Beberapa bulan lalu saya membaca tulisan Jorge Luis Borges. Judulnya Tlön, Uqbar, Orbis Tertius. Tulisannya sendiri berbentuk esai, esai fiktif lebih tepatnya, tentang sebuah eksiklopedia setebal 1001 halaman mengenai suatu dunia bernama Tlön. Dalam ensiklopedia itu dijelaskan semua hal tentang Tlön, sistem filsafatnya, cara mereka dalam berhitung, kondisi geografisnya, benda-benda yang ada, sampai pada sistem bahasanya. Yang menarik bagi saya, orang-orang di bagian utara Tlön tidak mengenal kata kerja dan kata benda, sebab mereka hanya mengenal kata sifat saja. Untuk menyebut suatu benda, mereka akan menggabungkan beberapa kata sifat yang merujuk pada benda yang dirujuk tersebut. Bulan, misalnya. Orang-orang Tlön tidak mengenal kata bulan. Untuk menyebut ‘bulan’, orang-orang Tlön akan menyebutnya seperti ini: aerial-bright above dark-round, atau soft-amberish-celestial, atau kombinasi kata sifat lain yang tetap merujuk ke ‘bulan’.
Ada satu lagi karya fiksi dengan sistem bahasa yang menarik. Judulnya 1984, karangan George Orwell. Di novel tersebut, tidak ada Eropa, yang ada adalah Oceania. Keduanya daratan yang sama, walaupun Oceania yang digambarkan Orwell sedikit lebih besar dari Eropa yang kita kenal sekarang. Oceania adalah negeri yang dikuasai seorang diktator bernama Big Brother. Penduduk Oceania sehari-hari berbahasa Inggris. Pemerintah Oceania sedang merancang struktur bahasa baru, yang diberi nama Newspeak. Jadi, bahasa Inggris yang selama ini dipakai adalah Oldspeak, dan pada tahun 2050 diharapkan semua penduduk Oceania akan menggunakan Newspeak sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bisa dikatakan, Newspeak adalah penyempurnaan dari Oldspeak. Kita tahu, bahasa selalu berkembang, kosa kata menjadi semakin banyak, sehingga setiap edisi kamus terbaru selalu lebih tebal dari kamus edisi sebelumnya. Berbeda dengan Newspeak, bukannya bertambah, kosa katanya malah semakin berkurang! Saya membayangkan, saking sedikitnya kosa kata dalam Newspeak, di tahun 2050 nanti kamus Newspeak hanya akan setebal 37 halaman saja.
Ketika saya membaca esai Robert Hodge dan Gunther Kress yang berjudul Saussure and the Origin of Semiotics, mau tidak mau saya teringat pada dua cerita di atas. Esai itu berisi tentang pemikiran Saussure mengenai sistem bahasa dan kritik terhadap pemikirannya. Ciri khas dalam teori linguistik Saussure adalah, dia selalu mengajukan gagasan yang berpasangan. Langue dan parole, sinkroni dan diakroni, paradigmatik dan sintagmatik, atau penanda dan petanda. Ada hierarki dalam gagasan yang berpasangan itu, dalam artian ada salah satu konsep dalam gagasan yang berpasangan itu yang dianggap lebih penting oleh Saussure. Langue lebih penting ketimbang parole, sinkroni lebih penting ketimbang diakroni, atau penanda lebih penting ketimbang petanda. Kritik yang mengarah pada Saussure, dia hanya mementingkan bagaimana bahasa itu bekerja, dan luput membahas bahwa kerja suatu bahasa tidak terlepas dari budaya, kondisi sosial, dan ideologi yang bekerja dalam suatu masyarakat.
Kritik yang diarahkan pada Saussure mungkin benar. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya, sebab dalam kondisi ideologi seperti apapun cara kerja bahasa tetap sama, seperti apa yang digambarkan Saussure. Penduduk Tlön tidak mengenal kata benda (noun), sebab mereka menganut paham idealisme, bahwa segala yang berada di luar pikiran tidak lain sebagai persepsi semata. Membendakan sesuatu (dengan cara memberi nama untuk benda-benda), berarti bertentangan dengan prinsip idealisme itu sendiri, sebab pemberian nama untuk benda sama dengan pengakuan adanya dunia yang maujud di luar persepsi manusia. Atau, kosa kata Newspeak yang semakin berkurang, dengan tujuan agar rakyat Oceania tidak dapat mengekspresikan pikiran mereka secara berlebih, sebab kosa kata mereka sangat terbatas. Dengan begini, rakyat Oceania tidak akan mampu untuk memikirkan cara untuk menggulingkan kekuasaan Big Brother.
Walaupun Indonesia menganut ideologi Pancasila, Inggris dengan monarkinya, Cina dengan komunismenya, Tlön dengan idealismenya, atau Oceania dengan otoriternya, toh cara kerja bahasa di semua tempat itu sama saja, tetap sesuai dengan teori yang diajukan Saussure. Bagi saya, kritik terhadap pemikiran Saussure bukan berarti apa yang dia kemukakan itu salah atau lemah. Kritik terhadap pemikiran Saussure lebih tepat dimaknai sebagai pengembangan dari hal-hal yang sebelumnya tidak atau belum dibahas oleh Saussure.