Tlön, Oceania, Saussure

Beberapa bulan lalu saya membaca tulisan Jorge Luis Borges. Judulnya Tlön, Uqbar, Orbis Tertius. Tulisannya sendiri berbentuk esai, esai fiktif lebih tepatnya, tentang sebuah eksiklopedia setebal 1001 halaman mengenai suatu dunia bernama Tlön. Dalam ensiklopedia itu dijelaskan semua hal tentang Tlön, sistem filsafatnya, cara mereka dalam berhitung, kondisi geografisnya, benda-benda yang ada, sampai pada sistem bahasanya. Yang menarik bagi saya, orang-orang di bagian utara Tlön tidak mengenal kata kerja dan kata benda, sebab mereka hanya mengenal kata sifat saja. Untuk menyebut suatu benda, mereka akan menggabungkan beberapa kata sifat yang merujuk pada benda yang dirujuk tersebut. Bulan, misalnya. Orang-orang Tlön tidak mengenal kata bulan. Untuk menyebut ‘bulan’, orang-orang Tlön akan menyebutnya seperti ini: aerial-bright above dark-round, atau soft-amberish-celestial, atau kombinasi kata sifat lain yang tetap merujuk ke ‘bulan’.

Ada satu lagi karya fiksi dengan sistem bahasa yang menarik. Judulnya 1984, karangan George Orwell. Di novel tersebut, tidak ada Eropa, yang ada adalah Oceania. Keduanya daratan yang sama, walaupun Oceania yang digambarkan Orwell sedikit lebih besar dari Eropa yang kita kenal sekarang. Oceania adalah negeri yang dikuasai seorang diktator bernama Big Brother. Penduduk Oceania sehari-hari berbahasa Inggris. Pemerintah Oceania sedang merancang struktur bahasa baru, yang diberi nama Newspeak. Jadi, bahasa Inggris yang selama ini dipakai adalah Oldspeak, dan pada tahun 2050 diharapkan semua penduduk Oceania akan menggunakan Newspeak sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bisa dikatakan, Newspeak adalah penyempurnaan dari Oldspeak. Kita tahu, bahasa selalu berkembang, kosa kata menjadi semakin banyak, sehingga setiap edisi kamus terbaru selalu lebih tebal dari kamus edisi sebelumnya. Berbeda dengan Newspeak, bukannya bertambah, kosa katanya malah semakin berkurang! Saya membayangkan, saking sedikitnya kosa kata dalam Newspeak, di tahun 2050 nanti kamus Newspeak hanya akan setebal 37 halaman saja.

Ketika saya membaca esai Robert Hodge dan Gunther Kress yang berjudul Saussure and the Origin of Semiotics, mau tidak mau saya teringat pada dua cerita di atas. Esai itu berisi tentang pemikiran Saussure mengenai sistem bahasa dan kritik terhadap pemikirannya. Ciri khas dalam teori linguistik Saussure adalah, dia selalu mengajukan gagasan yang berpasangan. Langue dan parole, sinkroni dan diakroni, paradigmatik dan sintagmatik, atau penanda dan petanda. Ada hierarki dalam gagasan yang berpasangan itu, dalam artian ada salah satu konsep dalam gagasan yang berpasangan itu yang dianggap lebih penting oleh Saussure. Langue lebih penting ketimbang parole, sinkroni lebih penting ketimbang diakroni, atau penanda lebih penting ketimbang petanda. Kritik yang mengarah pada Saussure, dia hanya mementingkan bagaimana bahasa itu bekerja, dan luput membahas bahwa kerja suatu bahasa tidak terlepas dari budaya, kondisi sosial, dan ideologi yang bekerja dalam suatu masyarakat.

Kritik yang diarahkan pada Saussure mungkin benar. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya, sebab dalam kondisi ideologi seperti apapun cara kerja bahasa tetap sama, seperti apa yang digambarkan Saussure. Penduduk Tlön tidak mengenal kata benda (noun), sebab mereka menganut paham idealisme, bahwa segala yang berada di luar pikiran tidak lain sebagai persepsi semata. Membendakan sesuatu (dengan cara memberi nama untuk benda-benda), berarti bertentangan dengan prinsip idealisme itu sendiri, sebab pemberian nama untuk benda sama dengan pengakuan adanya dunia yang maujud di luar persepsi manusia. Atau, kosa kata Newspeak yang semakin berkurang, dengan tujuan agar rakyat Oceania tidak dapat mengekspresikan pikiran mereka secara berlebih, sebab kosa kata mereka sangat terbatas. Dengan begini, rakyat Oceania tidak akan mampu untuk memikirkan cara untuk menggulingkan kekuasaan Big Brother.

