“Enggak gampang menulis novel seperti ini,” pikirku, selesai membaca novel O nya Eka Kurniawan. Sejak halaman kedua saya segera tahu kalau novel ini memiliki struktur yang sama dengan novel Eka yang terdahulu, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Fragmen-fragmen singkat, melompat-lompat, dan tidak linier. Barangkali bukan cuma struktur, tapi teknik menulisnya pun sama persis, cara memberi nama pada karakter, humor yang melimpah, dan tokoh-tokoh yang hampir semuanya bajingan. Yang membedakan cuma satu, dan saya yakin ini membuat penggemar Eka sedikit kecewa: di novel O kita tidak mendapati satupun fragmen yang membuat kontol kita jadi ngaceng.
Salah satu hasrat terbesar Eka barangkali memadukan antara yang “sastra” dan yang “populer,” yang “elit” dan yang “kacangan” dalam novel-novelnya. Haruki Murakami dalam karya-karyanya sering mengutip nama penulis-penulis elit, Thomas Mann, Kafka, Dostoyevsky. Juga musisi elit, Beethoven, Schubert. Dan sutradara elit, Truffaut. Dari beberapa karyanya yang saya baca, dia tidak pernah sekalipun menyebut nama penulis, musisi, ataupun sutradara yang menghasilkan karya-karya kacangan. Dia misalnya tidak pernah menyebut musik-musik MLTR dan NSync, film-film Sylvester Stallon, atau novel-novel Agatha Christie. Penyebutan penulis, musisi, dan sutradara elit hanya berarti satu hal: si penulis memiliki selera bacaan, musik, dan film bermutu. Dan lewat inspirasi yang didapatkan dari karya-karya bermutu itulah si penulis membuat novelnya.
Saya curiga Eka memiliki banyak hewan peliharaan di rumahnya. Secara diam-diam, di tengah kesibukannya sebagai penulis, Eka aktif dalam organisasi penyayang binatang. Saya pikir itu sebab paling masuk akal mengapa karakter binatang dalam novel O bisa begitu hidup. Dan di antara semua hewan peliharaannya, Eka paling menyayangi seekor monyet. Itu adalah hewan peliharaannya yang pertama. Dia menemukannya secara tidak sengaja di pinggir jalan sehabis mengantar istrinya ke kantor. Monyet itu penuh luka di punggungnya. Eka menyelamatkannya. Eka tahu luka itu karena cambukan manusia. Mulai saat itu, karena geram dengan manusia yang tidak menyayangi binatang, Eka ikut bergabung dengan organisasi penyayang binatang. Setelah monyet itu sembuh, setiap sore Eka menemani monyetnya jalan-jalan, sembari menceritakan rahasia-rahasinya ke monyet itu. Rahasia yang bahkan istrinya sekalipun tidak tahu. Sebab Eka paham, seekor monyet tidak mungkin membocorkan rahasianya, sekalipun monyet itu telah berubah menjadi manusia.
Lewat blognya kita bisa tahu seperti apa bacaan Eka, dan bagaimana pendapatnya tentang sastra secara umum. Eka memiliki selera bacaan yang tidak lazim. Dia membaca novel-novel stensil, horor, dan silat, yang bagi banyak orang dianggap sebagai karya kacangan. Dia juga lebih suka membaca novel-novel dari penulis yang belum begitu terkenal, paling tidak belum terkenal di Indonesia. Dia tidak pernah malu untuk mengungkapkan betapa dia begitu mengidolakan SNSD, suatu hal yang hampir mustahil dilakukan oleh Murakami seandainya dia juga seorang Sone. Hal ini berarti bahwa Eka memang memiliki selera bacaan yang tidak lazim, selera musik yang tidak lazim. Atau bisa juga dia hanya sok memiliki selera yang kacangan, padahal dalam kenyataanya dia tetap memiliki selera yang tinggi. Hal itu dia lakukan sebagai penanda untuk membedakan dia dengan penulis lain, bahwa meskipun dia membaca novel dan mendengar musik kacangan, toh dia tetap mampu menghasilkan karya bermutu macam O dan Seperti Dendam. Entah mana yang benar. Hanya Tuhan, Eka, dan monyet peliharaannya yang tahu.
