The Odyssey, Nolan: Plot dan Teknologi

Plot

Setiap kali menonton film-film Nolan, saya selalu punya ekspektasi akan dua hal: permainan terhadap waktu dan plot twist, dan persis pada dua hal itulah saya berharap kejutan dari Nolan saat menonton The Odyssey. Mayoritas film-film Nolan tidak dibangun lewat karakter, tetapi lewat plot, dan terutama bagaimana Nolan memanfaatkan waktu sebagai plot utama untuk semua film-filmnya: terutama permainannya pada alur yang non-linier. Dalam Memento, film disajikan secara reverse chronological, film bergerak dari waktu yang paling akhir ke waktu yang paling awal. Dalam Inception, waktu menjadi relatif: bagaimana waktu di dalam mimpi berjalan jauh lebih lambat dari waktu di dunia nyata, suatu konsep yang dia gunakan kembali dalam Interstellar. Dalam Dunkirk, Nolan mensejajarkan tiga waktu yang berlainan ke dalam satu layar: satu minggu di pantai, satu hari di kapal, dan satu jam di pesawat berjalan dalam satu frame yang sama. Puncak obsesi Nolan terhadap waktu tentu saja ada pada Tenet, bagaimana seorang karakter berada pada dunia dengan waktu yang berjalan terbalik. Odysseus yang terpisah dari rumah dan istrinya selama 20 tahun (10 tahun selama perang dan 10 tahun untuk balik ke rumah), adalah inti dari cerita The Odyssey. Saya punya harapan Nolan kembali bermaian-main dengan waktu di sini. Dan itulah yang dia lakukan, hanya dengan cara yang berbeda, dan persis pada titik itulah plot twistnya berasal.

Sebagaimana karya adaptasi, film ini juga penuh dengan modifikasi terhadap karya Homer yang menjadi rujukannya. Dalam puisi Homer, yang kalau mengikuti tradisi Yunani kuno—dan tradisi peradaban oral manapun, disajikan dengan cara dinyanyikan. Dengan kata lain, cerita tentang Odysseus pada dasarnya adalah cerita yang dinyanyikan, diwariskan turun temurun dengan cara dinyanyikan, dan berdasarkan nyanyian itulah Homer lalu menuliskan The Odyssey, juga The Iliad yang menceritakan perang Troya, dalam bentuk puisi yang tertulis. Dalam cerita Homer, Odysseus adalah pahlawan, meskipun tidak digambarkan secara hitam putih. Dalam versi film yang digarap Nolan, Odysseus justru digambarkan sebagai orang yang menyesal dan secara moral merasa bersalah karena idenya tentang Kuda Troya, yang sekalipun mengantarkan pasukan Yunani pada kemenangan, justru mengakibatkan punahnya peradaban Troya: bagunan yang dihancurkan, orang-orang yang dibunuh, dan perempuan-perempuan yang diperkosa. Nolan memperlihatkan dalam berbagai scenes, dan terutama dialog antara Odysseus dengan Penelope istrinya, betapa menyesalnya dia pada gagasannya sendiri tentang Kuda Troya, dan apa-apa yang sudah dia lakukan selama perang dan perjalanan pulang ke Ithaca. Di akhir film, Odysseus berbincang dengan Penelope bahwa kisahnya akan dinyanyikan, dan melalui nyanyian itulah kisahnya abadi dan dikenang oleh peradaban setelahnya.

Dan itulah letak plot twistnya: beribu tahun kemudian Nolan mendengar nyanyian itu, tetapi nyanyian yang didengar Nolan adalah nyanyian yang berbeda dengan yang didengar Homer, dan oleh karenanya The Odyssey nya Nolan tidak menjelma menjadi kisah kepahlawanan dengan puja-puji seperti di puisi-puisi Homer, tetapi sebuah kisah penyesalan yang Odysseus harapkan dapat dinyanyikan ribuan tahun setelah dia mati, dan menjelma menjadi film seperti yang orang-orang tonton.