Walaupun Indonesia menganut ideologi Pancasila, Inggris dengan monarkinya, Cina dengan komunismenya, Tlön dengan idealismenya, atau Oceania dengan otoriternya, toh cara kerja bahasa di semua tempat itu sama saja, tetap sesuai dengan teori yang diajukan Saussure. Bagi saya, kritik terhadap pemikiran Saussure bukan berarti apa yang dia kemukakan itu salah atau lemah. Kritik terhadap pemikiran Saussure lebih tepat dimaknai sebagai pengembangan dari hal-hal yang sebelumnya tidak atau belum dibahas oleh Saussure.

Musik dan Komposisi Novel

Tahun lalu saya membaca The Art of the Novel, buku kumpulan esai karya novelis Ceko kenamaan, Milan Kundera. Esai itu terdiri dari tujuh bagian, dan setiap bagian membahas hal yang berbeda-beda namun tetap dalam tema besar yang sama: estetika novel. Esai-esainya sangat mengagumkan. Dia membahas tentang Cervantes (penulis Don Quixote, novel modern pertama di dunia), yang menurutnya, bersama Descartes telah menemukan dunia modern. Dia juga membahas Franz Kafka, yang karya-karyanya memiliki logika yang berkebalikan dengan Crime and Punishment nya Fyodor Dostoyevsky. Dan di bagian terakhir, dia membahas kalau novel tercipta untuk membuat manusia tertawa, sebab novel adalah gema tawa Tuhan, dan Tuhan selalu tertawa saat melihat manusia sedang berpikir.

Salah satu bagian dari buku itu membahas tentang seni komposisi novel (saya lebih suka menyebutnya arsitektur novel). Novel tentu saja dapat ditulis dengan metode apapun. Ada penulis yang lebih suka melakukannya dengan pergi ke taman, duduk di salah satu bangkunya, lalu mulai menuliskan novelnya secara spontan, tanpa perencanaan apa yang ingin dituliskan sebelumnya. Atau seorang penulis pergi ke suatu cafe, memesan secangkir kopi arabica, lalu mulai menulis apa saja yang ada di pikirannya saat itu juga di depan laptop yang telah dia sediakan sebelumnya. Atau ada juga penulis yang membuat arsitektur novelnya terlebih dulu, menyusun kerangka ceritanya, tempo dan irama, sebelum merasa yakin untuk mulai menuliskan novelnya (Milan Kundera termasuk dalam kategori ini).

Kundera sangat mengagumi musik klasik. Bach, Vivaldi, dan Beethoven adalah komposer idolanya. Dia mempelajari komposisi (arsitektur) musik ketiga komposer itu, juga komposer-komposer lain tentu saja. Quartet Opos 131 karya Beethoven, menurut Kundera, adalah musik dengan arsitektur yang paling sempurna. Dia mempelajari pembagian-pembagian dalam musik itu (semuanya berjumlah tujuh bagian), tempo dan iramanya, serta proporsi matematis yang tercipta.

Hasil pembacaannya terhadap arsitektur musik itu kemudian dia terjemahkan ke dalam arsitektur novel. The Joke, novel pertama yang dia tulis, misalnya. Terdiri dari tujuh bagian (seperti komposisi karya Beethoven), dengan tempo yang berbeda di setiap bagian. Seperti musik, ada bagian yang temponya lambat, ada bagian yang temponya cepat. Tempo yang lambat membuat pembaca lebih rileks, sedangkan bagian dengan tempo yang cepat membuat pembaca merasa tegang. Musik dengan tempo yang statis tentu saja tidak menarik. Begitupun dengan novel. Itulah sebabnya Kundera sangat memerhatikan pembagian-pembagian tersebut di dalam novelnya.

