Anomali Seorang Lisa

Sepanjang pertengahan pertama 2016, saya sudah menyaksikan beberapa film dan membaca beberapa novel, termasuk dua novel cemerlang karya dua penulis Indonesia yang saya kagumi. Tapi tidak ada yang sebegitu mengganggunya seperti Anomalisa, film terbaru Charlie Kaufman. Sepanjang tahun ini, hanya tiga hal yang setiap hari selalu saya pikirkan: Ibu saya, kewajiban menyelesaikan tesis, dan Anomalisa. Seperti film-film Charlie Kaufman lainnya yang selalu bermain dengan bentuk, film ini pun seperti itu. Saya selalu menganggap permainan bentuk film pasti hanya berkisar pada elemen visual (Stanley Kubrick dan Terrence Malick adalah dewa dalam hal ini) atau plot (film terdahulu Charlie Kaufman banyak mengeksplorasi wilayah ini). Anggapan saya selama ini salah, sebab film adalah medium visual yang menggabungkan berbagai unsur medium lain: drama, novel, musik, dan suara. Film adalah medium yang kompleks. Seorang sutradara bisa saja mengeksplorasi wilayah di luar plot dan visual. Musik misalnya. Dari ekplorasi terhadap wilayah ini kita bisa menyaksikan film opera (yang seluruh dialognya adalah nyanyian) seperti Chicago, atau Opera Jawa untuk menyebut contoh dari Indonesia.

Anomalisa adalah film animasi yang mengeksplorasi wilayah suara. Kita tahu, meskipun tidak semua, karakter dalam film animasi pastilah memiliki suara. Agar setiap karakter memiliki suara yang berbeda, suara setiap karakter diisi oleh orang yang berbeda pula. Sebuah pertanyaan muncul, bagaimana jika suara semua karakter dalam film animasi hanya diisi oleh satu orang saja?

Anomalisa bukanlah film yang menjawab pertanyaan di atas. Tapi bentuknya kurang lebih seperti itu. Ada banyak karater dalam Anomalisa, tapi karakter utamanya hanya dua: Michael dan Lisa. Suara Michael diisi oleh David Thewlis, suara Lisa diisi oleh Jennifer Jason Leigh, dan suara karakter lain, lebih dari dua puluh karakter, semuanya diisi oleh Tom Noonan. Film ini penuh dengan suara: orang-orang ngobrol di pesawat, pengumuman di bandara, sopir taksi yang terus membual, bisik-bisik di belakang, atau pertengkaran di lorong hotel. Semua keriuhan itu adalah suara “Tom Noonan” seorang. Semua orang memiliki suara yang sama, hanya Michael saja yang suaranya berbeda. Michael begitu bosan, atau mungkin muak, dengan dunia ini. Bayangkan saja, setiap hari dia bertemu dengan orang yang sama. Di manapun dia berada, orang-orangnya selalu sama. Penampilan mereka boleh berbeda, tapi suaranya pasti sama. Entah itu laki-laki atau perempuan, istri atau anaknya, suaranya pasti suara seorang laki-laki, suara “Tom Noonan”.

Hingga suatu malam, saat sedang berada dalam kamar hotel, sebuah anomali terjadi. Michael untuk kali pertama mendengar suara perempuan. Dia mencari asal suara itu dan menemukannya. Suara itu ternyata milik seorang perempuan bernama Lisa. Mereka lalu berkenalan, dan menghabiskan malam itu berdua saja dengan ngobrol santai dan bercinta. Michael lebih senang menjadi pendengar. Bukan karena obrolan Lisa menarik, tapi karena untuk pertama kali selama hidupnya Michael mendengar suara “perempuan”.

Kekaguman saya pada film ini lebih dikarenakan pemahaman Charlie Kaufman yang begitu mendalam akan medium bercerita. Saya tidak bisa membayangkan jika film ini dibuat dalam bentuk live-action. Saya yakin mustahil hasil akhirnya bisa maksimal. Bentuk animasi, yang butuh pengisi suara, adalah bentuk yang paling sempurna untuk film ini. Oh iya, sejujurnya saya tidak tahu bagaimana cara mengakhiri tulisan ini. Tidak mungkin juga tulisan ini saya akhiri tepat pada dua kalimat sebelum kalimat ini. Tulisan ini akan terasa menggantung jika diakhiri dengan kalimat seperti itu. Tapi jika uraian ini saya perdalam, hanya ada dua hal buruk yang akan saya tulis. Pertama, cerita lengkap mengenai film ini, yang pastinya akan bikin kesal orang yang belum menontonnya, sebab kenikmatan menonton jauh berkurang karena sudah mengetahui seluruh jalan cerita. Kedua, puja-puji norak saya pada Charlie Kaufman, yang menurut saya, adalah filmmaker terbaik saat ini. Jadi bersama dengan kalimat ini, saya nyatakan inilah akhir dari tulisan ini, sekian dan terima kasih.