Desember 2015, saat mengantar ibu saya belanja batik di Solo untuk kali terakhir, saya menunggu di depan toko sambil membaca Lelaki Harimau, novel kedua Eka. Di depan toko banyak tukang becak ikut nongkrong, menunggu pelanggannya yang singgah sebentar di toko itu. Seorang tukang becak yang usianya di atas 40 tahun menghampiri saya. Dia mengatakan telah membaca Lelaki Harimau, dan hampir semua karya Eka. Dia menceritakan bagaimana kesan-kesannya terhadap Lelaki Harimau, dan menceritakan karakter-karakter di novel tersebut. Tapi tidak satupun nama karakter yang dia sebutkan ada di Lelaki Harimau. Saya pikir dia cuma membual, sebelum akhirnya dia mengatakan kalau dia terakhir kali membaca novel saat masih SMP. Itu berarti dia membacanya sekitar 25 tahun yang lalu. Lelaki Harimau saat itu belum ditulis, bahkan saat itu Eka barangkali belum berpikir akan jadi penulis. Dia salah ingat. Ternyata bukan Lelaki Harimau yang dia baca, tapi Manusia Harimau nya S.B. Chandra.
Saya tidak tahu pasti siapa saja yang membaca karya-karya Eka. Tapi kuat dugaan saya kalau mayoritas pembacanya adalah anak muda kelas menengah, yang semoga saja tidak ngehek. Sampai sekarang saya tidak pernah melihat, atau paling tidak mendengar berita, ada tukang becak, tukang kayu, tukang pijat, tukang palak, atau tukang pukul yang membaca Seperti Dendam dan O.
Dalam blognya Eka pernah menyinggung tentang usia 40 tahun, usia matang dan barangkali usia paling penting untuk manusia. Eka menyinggung Pramoedya yang di tangkap dan dibuang ke Pulau Buru saat berusia 40 tahun, dan Gabriel Garcia Marquez yang menerbitkan One Hundred Years of Solitude, yang menggegerkan jagat sastra dunia dan dibaca oleh semua kalangan dari kelas bawah sampai kelas atas, juga diusia 40 tahun. Diusia yang sama Eka menerbitkan O. Saya berkeyakinan bahwa novel ini punya potensi untuk menggegerkan jagat sastra dunia, tapi untuk dibaca semua kalangan, terutama oleh kalangan bawah, saya meragukan itu.
Eka, sebagaimana hampir semua peminat sastra dan kaum intelektual Indonesia, sangat mengagumi Pramoedya. Dia juga sangat mengagumi S.B. Chandra, Motinggo Busye, S.H. Mintardja, Abdullah Harahap, dan terutama Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Lima penulis yang saya sebutkan belakangan adalah penulis-penulis yang namanya tidak pernah tertulis di buku ajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Itu berarti karya kelimanya tidak pernah dianggap sebagai karya sastra. Boleh dibilang karya populer lagi kacangan. Hanya dibaca oleh kalangan bawah dan sampai saat ini hanya diulas oleh sedikit sekali akademisi kita. Eka membaca karya “kacangan” kelima penulis itu, juga membaca karya-karya sastra yang dianggap kanon. Hingga lahirlah novel Seperti Dendam dan O, yang memiliki alur, plot, dan penokohan yang rumit seperti novel sastra kanon, tapi tetap memiliki elemen-elemen populer dari novel-novel yang dianggap kacangan itu.
Hasrat Eka untuk menyatukan yang populer dan yang sastra dalam novelnya sudah terlihat sejak dia menerbitkan Lelaki Harimau. Tapi hasrat itu paling terlihat jelas dalam Seperti Dendam dan O. Terus terang saja, cerita yang terbagi dalam fragmen-fragmen pendek, dan antara fragmen yang satu dengan yang lain saling bersilangan hingga menciptakan cerita yang kaya namun tetap menyatu utuh, adalah sebuah teknik bercerita yang cemerlang. Teknik seperti ini hanya bisa ditemui dalam novel-novel kanon. Tapi cerita tentang orang ngentot, kontol yang enggak bisa ngaceng, memek basah, biduan dangdut, topeng monyet, adegan berkelahi ala silat, waria yang mengamen dari bus ke bus, dan dialog dengan bahasa pasar, adalah hal-hal yang khas dalam novel-novel populer. Kita bisa menemukan itu semua dalam dua novel Eka yang terakhir.
