5 Buku yang Memecahkan Kepala Saya

Franz Kafka pernah mengatakan kalau sebuah buku haruslah menjadi kapak yang memecahkan es di kepala kita. Dalam kalimat lain, sebuah buku haruslah memecahkan kebekuan pikiran kita. Ada lima buku yang sangat bagus menurut saya karena mampu memecahkan kebekuan saya dalam berpikir. Lima buku itu adalah:

1. Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam), Anonymous

Inilah buku terbaik yang pernah saya baca. Kekaguman saya pada buku ini terutama pada struktur narasi dalam narasinya. Ada banyak cerita dalam buku ini, dan semua cerita itu merupakan dongeng yang diceritakan oleh Syahrazad untuk raja Syahrayar. Dalam dongeng yang diceritakan Syahrazad tersebut, terdapat dongeng lain, sampai pada tingkat keempat. Jadi ada dongeng di dalam dongeng. Tidak ada satu orang pun yang tahu siapa penulis dongeng-dongeng tersebut, dan tak ada juga yang mengetahui siapa orang yang menyusun semua dongeng-dongeng itu ke dalam struktur cerita dalam cerita. Jika saja saya tahu siapa orangnya, saya akan ziarah ke kuburannya sembari membacakan surah Yasin di sana.

2. The Adventures of Huckleberry Finn, Mark Twain

100 halaman terakhir dalam buku ini membuat saya misuh tiada henti. Ide-ide Tom Sawyer dan Huck Finn dalam membebaskan seorang tahanan dalam “penjara” membuat saya ketawa tanpa henti. Ide-ide mereka sangat lucu, tapi di sisi lain sangat brilian. Novel ini adalah sebuah contoh yang bagus kalau menulis novel komedi tidak harus menampilkan hal-hal konyol.

3. Ficciones, Jorge Luis Borges

Bayangkan ada sebuah buku yang tidak pernah dituliskan, tetapi di sebuah surat kabar tiba-tiba muncul sebuah resensi yang membahas buku tersebut. Seperti itulah Borges membuat cerita. Dengan cara itu, dia mampu menuliskan sebuah cerita yang seharusnya setebal 1001 halaman menjadi 10 halaman saja.

4. Dictionary of the Khazars, Milorad Pavic

Membaca buku tidak harus dari halaman pertama ke halaman terakhir. Kita bisa membaca sebuah buku dari halaman paling belakang ke halaman paling awal, atau membaca dari tengah, lalu ke akhir, lalu ke awal, atau membaca bagian manapun yang kita suka dan diakhiri di bagian manapun yang kita inginkan. Buku ini dapat dibaca sesuka hati. Sebab yang namanya kamus memang bisa kita baca dari mana saja bukan?

5. The Old Man and the Sea, Ernest Hemingway

Pikiran dan perasaan seseorang dapat diketahui pembaca dari apa yang orang tersebut lakukan. Saya pikir, itulah kehebatan utama novel ini. Yang lebih hebat lagi, novel ini terlihat sangat sederhana secara teknik, padahal jika dibaca berulang-ulang, teknik yang digunakan Hemingway dalam menulis novel ini amatlah rumit. Hal ini mengingatkan saya pada gaya bermain Paul Scholes di Manchester United. Bagi penonton kebanyakan, teknik permainan Scholes sangat sederhana, namun para pemain dan pelatih sering bengong-bengong sendiri dengan teknik yang diperagakan Scholes. Ada kerumitan di balik kesederhanaan, begitulah.

3 thoughts on “5 Buku yang Memecahkan Kepala Saya”

  1. dulu pernah ada buku 1001 malam terjemahan Mizan. Di situ diceritakan pengalaman penyusunnya sewaktu mencari manuskrip dongeng dongeng legendaris ini. Menarik banget, terutama waktu dia bahas tentang Bahasa Arab, yang berbeda secara verbal maupun non-verbal. Ilustrasinya, orang Lebanon bisa faham baca koran Irak, tapi bisa-bisa mereka ga faham kalau disuruh ngobrol bareng. Itu bagian yang paling membekas di benak saya :)))

Leave a reply to Samid Cancel reply