1. Days of Heaven, Terrence Malick

Franz Kafka pernah bilang kalau sebuah buku harusnya menjadi kapak yang memecahkan lautan es di kepala kita. Saya pikir sebuah film juga harusnya demikian, memecahkan kebuntuan kita dalam berpikir, membangunkan kita dengan hantaman keras di kepala, bahwa ada kemungkinan-kemungkinan lain dari sebuah film. Sebelum berkenalan dengan film-film Terrence Malick, saya selalu berpikiran kalau film adalah hanyalah bentuk lain dari karya fiksi. Entah itu novel, drama, komik, atau film, yang terpenting adalah ceritanya. Medium bisa berbeda, selama ceritanya bagus, ya karya fiksi itu akan tetap bagus.

Itu dulu. Sekarang beda. Salah satu kriteria baru bagi saya untuk mengatakan karya fiksi itu bagus atau tidak adalah kemampuan kreatornya dalam memaksimalkan medium bercerita, bahwa cerita itu hanya bisa ditulis dalam medium tertentu saja. Misalnya, novel Ulysses nya James Joyce. Saya pikir novel ini tidak bisa dibuat dalam bentuk film, atau dibuat versi komiknya. Novel itu adalah ekperimen Joyce terhadap bahasa, khususnya bahasa Inggris. Joyce paham betul bahwa menulis novel berarti menggunakan bahasa sebagai senjatanya. Maka penekanannya ada pada bahasa, dengan mengekspolarisi kemungkinan berbahasa sampai pada titiknya yang paling jauh. Amat susah mengadaptasi novel dengan kerumitan berbahasa seperti Ulysses ke dalam bentuk film atau komik yang titik tekan utamanya ada pada visual.

Meskipun film dan komik sama-sama menekankan pada visualitas, tapi tidak serta-merta komik dapat diadaptasi ke dalam bentuk film, atau sebaliknya. Komik Watchmen nya Alan Moore dan Dave Gibbons pernah diadaptasi ke dalam bentuk film oleh Zack Snyder. Hasilnya tidak maksimal. Salah satu karakter dalam dalam cerita itu, Doctor Manhattan, hidup di tiga masa sekaligus: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dia hidup disemua masa pada saat yang bersamaan. Dia ada saat perang dunia terjadi, saat perang dingin diperiode 70an, atau saat bumi telah kiamat nanti. Dan semua itu terjadi secara simultan padanya. Katakanlah mesin waktu benar-benar ada, dan kita dapat berpindah waktu sesuka hati. Jika kita hidup di tahun 2016, kita bisa melompat ke tahun 1749, atau ke tahun 2034. Saat itu kita lakukan, raga kita tidak lagi berada di tahun 2016. Doctor Manhattan tidak seperti itu. Bayangkan, ada seorang manusia yang jasadnya ada di tahun 2016, 1749, 2034, atau disemua waktu lainnya pada saat yang bersamaan. karakteristik Doctor Manhattan yang seperti ini, dapat dijelaskan dengan sangat baik dalam medium komik, tapi tak mampu dijelaskan dalam medium film. Puncak dari eksplorasi visual Watchmen ada pada panel-panel komik di suatu halaman yang simetris dengan panel komik pada halaman yang lain. Cerita dengan panel yang simetris ini tidak mungkin bisa dibuat dalam medium film, sekalipun keduanya sama-sama mengunakan visual sebagai titik tekannya.

Days of Heaven seperti itu. Lewat film ini Terrence Malick mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan dari sebuah film. Sebagai medium visual, titik tekan utama film ada pada visualitasnya, bukan pada ceritanya. Days of Heaven bukanlah film dengan plot yang rumit, yang membuat penontonnya mengkerutkan dahi seperti film-film Christopher Nolan. Bayangkan kita sedang berkunjung ke sebuah pameran foto. Katakanlah pameran foto yang diselenggarakan National Geographic. Di sana kita akan menemukan gambar-gambar yang memukau. Tanpa ada captionnya sekalipun, foto-foto itu bercerita dengan sangat banyak pada kita. Itulah mengapa saya menyebut foto-foto National Geographic sebagai gambar yang bercerita, bukan cerita bergambar. Karena eksplorasinya ada pada visual, Days of Heaven tidak memberi penekanan pada plot, melainkan pada keindahan visual. Jika kita menonton film ini untuk mendapat ketegangan yang tercipta lewat plot, percayalah, kita hanya akan mendapatkan kekecewaan. Nontonlah film ini seperti sedang berkunjung ke pameran foto. Dengan demikian kita akan menemukan sebuah film yang bercerita, bukan sebuah cerita yang dibuat ke dalam bentuk film.