Berhasilkah Eka menyatukan yang populer dan yang sastra dalam novel-novelnya? Sayangnya tidak. Saya lebih suka menyebut Seperti Dendam dan O sebagai novel sastra yang meminjam banyak elemen novel populer untuk memuaskan pembaca dari kelas menengah. Sekalipun Eka menggunakan bahasa pasar dalam dialognya, atau membuat adegan seperti cerita stensilan, tetap saja novelnya adalah novel elit, bukan novel yang berhasil mengaduk elemen sastra dan populer. Kita bisa menganalogikannya dengan lagu Drama Romantika nya Maliq & D’Essentials. Bagi kelas menengah, lagu-lagu Maliq tentu saja lebih berkualitas dari lagu dangdut. Tapi dalam Drama Romantika, Maliq meminjam elemen musik dangdut. Seolah-olah musiknya turun kelas menjadi tidak lagi berkualitas (perlu diingat, Maliq adalah akronim dari music and live instrument quality), padahal tidak. Hal itu tidak menjadikan lagu tersebut sebagai lagu dangdut, dan tidak menjadikan penggemar musik dangdut menyukai lagu itu. Drama Romantika tidak lebih sebagai lagu yang meminjam elemen musik dangdut sebagai sarana eksperimentasi kelompok musik yang digemari anak muda kelas menengah. Begitu juga dengan Seperti Dendam dan O, yang meminjam elemen novel populer bukan untuk membuat novel yang membaurkan antara yang sastra dan yang populer, tapi untuk membuat novel sastra yang tidak mentok pada hal yang itu-itu saja. Bahwa novel sastra bisa diperluas ke hal-hal yang sebelumnya belum terjamah.
Eka, sebagaimana yang selama ini dia citrakan, memiliki dua sisi selera bacaan yang tampaknya saling bertolak bekalang: sastra dan populer. Sisi sastranya bolehlah kita katakan diwakili oleh Pramoedya, dan sisi populernya diwakili oleh Kho Ping Hoo. Cantik itu Luka adalah obsesi Eka pada karya-karya Pramoedya, sedangkan Seperti Dendam dan O adalah obsesinya pada idolanya yang lain: Kho Ping Hoo, dan semua penulis novel “kacangan” lain tentu saja.
Kita bisa membandingkan Tetralogi Buru nya Pramoedya dengan Cantik itu Luka nya Eka. Keduanya adalah novel poskolonial yang menceritakan terjadinya suatu bangsa bernama Indonesia. Keduanya novel cemerlang, sama-sama diterjemahkan dalam banyak bahasa asing, dan diterbitkan oleh penerbit yang memiliki reputasi baik di luar negeri. Minke, dalam Tetralogi Buru, adalah metafora bagi Indonesia. Begitu juga dengan Dewi Ayu dan seluruh keluarga besarnya, dalam Cantik itu Luka, yang juga metafora bagi Indonesia. Jika Minke adalah Indonesia, itu berarti Indonesia adalah bangsa yang berdiri karena jasa dari kalangan priyayi terdidik. Bagi saya gagasan ini bermasalah sebab terlalu elitis, melupakan peran dari kalangan bawah, terutama petani. Cantik itu Luka kebalikannya. Jika Dewi Ayu dan semua keluarga besarnya adalah Indonesia itu sendiri, itu berarti Indonesia dibangun lewat hubungan yang rumit antara penjajah Belanda dengan masyarakat “lokal” (Ted Stamler dan Ma Iyang), lewat campur tangan Jepang (Alamanda), dan terutama oleh kalangan militer (Shodanco), komunis (Kamerad Kliwon), dan preman serta kalangan bawah lainnya (Maman Gendeng). Sekali lagi, keduanya adalah novel yang hebat. Tapi secara gagasan, bagi saya Cantik itu Luka berhasil melampaui Tetralogi Buru.
Bagaimana dengan sisi populer Eka yang diwakili oleh Kho Ping Hoo? Sekadar mengingatkan, karya Kho Ping Hoo dibaca oleh kalangan yang sangat luas, terutama oleh kalangan bawah. Dulunya cerita silat Kho Ping Hoo memang dianggap karya murahan. Saat ini novel-novel Kho Ping Hoo mulai mendapat pengakuan, bahwa novel-novelnya merupakan karya sastra yang bermartabat. Eka memiliki hasrat seperti ini, menampilkan elemen silat (dan elemen populer lainnya) dalam Seperti Dendam dan O, serta dibaca oleh kalangan luas. Tetap nyastra tapi populer, populer tapi nyastra, seperti cerita silatnya Kho Ping Hoo. Sayangnya Eka belum berhasil memenuhi hasrat itu. Eka memang berhasil berguru dengan sangat baik pada Pramoedya. Tapi pada Kho Ping Hoo, Eka sepertinya harus belajar lebih banyak lagi di padepokan silatnya.