Teknologi

Dalam website resminya, film The Odyssey dapat ditonton dalam enam format yang berbeda (IMAX 70mm, IMAX, 70mm, 35mm, Dolby Vision, dan large format), yang secara rasio aspek sebenarnya hanya ada lima jenis yang berbeda (1.43:1, 1.90:1, 2.20:1, 2.39:1, dan 1.85:1). Untuk mendapat pengalaman sinematik yang utuh, menurut Nolan, hanya bisa diperoleh jika menonton The Odyssey di bioskop IMAX 70mm yang memiliki rasio aspek 1.43:1. Itu adalah layar super raksasa, yang sayangnya, hanya ada 41 di dunia. Di UK tempat saya saat ini tinggal, hanya ada tiga bioskop yang memiliki layar super raksasa tersebut: dua di London, dan satu di Manchester. The Odyssey yang saya tonton adalah versi IMAX reguler, dengan rasio aspek 1.90:1. Banyak yang salah memahami bahwa IMAX 70mm hanya sekedar perbedaan rasio aspek, yang mayoritas bioskop di dunia saat ini menggunakan 2.39:1. Yang berarti, aspek rasio pada IMAX sebenarnya bisa dipakai ke layar bioskop reguler. Jika itu dilakukan, dan di sinilah salah satu letak kesalahpahamannya, gambar yang diproyeksikan akan sangat kecil karena harus menyesuaikan dengan lebar layar. Lagi pula, IMAX 70mm dapat memperoyeksikan gambar kualitas tinggi dengan resolusi mencapai 18K, sedangkan mayoritas bioskop hanya mampu mencapai resolusi 4K saja.

Terlepas dari keunggulan teknologi itu, saya barangkali tidak setuju dengan Nolan, atau tim marketing film ini, bahwa cara paling sahih untuk menonton The Odyssey adalah melalui IMAX 70mm. Keberatan utama saya sederhana: IMAX 70mm bukanlah teknologi yang demokratis. Pertama, teknologi ini hanya terdapat di 41 bioskop di berbagai penjuru dunia, yang berarti mustahil bisa diakses oleh kebanyakan orang. Kedua, proyeksi gambarnya tidak dilakukan melalui salinan digital, sebagaimana kebanyakan bioskop di dunia—termasuk IMAX reguler, tetapi melalui pita seluloid 70mm, yang beratnya sekitar 250 Kg. Artinya, ongkos pemutaran filmnya menjadi lebih mahal, dan harga tiket tentu saja akan menjadi lebih mahal pula.

Tapi bagaimana jika layar IMAX 70mm ada di setiap kota di dunia, layaknya bioskop reguler, dan tiap kota bahkan memiliki lebih dari satu bioskop yang memiliki layar IMAX 70mm, apakah teknologi ini tetap tidak demokratis seperti asumsi saya di awal? Jawaban saya tetap sama, karena teknologi ini pada dasarnya memang bukan teknologi yang demokratis. Sebelum teknologi digital menjadi dominan di bioskop dunia, yang bisa menekan ongkos pemutaran karena tidak perlu biaya tambahan untuk menyalin film, bioskop-bioskop menggunakan pita seluloid sebagai medium yang akan diproyeksikan gambarnya ke layar bioskop. Untuk satu film dengan durasi 120 menit, membutuhkan 5-6 rol pita seluloid, sebab satu rol pita seluloid hanya mampu menyimpan gambar dengan durasi sekitar 20 menit. Karena rol pita seluloid ini sangat mahal, maka untuk menyiasati ongkos produksi, rol-rol pita seluloid bisa digunakan secara bergantian di bioskop-bioskop yang jaraknya berdekatan. Caranya adalah, dengan membuat jam tayang yang tidak serempak. Katakanlah di kota Malang ada tiga bioskop yang berdekatan, yakni bioskop A, bioskop B, dan bioskop C. Bioskop A menyimpan semua rol untuk satu film utuh, dan film tayang pukul 14.00. Maka pada pukul 14.20 rol pertama dari film telah selesai diputar, dan dilanjutkan dengan memutar rol kedua yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Karena rol pertama ini tidak lagi dipergunakan sampai film berakhir, rol ini bisa digunakan di bioskop B yang akan memutar film pada pukul 14.40. Di sinilah peran pengantar rol film, yang dengan sangat baik dipotret Joko Anwar dalam Janji Joni, yang memiliki waktu sekitar 15 menit untuk mengantar rol film itu ke bioskop B. Begitu bioskop B selesai memutar rol pertama pada pukul 15.00, pengantar rol film kemudian mengantarkan rol film itu ke bioskop C yang menayangkan film itu pada pukul 15.20. Begitu seterusnya sampai semua rol film dimainkan secara bergantian di tiga bioskop itu. Cara distribusi seperti ini bukan cuma digunakan di Indonesia, karena di UK juga menggunakan metode yang sama. Karena rol pita seluloid ini bisa digunakan secara simultan di beberapa bioskop yang berdekatan, maka satu bioskop tidak perlu menyimpan satu salinan utuh sebuah film sendirian, tapi bisa digunakan berbarengan dengan bioskop lain untuk menekan ongkos produksi.