2. Being John Malkovich, Spike Jonze

Terkadang kita tidak percaya dengan kemampuan sendiri. Pada titik itu kita terkadang ingin menjadi orang lain. Menjadi orang terkenal tentu saja. Saya masih ingat betul saat SMP, saya naksir seorang gadis. Dia cantik, berambut pendek, dan seingat saya dia memiliki lesung pipit. Sebagai anak ingusan, saya tentu saja tidak berani mendekatinya. Saya mengatakan pada temen-teman terdekat saya bahwa saya mencintainya. Teman-teman saya, yang juga teman-teman dia, lantas mengatakan pada gadis itu bahwa saya suka padanya. Saya malu betul, dan tidak pernah berani untuk menatap dia secara langsung. Terkadang, dan kebanyakan karena ketidaksengajaan, kami ngobrol berdua. Obrolan yang kikuk tentunya. Saya kikuk karena saya suka padanya, dan dia kikuk karena tahu saya suka padanya.

Karena kebodohan itulah saya lantas ingin menjadi Rangga saja, orang yang dingin, pandai membuat puisi, dan tentu saja tampan tiada tara. Saya membayangkan dia adalah Cinta, meskipun dia tidak pandai membuat puisi. Kebetulan, seperti Cinta di film AADC, gadis yang saya sukai juga gadis paling cantik di sekolah. Boleh dibilang saya kala itu tidak memiliki saingan. Selain karena tidak ada siswa lain yang berani mendekatinya, saya waktu itu menjabat sebagai Ketua Osis, siswa paling terkenal di sekolah, siswa yang paling sering memegang mic saat apel pagi dan berpidato dihadapan lebih dari 800 siswa. Dengan status tersebut, saya ternyata masih tidak percaya diri juga untuk menyatakan rasa saya pada gadis itu.

Ketidakpercayaan pada diri sendiri dan keinginan untuk menjadi orang lain itulah yang coba diangkat oleh Spike Jonze (sutradara) dan Charlie Kaufman (penulis skenario) dalam film Being John Malkovich. Berkisah tentang Craig, seorang pemain orang-orangan (puppet), yang karyanya tidak pernah diapresiasi orang lain. Setiap hari dia memeragakan permainan puppetnya di jalanan, dan lewat itulah dia menghasilkan uang. Dia ingin jadi seniman besar, namun itu dia, karyanya tidak mendapat apresiasi, sehingga sulit baginya untuk memeragakan karya seninya di sebuah panggung besar. Namun suatu hari Craig menemukan sebuah lubang di dinding kantor. Bukan lubang sembarangan, sebab lubang itu adalah sebuah portal menuju ke pikiran orang lain. Yang di tuju bukan orang sembarang pula, sebab portal itu langsung menuju ke pikirian John Malkovich, seorang aktor terkenal Hollywood!

Saat masuk ke portal tersebut dan berada di pikiran John Malkovich, kita bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi John Malkovich. Kita bisa merasakan betapa mudahnya berciuman dan tidur dengan seorang gadis jika kita adalah seorang aktor terkenal. Kita juga bisa merasakan sensasi menjadi orang terkenal, dikejar-kejar banyak orang, serta diwawancarai wartawan televisi nasional. Craig mampu menguasai pikiran John Malkovich, sehingga John Malkovich bukan lagi John Malkovich yang dulu, sebab tubuhnya sepenuhnya dalam kendali Craig. Lewat tubuh John Malkovich inilah Craig memperkenalkan permainan puppetnya. John Malkovich yang berada dalam kendali Craig ini lalu memutuskan pensiun sebagai aktor dan beralih profesi sebagai puppeter. Dia mulai memeragakan aksinya di panggung besar, dengan ribuan penonton dihadapannya, dan mendapat tepuk tangan begitu riuh dari mereka semua. Itu adalah saat-saat di mana Craig merasa betul-betul diapresiasi sebagai seorang seniman.

Melihat Craig di film ini mengingatkan saya pada diri saya saat SMP dulu, begitu terobsesi untuk menjadi orang lain agar keinginan mendapatkan gadis itu menjadi mudah untuk terkabul. Untunglah itu tidak berlangsung terlalu lama. Bertahun-tahun kemudian, saat saya baru saja lulus SMA, seorang gadis menelpon saya. Dia adalah gadis yang dulu pernah saya sukai. Hampir setiap hari kita teleponan. Kadang saya menelponnya lebih dulu, kadang juga dia yang lebih dulu memulai. Suatu kali saya mengutarakan padanya, kalau dulu saat SMP saya pernah jatuh hati padanya. Saya menduga dia akan menjawab bahwa dia juga dulu menyukai saya, hanya karena saya yang tidak berani mengungkapkannya lebih dulu maka dia memilih memendam perasaannya. Dugaan saya keliru. Mendengar saya mengatakan itu, dia hanya tertawa, lalu mengubah topik pembicaraan ke arah lain.

3. Chungking Express, Wong Kar-wai

Akhir-akhir ini sering beredar berita yang menayangkan betapa menyebalkannya polisi lalu lintas. Meskipun Polri melakukan pencitraan dengan merekrut banyak polwan cantik, tetap saja jumlah polisi lalu lintas yang menyebalkan tidak kunjung berkurang. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, muncul sebuah film yang menceritakan melankoli dua orang polisi. Sayangnya bukan polisi Indonesia, tapi polisi Hongkong. Paling tidak, dari berbagai kisah menyebalkan tentang polisi, masih ada kisah tentang polisi yang membuat kita tertawa, sekalipun itu bukan di Indonesia.