Panduan Menonton Film-film Charlie Kaufman

Sebagai seorang yang tergila-gila dengan Charlie Kaufman, saya akan selalu menyebut beberapa judul film karyanya setiap kali ada teman yang meminta rekomendasi film untuk ditonton. Film-film Kaufman cenderung berat. Tapi bukan berarti film-filmnya tidak bisa dinikmati. Kaufman bukan tipikal sineas yang suka bergelap-gelap. Bisa dikatakan bahwa semua film yang dia tulis adalah film komedi. Itulah barangkali mengapa penonton tetap bisa tertawa sekalipun filmnya berat, suatu hal yang tidak saya temukan dalam film-film Terrence Malick, misalnya.

Daftar yang saya buat ini bukan berdasarkan peringkat film terbaik Charlie Kaufman versi saya, tapi lebih kepada film-film yang saya rasa cocok dijadikan pintu masuk untuk mengenal karya-karya Kaufman. Berikut panduan ringkasnya.

Wajin Tonton

Sampai saat ini, Kaufman baru menulis 6 film. Dan di antara 6 film itu, Eternal Sunshine of the Spotless Mind lah yang masuk kategori wajib tonton. Dosa besar jika seorang maniak film tidak menontonnya. Film ini bercerita tentang seorang lelaki yang ingin menghapus ingatannya, lewat mesin penghapus ingatan, terhadap seorang perempuan cantik yang sangat dicintainya. Kenangan, seburuk apapun dia, pada akhirnya memang bukan untuk dilupakan.

Wajib Kifayah Ditonton

Barangkali istilah kifayah kurang tepat. Namun Being John Malkovich adalah film yang wajib ditonton siapa saja yang menyukai Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Bercerita tentang seorang dalang boneka yang menemukan portal untuk masuk ke dalam pikiran John Malkovich. Masuk di sini bukan memengaruhi John Malkovich seperti apa yang dilakukan oleh orang yang bisa melakukan hipnotis, tapi masuk dalam artian yang denotatif: seluruh tubuh masuk ke dalam pikiran John Malkovich. Semoga saja di dunia nyata portal seperti itu ada, dan alangkah menyenangkannya jika portal itu menuju ke dalam pikiran Chelsea Islan.

Penggemar Berat Charlie Kaufman

Bagi yang menyukai kedua film yang telah saya sebutkan tadi, otomatis akan menjadi penggemar berat Charlie Kaufman. Kalau sudah begini, dua film metafiksi yang dia tulis adalah tontonan wajib selanjutnya. Yang pertama berjudul Adaptation. Bercerita tentang seorang penulis skenario yang kebingungan dalam menulis skenario yang diadaptasi dari sebuah buku non-fiksi. Penulis skenario itu bernama Charlie Kaufman, dan skenario film yang sedang dia buat berjudul Adaptation. Jadi, film ini adalah film tentang Charlie Kaufman yang sedang kebingungan dalam menuliskan skenario film Adaptation. Sepengetahuan saya, film ini adalah film pertama yang menampilkan penulis skenarionya sebagai karakter utama di dalam cerita. Yang kedua berjudul Synecdoche, New York. Film ini merupakan film pertama yang disutradarai sendiri oleh Charlie Kaufman. Bercerita tentang seorang sutradara drama, yang ingin membuat sebuah pagelaran drama terbesar yang pernah ada. Drama yang ingin dia buat adalah sebuah copy paste dari kehidupannya sendiri. Karena dalam kehidupan sehari-hari dia adalah seorang sutradara drama, maka drama yang dia buat, awalnya dia beri judul Simulacrum, bercerita tentang dirinya sendiri beserta semua kru yang sedang membuat sebuah drama yang juga berjudul Simulacrum. Begitu seterusnya, sampai dia tidak mengenal lagi siapa kru yang benar, dan siapa aktor yang berperan sebagai kru.

Untuk yang Tergila-gila dengan Charlie Kaufman

Human Nature dan Confession of a Dangerous Mind adalah dua film minor dari Charlie Kaufman, dan barangkali hanya cocok ditonton oleh orang yang tergila-gila dengan karyanya. Ceritanya sendiri barangkali tidak lagi menjadi penting, sebab jika sudah tergila-gila, dengan sendirinya akan tetap menonton karyanya tanpa perlu diberitahu seperti apa jalan ceritanya.

PS: Jika ingin menikmati karyanya, saya sarankan jangan dilakukan secara maraton seperti menonton trilogi The Lord of the Ring.