Sewaktu SMA, dengan kegenitan berpikir ala remaja, seorang teman melontarkan sebuah pertanyaan untuk saya, “Jika benar Tuhan itu Maha Kuasa, bisakah Dia menciptakan sebuah tongkat yang hanya memiliki sebuah ujung?” Kita tahu, setiap tongkat pastilah memiliki dua ujung, dan sampai sekarang tidak satupun tongkat yang ujungnya hanya satu. Dengan kegenitan yang sama pula, saya menjawab, “Tentu saja Tuhan tidak bisa. Sebab jika ujungnya hanya satu, benda yang diciptakan itu tidak lagi bernama tongkat.”
Saya pikir, selain Tuhan, hanya ahli matematika (khususnya geometri) dan seniman lah yang bisa menciptakan sebuah benda (tongkat) yang ujungnya cuma satu. Dalam dunia tiga dimensi hal itu mungkin mustahil. Tapi dalam realitas dua dimensi, menciptakan sebuah tongkat seperti itu sangat mudah. Kita cukup menggambar sebuah lingkaran di atas kertas, kita warnai lingkaran itu, dan simsalabim, jadilah sebuah tongkat yang hanya memiliki sebuah ujung. Lingkaran yang kita gambar tersebut adalah ujung dari sebuah tongkat. Karena perspektif dari gambar tersebut hanya memperlihatkan satu ujung saja, maka ujung satunya lagi tidak mungkin terlihat. Meskipun begitu kita sama-sama tahu bahwa lingkaran itu adalah sebuah tongkat.
Lebih dari 50 tahun yang lalu, dua orang ahli matematika Inggris menciptakan sebuah tangga tidak berujung, sebuah tangga yang hanya mungkin ada dalam realitas dua dimensi, dan mustahil ada dalam realitas tiga dimensi, realitas tempat kita tinggal. Tangga itu bernama Penrose, diambil dari nama sang penemu, Lionel Penrose dan Roger Penrose. Lima tahun yang lalu, seorang seniman, yang juga berasal dari Inggris, membuat tangga Penrose yang maujud di realitas tiga dimensi. Banyak yang tidak percaya, tapi tangga itu benar-benar ada, dan setiap manusia dapat menaikinya. Seniman itu bernama Christopher Nolan, dan tangga itu merupakan bagian dari plot dalam film garapannya: Inception.
Ada satu seniman lain yang dapat membuat hal-hal semacam itu. Namanya Jorge Luis Borges. Dia dapat membuat sebuah cakram yang hanya memiliki satu sisi namun maujud di ruang tiga dimensi. Kita tahu, hal itu mustahil. Sebab cakram yang memiliki satu sisi hanya mungkin ada dalam realitas dua dimensi. Tapi cakram seperti itu ada, dapat disentuh dan dilihat, dingin dan berkilau.
Dalam seni, hal-hal semacam itu dapat kita kategorikan dalam genre realisme magis. Dan pagi tadi saya mendapati seorang pelukis yang karyanya berada dalam genre tersebut. Namanya Rob Gonsalves, pelukis yang mengandalkan ilusi optikal dalam realitas dua dimensi. Saya suka semua lukisannya. Tapi ada dua lukisan yang paling saya sukai. Saya tidak tahu apa judulnya, sebab di website tempat saya menemukan lukisan-lukisannya, tidak diberitahukan judul dari tiap lukisan. Berikut dua lukisan itu (klik untuk memperbesar).
Pada lukisan pertama, terdapat dua orang yang sedang melukis langit dan tujuh orang yang sedang membuat puzzle. Dua orang yang sedang melukis langit itu sesungguhnya gambar dari puzzle yang sedang dirangkai. Begitu juga dengan lima orang yang sedang merangkai puzzle, sesungguhnya mereka adalah bagian dari puzzle itu sendiri: karakter di dalam puzzle yang sedang membuat puzzle itu sendiri. Tinggal dua orang lain, seorang anak laki-laki dan seorang gadis. Anak laki-laki itu adalah pembuat puzzle yang sebenarnya, sebab dia berada di luar puzzle. Sedang seorang gadis berada di wilayah abu-abu, antara nyata atau bagian dari puzzle juga. Meskipun ukuran tubuhnya besar, tapi dia berada di dalam frame puzzle itu sendiri. Gadis ini adalah bagian paling menarik dari lukisan ini, sebab dia adalah “pintu gerbang” antara pembuat puzzle yang asli dengan karakter di dalam puzzle.
Lukisan kedua lebih gila lagi. Tentang kastil dan benteng yang berdiri di atas hutan saat musim dingin. Jika dilihat dari jauh dan di atas ketinggian tertentu, kastil-kastil itu terlihat seperti bidak catur, dan pohon-pohon serta salju di atas tanah menyerupai papan caturnya. Ada dua orang di sana, seorang kakek dan cucunya. Sang cucu memegang bidak kuda, dan dengan perspektif tertentu, membuat benda itu terlihat sama besarnya dengan benteng yang berdiri di atas hutan. Sedang sang kakek bermain catur sendirian, dengan papan catur yang langsung tersambung dengan tanah di hutan itu. Bidak catur yang dimainkan sang kakek dan cucunya itu tidak lain merupakan kastil yang benar-benar berdiri di atas tanah. Dan karena mereka bermain catur dengan kastil-kastil itu sebagai bidaknya, dengan sendirinya mereka dapat memindahkan kastil itu sesuka hati. Sampai di sini saja, lukisan ini sudah terlihat luar biasa. Tapi jangan lupa, bahwa kakek dan cucunya itu berada di atas sebuah kastil, dan itu berarti ada orang lain yang sedang menjadikan kastil yang mereka tinggali sebagai bidak catur juga. Begitu seterusnya.
Dalam sastra, hal seperti ini dapat kita jumpai dalam Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam). Berkisah tentang Syahrazad yang harus mendongeng setiap malam kepada raja Syahrayar agar tidak dihukum mati. Dengan demikian, Syahrazad adalah narator dalam Alf Laylah wa Laylah, sebab dialah yang menceritakan semua dongeng itu kepada raja, dan juga pada pembaca. Tapi jangan dilupakan, kisah tentang Syahrazad pun sesungguhnya bagian dari dongeng dalam Alf Laylah wa Laylah. Sehingga pada suatu malam, Syahrazad akan bercerita tentang dirinya sendiri yang mendongeng kepada raja Syahrayar agar tidak dihukum mati. Begitu seterusnya, tanpa akhir, tanpa ujung, seperti tangga Penrose yang telah saya ceritakan di atas.


fix, sejak hari ini saya menjadi fans berat anda, hair!
*pencet tompel*
Aku heran kenapa novelmu gak jadi-jadi, padahal ide brilianmu setiap hari mengelabui.
itulah hidup vre, penuh misteri