Dua orang polisi ini diceritakan dalam dua kisah berbeda. Mereka hanya pernah bertemu sekali saja, dan tidak saling bertegur sapa, sebab mereka memang tidak saling mengenal. Kisah pertama bercerita tentang polisi bernomor anggota 223 (selanjutnya akan saya sebut Cop 223). Tanggal satu April dia putus dari pacarnya yang bernama May. Dia galau setengah mati. Namun dia masih berharap dapat rujuk dengan May. Kebetulan, tanggal satu Mei (May jika dalam bahasa Inggris) Cop 223 berulang tahun. Selama sebulan penuh, mulai tanggal satu April sampai tiga puluh April dia membeli dan memakan satu nanas kaleng setiap hari. Tapi dia hanya membeli nanas kaleng yang akan kadaluarsa tepat di tanggal satu Mei. Cop 223 rupanya sedikit berfilsafat di sini. Dia menganalogikan kisah cintanya dengan May seperti nanas kaleng itu. Jika sampai tanggal satu Mei mereka belum juga rujuk, maka cinta mereka akan kadaluarsa selamanya, seperti nanas kaleng yang kadaluarsa pada tanggal satu Mei.

Kisah kedua bercerita tentang seorang perempuan cantik penjaga kedai bernama Faye yang jatuh cinta pada seorang polisi dengan nomor anggota 663 (selanjutnya akan saya sebut Cop 663). Saat Cop 663 membeli makan di kedai yang dijaga Faye, saat itulah Faye langsung jatuh cinta padanya. Sayangnya Faye tidak berani berterus terang dengan perasaannya. Setiap hari Faye diam-diam masuk ke apartemen Cop 663. Dia membersihkan apartemen itu setiap hari, menukar CD musik favorit Cop 663 dengan CD musik favoritnya, melakukan apapun yang dia suka di sana, dan akhirnya pergi sebelum Cop 663 pulang. Hal itu dia lakukan setiap hari, sebelum akhirnya tertangkap basah oleh Cop 663. Semenjak itu Faye tidak mau lagi bertemu Cop 663, dia kadung malu. Cop 663 akhirnya tahu bahwa Faye melakukan hal itu karena dia jatuh cinta padanya. Saat Cop 663 ingin bertemu, Faye sudah pergi ke Amerika. Dia hanya meninggalkan selembar tisu yang digambar mirip boarding pass pesawat udara. Faye juga meninggalkan catatan, yang kurang lebih berbunyi begini: kalau mau bertemu silahkan susul aku, dengan “boarding pass” yang telah aku tinggalkan untukmu.

Yang saya tangkap dari film ini adalah, sebaiknya kita mengatakan dengan terus terang saja mengenai apa yang kita rasakan pada orang yang kita cinta. Jika ingin rujuk, ya sebaiknya bilang duluan kalau ingin rujuk, dan bukannya menunggu orang yang kita cinta mengatakannya lebih dulu. Jika kita jatuh cinta pada seseorang, ya sebaiknya bilang saja, tidak perlu malu untuk mengakui itu. Barangkali ini pesan yang terdengar kacangan, dan sudah sangat sering kita dengar dari media lain. Tapi ada satu pesan yang saya yakin belum pernah kita dengar di media lain, bukan juga pesan kacangan seperti yang saya tulis di atas. Ini tips dari Cop 223, tentang bagaimana cara agar kita tidak menangis saat sedang patah hati. Sederhana saja, kita hanya perlu jogging sampai tubuh kita megeluarkan banyak keringat. Saat itu terjadi, tubuh kita kehilangan cairan, dan itu berarti tubuh kita tidak punya stok cairan air mata yang akan keluar saat kita bersedih. Tips yang cemerlang bukan?

4. Whisper of the Heart, Yoshifumi Kondo

Ini film tentang pencarian jadi diri seorang siswi SMP di Tokyo. Shizuku, nama gadis itu, gemar pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Dia selalu mendatangi rak fiksi, membacanya sebentar di perpustkaan, lalu meminjam buku itu untuk dibaca di rumah. Setiap kali meminjam buku, selalu ada nama Seiji Amasawa di daftar orang yang pernah meminjam buku tersebut. Artinya, Seiji Amasawa sudah membaca lebih dulu buku-buku yang dipinjam oleh Shizuku.

Sebagai seorang gadis yang memasuki masa pubertas, dia penasaran dengan sosok Seiji Amasawa. Dia selalu membayangkan bahwa Seiji Amasawa adalah sosok yang tampan lagi cerdas, kharismatik, dan tentu saja sosok yang cool. Suatu ketika, secara tidak sengaja, karena menguntit seekor kucing, Shizuku masuk ke sebuah toko perabotan antik. Seorang kakek yang menjaga toko itu sedang memperbaiki sebuah jam antik besar, yang dibuat oleh seorang seniman yang patah hati. Setiap jam 12, jam itu berbunyi, bagian bawahnya terbuka, dan muncullah sebuah pertunjukan singkat tentang raja kurcaci yang tidak mampu menjalin kasih dengan seorang peri nan cantik. Kisah dalam jam itulah yang membuat kakek itu yakin bahwa seniman pembuat jam itu sedang patah hati kala membuatnya.

