih bermanfaat ketimbang mengikuti kuliah di kampus. Saya sangat mengagumi Suhu, seperti karakter Aku yang begitu mengangumi Sensei.

Saya awalnya tidak tertarik untuk membaca sastra Jepang. Bagi saya, sastra itu ya Eropa. Novel yang cemerlang hanya ada di Eropa, bukan di tempat lain. Tapi itu dulu. Bertahun-tahun kemudian saya merasa pendapat saya itu teramat lugu, dan hanya dilontarkan oleh seorang mahasiswa tingkat pertama yang sedang puber intelektual. Keengganan saya membaca novel Jepang karena anggapan yang keliru bahwa alur novel Jepang sudah pasti lambat seperti Dragon Ball, dan karakternya sama sekali tidak hidup seperti serial Naruto. Suhu lah yang meyakinkan saya bahwa pandangan seperti itu keliru luar biasa. Mulai saat itu saya banyak membaca sastra Jepang, meskipun jumlahnya tidak betul-betul banyak. Saya membaca cerpen-cerpen Akutagawa, serta novel-novel Haruki Murakami dan Yasunari Kawabata. Semuanya karya cemerlang. Tapi tidak ada yang sebegitu dahsyatnya bagi saya seperti Kokoro. Saya punya list lima novel terbaik versi saya. Setelah selesai membaca Kokoro ada satu pekerjaan yang menanti saya untuk segera saya lakukan: merombak list novel terbaik yang pernah saya baca itu tentu saja.

Seperti Dendam, O Harus Dibaca Tuntas

“Enggak gampang menulis novel seperti ini,” pikirku, selesai membaca novel O nya Eka Kurniawan. Sejak halaman kedua saya segera tahu kalau novel ini memiliki struktur yang sama dengan novel Eka yang terdahulu, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Fragmen-fragmen singkat, melompat-lompat, dan tidak linier. Barangkali bukan cuma struktur, tapi teknik menulisnya pun sama persis, cara memberi nama pada karakter, humor yang melimpah, dan tokoh-tokoh yang hampir semuanya bajingan. Yang membedakan cuma satu, dan saya yakin ini membuat penggemar Eka sedikit kecewa: di novel O kita tidak mendapati satupun fragmen yang membuat kontol kita jadi ngaceng.

          

Salah satu hasrat terbesar Eka barangkali memadukan antara yang “sastra” dan yang “populer,” yang “elit” dan yang “kacangan” dalam novel-novelnya. Haruki Murakami dalam karya-karyanya sering mengutip nama penulis-penulis elit, Thomas Mann, Kafka, Dostoyevsky. Juga musisi elit, Beethoven, Schubert. Dan sutradara elit, Truffaut. Dari beberapa karyanya yang saya baca, dia tidak pernah sekalipun menyebut nama penulis, musisi, ataupun sutradara yang  menghasilkan karya-karya kacangan. Dia misalnya tidak pernah menyebut musik-musik MLTR dan NSync, film-film Sylvester Stallon, atau novel-novel Agatha Christie. Penyebutan penulis, musisi, dan sutradara elit hanya berarti satu hal: si penulis memiliki selera bacaan, musik, dan film bermutu. Dan lewat inspirasi yang didapatkan dari karya-karya bermutu itulah si penulis membuat novelnya.

          

Saya curiga Eka memiliki banyak hewan peliharaan di rumahnya. Secara diam-diam, di tengah kesibukannya sebagai penulis, Eka aktif dalam organisasi penyayang binatang. Saya pikir itu sebab paling masuk akal mengapa karakter binatang dalam novel O bisa begitu hidup. Dan di antara semua hewan peliharaannya, Eka paling menyayangi seekor monyet. Itu adalah hewan peliharaannya yang pertama. Dia menemukannya secara tidak sengaja di pinggir jalan sehabis mengantar istrinya ke kantor. Monyet itu penuh luka di punggungnya. Eka menyelamatkannya. Eka tahu luka itu karena cambukan manusia. Mulai saat itu, karena geram dengan manusia yang tidak menyayangi binatang, Eka ikut bergabung dengan organisasi penyayang binatang. Setelah monyet itu sembuh, setiap sore Eka menemani monyetnya jalan-jalan, sembari menceritakan rahasia-rahasinya ke monyet itu. Rahasia yang bahkan istrinya sekalipun tidak tahu. Sebab Eka paham, seekor monyet tidak mungkin membocorkan rahasianya, sekalipun monyet itu telah berubah menjadi manusia.

          

Lewat blognya kita bisa tahu seperti apa bacaan Eka, dan bagaimana pendapatnya tentang sastra secara umum. Eka memiliki selera bacaan yang tidak lazim. Dia membaca novel-novel stensil, horor, dan silat, yang bagi banyak orang dianggap sebagai karya kacangan. Dia juga lebih suka membaca novel-novel dari penulis yang belum begitu terkenal, paling tidak belum terkenal di Indonesia. Dia tidak pernah malu untuk mengungkapkan betapa dia begitu mengidolakan SNSD, suatu hal yang hampir mustahil dilakukan oleh Murakami seandainya dia juga seorang Sone. Hal ini berarti bahwa Eka memang memiliki selera bacaan yang tidak lazim, selera musik yang tidak lazim. Atau bisa juga dia hanya sok memiliki selera yang kacangan, padahal dalam kenyataanya dia tetap memiliki selera yang tinggi. Hal itu dia lakukan sebagai penanda untuk membedakan dia dengan penulis lain, bahwa meskipun dia membaca novel dan mendengar musik kacangan, toh dia tetap mampu menghasilkan karya bermutu macam O dan Seperti Dendam. Entah mana yang benar. Hanya Tuhan, Eka, dan monyet peliharaannya yang tahu.

