Mimpi-mimpi Setyo

Harus aku beritahukan sejak awal kalau karakter dalam cerita ini adalah orang sungguhan. Namanya Setyo, mahasiswa kampus UGM Yogyakarta. Dia baru saja patah hati, sebab perempuan yang disukainya sudah menyatakan penolakannya sebanyak tujuh belas kali di hadapannya, ditambah dengan pernyataan perempuan itu untuk tidak lagi mau bertemu dengannya. Di malam sabtu minggu ketiga bulan Juli, Setyo bermimpi sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan berjilbab. Dia perempuan yang cantik, dan sepanjang mereka berjalan berdua, perempuan itu selalu tertawa kegirangan. Setyo terbangun, dan logikanya segera berkata bahwa mimpi itu hanya perwujudan dari hasratnya untuk memiliki seorang kekasih. Tapi keesokan harinya mimpi itu terulang lagi, dengan adegan yang persis sama, hanya saja kali ini Setyo memanggil perempuan itu dengan nama Lia. Ketika terbangun, Setyo tetap berpikir bahwa mimpi selama dua malam berturut-turut itu tidak memiliki arti apapun. Dimalam berikutnya, dia bermimpi yang sama lagi. Kali ini dia tahu kalau mereka sedang berjalan-jalan di AEON Mall Tangerang, bergandengan tangan masuk dari satu unit ke unit yang lain, mencoba sepatu Hush Puppies terbaru, dan diakhiri dengan makan Sushi bersama ayah Lia, seorang bapak-bapak berkumis usia 50-an tahun. Saat terbangun, Setyo teringat akan kisah Ibrahim yang mendapatkan mimpi sebanyak tiga kali untuk menyembelih Ismail. Sebuah keyakinan kuat tiba-tiba menyeruak ke dalam dirinya. Dia sangat yakin bahwa mimpi itu adalah bisikan dari Tuhan, dan dia juga yakin bahwa Lia adalah perempuan yang akan dinikahinya nanti.

Setyo memutuskan untuk mencari Lia di Tangerang. Dari Jogja dia naik kereta ekonomi dari stasiun Lempuyangan. Dari jendela kereta, dia melihat hamparan padi yang masih menghijau, dengan orang-orangan sawah yang selalu bergerak ke kiri dan ke kanan. Setyo sering melihat pemandangan seperti ini setiap kali dia naik kereta, tapi entah mengapa pemandangan kali ini terlihat jauh lebih puitis dari biasanya. Dua belas jam sudah terlewat, Setyo pun turun di stasiun Senen. Dari situ dia naik bis ke Tangerang. Tempat tujuannya, di mana lagi kalau bukan AEON Mall. Dia mencari Lia di sana, di tempat mereka mencoba sepatu Hush Puppies, di tempat mereka makan Sushi bersama. Di hari pertama kedatangannya, dia tidak menemukan ada jejak Lia di sana. Esok harinya dia ke sana lagi, dan kembali menemui kegagalan yang sama seperti kemarin. Perlahan Setyo pesimis. Mimpi yang dia dapatkan bisa jadi hanya mimpi biasa, tidak memiliki makna khusus seperti yang sebelumnya dia yakini. Dia berjanji, jika dihari ketiga Lia tidak juga nampak, dia akan langsung pulang ke Jogja saja. Satu jam, tiga jam, lima jam, delapan jam dia menunggu di AEON Mall, dan wajah Lia tidak juga nampak. Hampir putus asa, saat hendak meninggalkan tempat itu, Setyo melihat wajah lelaki berkumis yang juga selalu dia jumpai dalam mimpi-mimpinya. Setyo berlari menghampirinya, memperkenalkan namanya, sebelum bertanya, “Bapak orang tua dari Lia kan? Saya sudah tiga hari mencari Lia di sini, tapi tidak juga ketemu.” Setelah tertawa dengan tawa khas bapak-bapak usia 50-an, laki-laki berkumis itu berkata, “Dasar anak muda, mudah saja percaya dengan mimpi.” Dia berhenti bicara sejenak, sedang Setyo terhenyak sebab dia tidak bercerita apa-apa soal mimpinya. Dia merasa kalau laki-laki itu sedang menyindirnya. Laki-laki itu melanjutkan, “Tiga hari yang lalu Lia ke Jogja. Katanya, dia mendapatkan mimpi yang sama setiap malam. Dalam mimpinya itu, dia sedang bergandengan tangan dengan seorang laki-laki di Ambarukmo Plaza, beli celana Levi’s di sana, dan diakhiri dengan makan pisang bersama di depan Carrefour. Lia yakin, kalau pria yang dia temui dalam mimpi itu adalah orang yang akan menemaninya di kursi pelaminan kelak.”

Saat itulah, tak tertahankan, Setyo ingin segera pulang ke Jogja. Dengan ekspresi penuh kemenangan, Setyo membakar batang terakhir rokok Dunhill di saku kiri celananya. Inilah batang rokok paling nikmat yang pernah dia hisap seumur hidup.

2 thoughts on “Mimpi-mimpi Setyo”

Leave a reply to Djarwok Cancel reply