Singkat cerita, Shizuku bertemu Seiji. Yang tidak disangka olehnya, Seiji justru pemuda yang menyebalkan, jauh dari bayangan awal Shizuku. Di toko antik itulah Seiji tinggal, dan kakek pemilik toko adalah kakek Seiji. Di belakang toko terdapat studio untuk membuat biola. Seiji ingin menjadi seorang pembuat biola handal. Dia selalu berlatih setiap hari. Tapi kemampuannya tidak akan meningkat jika dia hanya belajar di Tokyo saja. Dia harus belajar pada ahlinya di Cremona, Itali, jika ingin meningkatkan kemampuannya. Akhirnya Seiji berangkat juga ke sana. Saat itulah Shizuku galau setengah mati. Bukan karena kepergian orang yang diam-diam dia sukai (meskipun awalnya menyebalkan, pada akhirnya Shizuku jatuh hati juga pada Seiji), tapi karena diusia yang begitu muda Seiji sudah tahu apa bakatnya dan ingin mengembangkan bakatnya itu. Sedangkan Shizuku, tidak tahu menahu harus menjadi apa. Namun saat sedang ngobrol berdua dengan sahabatnya, Shizuku akhirnya tahu harus menjadi apa: dia memutuskan menjadi seorang penulis!

Teman-temannya selalu memuji syair-syair yang ditulis Shizuku. Ditambah dengan kegemarannya terhadap karya fiksi, Shizuku mantap ingin menjadi penulis. Selama dua minggu dia menulis terus, padahal saat itu sedang ada ujian akhir di sekolahnya. Nilai-nilainya jeblok tentu saja, tapi Shizuku tidak peduli dengan itu. Dia tetap menulis. Sekalipun orang tuanya sudah menegurnya, dia masih tetap menulis. Setelah novelnya selesai, dia lalu memperlihatkan novel itu pada kakek Seiji. Masih banyak kekurangan memang, tapi disitulah keunikan novel Shizuku. Kakek itu mengatakan bahwa Shizuku seperti berlian yang belum diasah, perlu digosok agar kilaunya terlihat lebih cemerlang.

Saya berkaca pada diri saya yang sekarang, betapa saya malu pada Shizuku seandainya dia adalah orang sungguhan, bukan karakter fiksional dalam sebuah film animasi. Saya dulu pernah seperti Shizuku. Aktif menulis dan meninggalkan kuliah sejenak. Orang tua saya menegur agar segera menyelesaikan kuliah, tapi saya tidak peduli. Sebab saya tahu menulis adalah kesenangan saya, dan saya ingin hidup sebagai seorang penulis. Nilai-nilai saya jeblok, banyak yang dapat D, dan sama sekali tidak saya ulang. Biar saja begitu. Tapi saya bukan Shizuku, bukan berlian yang belum diasah. Setelah novel saya jadi dan diterbitkan, novel itu gagal total. Selain karena tidak laku, isinya pun kalau mau jujur tidak memuaskan saya. Teman-teman saya mencaci novel itu, dan saya tahu cacian mereka itu adalah satu-satunya kejujuran yang pernah mereka katakan pada saya. Dan lihat saya sekarang, malas menulis, dan cuma berfokus dapat nilai bagus. Tragis saja rasanya saat dapat nilai B dan tetap saya ulang supaya dapat A. Celakanya, setelah diulang saya justru dapat nilai C!

Idealisme terhadap substansi dan bukan pada nilai yang kini hilang. Saya pikir itu barang mahal, terutama bagi seorang pemuda kere seperti saya. Dan setiap kali menonton ulang Whisper of the Heart, saya selalu diingatkan kembali bahwa mendapat nilai tinggi bukanlah tujuan utama dalam belajar. Sebab, seperti kata orang bijak, belajar itu bertujuan untuk mengenal diri sendiri, menemukan potensi diri yang harusnya kita kembangkan, menjadi ikan yang pandai berenang, bukan menjadi ikan yang pandai memanjat pohon.

5. Like Someone in Love, Abbas Kiarostami

Saya masih meyakini puncak hubungan pria dan wanita terjadi saat mereka sedang bicara berdua saja, bicara lepas tanpa beban, lalu berciuman (ini hanya bonus). Ngobrol berkualitas sudah cukup sebenarnya. Like Someone in Love barangkali hendak merayakan itu, merayakan bahwa obrolan berkualitas adalah puncak dari hubungan pria dan wanita. Salah seorang sahabat baik saya, yang sudah gonta-ganti pacar berkali-kali, suatu kali pernah menceritakan mantan-mantan pacarnya. Dari semunya, bukan yang paling cantik yang membuatnya sangat galau karena rindu, bukan juga yang paling tulus mencintainya, pun bukan juga yang paling jago berciuman. Dia justru paling merindukan mantannya yang paling asyik diajak ngobrol.