Yang paling menarik, paling tidak menurut saya, adalah usaha Kundera menerjemahkan arsitektur musik menjadi arsitektur novel. Kita selalu kagum dengan penerjemah yang mampu menerjemahkan buku dengan baik. Edith Grossman menuai pujian saat menerjemahkan Don Quixote dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris. Hasil terjemahannya membuat Don Quixote seperti bukan karya terjemahan, tetapi karya baru yang ditulis oleh orang Amerika. Penerjemahan novel, dari suatu bahasa ke bahasa lain, membutuhkan kepekaan bahasa yang tinggi, serta tidak semua penulis mampu melakukannya. Dan Kundera melakukan salah satu usaha penerjemahan paling gila yang pernah dilakukan umat manusia. Kita tahu, musik dan novel menggunakan dua medium yang berbeda. Musik menggunakan bunyi, sedangkan novel menggunakan kertas. Usaha penerjemahan ini mustahil bisa dilakukan oleh seorang penulis, sebab hanya seorang jeniuslah yang mampu melakukannya.

Baiklah, pernyataan tersebut mungkin berlebihan, dan penjelasan saya di atas terlalu menyederhanakan kerumitan dari proses penerjemahan yang Kundera lakukan. Tapi, seorang kritikus sastra asal Ceko pernah membuat sebuah telaah tentang novel The Joke. Telaah yang dia buat berjudul The Geometry of the Joke, isinya tentang pembagian monolog karakter-karakternya, yang ternyata, memiliki proporsi matematika yang cantik. Ada empat karakter dalam novel tersebut: Ludvik, Jaroslav, Kostka, dan Helena. Monolog Ludvik menghabiskan 2/3 buku, Jaroslav 1/6, Kostka 1/3, dan Helena 1/18. Sekarang mari kita lihat arsitektur dalam musik klasik yang diciptakan Vivaldi. Kundera menjelaskan, bahwa karya Vivaldi memiliki skema A-B-A. Bagian A berdurasi 70 detik, bagian B berdurasi 105 detik, dan balasan untuk bagian A berdurasi 10 detik (andaikan balasan ini dimainkan secara penuh, durasinya akan menjadi 70 detik). Musik dengan skema simetris 70:105:70 bagi Kundera akan terdengar membosankan. Tapi Vivaldi merombak skema musiknya menjadi asimetris, 70:105:10. Dari sini didapatkan suatu proporsi musik yang memiliki keindahan matematis, 10×7:15×7:10×7; sama dengan 2:3:2,7. Bandingkan dengan  proporsi monolog dalam novel The Joke, 2/3:1/6:1/3:1/18. Jadinya, (2×1/3):(1/2×1/3):(1X1/3):(1/6×1/3). Artinya, proporsi monolog dalam The Joke memiliki keindahan matematis sebab setiap monolog adalah kelipatan dari angka 1/3!

Setelah membaca esai Kundera tentang seni komposisi novel, saya pun jadi tertarik untuk melakukan hal serupa. Saya sangat menyukai Roman Picisan, dan ingin membuat sebuah cerpen yang arsitekturnya merupakan hasil terjemahan dari arsitektur musik gubahan Ahmad Dhani tersebut. Cerpen tersebut tidak pernah selesai, sebab terhambat suatu permasalahan mendasar: saya tidak mengerti dengan komposisi musik. Saya pikir membuat arsitektur novel dapat diadaptasi dari apa saja, tidak hanya dari musik seperti yang dilakukan Kundera. Lewat penerjemahan arsitektur gedung Burj Khalifa, misalnya.

5 Film Romantis Terbaik Versi Saya

Tulisan ini barangkali paling cocok dipublikasikan menjelang hari valentine. Tapi tidak masalah saya pikir, toh film-film romantis banyak yang tayang perdana bukan pada hari valentine. Saya sendiri bukan penggemar film romantis, dan sampai saat ini tidak satupun film romantis yang pernah membuat saya menangis (bukan berarti saya tidak pernah menangis saat menonton film). Daftar film romantis ini saya buat berdasarkan “sisi romantisnya” dan bukan pada sisi teknis berceritanya. Misal, Annie Hall bukan film romantis terbaik yang pernah saya tonton, padahal dalam daftar film terbaik yang pernah saya tonton, Annie Hall berada diurutan pertama. Berikut daftarnya, dimulai dari urutan kelima.

