Saat sedang berdiskusi mengenai karakter dalam karya fiksi dengan seorang teman di Malang, saya mengutarakan ingin membuat cerita mengenai seseorang yang menjadi bijak karena membaca kitab-kitab klasik. Teman saya memberi saran yang menurut saya kala itu sangat konyol: karakter itu menjadi bijak justru karena membaca karya-karya populer. Saya tidak bisa membayangkan ada orang yang menjadi bijak karena membaca komik Naruto, novel-novel Ilana Tan, atau Dilan untuk karya yang lebih baru. Saya langsung teringat pada teman saya, seorang penggemar budaya populer Jepang sejati, yang terus terang saja jauh dari sifat bijak.
Lama-kelamaan, dan terutama karena kuliah di jurusan Cultural Studies, saya jadi berpikiran bahwa ide teman saya itu ternyata menarik juga. Saya membayangkan ada anak muda yang sangat bijak, dan dia menjadi tempat bagi orang-orang untuk meminta nasihat. Saking bijaknya, banyak orang yang menganggap bahwa dia telah mencapai tahap spiritual tertinggi. Yang orang-orang tidak tahu, sifat bijaknya itu dia dapatkan dari mengonsumsi budaya populer: mendengarkan Me Gustas Tu dari Gfriend, menonton Full Metal Alchemist, atau menghayati lirik-lirik JKT48.
Menjadi bijak karena mengonsumsi budaya populer bukanlah cerita baru. Cinema Paradiso, film Italia yang disutradarai Giuseppe Tornatore, juga bercerita hal yang sama. Seorang operator bioskop yang tak pernah mengenyam pendidikan formal justru menjadi guru bagi seorang anak muda yang bertahun-tahun nanti menjadi sutradara terkenal di Italia. Pengetahuan yang dia dapatkan semuanya dari film-film yang dia tonton. Dia sering memberi petuah bijak pada anak muda itu dengan mengutip pernyataan karakter film yang dia sukai.
Hal penting yang ingin saya tekankan di sini adalah, kita bisa belajar dari apa saja, termasuk dari film. Banyak film-film secara tersurat memberi motivasi hidup untuk penontonnya. The Shawshank Redemption masuk kategori ini. Ada juga film yang sepintas tidak memberikan apa-apa, tapi saya percaya, film paling kelam sekalipun pasti memberikan sesuatu bagi penontonnya, sekecil apapun itu. Selama enam hari kedepan, saya ingin berbagi enam film yang saya anggap memberi sesuatu bagi penontonnya. Enam film ini bukanlah film pemenang Oscar atau Cannes, bukan juga film yang masuk daftar 250 film terbaik versi IMDB. Enam film ini saya pilih bukan karena hal-hal seperti itu, bukan juga karena mendapat pujian dari kritikus atau karena nama besar sutradaranya. Enam film ini saya pilih karena, paling tidak, memberikan perspektif baru bagi saya tentang film, tentang berpikir, dan (ini terkesan muluk memang) tentang menjalani hidup.
Setiap harinya akan saya tulis ulasan mengenai satu film. Ulasan ringkas saja, tentang hal-hal yang saya sukai dari film tersebut. Kemungkinan besar akan ada spoiler. Bagi yang keberatan, cukup baca judulnya saja. Tapi saya percaya, film bagus akan tetap bagus sekalipun jalan ceritanya telah kita ketahui. Itulah barangkali mengapa suatu film akan tetap menarik sekalipun kita telah menontonnya puluhan kali.
Belajar dari joget AKB ya bisa, sampe foto bareng dan sebelahan sama teman dekat di nikahan orang yang bisa, sampe akhirnya temennya dari kempompong menjadi kupu-kupu, siapa yang sangka, Carissa Putri!