Like Someone in Love dibuka dengan adegan seorang pelacur kelas atas yang mendapat tawaran dari germonya untuk melayani seorang profesor. Pelacur itu, bernama Akiko (diperankan oleh Rin Takanashi), sempat menolak sebab dia sudah sangat kelelahan. Sang germo tetap ngotot bahwa Akiko harus melayaninya. Karena tidak ada pilihan lain, Akiko dengan berat hati menurutinya.

Akiko langsung duduk di sofa begitu sampai di rumah Sang Profesor, yang usianya di atas 70 tahun. Yang menarik, Sang Profesor menyewa pelacur bukan untuk ditiduri, melainkan untuk diajak ngobrol sembari makan malam dan diakhiri dengan minum wine bersama. Sudah, itu saja. Di majalah Rolling Stone Indonesia, saya pernah membaca kalau musisi besar Indonesia, Gombloh, juga pernah melakukan hal yang hampir sama dengan apa yang dilakukan Sang Profesor. Waktu itu Gombloh sedang tidak punya ide untuk menciptakan lagu. Dari kamar hotel dia memesan pelacur. Setelah pelacurnya datang, pelacur itu hanya telanjang dan duduk di atas kursi. Gombloh hanya memandangi pelacur itu, tanpa menyentuhnya sama sekali, dan menciptakan lagu dengan cara memandangi pelacur itu.

Saya selalu suka dengan cerita tentang seorang lelaki yang tidak ingin berhubungan badan dengan perempuan, walaupun keadaannya sangat memungkinkan untuk itu. Salah satu bagian dari novel Cantik itu Luka, menceritakan tentang Kliwon yang pergi berlayar dengan Alamanda selama berminggu-minggu di atas perahu. Karena tidak membawa pakaian ganti, Kliwon dan Alamanda langsung mencopot begitu saja baju mereka ketika basah untuk dijemur di atas atap perahu. Awalnya Alamanda takut untuk mencopot bajunya, karena mengira Kliwon akan menidurinya. Ternyata, setelah mereka telanjang  bulat, penis Kliwon sama sekali tidak ereksi melihat tubuh Alamanda yang begitu cantik. Bukan karena Kliwon seorang homoseksual, tapi karena dia memang betul-betul tidak punya keinginan untuk bersetubuh dengan Alamanda.

Seorang sahabat yang lain, yang suka tidur dengan perempuan, selalu membanggakan dirinya yang begitu jantan karena bisa memuaskan semua perempuan yang pernah tidur dengannya. Definisi jantan baginya adalah tangguh saat berada di atas ranjang. Saya tentu saja tidak sepakat dengan dia. Lelaki sejati bagi saya justru seperti Sang Profesor di film Like Someone in Love, seperti Gombloh, atau seperti Kliwon dalam novel Cantik itu luka. Lelaki sejati adalah dia yang menolak untuk tidur dengan perempuan, walaupun keadaannya sangat memungkinkan untuk itu.

6. The Fall, Tarsem Singh

Sebuah dongeng tidak hanya bisa membuat orang bertahan hidup, tapi juga bisa membunuhnya. Film ini dimulai dengan adegan jatuhnya seorang aktor, bernama Roy, dari atas jembatan. Roy aktor yang ambisius. Dia ingin membuat adegan yang hanya bisa dilakukan oleh dirinya seorang. Saat itu film baru saja menjadi industri. Masih hitam putih dan bisu. Tak ada dialog, hanya musik yang dimainkan di bioskop. Proyektor pun masih harus diputar manual menggunakan tangan.

Roy punya ide gila, yang kala itu belum pernah terpikirkan oleh aktor-aktor lain: dia ingin membuat adegan seorang koboi yang melompat dari atas jembatan dan langsung mendarat tepat di atas kuda. Adegan itu gagal, kuda tersebut mati dan Roy mengalami patah kaki. Dia pun harus dirawat di rumah sakit. Di tempat lain, ada seorang anak kecil, usia lima tahun, bernama Alexandria. Ibunya bekerja di kebun jeruk. Suatu waktu dia ikut ibunya ke kebun. Dia memanjat pohon, memetik jeruk juga, namun akhirnya dia terjatuh. Tangan kirinya patah, dan dia harus dirawat di rumah sakit. Roy dan Alexandria dirawat di rumah sakit yang sama. Dan disitulah mereka bertemu, secara tidak sengaja tentu saja.

Kisah selanjutnya mengingatkan saya akan buku Alf Laylah Wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam), terutama kisah Syahrazad yang mendongeng setiap malam kepada Raja Syahrayar. Saat pertama kali bertemu, Roy langsung mendongeng kepada Alexandria. Bedanya, jika Syahrazad menceritakan banyak sekali kisah kepada Raja Syahrayar, Roy hanya menceritakan dua kisah kepada Alexandria: kisah mengenai Alexander the Great yang membuang seluruh persediaan air saat dia tersesat di gurun pasir dengan pasukannya, dan sebuah kisah epic mengenai enam ksatria yang ingin balas dendam terhadap penguasa jahat lagi keji, Governor Odiuos.