5. Annie Hall

Meskipun ini adalah film terbaik versi saya, tapi untuk ukuran film romantis, Annie Hall bukanlah pilihan pertama. Bercerita tentang seorang comic, bernama Alvy Singer yang jatuh cinta pada seorang perempuan cantik bernama Annie Hall. Film ini langsung dibuka dengan pernyataan Alvy bahwa dia telah putus dengan Annie. Jadi sejak awal telah diberitahukan bahwa film ini tidak akan berakhir bahagia.

4. Eternal Sunshine of the Spotless Mind

Sama dengan Annie Hall, film ini pun bukan film yang berakhir bahagia. Tapi film ini akan mengajarkan pada kita bahwa melupakan bukanlah cara terbaik agar bisa move on.

3. Silver Linings Playbook

Bagian yang paling saya sukai dari film ini ketika selesai membaca novel masterpiece Hemingway, berjudul A Farewell to Arms,  Pat langsung membuang novel tersebut melalui jendela seraya berkata: what the fuck! Atau saat Pat selalu merasa pusing setiap kali mendengar My Cherie Amour yang dinyanyikan oleh Stevie Wonder. Sial, dua hal yang sangat dibenci Pat itu justru dua hal yang sangat saya sukai.

2. Amelie

Film ini bercerita tentang Amelie, seorang perempuan cantik tapi selalu minder dengan laki-laki, dalam mendapatkan pujaan hatinya. Jika adegan terbaik 500 Days of Summer terdapat pada “ekspektasi vs realita”, maka Amelie sudah melakukan hal itu bertahun-tahun sebelumnya. Film ini adalah sebuah perayaan pada hal-hal kecil, namun sangat berarti bagi hidup seseorang.

1. Casablanca

Jika dua film legendaris The Usual Suspects dan Adaptation berhutang budi pada film ini, saya rasa itu cukup untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya film ini. Oke, karena utang budi kedua film itu bukan pada sisi romantisnya, maka mau tidak mau harus saya ceritakan sedikit mengapa film ini adalah drama romantis terbaik. Sebab,  kita akan selalu bersimpati pada seorang laki-laki yang ditinggal pergi kekasihnya, dan sang kekasih pada suatu hari, setelah bertahun-tahun pergi, datang kembali dengan suaminya untuk meminta bantuan pada orang yang telah dia khianati itu, dan sang lelaki tetap rela membantunya. Pada akhirnya cinta memang membuat manusia menjadi dungu.

Panduan Menonton Film-film Charlie Kaufman

Sebagai seorang yang tergila-gila dengan Charlie Kaufman, saya akan selalu menyebut beberapa judul film karyanya setiap kali ada teman yang meminta rekomendasi film untuk ditonton. Film-film Kaufman cenderung berat. Tapi bukan berarti film-filmnya tidak bisa dinikmati. Kaufman bukan tipikal sineas yang suka bergelap-gelap. Bisa dikatakan bahwa semua film yang dia tulis adalah film komedi. Itulah barangkali mengapa penonton tetap bisa tertawa sekalipun filmnya berat, suatu hal yang tidak saya temukan dalam film-film Terrence Malick, misalnya.

Daftar yang saya buat ini bukan berdasarkan peringkat film terbaik Charlie Kaufman versi saya, tapi lebih kepada film-film yang saya rasa cocok dijadikan pintu masuk untuk mengenal karya-karya Kaufman. Berikut panduan ringkasnya.

Wajin Tonton

Sampai saat ini, Kaufman baru menulis 6 film. Dan di antara 6 film itu, Eternal Sunshine of the Spotless Mind lah yang masuk kategori wajib tonton. Dosa besar jika seorang maniak film tidak menontonnya. Film ini bercerita tentang seorang lelaki yang ingin menghapus ingatannya, lewat mesin penghapus ingatan, terhadap seorang perempuan cantik yang sangat dicintainya. Kenangan, seburuk apapun dia, pada akhirnya memang bukan untuk dilupakan.

Wajib Kifayah Ditonton

Barangkali istilah kifayah kurang tepat. Namun Being John Malkovich adalah film yang wajib ditonton siapa saja yang menyukai Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Bercerita tentang seorang dalang boneka yang menemukan portal untuk masuk ke dalam pikiran John Malkovich. Masuk di sini bukan memengaruhi John Malkovich seperti apa yang dilakukan oleh orang yang bisa melakukan hipnotis, tapi masuk dalam artian yang denotatif: seluruh tubuh masuk ke dalam pikiran John Malkovich. Semoga saja di dunia nyata portal seperti itu ada, dan alangkah menyenangkannya jika portal itu menuju ke dalam pikiran Chelsea Islan.