          

Desember 2015, saat mengantar ibu saya belanja batik di Solo untuk kali terakhir, saya menunggu di depan toko sambil membaca Lelaki Harimau, novel kedua Eka. Di depan toko banyak tukang becak ikut nongkrong, menunggu pelanggannya yang singgah sebentar di toko itu. Seorang tukang becak yang usianya di atas 40 tahun menghampiri saya. Dia mengatakan telah membaca Lelaki Harimau, dan hampir semua karya Eka. Dia menceritakan bagaimana kesan-kesannya terhadap Lelaki Harimau, dan menceritakan karakter-karakter di novel tersebut. Tapi tidak satupun nama karakter yang dia sebutkan ada di Lelaki Harimau. Saya pikir dia cuma membual, sebelum akhirnya dia mengatakan kalau dia terakhir kali membaca novel saat masih SMP. Itu berarti dia membacanya sekitar 25 tahun yang lalu. Lelaki Harimau saat itu belum ditulis, bahkan saat itu Eka barangkali belum berpikir akan jadi penulis. Dia salah ingat. Ternyata bukan Lelaki Harimau yang dia baca, tapi Manusia Harimau nya S.B. Chandra.

          

Saya tidak tahu pasti siapa saja yang membaca karya-karya Eka. Tapi kuat dugaan saya kalau mayoritas pembacanya adalah anak muda kelas menengah, yang semoga saja tidak ngehek. Sampai sekarang saya tidak pernah melihat, atau paling tidak mendengar berita, ada tukang becak, tukang kayu, tukang pijat, tukang palak, atau tukang pukul yang membaca Seperti Dendam dan O.

          

Dalam blognya Eka pernah menyinggung tentang usia 40 tahun, usia matang dan barangkali usia paling penting untuk manusia. Eka menyinggung Pramoedya yang di tangkap dan dibuang ke Pulau Buru saat berusia 40 tahun, dan Gabriel Garcia Marquez yang menerbitkan One Hundred Years of Solitude, yang menggegerkan jagat sastra dunia dan dibaca oleh semua kalangan dari kelas bawah sampai kelas atas, juga diusia 40 tahun. Diusia yang sama Eka menerbitkan O. Saya berkeyakinan bahwa novel ini punya potensi untuk menggegerkan jagat sastra dunia, tapi untuk dibaca semua kalangan, terutama oleh kalangan bawah, saya meragukan itu.

          

Eka, sebagaimana hampir semua peminat sastra dan kaum intelektual Indonesia, sangat mengagumi Pramoedya. Dia juga sangat mengagumi S.B. Chandra, Motinggo Busye, S.H. Mintardja, Abdullah Harahap, dan terutama Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Lima penulis yang saya sebutkan belakangan adalah penulis-penulis yang namanya tidak pernah tertulis di buku ajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Itu berarti karya kelimanya tidak pernah dianggap sebagai karya sastra. Boleh dibilang karya populer lagi kacangan. Hanya dibaca oleh kalangan bawah dan sampai saat ini hanya diulas oleh sedikit sekali akademisi kita. Eka membaca karya “kacangan” kelima penulis itu, juga membaca karya-karya sastra yang dianggap kanon. Hingga lahirlah novel Seperti Dendam dan O, yang memiliki alur, plot, dan penokohan yang rumit seperti novel sastra kanon, tapi tetap memiliki elemen-elemen populer dari novel-novel yang dianggap kacangan itu.

          

Hasrat Eka untuk menyatukan yang populer dan yang sastra dalam novelnya sudah terlihat sejak dia menerbitkan Lelaki Harimau. Tapi hasrat itu paling terlihat jelas dalam Seperti Dendam dan O. Terus terang saja, cerita yang terbagi dalam fragmen-fragmen pendek, dan antara fragmen yang satu dengan yang lain saling bersilangan hingga menciptakan cerita yang kaya namun tetap menyatu utuh, adalah sebuah teknik bercerita yang cemerlang. Teknik seperti ini hanya bisa ditemui dalam novel-novel kanon. Tapi cerita tentang orang ngentot, kontol yang enggak bisa ngaceng, memek basah, biduan dangdut, topeng monyet, adegan berkelahi ala silat, waria yang mengamen dari bus ke bus, dan dialog dengan bahasa pasar, adalah hal-hal yang khas dalam novel-novel populer. Kita bisa menemukan itu semua dalam dua novel Eka yang terakhir.

          

Berhasilkah Eka menyatukan yang populer dan yang sastra dalam novel-novelnya? Sayangnya tidak. Saya lebih suka menyebut Seperti Dendam dan O sebagai novel sastra yang meminjam banyak elemen novel populer untuk memuaskan pembaca dari kelas menengah. Sekalipun Eka menggunakan bahasa pasar dalam dialognya, atau membuat adegan seperti cerita stensilan, tetap saja novelnya adalah novel elit, bukan novel yang berhasil mengaduk elemen sastra dan populer. Kita bisa menganalogikannya dengan lagu Drama Romantika nya Maliq & D’Essentials. Bagi kelas menengah, lagu-lagu Maliq tentu saja lebih berkualitas dari lagu dangdut. Tapi dalam Drama Romantika, Maliq meminjam elemen musik dangdut. Seolah-olah musiknya turun kelas menjadi tidak lagi berkualitas (perlu diingat, Maliq adalah akronim dari music and live instrument quality), padahal tidak. Hal itu tidak menjadikan lagu tersebut sebagai lagu dangdut, dan tidak menjadikan penggemar musik dangdut menyukai lagu itu. Drama Romantika tidak lebih sebagai lagu yang meminjam elemen musik dangdut sebagai sarana eksperimentasi kelompok musik yang digemari anak muda kelas menengah. Begitu juga dengan Seperti Dendam dan O, yang meminjam elemen novel populer bukan untuk membuat novel yang membaurkan antara yang sastra dan yang populer, tapi untuk membuat novel sastra yang tidak mentok pada hal yang itu-itu saja. Bahwa novel sastra bisa diperluas ke hal-hal yang sebelumnya belum terjamah.

          

Eka, sebagaimana yang selama ini dia citrakan, memiliki dua sisi selera bacaan yang tampaknya saling bertolak bekalang: sastra dan populer. Sisi sastranya bolehlah kita katakan diwakili oleh Pramoedya, dan sisi populernya diwakili oleh Kho Ping Hoo. Cantik itu Luka adalah obsesi Eka pada karya-karya Pramoedya, sedangkan Seperti Dendam dan O adalah obsesinya pada idolanya yang lain: Kho Ping Hoo, dan semua penulis novel “kacangan” lain tentu saja.