Itu perbedaan pertama. Perbedaan selanjutnya, dan ini yang paling penting, Syahrazad mendongeng setiap malam kepada Raja Syahrazad agar dia bisa terbebas dari hukuman mati di pagi hari. Syahrazad selalu menggantung cerita setiap malam, sehingga Raja Syahrayar selalu penasaran dengan kelanjutan kisah selanjutnya. Untuk menghilangkan rasa penasaran ini, Raja Syahrayar selalu menunda hukuman mati untuk Syahrazad agar dia bisa mendengarkan kelanjutan dongeng di malam berikutnya. Dongeng bagi Syahrazad adalah senjata untuk bertahan hidup. Sedangkan dalam The Fall, dongeng Roy kepada Alexandria adalah senjata baginya agar bisa bunuh diri. Setiap hari Roy menggantung ceritanya dan membuat Alexandria penasaran. Roy baru akan melanjutkan ceritanya jika Alexandria mau memenuhi permintaannya: mengambilkan sebotol penuh pil Morhin agar dia dapat bunuh diri dengan itu dan mati keesokan paginya.

Pada akhirnya sebuah dongeng tidak hanya bisa membuat orang bertahan hidup, tapi juga bisa membunuhnya.

Belajar Dari Film

Saat sedang berdiskusi mengenai karakter dalam karya fiksi dengan seorang teman di Malang, saya mengutarakan ingin membuat cerita mengenai seseorang yang menjadi bijak karena membaca kitab-kitab klasik. Teman saya memberi saran yang menurut saya kala itu sangat konyol: karakter itu menjadi bijak justru karena membaca karya-karya populer. Saya tidak bisa membayangkan ada orang yang menjadi bijak karena membaca komik Naruto, novel-novel Ilana Tan, atau Dilan untuk karya yang lebih baru. Saya langsung teringat pada teman saya, seorang penggemar budaya populer Jepang sejati, yang terus terang saja jauh dari sifat bijak.

Lama-kelamaan, dan terutama karena kuliah di jurusan Cultural Studies, saya jadi berpikiran bahwa ide teman saya itu ternyata menarik juga. Saya membayangkan ada anak muda yang sangat bijak, dan dia menjadi tempat bagi orang-orang untuk meminta nasihat. Saking bijaknya, banyak orang yang menganggap bahwa dia telah mencapai tahap spiritual tertinggi. Yang orang-orang tidak tahu, sifat bijaknya itu dia dapatkan dari mengonsumsi budaya populer: mendengarkan Me Gustas Tu dari Gfriend, menonton Full Metal Alchemist, atau menghayati lirik-lirik JKT48.

Menjadi bijak karena mengonsumsi budaya populer bukanlah cerita baru. Cinema Paradiso, film Italia yang disutradarai Giuseppe Tornatore, juga bercerita hal yang sama. Seorang operator bioskop yang tak pernah mengenyam pendidikan formal justru menjadi guru bagi seorang anak muda yang bertahun-tahun nanti menjadi sutradara terkenal di Italia. Pengetahuan yang dia dapatkan semuanya dari film-film yang dia tonton. Dia sering memberi petuah bijak pada anak muda itu dengan mengutip pernyataan karakter film yang dia sukai.

Hal penting yang ingin saya tekankan di sini adalah, kita bisa belajar dari apa saja, termasuk dari film. Banyak film-film secara tersurat memberi motivasi hidup untuk penontonnya. The Shawshank Redemption masuk kategori ini. Ada juga film yang sepintas tidak memberikan apa-apa, tapi saya percaya, film paling kelam sekalipun pasti memberikan sesuatu bagi penontonnya, sekecil apapun itu. Selama enam hari kedepan, saya ingin berbagi enam film yang saya anggap memberi sesuatu bagi penontonnya. Enam film ini bukanlah film pemenang Oscar atau Cannes, bukan juga film yang masuk daftar 250 film terbaik versi IMDB. Enam film ini saya pilih bukan karena hal-hal seperti itu, bukan juga karena mendapat pujian dari kritikus atau karena nama besar sutradaranya. Enam film ini saya pilih karena, paling tidak, memberikan perspektif baru bagi saya tentang film, tentang berpikir, dan (ini terkesan muluk memang) tentang menjalani hidup.

Setiap harinya akan saya tulis ulasan mengenai satu film. Ulasan ringkas saja, tentang hal-hal yang saya sukai dari film tersebut. Kemungkinan besar akan ada spoiler. Bagi yang keberatan, cukup baca judulnya saja. Tapi saya percaya, film bagus akan tetap bagus sekalipun jalan ceritanya telah kita ketahui. Itulah barangkali mengapa suatu film akan tetap menarik sekalipun kita telah menontonnya puluhan kali.

Mengimajinasikan Imajinasi

Kemarin saya menonton Inside Out, garapan Pixar. Semenjak Toy Story 3, inilah film Pixar yang bisa bikin saya tertawa sekaligus tersentuh. Saya tidak perlu menceritakan seperti apa jalan cerita film ini, sebab resensinya sudah banyak sekali bertebaran di internet. Yang menarik bagi saya, adalah usaha Pete Docter, sang sutradara, dalam mendeskripsikan pikiran manusia. Saya pikir itu brilian sekali!