Penggemar Berat Charlie Kaufman

Bagi yang menyukai kedua film yang telah saya sebutkan tadi, otomatis akan menjadi penggemar berat Charlie Kaufman. Kalau sudah begini, dua film metafiksi yang dia tulis adalah tontonan wajib selanjutnya. Yang pertama berjudul Adaptation. Bercerita tentang seorang penulis skenario yang kebingungan dalam menulis skenario yang diadaptasi dari sebuah buku non-fiksi. Penulis skenario itu bernama Charlie Kaufman, dan skenario film yang sedang dia buat berjudul Adaptation. Jadi, film ini adalah film tentang Charlie Kaufman yang sedang kebingungan dalam menuliskan skenario film Adaptation. Sepengetahuan saya, film ini adalah film pertama yang menampilkan penulis skenarionya sebagai karakter utama di dalam cerita. Yang kedua berjudul Synecdoche, New York. Film ini merupakan film pertama yang disutradarai sendiri oleh Charlie Kaufman. Bercerita tentang seorang sutradara drama, yang ingin membuat sebuah pagelaran drama terbesar yang pernah ada. Drama yang ingin dia buat adalah sebuah copy paste dari kehidupannya sendiri. Karena dalam kehidupan sehari-hari dia adalah seorang sutradara drama, maka drama yang dia buat, awalnya dia beri judul Simulacrum, bercerita tentang dirinya sendiri beserta semua kru yang sedang membuat sebuah drama yang juga berjudul Simulacrum. Begitu seterusnya, sampai dia tidak mengenal lagi siapa kru yang benar, dan siapa aktor yang berperan sebagai kru.

Untuk yang Tergila-gila dengan Charlie Kaufman

Human Nature dan Confession of a Dangerous Mind adalah dua film minor dari Charlie Kaufman, dan barangkali hanya cocok ditonton oleh orang yang tergila-gila dengan karyanya. Ceritanya sendiri barangkali tidak lagi menjadi penting, sebab jika sudah tergila-gila, dengan sendirinya akan tetap menonton karyanya tanpa perlu diberitahu seperti apa jalan ceritanya.

PS: Jika ingin menikmati karyanya, saya sarankan jangan dilakukan secara maraton seperti menonton trilogi The Lord of the Ring.

Buku-buku yang Tidak Pernah Ada

Saya jarang mengunjungi perpustakaan. Jika ingin membaca suatu buku saya lebih memilih untuk membelinya. Akhir-akhir ini saya lebih banyak mengunduh buku secara gratis, semuanya berbahasa Inggris, beberapa di antaranya novel, tapi lebih banyak buku tentang kajian budaya. Diantara kunjungan saya yang sedikit itu, saya pernah berkunjung ke perpustakaan Babel. Perpustakaan yang lebih mirip labirin ini memiliki banyak ruang yang semuanya berbentuk segi enam. Perpustakaan Babel dinobatkan sebagai perpustakaan terbesar di dunia, selain karena bangunannya yang sangat besar, perpustakaan ini juga memiliki koleksi seluruh buku yang pernah ditulis umat manusia. Yang unik, perpustakaan Babel hanya memiliki satu salinan untuk setiap judul buku, berbeda dengan perpustakaan lain yang memiliki banyak salinan untuk buku dengan judul yang sama.

Salah satu orang yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel adalah Umberto Eco. Dia sangat terkesima dengan perpustakaan ini. Konon katanya, dia mendapat ide untuk menulis novel The Name of the Rose setelah berkunjung ke perpustakaan ini. Dalam novel yang dia tulis itu, Eco membuat sebuah cerita tentang perpustakaan yang bentuk bangunannya meniru bentuk bangunan perpustakaan Babel. Perpustakaan di novel Eco itu dijaga oleh seorang pustakawan buta bernama Jorge of Burgos. Bagi yang pernah mengunjungi perpustakaan Babel akan segera mengerti bahwa Jorge of Burgos diambil dari nama pendiri perpustakaan Babel yang juga buta: Jorge Luis Borges.