          

Kita bisa membandingkan Tetralogi Buru nya Pramoedya dengan Cantik itu Luka nya Eka. Keduanya adalah novel poskolonial yang menceritakan terjadinya suatu bangsa bernama Indonesia. Keduanya novel cemerlang, sama-sama diterjemahkan dalam banyak bahasa asing, dan diterbitkan oleh penerbit yang memiliki reputasi baik di luar negeri. Minke, dalam Tetralogi Buru, adalah metafora bagi Indonesia. Begitu juga dengan Dewi Ayu dan seluruh keluarga besarnya, dalam Cantik itu Luka, yang juga metafora bagi Indonesia. Jika Minke adalah Indonesia, itu berarti Indonesia adalah bangsa yang berdiri karena jasa dari kalangan priyayi terdidik. Bagi saya gagasan ini bermasalah sebab terlalu elitis, melupakan peran dari kalangan bawah, terutama petani. Cantik itu Luka kebalikannya. Jika Dewi Ayu dan semua keluarga besarnya adalah Indonesia itu sendiri, itu berarti Indonesia dibangun lewat hubungan yang rumit antara penjajah Belanda dengan masyarakat “lokal” (Ted Stamler dan Ma Iyang), lewat campur tangan Jepang (Alamanda), dan terutama oleh kalangan militer (Shodanco), komunis (Kamerad Kliwon), dan preman serta kalangan bawah lainnya (Maman Gendeng). Sekali lagi, keduanya adalah novel yang hebat. Tapi secara gagasan, bagi saya Cantik itu Luka berhasil melampaui Tetralogi Buru.

          

Bagaimana dengan sisi populer Eka yang diwakili oleh Kho Ping Hoo? Sekadar mengingatkan, karya Kho Ping Hoo dibaca oleh kalangan yang sangat luas, terutama oleh kalangan bawah. Dulunya cerita silat Kho Ping Hoo memang dianggap karya murahan. Saat ini novel-novel Kho Ping Hoo mulai mendapat pengakuan, bahwa novel-novelnya merupakan karya sastra yang bermartabat. Eka memiliki hasrat seperti ini, menampilkan elemen silat (dan elemen populer lainnya) dalam Seperti Dendam dan O, serta dibaca oleh kalangan luas. Tetap nyastra tapi populer, populer tapi nyastra, seperti cerita silatnya Kho Ping Hoo. Sayangnya Eka belum berhasil memenuhi hasrat itu. Eka memang berhasil berguru dengan sangat baik pada Pramoedya. Tapi pada Kho Ping Hoo, Eka sepertinya harus belajar lebih banyak lagi di padepokan silatnya.

5 Buku yang Memecahkan Kepala Saya

Franz Kafka pernah mengatakan kalau sebuah buku haruslah menjadi kapak yang memecahkan es di kepala kita. Dalam kalimat lain, sebuah buku haruslah memecahkan kebekuan pikiran kita. Ada lima buku yang sangat bagus menurut saya karena mampu memecahkan kebekuan saya dalam berpikir. Lima buku itu adalah:

1. Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam), Anonymous

Inilah buku terbaik yang pernah saya baca. Kekaguman saya pada buku ini terutama pada struktur narasi dalam narasinya. Ada banyak cerita dalam buku ini, dan semua cerita itu merupakan dongeng yang diceritakan oleh Syahrazad untuk raja Syahrayar. Dalam dongeng yang diceritakan Syahrazad tersebut, terdapat dongeng lain, sampai pada tingkat keempat. Jadi ada dongeng di dalam dongeng. Tidak ada satu orang pun yang tahu siapa penulis dongeng-dongeng tersebut, dan tak ada juga yang mengetahui siapa orang yang menyusun semua dongeng-dongeng itu ke dalam struktur cerita dalam cerita. Jika saja saya tahu siapa orangnya, saya akan ziarah ke kuburannya sembari membacakan surah Yasin di sana.

2. The Adventures of Huckleberry Finn, Mark Twain

100 halaman terakhir dalam buku ini membuat saya misuh tiada henti. Ide-ide Tom Sawyer dan Huck Finn dalam membebaskan seorang tahanan dalam “penjara” membuat saya ketawa tanpa henti. Ide-ide mereka sangat lucu, tapi di sisi lain sangat brilian. Novel ini adalah sebuah contoh yang bagus kalau menulis novel komedi tidak harus menampilkan hal-hal konyol.

3. Ficciones, Jorge Luis Borges

Bayangkan ada sebuah buku yang tidak pernah dituliskan, tetapi di sebuah surat kabar tiba-tiba muncul sebuah resensi yang membahas buku tersebut. Seperti itulah Borges membuat cerita. Dengan cara itu, dia mampu menuliskan sebuah cerita yang seharusnya setebal 1001 halaman menjadi 10 halaman saja.

4. Dictionary of the Khazars, Milorad Pavic

Membaca buku tidak harus dari halaman pertama ke halaman terakhir. Kita bisa membaca sebuah buku dari halaman paling belakang ke halaman paling awal, atau membaca dari tengah, lalu ke akhir, lalu ke awal, atau membaca bagian manapun yang kita suka dan diakhiri di bagian manapun yang kita inginkan. Buku ini dapat dibaca sesuka hati. Sebab yang namanya kamus memang bisa kita baca dari mana saja bukan?

5. The Old Man and the Sea, Ernest Hemingway

Pikiran dan perasaan seseorang dapat diketahui pembaca dari apa yang orang tersebut lakukan. Saya pikir, itulah kehebatan utama novel ini. Yang lebih hebat lagi, novel ini terlihat sangat sederhana secara teknik, padahal jika dibaca berulang-ulang, teknik yang digunakan Hemingway dalam menulis novel ini amatlah rumit. Hal ini mengingatkan saya pada gaya bermain Paul Scholes di Manchester United. Bagi penonton kebanyakan, teknik permainan Scholes sangat sederhana, namun para pemain dan pelatih sering bengong-bengong sendiri dengan teknik yang diperagakan Scholes. Ada kerumitan di balik kesederhanaan, begitulah.

Big Brother, Soeharto, dan Politik Bahasa

Barangkali Big Brother adalah penguasa tiran yang paling terkenal setelah Hitler. Dia adalah penguasa Oceania, negeri fiktif dalam novel 1984 karangan George Orwell. Kekuasannya absolut. Dia tidak pernah salah, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Jika ramalan yang dia katakan tidak terbukti, maka ramalan itu akan diperbaiki, dan penduduk Oceania akan mengalami amnesia massal, seolah-olah kesalahan itu tidak pernah diucapkan Big Brother.

