Franz Kafka pernah bilang kalau sebuah buku harusnya menjadi kapak yang memecahkan lautan es di kepala kita. Saya pikir sebuah film juga harusnya demikian, memecahkan kebuntuan kita dalam berpikir, membangunkan kita dengan hantaman keras di kepala, bahwa ada kemungkinan-kemungkinan lain dari sebuah film. Sebelum berkenalan dengan film-film Terrence Malick, saya selalu berpikiran kalau film adalah hanyalah bentuk lain dari karya fiksi. Entah itu novel, drama, komik, atau film, yang terpenting adalah ceritanya. Medium bisa berbeda, selama ceritanya bagus, ya karya fiksi itu akan tetap bagus.
Itu dulu. Sekarang beda. Salah satu kriteria baru bagi saya untuk mengatakan karya fiksi itu bagus atau tidak adalah kemampuan kreatornya dalam memaksimalkan medium bercerita, bahwa cerita itu hanya bisa ditulis dalam medium tertentu saja. Misalnya, novel Ulysses nya James Joyce. Saya pikir novel ini tidak bisa dibuat dalam bentuk film, atau dibuat versi komiknya. Novel itu adalah ekperimen Joyce terhadap bahasa, khususnya bahasa Inggris. Joyce paham betul bahwa menulis novel berarti menggunakan bahasa sebagai senjatanya. Maka penekanannya ada pada bahasa, dengan mengekspolarisi kemungkinan berbahasa sampai pada titiknya yang paling jauh. Amat susah mengadaptasi novel dengan kerumitan berbahasa seperti Ulysses ke dalam bentuk film atau komik yang titik tekan utamanya ada pada visual.
Meskipun film dan komik sama-sama menekankan pada visualitas, tapi tidak serta-merta komik dapat diadaptasi ke dalam bentuk film, atau sebaliknya. Komik Watchmen nya Alan Moore dan Dave Gibbons pernah diadaptasi ke dalam bentuk film oleh Zack Snyder. Hasilnya tidak maksimal. Salah satu karakter dalam dalam cerita itu, Doctor Manhattan, hidup di tiga masa sekaligus: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dia hidup disemua masa pada saat yang bersamaan. Dia ada saat perang dunia terjadi, saat perang dingin diperiode 70an, atau saat bumi telah kiamat nanti. Dan semua itu terjadi secara simultan padanya. Katakanlah mesin waktu benar-benar ada, dan kita dapat berpindah waktu sesuka hati. Jika kita hidup di tahun 2016, kita bisa melompat ke tahun 1749, atau ke tahun 2034. Saat itu kita lakukan, raga kita tidak lagi berada di tahun 2016. Doctor Manhattan tidak seperti itu. Bayangkan, ada seorang manusia yang jasadnya ada di tahun 2016, 1749, 2034, atau disemua waktu lainnya pada saat yang bersamaan. karakteristik Doctor Manhattan yang seperti ini, dapat dijelaskan dengan sangat baik dalam medium komik, tapi tak mampu dijelaskan dalam medium film. Puncak dari eksplorasi visual Watchmen ada pada panel-panel komik di suatu halaman yang simetris dengan panel komik pada halaman yang lain. Cerita dengan panel yang simetris ini tidak mungkin bisa dibuat dalam medium film, sekalipun keduanya sama-sama mengunakan visual sebagai titik tekannya.
Days of Heaven seperti itu. Lewat film ini Terrence Malick mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan dari sebuah film. Sebagai medium visual, titik tekan utama film ada pada visualitasnya, bukan pada ceritanya. Days of Heaven bukanlah film dengan plot yang rumit, yang membuat penontonnya mengkerutkan dahi seperti film-film Christopher Nolan. Bayangkan kita sedang berkunjung ke sebuah pameran foto. Katakanlah pameran foto yang diselenggarakan National Geographic. Di sana kita akan menemukan gambar-gambar yang memukau. Tanpa ada captionnya sekalipun, foto-foto itu bercerita dengan sangat banyak pada kita. Itulah mengapa saya menyebut foto-foto National Geographic sebagai gambar yang bercerita, bukan cerita bergambar. Karena eksplorasinya ada pada visual, Days of Heaven tidak memberi penekanan pada plot, melainkan pada keindahan visual. Jika kita menonton film ini untuk mendapat ketegangan yang tercipta lewat plot, percayalah, kita hanya akan mendapatkan kekecewaan. Nontonlah film ini seperti sedang berkunjung ke pameran foto. Dengan demikian kita akan menemukan sebuah film yang bercerita, bukan sebuah cerita yang dibuat ke dalam bentuk film.