Saat berkunjung ke perpustakaan Babel, saya pun terkesima layaknya Umberto Eco. Namun di antara semua perpustakaan yang pernah saya datangi, perpustakaan Lucien lah yang paling menakjubkan. Perpustakaan ini jauh lebih kecil dari perpustakaan Babel. Saat pertama kali masuk, tidak ada yang istimewa dengan perpustakaan ini. Namun kata Lucien, penjaga perpustakaan yang namanya dijadikan nama untuk perpustakaan yang dia jaga, koleksi buku di perpustakaan ini tidak mungkin ditemukan di tempat lain. Berbulan-bulan kemudian saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya melakukan pengecekan terhadap apa yang dikatakan oleh Lucien, dan betapa terkejutnya saya saat mengetahui tidak satupun koleksi perpustakaan Lucien yang dimiliki oleh perpustakaan Babel.

Karena minat saya yang teramat besar terhadap karya fiksi, setiap kali berkunjung ke perpustakaan saya akan langsung mendatangi rak fiksi. Demikian juga dengan kunjungan saya ke perpustakaan Lucien. Di rak fiksi saya menemukan nama-nama yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Ada Mir Bahadur Ali (seorang penulis dari India), ada Pierre Menard (seorang pengarang dari Prancis), Jaromir Hladik, dan Herbert Quain. Saya lalu mengambil sebuah buku karya Mir Bahadur Ali berjudul The Approach to Al-Mu’tasim, dan sebuah buku karangan Herbert Quain yang berjudul The Secret Mirror. Saya lalu membaca kedua buku tersebut di sudut perpustakaan.

The Approach to Al-Mu’tasim adalah novel berat. Membacanya harus pelan-pelan. Bercerita tentang seorang mahasiswa hukum, yang tidak pernah diberitahukan namanya, pada suatu ketika membunuh seorang gembel beragama hindu di atas menara. Setelah membunuh orang itu, dan sang mahasiswa melakukan pelarian, dia mendapati suatu kenyataan bahwa gembel yang dibunuhnya itu hanya perwujudan mimpi dari orang lain, atau mimpi dari orang lain yang bermimpi tentang orang lain, atau seseorang yang memimpikan orang lain sedang bermimpi tentang orang lain yang bermimpi tentang orang lain. Begitu seterusnya, sampai pada seorang pemimpi yang pertama. Mahasiswa itu yakin akan adanya pemimpi pertama itu, seseorang yang bernama Al-Mu’tasim. Novel ini kemudian bercerita tentang petualangan mahasiswa tersebut dalam mencari Al-Mu’tasim. Sang pengarang, Mir Bahadur Ali, nampaknya ingin mengecoh pembacanya. Sebab Al-Mu’tasim, pemimpi pertama yang dicari-cari oleh mahasiswa tersebut, sebenarnya adalah orang hindu yang dibunuhnya di atas menara.

Herbert Quain sendiri menulis buku dengan semangat bermain-main antara serius dan tidak serius. Cerita-cerita yang dia tulis terkesan serius tapi sebenarnya tidak, terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius. The Secret Mirror misalnya, adalah sebuah naskah drama dua babak, yang babak pertamanya bercerita tentang seorang penulis naskah drama bernama Wilfred Quarles yang tergila-gila pada seorang perempuan bernama Ulrica Thrale. Di babak kedua, orang yang memerankan Wilfred Quarles muncul kembali, tapi dengan nama dan peran yang berbeda. Kali ini dia berperan sebagai John William Quigley, seorang pedagang keliling asal Liverpool. Quigley ini juga seorang penulis naskah drama. Cerita tentang Wilfred Quarles yang tergila-gila dengan Ulrica Thrale pada babak pertama tadi tidak lain merupakan sebuah sebuah cerita dalam naskah drama yang ditulis oleh John William Quigley. Jadi, adegan pada babak pertama sebenarnya merupakan sebuah cerita dari naskah drama yang dituliskan oleh seorang karakter yang muncul di babak kedua.