Big Brother adalah politisi hebat. Dia paham betul bagaimana cara mempertahankan kekuasannya. Salah satunya melalui politik bahasa. Kebijakan yang dia keluarkan, tahun 2050 nanti semua penduduk Oceania harus menggunakan bahasa Inggris Newspeak. Bahasa Inggris saat ini, yang dalam novel itu disebut Oldspeak, adalah bahasa Inggris yang kita gunakan sehari-hari, dengan kosakata yang sangat kaya. Newspeak adalah penyempurnaan dari Oldspeak. Bahasa, kita tahu, selalu berkembang. Sehingga kamus terbaru akan selalu lebih tebal dari kamus edisi sebelumnya. Tapi Newspeak berbeda, sebab bukannya bertambah, kosakatanya malah semakin berkurang. Saya membayangkan, saking sedikitnya kosakata Newspeak, di tahun 2050 nanti ketika Newspeak resmi digunakan, kamus Newspeak justru hanya setebal 37 halaman saja!

Pikiran kita bekerja di dalam bahasa. Kita tidak bisa memikirkan sesuatu di luar bahasa. Ketika kita sedang berkhayal, sekalipun itu khayalan paling tidak masuk akal yang pernah ada, tetap saja khayalan kita berada di dalam bahasa. Artinya, kemampuan kita dalam berpikir ditentukan oleh seberapa banyak kosakata yang kita kuasai. Sebab sebuah kosakata niscaya sebuah ekspresi dari pikiran. Itulah sebabnya orang yang suka membaca buku memiliki kualitas berpikir yang lebih baik ketimbang yang tidak. Sebab selain mendapat pengetahuan baru, membaca buku juga dapat memperkaya kosakata kita, yang itu berarti kita memiliki tambahan kata untuk mengeksperesikan apa yang kita pikirkan.Kosakata yang dihilangkan Big Brother adalah kosakata yang memungkinkan orang untuk berpikir tentang penggulingan kekuasaan. Maka, semua kosakata yang mengarah ke sana akan dihapus. Dengan jumlah kosakata yang sangat sedikit, maka penduduk Oceania jadi tidak bisa memikirkan tentang penggulingan kekuasaan. Dan itu berarti kekuasaan Big Brother akan bertahan selamanya.

Indonesia pernah dipimpin oleh seorang presiden yang pintar betul mempertahankan kekuasaanya. Namanya Soeharto. Sepanjang sejarah Indonesia yang sudah 70 tahun, dia pernah memimpin selama 32 tahun. Salah satu yang membuat masa berkuasanya begitu lama, karena politik bahasa juga. Dia pernah mengeluarkan kebijakan pengubahan Edjaan Soewandi menjadi Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Sepintas kebijakan ini tidak bermasalah. Tapi disitulah letak kecerdikan Soeharto.

Pengubahan ejaan ini memiliki dampak politis yang sangat besar. Sebab anak-anak muda tidak lagi bisa membaca buku yang dicetak dengan ejaan lama (kalaupun bisa, pasti akan sangat melelahkan). Memang, Soeharto menjalankan proyek penerjemahan, dari Edjaan Soewandi ke Ejaan yang Disempurnakan. Tapi buku-buku yang diterjemahkan adalah buku-buku yang menurut Soeharto tidak membahayakan kekuasaannya ketika dibaca masyarakat umum. Buku-buku yang ditulis Soekarno, Tan Malaka, dan beberapa orang-orang PKI, tentu saja tidak diterjemahkan. Yang terjadi kemudian, buku-buku progresif revolusioner seperti itu jadi tidak dibaca oleh generasi muda. Dan yang lebih parah lagi, buku-buku sejarah “otentik” yang kebanyakan ditulis dalam ejaan lama menjadi tidak terbaca. Inilah salah satu sebab mengapa sejarah yang dituliskan pemerintah Soeharto dipercaya begitu saja oleh banyak masyarakat Indonesia, sebab mereka tidak punya kemampuan untuk membaca buku-buku sejarah yang fakta-faktanya belum diputar balikkan Soeharto.

Pengubahan ejaan, dengan demikian, berhasil melanggengkan kekuasaan Soeharto. Sebab masyarakat Indonesia tidak pernah membaca buku yang berbicara tentang semangat revolusi, dan mereka menjadi buta sejarah dengan hanya membaca sejarah versi orde baru.

Tlön, Oceania, Saussure

Beberapa bulan lalu saya membaca tulisan Jorge Luis Borges. Judulnya Tlön, Uqbar, Orbis Tertius. Tulisannya sendiri berbentuk esai, esai fiktif lebih tepatnya, tentang sebuah eksiklopedia setebal 1001 halaman mengenai suatu dunia bernama Tlön. Dalam ensiklopedia itu dijelaskan semua hal tentang Tlön, sistem filsafatnya, cara mereka dalam berhitung, kondisi geografisnya, benda-benda yang ada, sampai pada sistem bahasanya. Yang menarik bagi saya, orang-orang di bagian utara Tlön tidak mengenal kata kerja dan kata benda, sebab mereka hanya mengenal kata sifat saja. Untuk menyebut suatu benda, mereka akan menggabungkan beberapa kata sifat yang merujuk pada benda yang dirujuk tersebut. Bulan, misalnya. Orang-orang Tlön tidak mengenal kata bulan. Untuk menyebut ‘bulan’, orang-orang Tlön akan menyebutnya seperti ini: aerial-bright above dark-round, atau soft-amberish-celestial, atau kombinasi kata sifat lain yang tetap merujuk ke ‘bulan’.

Ada satu lagi karya fiksi dengan sistem bahasa yang menarik. Judulnya 1984, karangan George Orwell. Di novel tersebut, tidak ada Eropa, yang ada adalah Oceania. Keduanya daratan yang sama, walaupun Oceania yang digambarkan Orwell sedikit lebih besar dari Eropa yang kita kenal sekarang. Oceania adalah negeri yang dikuasai seorang diktator bernama Big Brother. Penduduk Oceania sehari-hari berbahasa Inggris. Pemerintah Oceania sedang merancang struktur bahasa baru, yang diberi nama Newspeak. Jadi, bahasa Inggris yang selama ini dipakai adalah Oldspeak, dan pada tahun 2050 diharapkan semua penduduk Oceania akan menggunakan Newspeak sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bisa dikatakan, Newspeak adalah penyempurnaan dari Oldspeak. Kita tahu, bahasa selalu berkembang, kosa kata menjadi semakin banyak, sehingga setiap edisi kamus terbaru selalu lebih tebal dari kamus edisi sebelumnya. Berbeda dengan Newspeak, bukannya bertambah, kosa katanya malah semakin berkurang! Saya membayangkan, saking sedikitnya kosa kata dalam Newspeak, di tahun 2050 nanti kamus Newspeak hanya akan setebal 37 halaman saja.