Dalam novel dikenal istilah aliran kesadaran (stream of consciuousness), sebuah gaya bercerita yang mendeskripsikan pikiran karakter. Tentu saja banyak novel, bahkan sinetron, yang juga menggunakan deskripsi pikiran. Yang membedakan, aliran kesadaran berisi pikiran-pikiran spontan karakter, cenderung tidak tertata, dan kadang ngalor-ngidul. Pikiran manusia tentu saja rumit, dan aliran kesadaran adalah salah satu cara untuk menceritakan kerumitan pikiran manusia itu.

Inside Out melampaui aliran kesadaran, sebab film itu mendekripsikan pikiran manusia dengan analogi dunia: pikiran manusia ibarat dunia, dengan orang-orang yang memiliki tugas yang berbeda-beda agar dunia itu bisa berjalan. Dalam pikiran manusia ada sistem memori, yang digambarkan seperti sebuah perpustakaan raksasa dengan luas tak terhingga. Bedanya, tidak ada buku di situ, yang ada hanya bola-bola yang berisi memori. Jika jarang digunakan, memori itu akan dibuang begitu saja, oleh petugas pembersih memori.

Yang menarik juga, bagian-bagian pikiran yang bertugas untuk membuat hal-hal abstrak dan imajjnasi, juga digambarkan dalam film itu. Artinya, karena setiap cerita filksi pada dasarnya adalah imajinasi, maka film itu mencoba untuk mengimajinasikan hal-hal abstrak dan mengimajinasikan imajinasi. Gila, ada imajinasi dari imajinasi: metaimajinasi! Dalam bagian imajinasi ini, kita kita akan menemukan kota berbentuk awan, dengan bangunan yang terbuat dari awan, yang penghuninya adalah orang-orang yang juga terbuat dari awan. Kita juga akan menemukan hutan kentang goreng, bahkan pacar imajiner juga ada.

Tokoh-tokoh utama Inside Out adalah emosi-emosi manusia. Masing-masing bernama Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust. Setiap manusia, memiliki lima emosi ini di dalam pikirannya, dan lima emosi inilah yang mengendalikan manusia. Cerita mengenai Riley dan orang tuanya digambarkan dengan sangat sederhana. Kita sering melihat orang yang tanpa alasan kuat tiba-tiba menangis begitu saja. Ini hal sepele, tapi percayalah, dalam tindakan sepele itu terdapat proses pikiran yang rumit. Kerumitan dalam film ini tidak terdapat pada cerita mengenai Riley dan orang tuanya, melainkan terdapat pada pikiran Riley itu sendiri.

Yang mengganjal bagi saya, setiap emosi juga merasakan emosi yang lain. Joy, yang seharusnya hanya mengenal perasaan bahagia, nyatanya bisa menangis dan bersedih juga. Anger, yang seharusnya hanya merasakan kemarahan, nyatanya bisa ketakutan juga. Baiklah, toh hal-hal yang mengganjal itu tidak mengurangi kenikmatan saya menonton film ini.

Dan bagian paling menarik dari film ini, ketika diakhir cerita sang sutradara menggambarkan proses dalam pikiran seekor kucing. Kita tahu, kucing adalah hewan yang paling sulit untuk dipahami. Tindakan dan gerakan kucing juga sulit diprediksi. Seekor kucing terkadang berjalan entah ke mana, dengan misi yang sepertinya terlihat sangat misterius. Kesulitan kita untuk memahami kucing terjadi karena tiga alasan. Pertama, lima emosi yang tinggal dalam pikiran seekor kucing selalu bertengkar. Kedua, papan kontrol yang berfungsi untuk mengendalikan tubuh kucing, itu sangat rumit. Bahkan, papan kontrol dalam pikiran seekor kucing digambarkan sama rumitnya dengan papan kontrol Riley saat usianya 11 tahun. Ketiga, lima emosi itu, yang digambarkan sebagai kucing juga, tidak mengetahui kalau mereka adalah emosi dalam diri sang kucing, dan tidak tahu juga kalau mereka sedang berada dalam pikiran sang kucing. Jadilah emosi-emosi itu bergerak sak karepe dewe, sehingga tidak mengherankan kalau seekor kucing memang selalu bergerak sak karepe dewe.

Penulis, Usia, Karya

Beberapa hari belakangan tulisan di blog ini tidak karu-karuan. Setiap postingan hanya berisi satu kata saja. Tentu agar tidak terkena denda. Beberapa teman misuh-misuh dengan postingan saya yang seperti itu. Saya ucapkan permohonan maaf. Terus terang ada beberapa hal yang harus saya lakukan dan membuat kewajiban menulis blog jadi terbengkalai. Kegiatan pertama, tentu saja ngopi. Untuk yang satu ini, tidak bisa diganggu gugat. Kegiatan kedua, saya banyak menghabiskan waktu untuk menggarap tesis, membaca buku-buku Foucault dan beberapa literatur yang relevan. Kegiatan ketiga, saya sedang menulis suatu proyek pribadi. Tidak perlu saya ceritakan itu apa. Saya jamin, kamu akan muntah-muntah kalau saya beritahu kenarsisistisan saya dengan proyek pribadi itu.