Setelah saya mengembalikan kedua buku itu di tempat semula, saya mendatangi Lucien, dan menanyainya beberapa hal tentang perpustakaan yang dia jaga tersebut. Saya memang baru membaca dua buku di perpustakaan ini, tapi karena dua buku yang saya baca itu adalah buku-buku yang mengagumkan, saya berkesimpulan bahwa semua buku di perpustakaan Lucien ini pastilah mengagumkan. Sayang sekali jika buku-buku yang mengagumkan ini hanya bisa dibaca di tempat ini saja. Saat saya ingin meminjam dua buku tersebut untuk di fotokopi, Lucien bersikeras bahwa buku-buku koleksi perpustakaannya tidak boleh dibawa keluar. Saya lalu mengatakan, ingin menyalinnya kembali di perpustakaan ini saja, dengan cara tulis tangan. Lucien lalu mengatakan, jika hal itu saya lakukan maka buku yang ingin saya tulis ulang itu akan terbakar dengan sendirinya. Lucien melanjutkan, bahwa buku-buku yang ada di perpustakaan ini sesungguhnya adalah buku-buku yang tidak pernah ada di dunia nyata, buku-buku yang tidak pernah ditulis oleh seorang pengarang, atau tidak pernah selesai dituliskan, kecuali di dalam mimpi. Jadi buku-buku di perpustakaan ini bisa ada hanya jika seorang pengarang berkeinginan menulis suatu buku, tapi tidak pernah menuliskan atau menyelesaikan buku yang dia inginkan itu. Karena hanya ada dalam impian, buku-buku tersebut tidak boleh menjadi kenyataan, sebab ketika sudah menjadi kenyataan maka tidak ada lagi buku yang diimpikan. Itulah mengapa buku di perpustakaan Lucien akan terbakar begitu buku tersebut telah terwujud di dunia nyata. Saya teringat akan kerangka novel yang ingin saya tulis, judulnya Metafiksi, dan sudah hampir dua tahun kerangka novel itu belum juga rampung. Untuk membuktikan perkataannya, saya lalu menuju ke rak fiksi, dan mencari sebuah buku berjudul Metafiksi yang ditulis oleh seseorang bernama Abdul Hair. Dan ternyata buku itu ada, dengan sampul dan isi yang sama persis seperti yang saya inginkan.

Berbulan-bulan kemudian, saat saya kembali mengunjungi perpustakaan Babel, saya mendapati kenyataan bahwa pendiri perpustakaan tersebut, Jorge Luis Borges, juga seorang penulis. Saya menuju rak fiksi, melihat beberapa buku yang pada sampulnya tertulis nama Borges, lalu mengambil salah satu buku tersebut secara acak. Buku yang saya ambil berjudul Ficciones, berisi beberapa cerita pendek, esai, dan resensi buku. Dua diantara yang dia tulis, ternyata resensi terhadap karya Mir Bahadur Ali dan Herbert Quain, dua orang penulis yang karyanya pernah saya baca saat berada di perpustakaan Lucien. Borges, menuliskan resensi terhadap karya kedua penulis itu dengan begitu cemerlang. Dia menuliskan tentang karakter-karakternya, ringkasan ceritanya, membuat sebuah skema dari cerita yang ditulis Herbert Quain, serta membuat sebuah telaah kalau cerita The Approach to Al-Mu’tasim karya Mir Bahadur Ali sebenarnya paralel dengan cerita dalam buku puisi karya seorang sufi persia, Farid al-din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim Attar, yang berjudul Mantiq al-Tair (jika diterjemahkan menjadi Musyawarah Burung).

Banyak kritikus sastra yang mengatakan bahwa Jorge Luis Borges menuliskan sebuah resensi fiktif dalam buku Ficciones, sebab buku-buku yang yang dia ulas tidak pernah ada di dunia. Tentu saja para kritikus itu salah, sebab Borges pernah membaca buku-buku yang dia ulas itu. Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan Lucien. Dengan cara membuat resensi, alih-alih menyalinnya kembali, Borges mampu mengambil intisari dari buku-buku yang ada di perpustakaan Lucien tanpa membuat buku-buku tersebut terbakar. Dengan cara itulah Borges memperkenalkan koleksi perpustakaan Lucien kepada dunia, sesuatu yang ingin saya lakukan tapi gagal karena ketidaktelitian saya kalau aturan yang ditetapkan oleh Lucien memiliki beberapa peluang untuk dilanggar.