Ketika saya membaca esai Robert Hodge dan Gunther Kress yang berjudul Saussure and the Origin of Semiotics, mau tidak mau saya teringat pada dua cerita di atas. Esai itu berisi tentang pemikiran Saussure mengenai sistem bahasa dan kritik terhadap pemikirannya. Ciri khas dalam teori linguistik Saussure adalah, dia selalu mengajukan gagasan yang berpasangan. Langue dan parole, sinkroni dan diakroni, paradigmatik dan sintagmatik, atau penanda dan petanda. Ada hierarki dalam gagasan yang berpasangan itu, dalam artian ada salah satu konsep dalam gagasan yang berpasangan itu yang dianggap lebih penting oleh Saussure. Langue lebih penting ketimbang parole, sinkroni lebih penting ketimbang diakroni, atau penanda lebih penting ketimbang petanda. Kritik yang mengarah pada Saussure, dia hanya mementingkan bagaimana bahasa itu bekerja, dan luput membahas bahwa kerja suatu bahasa tidak terlepas dari budaya, kondisi sosial, dan ideologi yang bekerja dalam suatu masyarakat.

Kritik yang diarahkan pada Saussure mungkin benar. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya, sebab dalam kondisi ideologi seperti apapun cara kerja bahasa tetap sama, seperti apa yang digambarkan Saussure. Penduduk Tlön tidak mengenal kata benda (noun), sebab mereka menganut paham idealisme, bahwa segala yang berada di luar pikiran tidak lain sebagai persepsi semata. Membendakan sesuatu (dengan cara memberi nama untuk benda-benda), berarti bertentangan dengan prinsip idealisme itu sendiri, sebab pemberian nama untuk benda sama dengan pengakuan adanya dunia yang maujud di luar persepsi manusia. Atau, kosa kata Newspeak yang semakin berkurang, dengan tujuan agar rakyat Oceania tidak dapat mengekspresikan pikiran mereka secara berlebih, sebab kosa kata mereka sangat terbatas. Dengan begini, rakyat Oceania tidak akan mampu untuk memikirkan cara untuk menggulingkan kekuasaan Big Brother.

Walaupun Indonesia menganut ideologi Pancasila, Inggris dengan monarkinya, Cina dengan komunismenya, Tlön dengan idealismenya, atau Oceania dengan otoriternya, toh cara kerja bahasa di semua tempat itu sama saja, tetap sesuai dengan teori yang diajukan Saussure. Bagi saya, kritik terhadap pemikiran Saussure bukan berarti apa yang dia kemukakan itu salah atau lemah. Kritik terhadap pemikiran Saussure lebih tepat dimaknai sebagai pengembangan dari hal-hal yang sebelumnya tidak atau belum dibahas oleh Saussure.

Musik dan Komposisi Novel

Tahun lalu saya membaca The Art of the Novel, buku kumpulan esai karya novelis Ceko kenamaan, Milan Kundera. Esai itu terdiri dari tujuh bagian, dan setiap bagian membahas hal yang berbeda-beda namun tetap dalam tema besar yang sama: estetika novel. Esai-esainya sangat mengagumkan. Dia membahas tentang Cervantes (penulis Don Quixote, novel modern pertama di dunia), yang menurutnya, bersama Descartes telah menemukan dunia modern. Dia juga membahas Franz Kafka, yang karya-karyanya memiliki logika yang berkebalikan dengan Crime and Punishment nya Fyodor Dostoyevsky. Dan di bagian terakhir, dia membahas kalau novel tercipta untuk membuat manusia tertawa, sebab novel adalah gema tawa Tuhan, dan Tuhan selalu tertawa saat melihat manusia sedang berpikir.

Salah satu bagian dari buku itu membahas tentang seni komposisi novel (saya lebih suka menyebutnya arsitektur novel). Novel tentu saja dapat ditulis dengan metode apapun. Ada penulis yang lebih suka melakukannya dengan pergi ke taman, duduk di salah satu bangkunya, lalu mulai menuliskan novelnya secara spontan, tanpa perencanaan apa yang ingin dituliskan sebelumnya. Atau seorang penulis pergi ke suatu cafe, memesan secangkir kopi arabica, lalu mulai menulis apa saja yang ada di pikirannya saat itu juga di depan laptop yang telah dia sediakan sebelumnya. Atau ada juga penulis yang membuat arsitektur novelnya terlebih dulu, menyusun kerangka ceritanya, tempo dan irama, sebelum merasa yakin untuk mulai menuliskan novelnya (Milan Kundera termasuk dalam kategori ini).

Kundera sangat mengagumi musik klasik. Bach, Vivaldi, dan Beethoven adalah komposer idolanya. Dia mempelajari komposisi (arsitektur) musik ketiga komposer itu, juga komposer-komposer lain tentu saja. Quartet Opos 131 karya Beethoven, menurut Kundera, adalah musik dengan arsitektur yang paling sempurna. Dia mempelajari pembagian-pembagian dalam musik itu (semuanya berjumlah tujuh bagian), tempo dan iramanya, serta proporsi matematis yang tercipta.

Hasil pembacaannya terhadap arsitektur musik itu kemudian dia terjemahkan ke dalam arsitektur novel. The Joke, novel pertama yang dia tulis, misalnya. Terdiri dari tujuh bagian (seperti komposisi karya Beethoven), dengan tempo yang berbeda di setiap bagian. Seperti musik, ada bagian yang temponya lambat, ada bagian yang temponya cepat. Tempo yang lambat membuat pembaca lebih rileks, sedangkan bagian dengan tempo yang cepat membuat pembaca merasa tegang. Musik dengan tempo yang statis tentu saja tidak menarik. Begitupun dengan novel. Itulah sebabnya Kundera sangat memerhatikan pembagian-pembagian tersebut di dalam novelnya.