Usia saya saat ini 25 tahun. Usia yang tergolong muda memang. Tapi di usia yang sama, atau sekitar itu, banyak orang-orang yang mampu menghasilkan karya-karya cemerlang. Ryunosuke Akutagawa misalnya. Di usia 22 tahun dia sudah menghasilkan cerpen legendaris Rashomon, pada usia 24 tahun dia menulis The Nose, dan pada usia 26 tahun dia menulis dua cerpen yang sangat saya sukai: Hell Screen dan The Spider’s Thread. Hebatnya, di usia semuda itu Akutagawa mampu menulis cerpen-cerpen yang tidak hitam putih, dalam artian menampilkan kebaikan yang ada sisi buruknya dan keburukan yang ada sisi baiknya. Bandingkan dengan penulis muda kita yang melihat moralitas secara hitam putih, dengan membuat suatu karya ambisius (namun tidak didukung skil menulis memadai) yang ingin menyelamatkan moral bangsa. Saya sangat percaya, urusan menjaga, apalagi menyelamatkan, moral bangsa bukanlah urusan penulis.

Dubliners James Joyce juga contoh menarik. 15 kumpulan cerpen di buku itu ditulis Joyce ketika dia berusia 22-25 tahun. Ceritanya tentang kelas menengah di Dublin, tentang cinta, masa lalu, krisis iman, dan sebagainya. Yang paling membekas di kepala saya adalah cerita yang terakhir, berjudul The Dead, yang ditulis Joyce saat usianya 25 tahun. Itu cerita yang sangat sendu dan lirih, tentang seorang istri yang menceritakan masa lalunya kepada sang suami, bahwa sang suami bukanlah cinta pertamanya. Baiklah, cerita dengan plot seperti itu tentu saja sudah basi. Tapi, cara Joyce menuliskan cerita itulah yang menarik. Joyce bisa membuat sebuah cerita dengan plot sederhana menjadi sebuah cerita yang memikat karena teknik menulisnya yang ciamik.

Usia 25 tahun, dan saya belum menghasilkan satupun karya yang bagus (minimal sama bagusnya dengan karya-karya Akutagawa atau Joyce). Tentu saja ini sebuah bencana. Menulis tidak sesederhana yang saya pikirkan sebelumnya. Saya kadang bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh Akutagawa dan Joyce sampai mereka bisa menulis sebagus itu? Saya pikir jawabannya tidak sesederhana karena mereka memiliki bakat dalam menulis.

Walau begitu, saya kadang menghibur diri sendiri. Toh pada usia 25 tahun Gabriel Garcia Marquez belum menghasilkan karya yang bagus. The Stranger Albert Camus terbit saat usianya 29 tahun, begitu juga dengan Lapar Knut Hamsun. Artinya, usia seseorang dalam menghasilkan suatu karya bagus itu beragam. Ada yang cepat, seperti Akutagawa dan Joyce, ada juga yang lambat seperti Marquez (One Hundred Years of Solitude terbit saat usianya 40 tahun). Karena saya tidak bisa menjadi seperti Akutagawa, menjadi seperti Marquez tentu tidak ada salahnya bukan?

Borges dan Lynch

Sepintas, ada persamaan antara cerpen (atau resensi fiktif) Borges dari buku Ficciones, A Survey of the Works of Herbert Quain, dengan film karya David Lynch, Mulholland Drive. A Survey of the Works of Herbert Quain adalah sebuah cerpen berbentuk resensi terhadap seorang penulis fiktif bernama Herbert Quain. Ada tiga karya yang diresensi oleh Borges, salah satunya berjudul The Secret Mirror, sebuah naskah drama dua babak, yang mana adegan pada babak pertama sebenarnya merupakan sebuah cerita dari naskah drama yang dituliskan oleh seorang karakter yang muncul di babak kedua. Ada dua karakter berbeda dalam drama tersebut yang diperankan oleh orang yang sama. Pada babak pertama dia berperan sebagai seorang laki-laki yang tergila-gila pada seorang perempuan, dan pada babak kedua dia berperan sebagai penulis naskah drama yang sedang menulis naskah yang ceritanya persis sama dengan cerita dalam babak pertama drama tersebut. Cerita dalam Mulholland Drive karya David Lynch serupa dengan cerpen Borges di atas. Ada dua bagian dalam film tersebut, yang mana dua orang karakter di bagian pertama sedang mencari seseorang yang ternyata mati secara mengenaskan. Di bagian kedua, orang yang ditemukan mati mengenaskan itu hidup kembali, dan karakter tersebut dimainkan oleh aktris yang sama dengan yang memerankan si pencari orang mati tadi. Ringkasnya begini, di bagian pertama aktris A memerankan C, dan aktris B memerankan D. C dan D sedang mencari seseorang bernama E, yang kemudian diketahui telah mati. Di bagian kedua, E ternyata hidup lagi, dan karakter E diperankan oleh aktris A, sedang aktris B memerankan C, sebuah karakter yang sebelumnya diperankan oleh A. Bingung? Silahkan ditonton sendiri filmnya.