Tetapi IMAX 70mm tidak bekerja dengan cara seperti itu. Dalam film Oppenheimer, misalnya, total ada 53 rol pita seluloid yang didistribusikan dari LA ke tiap biskop IMAX 70mm, yang sebelum film ditayangkan, 53 rol pita seluloid itu digabungkan ke dalam satu rol super besar oleh teknisi bioskop bersangkutan. Sehingga menayangkan rol film untuk digunakan secara bergantian di bioskop-bioskop terdekat menjadi tidak memungkinkan, sebab pita seluloid film tidak terpecah ke dalam beberapa rol. Ini berarti bahwa satu salinan film hanya dapat digunakan di satu layar bioskop dalam satu waktu, dan tidak dapat diputar secara simultan sebagaimana teknologi seluloid pada film-film lawas. Dampaknya, ongkos produksi meningkat, harga tiket menjadi mahal, dan menonton film menjadi semakin tidak terjangkau bagi masyarakat.

Visi sinematik Nolan tersebut, yang diagung-agungkan oleh pengemar film secara umum, dan fans Nolan secara khusus, tidak bebas nilai. Nolan membangun visi sinematiknya bukan atas dasar nilai-nilai kesetaraan, bahwa semua orang bisa merasakan pengalaman menonton yang sama, tetapi atas dasar standar estetika yang elitis dan hierarkis: bahwa mereka yang berasal dari Global North, terutama dari US yang memiliki mayoritas layar IMAX 70mm, yang bisa merasakan visi sinematik Nolan secara utuh. Artinya, visi sinematik Nolan terikat oleh nilai-nilai yang dibentuk oleh ekosistem Global North, dengan semua keuntungan infrastruktur yang tidak bisa didapatkan oleh mereka yang berada di Global South. Visi sinematik Nolan yang elitis ini tidak mengagetkan, sebab bisa kita lacak dari bagaimana Nolan momotret ideologi kiri, yang mengusung gagasan kesetaraan, dalam film-filmnya. Dalam The Dark Knight Rises, misalnya, Nolan menggambarkan anarkisme (yang diyakini oleh vilain utama dalam film itu, Bane, sebagai cara terbaik untuk melawan pemerintahan yang korup) dengan framing yang sangat negatif. Dalam Oppenheimer, penggambaran Oppenheimer sebagai ilmuwan yang cemerlang ditampilkan dalam scenes yang berwarna, dan penggambaran Oppenheimer sebagai orang yang bersimpati pada gerakan kiri ditampilkan dalam scenes yang hitam putih, seolah-olah simpatinya pada gerakan kiri adalah hal yang keliru luar biasa. Sebagai seorang pencerita, harus diakui Nolan adalah pendongeng yang handal, salah satu yang terbaik di generasinya. Tapi visi sinematiknya bukanlah hal yang netral, dan oleh karenanya harus ditinjau ulang.