Yang paling menarik, paling tidak menurut saya, adalah usaha Kundera menerjemahkan arsitektur musik menjadi arsitektur novel. Kita selalu kagum dengan penerjemah yang mampu menerjemahkan buku dengan baik. Edith Grossman menuai pujian saat menerjemahkan Don Quixote dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris. Hasil terjemahannya membuat Don Quixote seperti bukan karya terjemahan, tetapi karya baru yang ditulis oleh orang Amerika. Penerjemahan novel, dari suatu bahasa ke bahasa lain, membutuhkan kepekaan bahasa yang tinggi, serta tidak semua penulis mampu melakukannya. Dan Kundera melakukan salah satu usaha penerjemahan paling gila yang pernah dilakukan umat manusia. Kita tahu, musik dan novel menggunakan dua medium yang berbeda. Musik menggunakan bunyi, sedangkan novel menggunakan kertas. Usaha penerjemahan ini mustahil bisa dilakukan oleh seorang penulis, sebab hanya seorang jeniuslah yang mampu melakukannya.

Baiklah, pernyataan tersebut mungkin berlebihan, dan penjelasan saya di atas terlalu menyederhanakan kerumitan dari proses penerjemahan yang Kundera lakukan. Tapi, seorang kritikus sastra asal Ceko pernah membuat sebuah telaah tentang novel The Joke. Telaah yang dia buat berjudul The Geometry of the Joke, isinya tentang pembagian monolog karakter-karakternya, yang ternyata, memiliki proporsi matematika yang cantik. Ada empat karakter dalam novel tersebut: Ludvik, Jaroslav, Kostka, dan Helena. Monolog Ludvik menghabiskan 2/3 buku, Jaroslav 1/6, Kostka 1/3, dan Helena 1/18. Sekarang mari kita lihat arsitektur dalam musik klasik yang diciptakan Vivaldi. Kundera menjelaskan, bahwa karya Vivaldi memiliki skema A-B-A. Bagian A berdurasi 70 detik, bagian B berdurasi 105 detik, dan balasan untuk bagian A berdurasi 10 detik (andaikan balasan ini dimainkan secara penuh, durasinya akan menjadi 70 detik). Musik dengan skema simetris 70:105:70 bagi Kundera akan terdengar membosankan. Tapi Vivaldi merombak skema musiknya menjadi asimetris, 70:105:10. Dari sini didapatkan suatu proporsi musik yang memiliki keindahan matematis, 10×7:15×7:10×7; sama dengan 2:3:2,7. Bandingkan dengan  proporsi monolog dalam novel The Joke, 2/3:1/6:1/3:1/18. Jadinya, (2×1/3):(1/2×1/3):(1X1/3):(1/6×1/3). Artinya, proporsi monolog dalam The Joke memiliki keindahan matematis sebab setiap monolog adalah kelipatan dari angka 1/3!

Setelah membaca esai Kundera tentang seni komposisi novel, saya pun jadi tertarik untuk melakukan hal serupa. Saya sangat menyukai Roman Picisan, dan ingin membuat sebuah cerpen yang arsitekturnya merupakan hasil terjemahan dari arsitektur musik gubahan Ahmad Dhani tersebut. Cerpen tersebut tidak pernah selesai, sebab terhambat suatu permasalahan mendasar: saya tidak mengerti dengan komposisi musik. Saya pikir membuat arsitektur novel dapat diadaptasi dari apa saja, tidak hanya dari musik seperti yang dilakukan Kundera. Lewat penerjemahan arsitektur gedung Burj Khalifa, misalnya.

Buku-buku yang Tidak Pernah Ada

Saya jarang mengunjungi perpustakaan. Jika ingin membaca suatu buku saya lebih memilih untuk membelinya. Akhir-akhir ini saya lebih banyak mengunduh buku secara gratis, semuanya berbahasa Inggris, beberapa di antaranya novel, tapi lebih banyak buku tentang kajian budaya. Diantara kunjungan saya yang sedikit itu, saya pernah berkunjung ke perpustakaan Babel. Perpustakaan yang lebih mirip labirin ini memiliki banyak ruang yang semuanya berbentuk segi enam. Perpustakaan Babel dinobatkan sebagai perpustakaan terbesar di dunia, selain karena bangunannya yang sangat besar, perpustakaan ini juga memiliki koleksi seluruh buku yang pernah ditulis umat manusia. Yang unik, perpustakaan Babel hanya memiliki satu salinan untuk setiap judul buku, berbeda dengan perpustakaan lain yang memiliki banyak salinan untuk buku dengan judul yang sama.

Salah satu orang yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel adalah Umberto Eco. Dia sangat terkesima dengan perpustakaan ini. Konon katanya, dia mendapat ide untuk menulis novel The Name of the Rose setelah berkunjung ke perpustakaan ini. Dalam novel yang dia tulis itu, Eco membuat sebuah cerita tentang perpustakaan yang bentuk bangunannya meniru bentuk bangunan perpustakaan Babel. Perpustakaan di novel Eco itu dijaga oleh seorang pustakawan buta bernama Jorge of Burgos. Bagi yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel akan segera mengerti bahwa Jorge of Burgos diambil dari nama pendiri perpustakaan Babel yang juga buta: Jorge Luis Borges.

Saat berkunjung ke perpustakaan Babel, saya pun terkesima layaknya Umberto Eco. Namun di antara semua perpustakaan yang pernah saya datangi, perpustakaan Lucien lah yang paling menakjubkan. Perpustakaan ini jauh lebih kecil dari perpustakaan Babel. Saat pertama kali masuk, tidak ada yang istimewa dengan perpustakaan ini. Namun kata Lucien, penjaga perpustakaan yang namanya dijadikan nama untuk perpustakaan yang dia jaga, koleksi buku di perpustakaan ini tidak mungkin ditemukan di tempat lain. Berbulan-bulan kemudian saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya melakukan pengecekan terhadap apa yang dikatakan oleh Lucien, dan betapa terkejutnya saya saat mengetahui tidak satupun koleksi perpustakaan Lucien yang dimiliki oleh perpustakaan Babel.

Karena minat saya yang teramat besar terhadap karya fiksi, setiap kali berkunjung ke perpustakaan saya akan langsung mendatangi rak fiksi. Demikian juga dengan kunjungan saya ke perpustakaan Lucien. Di rak fiksi saya menemukan nama-nama yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Ada Mir Bahadur Ali (seorang penulis dari India), ada Pierre Menard (seorang pengarang dari Prancis), Jaromir Hladik, dan Herbert Quain. Saya lalu mengambil sebuah buku karya Mir Bahadur Ali berjudul The Approach to Al-Mu’tasim, dan sebuah buku karangan Herbert Quain yang berjudul The Secret Mirror. Saya lalu membaca kedua buku tersebut di sudut perpustakaan.

The Approach to Al-Mu’tasim adalah novel berat. Membacanya harus pelan-pelan. Bercerita tentang seorang mahasiswa hukum, yang tidak pernah diberitahukan namanya, pada suatu ketika membunuh seorang gembel beragama hindu di atas menara. Setelah membunuh orang itu, dan sang mahasiswa melakukan pelarian, dia mendapati suatu kenyataan bahwa gembel yang dibunuhnya itu hanya perwujudan mimpi dari orang lain, atau mimpi dari orang lain yang bermimpi tentang orang lain, atau seseorang yang memimpikan orang lain sedang bermimpi tentang orang lain yang bermimpi tentang orang lain. Begitu seterusnya, sampai pada seorang pemimpi yang pertama. Mahasiswa itu yakin akan adanya pemimpi pertama itu, seseorang yang bernama Al-Mu’tasim. Novel ini kemudian bercerita tentang petualangan mahasiswa tersebut dalam mencari Al-Mu’tasim. Sang pengarang, Mir Bahadur Ali, nampaknya ingin mengecoh pembacanya. Sebab Al-Mu’tasim, pemimpi pertama yang dicari-cari oleh mahasiswa tersebut, sebenarnya adalah orang hindu yang dibunuhnya di atas menara.

Herbert Quain sendiri menulis buku dengan semangat bermain-main antara serius dan tidak serius. Cerita-cerita yang dia tulis terkesan serius tapi sebenarnya tidak, terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius. The Secret Mirror misalnya, adalah sebuah naskah drama dua babak, yang babak pertamanya bercerita tentang seorang penulis naskah drama bernama Wilfred Quarles yang tergila-gila pada seorang perempuan bernama Ulrica Thrale. Di babak kedua, orang yang memerankan Wilfred Quarles muncul kembali, tapi dengan nama dan peran yang berbeda. Kali ini dia berperan sebagai John William Quigley, seorang pedagang keliling asal Liverpool. Quigley ini juga seorang penulis naskah drama. Cerita tentang Wilfred Quarles yang tergila-gila dengan Ulrica Thrale pada babak pertama tadi tidak lain merupakan sebuah sebuah cerita dalam naskah drama yang ditulis oleh John William Quigley. Jadi, adegan pada babak pertama sebenarnya merupakan sebuah cerita dari naskah drama yang dituliskan oleh seorang karakter yang muncul di babak kedua.

Setelah saya mengembalikan kedua buku itu di tempat semula, saya mendatangi Lucien, dan menanyainya beberapa hal tentang perpustakaan yang dia jaga tersebut. Saya memang baru membaca dua buku di perpustakaan ini, tapi karena dua buku yang saya baca itu adalah buku-buku yang mengagumkan, saya berkesimpulan bahwa semua buku di perpustakaan Lucien ini pastilah mengagumkan. Sayang sekali jika buku-buku yang mengagumkan ini hanya bisa dibaca di tempat ini saja. Saat saya ingin meminjam dua buku tersebut untuk di fotokopi, Lucien bersikeras bahwa buku-buku koleksi perpustakaannya tidak boleh dibawa keluar. Saya lalu mengatakan, ingin menyalinnya kembali di perpustakaan ini saja, dengan cara tulis tangan. Lucien lalu mengatakan, jika hal itu saya lakukan maka buku yang ingin saya tulis ulang itu akan terbakar dengan sendirinya. Lucien melanjutkan, bahwa buku-buku yang ada di perpustakaan ini sesungguhnya adalah buku-buku yang tidak pernah ada di dunia nyata, buku-buku yang tidak pernah ditulis oleh seorang pengarang, atau tidak pernah selesai dituliskan, kecuali di dalam mimpi. Jadi buku-buku di perpustakaan ini bisa ada hanya jika seorang pengarang berkeinginan menulis suatu buku, tapi tidak pernah menuliskan atau menyelesaikan buku yang dia inginkan itu. Karena hanya ada dalam impian, buku-buku tersebut tidak boleh menjadi kenyataan, sebab ketika sudah menjadi kenyataan maka tidak ada lagi buku yang diimpikan. Itulah mengapa buku di perpustakaan Lucien akan terbakar begitu buku tersebut telah terwujud di dunia nyata. Saya teringat akan kerangka novel yang ingin saya tulis, judulnya Metafiksi, dan sudah hampir dua tahun kerangka novel itu belum juga rampung. Untuk membuktikan perkataannya, saya lalu menuju ke rak fiksi, dan mencari sebuah buku berjudul Metafiksi yang ditulis oleh seseorang bernama Abdul Hair. Dan ternyata buku itu ada, dengan sampul dan isi yang sama persis seperti yang saya inginkan.

Berbulan-bulan kemudian, saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya mendapati kenyataan bahwa pendiri perpustakaan tersebut, Jorge Luis Borges, juga seorang penulis. Saya menuju rak fiksi, melihat beberapa buku yang pada sampulnya tertulis nama Borges, lalu mengambil salah satu buku tersebut secara acak. Buku yang saya ambil berjudul Ficciones, berisi beberapa cerita pendek, esai, dan resensi buku. Dua diantara yang dia tulis, ternyata resensi terhadap karya Mir Bahadur Ali dan Herbert Quain, dua orang penulis yang karyanya pernah saya baca saat berada di perpustakaan Lucien. Borges, menuliskan resensi terhadap karya kedua penulis itu dengan begitu cemerlang. Dia menuliskan tentang karakter-karakternya, ringkasan ceritanya, membuat sebuah skema dari cerita yang ditulis Herbert Quain, serta membuat sebuah telaah kalau cerita The Approach to Al-Mu’tasim karya Mir Bahadur Ali sebenarnya paralel dengan cerita dalam buku puisi karya seorang sufi persia, Farid al-din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim Attar, yang berjudul Mantiq al-Tair (jika diterjemahkan menjadi Musyawarah Burung).

Banyak kritikus sastra yang mengatakan bahwa Jorge Luis Borges menuliskan sebuah resensi fiktif dalam buku Ficciones, sebab buku-buku yang yang dia ulas tidak pernah ada di dunia. Tentu saja para kritikus itu salah, sebab Borges pernah membaca buku-buku yang dia ulas itu. Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan Lucien. Dengan cara membuat resensi, alih-alih menyalinnya kembali, Borges mampu mengambil intisari dari buku-buku yang ada di perpustakaan Lucien tanpa membuat buku-buku tersebut terbakar. Dengan cara itulah Borges memperkenalkan koleksi perpustakaan Lucien kepada dunia, sesuatu yang ingin saya lakukan tapi gagal karena ketidaktelitian saya kalau aturan yang ditetapkan oleh Lucien memiliki beberapa peluang untuk dilanggar.

Halo Dunia

Saya mulai menulis blog tahun 2008, dan blog ini adalah blog saya yang ketiga. Blog saya yang pertama dan kedua, menggunakan domain berbayar. Itu berarti blog ini adalah satu-satunya blog saya yang gratis. Blog pertama saya, rumahair.com sudah lama almarhum. Karena saya dulu rajin mengurusnya, blog itu memiliki page rank yang tinggi. Ketika saya memutuskan untuk tidak memperpanjang kepemilikan domain tersebut, seseorang dari luar negeri sana membelinya. Saya tidak tahu bagaimana nasib domain itu, sampai suatu ketika seorang teman blogger yang berdomisili di Jakarta, Ridu, mengabari saya kalau domain itu sudah menjadi situs porno!

Saya mengeceknya, dan ternyata benar. Saya juga tidak ambil pusing. Mungkin memang sudah nasibnya begitu. Saat pagi tadi saya mengeceknya kembali, ternyata domain itu sudah berpindah tangan lagi. Pemiliknya kali ini dari Indonesia, orang Surabaya yang memiliki usaha bernama Rumah Air. Websitenya masih under construction, padahal dia membelinya sudah satu setengah bulan yang lalu, waktu yang lebih dari cukup untuk membuat sebuah web tentunya.

Blog saya yang kedua menggunakan nama saya sendiri, abdulhair.com. Blog itu saya buat pada pertengahan 2013, sebagai wadah untuk melatih kemampuan saya dalam menulis. Saya bercita-cita menjadi penulis, dan untuk mengejar cita-cita itulah saya masuk jurusan Ilmu Komunikasi. Saya tidak ingin menjadi jurnalis, meskipun jurnalis juga seorang penulis. Saya ingin menjadi seorang penulis cerita fiksi, entah itu novel atau skenario film. Novel dan film adalah minat utama saya, dan tema-tema seputar dua hal itu adalah tema-tema yang paling saya kuasai. Tidak seperti rumahair.com yang isinya campur aduk, abdulhair.com isinya sangat spesifik, hanya membicarakan novel, cerpen, komik, film, atau apapun yang berhubungan dengan karya fiksi.

Setelah saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, saya ingin benar-benar fokus belajar di kampus dan blog tersebut tidak saya perpanjang lagi. Barangkali itu adalah salah satu penyesalan saya yang terbesar, sebab dengan tidak melatih kemampuan menulis lewat blog seperti yang dulu saya lakukan, tulisan-tulisan saya jadi kering, tidak enak dibaca, dan saya begitu frustasi saat membaca paper mata kuliah yang saya kerjakan ternyata tidak lebih baik dari tulisan anak SMA.

Satu tahun sudah blog itu almarhum, dan kali ini saya mencoba untuk aktif menulis blog lagi. Kali ini saya menggunakan jasa blog gratisan saja, biar blog ini tidak akan pernah lagi menjadi almarhum seperti dua blog awal yang saya buat. Blog ini sebenarnya sudah ada sejak 2011, bukan untuk menjadi blog pribadi, tapi untuk menjadi sebuah web zine. Saya beserta tiga orang teman di Malang , dengan semangat memberontak ala anak muda, pernah membuat sebuah zine bernama KERetek. Nama itu adalah plesetan dari Kretek, jenis rokok dengan campuran cengkeh, yang kebetulan kami semua adalah konsumen rokok Kretek. Diantara huruf K dan R, kami menambahkan huruf E, sehingga terciptalah kata KERetek. KER sendiri adalah bahasa jawa walikan khas Malang, yang artinya adalah sebuah bentuk sapaan terhadap teman. KERetek adalah zine lokal Malang, yang isinya membahas tentang musik, politik, dan budaya yang ada di Malang. Isinya sendiri lebih banyak membicarakan kalau musik lewat jalur indie itu keren, liputan tentang gigs-gigs  di Malang, dan beberapa himbauan (mungkin lebih tepat disebut khotbah) kalau generasi muda seharusnya melek dengan politik. Karena sejak awal blog KERetek tidak pernah digunakan, jadi saya ambil alih saya kepemilikannya. Saya pikir tiga teman saya yang lain tidak akan keberatan.

Seperti blog saya sebelumnya, abdulhair.com, blog keretek ini juga hanya akan membahas tentang karya fiksi saja, baik itu novel, cerpen, film, ataupun komik. Saya pikir saya tidak akan kehabisan bahan untuk membicarakan tema fiksi. Saya sudah membaca banyak buku-buku fiksi, dan jumlah film yang pernah saya tonton barangkali sudah menembus angka ribuan (saya juga tidak tahu pasti, sebab saya tidak pernah menghitungnya). Saya bisa membicarakan di mana bagian paling menarik dari novel The Adventures of Huckleberry Finn karya Mark Twain, inovasi struktur bercerita pada film Annie Hall karya Woody Allen, atau membuat sebuah resensi terhadap buku-buku yang tidak pernah ada seperti yang dilakukan Jorge Luis Borges.

Saya ingin seperti dulu, menulis setiap hari. Sebab hanya dengan latihan menulis setiap hari lah kemampuan menulis saya bisa bertambah. Dan blog ini adalah tempat saya untuk berlatih, seperti para kesatria dalam cerita pewayangan yang berlatih di kawah candradimuka.